Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

Key SHINee Fanfiction Romance // Sorry I can’t Hear You, sweety!

20 Komentar

key fanfic, key shinee cool

  • Genre : Sad, romance,typo.
  • Rating : General
  • Length : OneShot


______________________________________________________________________

Rasyifa_2011_storyline

 

Aku duduk di pinggir danau, melihat pantulan wajahku sendiri.

Aku tampan, tapi sekarang aku terlihat menyedihkan. Sudah lebih dari tiga jam aku duduk disini, tapi _____ belum juga datang. Apa gadis itu memang tidak berniat datang?

Gadis itu selalu membuatku menunggu seperti ini. Selalu terlambat saat kami berjanji untuk bertemu. Bodohnya, aku selalu memaafkannya, merelakan, mengikhlaskan. Seolah-olah aku tidak bisa hidup tanpanya, seolah-olah dia itu udara dan aku manusia-nya.

Aku minta maaf, Key.”

Akhirnya dia datang, tepat tiga jam sepuluh menit dari waktu yang kami tentukan sebelumnya.

Aku menoleh, “Kau mau duduk dulu? Atau langsung aku antar pulang?” tanyaku.

Gadis itu tidak menyahut, hanya menunduk sambil menggigit bagian bawah bibirnya. Ck, aku sudah pernah bilang untuk menghentikan kebiasaannya itu. Dia hanya akan melukai bibirnya sendiri, sementara keadaan tidak akan berubah.

“Duduk disini!” ku tepuk bagian kosong bangku yang tidak terduduki oleh tubuhku –menyuruhnya agar duduk disampingku-, tapi dia masih tak bergerak dari tempatnya.

Ku tepuk lagi bangku ini, sambil memasang senyum yang ku harap dapat meyakinkannya bahwa aku sama sekali tidak akan marah padanya.

Ya benar, meskipun aku ingin, aku tetap tidak bisa melakukannya.

Maaf  Key,” akhirnya dia duduk dengan wajah yang masih tertekuk, dan kata pertama yang aku dengar dari mulutnya adalah kata-kata itu. Entah mungkin karena aku sudah bosan atau terlalu bosan aku sama sekali tak menggubrisnya.

Maaf  Key.” Gadis ini memang selalu begini, tidak berubah, tidak pernah bosan mengucapkan kata maaf sampai sesorang menerima permintaan maafnya.

Tapi aku masih enggan mendengarkannya, ku sibukkan diriku menatap aurora jingga di langit. Matahari sebentar lagi akan terbenam, ini artinya sudah waktunya untukku mengantarkan gadis ini pulang.

Seorang gadis baik, tidak boleh pulang terlalu larut. Itu sangat berbahaya dan tidak sopan. Aku tidak ingin menjadikan gadis yang baik ini terlihat buruk dimata orang tuanya.

“Ayo kita pulang, _____!” aku bangkit dari dudukku, membenahi blazer seragam sekolahku lalu memasukkan kedua telapak tanganku kedalam saku celanaku.

Angin yang berhembus terasa dingin, dari baunya aku dapat merasakan aroma musim dingin yang sebentar lagi akan datang. Ku harap di musim dingin nanti akan ada hari yang lebih baik dari hari ini.

“Tapi Key,” gadis di sampingku ikut bangkit berdiri, namun tangannya yang mungil memegangi pundakku cepat seolah menghentikan langkahku. Akupun menoleh menatapnya dengan senyuman milikku.

“Iya,____?” tanyaku dan itu membuat wajahnya kembali tertekuk.

“Maaf.”

Kata itu lagi ya? Apakah tak ada kata lain yang bisa kau berikan padaku setelah Kau  berhasil membuatku menunggu 3 jam. Ah sudahlah Key, kau harus mencoba mengerti.

Aku kembali memberikannya senyum yang semula sempat memudar, lalu ku usap rambutnya lembut.

“Tak apa, _____,” ucapku dengan kaki yang melangkah satu demi langkah. Angin kembali berhembus dan aroma musim dingin kembali membaur dalam penciumanku.

.

.

“Key…dia kembali berulah, dan bahkan kau tahu? Gara-gara dia, hari ini aku  terlambat menemuimu. Dia bilang aku masih perlu mencatat hasil rapat organisasi dua minggu lalu. Astaga, apa menurutmu itu masuk akal? Hasil rapat dua minggu lalu? Bahkan dua minggu lalu aku tidak ikut rapat, dan bagaimana mungkin aku dapat mencatat hasil rapatnya. Aku pikir dia sengaja melakukannya padaku. Dia benar-benar keterlaluan, mentang-mentang dia ketua organisasi lalu semena-mena dengan seorang sekretaris dua sepertiku! Padahal dia bisa sajakan menyuruh sekretaris satu, kenapa harus sekretaris dua. Dia mengeksploitasiku!”

Aku tersenyum dalam langkahku yang mendahulinya. Kebiasaanmu yang tak pernah berubah sedikitpun, _____. Setelah mendengar seseorang menerima maafmu kau akan kembali mengoceh tiada henti –kembali ke sikap kekanak-kanakanmu-. Tapi aku lebih suka kau yang begini daripada yang tadi. Aku suka mendengarkan setiap ocehanmu yang panjang dan terkadang menurutku sama sekali tidak nyambung. Daripada hanya sekedar mendengar, kata ‘maaf’ darimu.

“Mungkin dia harus aku beri pelajaran, bagaimana kalau aku menaruh permen karet yang sudah dikunyah di sepatunya? Menurutmu apa itu sudah kejam?”

Masih dalam langkahku yang mendahuluinya aku tak menggubrisnya, hanya membiarkannya bercerita tentang hidupnya, mendengarkan keluh kesahnya. Meski ini cerita sederhana, meski kau hanya bercerita tentang hidupmu dan orang yang itu-itu saja. Aku tak pernah bosan, selalu tertarik mendengarkanmu, selalu menjadi yang di depan untuk menjadi pendengar setiamu.

Walaupun aku hanya mendengarkannya dan seolah tak menggubris ceritamu. Tapi tanpa kau ketahui, disetiap malam sebelum aku tidur, aku selalu mengulang ceritamu dalam nuron otakku, berharap aku bisa memimpikan semua ceritamu. Dengan tokoh ‘aku’ dan ‘kamu’ dalam alurnya.

“Atau besok aku kempesin aja ban motornya? Biar dia engga  bisa pulang, tapi apa tidak terlalu jahat. Akh..tidak kan Key, dia bahkan sudah sering menghancurkan janji kita seperti ini. Membuatku capek, berarti aku harus mencari sesuatu yang jauh lebih kejam dari membuat ban motornya kempes,” lagi dan lagi aku hanya bisa mengulum senyum karena tingkahnya. Bayangkan saja, dari tadi aku rasa aku hanya diam dan dia? Demi Tuhan..sudah berapa banyak kata yang dia ucapkan dengan bibir kecilnya itu.

“Ah..dinginnya,” tanpa di pelopori sesuatu yang jelas, saat mendengar gumaman kecilnya, ku tolehkan cepat kepalaku mengarah kepadanya. Disana ku lihat ia sibuk meniup niupkan udara dari mulutnya ke kepalan dua telapak tangannya. Tingkah yang sangat lucu.

Aku tersenyum saat dia menyadari langkahku terhenti dan kini malah telah menatapnya. Dengan kepala yang dia miringkan dia memandangku, sementara aku melepaskan kancing-kancing Blazerku.

“Pakai ini, jangan sampai sakit karena kedinginan!” Dia mengerjap seolah berpikir namun tangannya meraih blazerku tanpa ragu.

“Terimakasih Key.” Aku hanya tersenyum kembali melangkah mendahuluinya. Langkahnya terlalu kecil, dan kudengar terkadang dia berlari kecil untuk memperdekat jarak antara tubuhku dan tubuhnya. Diantara aurora jingga yang masih membias di langit, aku melihat bayangannya. Hitam, indah dan mungil, tubuhnya yang sedang menggiring langkahku.

Rambut kriting gelombang dengan warna hitam kecoklatan itu terkadang tertiup angin. Membuat bayangannya semakin cantik. Tidak..tidak Key, bukan bayangannya tapi orangnya, ya orangnya …orangnya yang cantik.

Dan aku beruntung, karena dia adalah kekasihku. Meskipun aku tak pernah menyentuhnya sedikitpun, bukan karena aku pengecut hanya saja aku tak ingin mengotori bibir suci atau pipi putih itu. Aku percaya, suatu saat disaat dia telah menjadi milikku yang sebenarnya, aku akan melakukannya bahkan aku akan melakukan yang lebih.

“Ahahah…aku tau sekarang, aku akan menggantung sepatunya saja di atas pohon.. aku pikir akal ini cukup gila.” aku terkekeh di tempatku, mendengar apa yang barusan ia ucapkan.

‘Menggantung sepatu di pohon? ‘

Mataku beralih menatap pohon di sekitar, tinggi – besar – dan menjulang, apa kekasihku bisa memanjat pohon-pohon semacam itu? Tubuhnya mungil, terlalu mungil malah.

“Kau pendek, jangan cari mati!” ucapku dan ku akhiri dengan kekehan bernada rendah. Ku dengar dengusannya dan hentakan kaki yang menyertainya. Oups..dia marah, Key!

“Lalu, apa yang bisa aku lakukan untuk membalas semua yang sudah Onew si gigi kelinci itu lakukan padaku.”

Aku berbalik menatapnya, lagi-lagi hendak terkekeh karena melihat tubuh kecilnya yang mengenakan blazer seragam sekolahku yang nampak terlalu besar baginya. Sudah seperti blazer berjalan…

“Masuklah!” seruku akhirnya membuat matanya memicing, menatapku heran.

Bingung karena ucapanku, begitukah sweety?

“Masuklah!” ucapku lagi, dan kali ini ku biarkan dia mengalihkan pandangan ke sekitar. Kini mata bulat berukuran kecil itu membesar, seolah terkejut.

“Sudah sampai?!”serunya padaku. Aku mengangguk sambil memberikan senyum.

“Sekarang, masuklah!” ucapku lagi, dan dia mengangguk.

*

*

*

Aku kembali berjalan pulang, benar-benar pulang ke rumahku sendiri seusai mengantar pacarku ke rumahnya.

Pacarku? Pacarku seorang gadis manis bertubuh mungil yang ceria dan selalu aktif. Dia selalu aktif mengikuti kegiatan di sekolah, baik itu keorganisasian sisiwa atau Club semacam perkumpulan hobby. Dia sejenis gadis barbar yang selalu menyibukkan diri untuk bersosialisasi di sepanjang harinya.

Berbeda dengannya, Aku anak lelaki barbar yang lebih senang menyanyi di dalam kamar mandi, aku lebih suka menyendiri, tidak terlalu suka diperhatikan oleh orang banyak, tidak terkenal dan bahkan bisa dibilang aku hanya murid dari golongan siswa pasif.

Kembali menatap kuning jingga di langit, auroranya masih belum hilang, aku rasa aku masih mempunyai sedikit waktu hanya untuk sekedar membeli softdrink dan meminumnya di perempatan dekat halte seberang. Kerongkonganku terasa benar-benar kering.

‘Tap..tap..tap’

Sebuah suara langkah membuatku menaruh rasa penasaran, langkah yang tak asing di sertai suara kecil nan lembut.

“Key..”

Apakah itu, ____?

“Ini hosh..hosh..hosshh…. maaf aku lupa mengembalikannya tadi, ini aku kembalikan.”

Kembali tersenyum jika tentang _____, aku tidak pernah salah.

“Terimakasih. sekarang kau kembali, masuklah di luar dingin!” senyum dari bibir kecil itu selalu bisa membuatku ikut hanyut untuk membalas senyumnya. Senyum yang tak pernah membuat bosan saat aku melihatnya.

“Ya, kau juga harus hati-hati!” mengangguk padanya patuh dan kembali berjalan. Kembali ke satu tujuan –Pulang–.

*

*

*

———–ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing————

Pandanganku kabur, semua benda nampak menjadi dua.
Goyah, ku rasa tubuhku mulai berayun. Apa yang salah padaku saat ini? Aku merasa kini aku dapat merasakan bahwa bumi benar-benar berputar, dan putarannya sangat cepat.

———–ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing————

Dengingan panjang telingaku, membuatku tak bisa mendengarkan apa-apa lagi.
Sementara tubuhku semakin lemas dan berayun.
Pandanganpun semakin …..

Gelap….

‘BRUKKKK’

*

*

*

“Kita lihat hasil lab nya besok, berdoa saja kepada Tuhan, semoga anak anda baik-baik saja.”

“Terimakasih, pak dokter!”

Itu suara eomma yang ku dengar nampak serak seperti…menangis? Ada apa sebenarnya? Dan kenapa eomma menyebut nama ‘pak dokter’. Apakah dia si pemilik suara berat yang ku dengar pertama kali tadi?

“Kalau begitu saya permisi dahulu. Apabila pasien sudah sadar anda bisa menghubungi saya!”

“Sekali lagi, terimakasih pak dokter!”

‘CKLEKK’

Apa yang sebenarnya terjadi sekarang? Dan kenapa aku tidak bisa membuka kedua mataku? Terlalu berat, sementara disini…..gelap.

“Key. Eomma, harap kau baik-baik saja, cepatlah sadar, eomma menghawatirkanmu!”

Eomma, Key disini. Key baik-baik saja, hanya saja Key tidak bisa membuka mata sekarang. Terlalu berat. Eomma, sebenarnya Key kenapa? Apa yang terjadi pada Key?

“Tuhan…lindungilah anakku, berikanlah dia keselamatan.”

Batin ini semakin menjerit memintaku untuk segera membuka kelopak mata. Tapi ini sungguh sangat berat, sangat berat, Sementara aku tak ingin gelap ini terus menyelimuti penglihatanku.

Key, kau harus bisa membuka matamu!
Agar kau dapat mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi!

———–ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing————

Akh… dengungan ini lagi!

lagi? Berarti aku pernah mengalaminya sebelumnya. Tapi kapan? Kapan aku mengalaminya?

Ah….Softdrink, perempatan jalan, halte, putar..

Ada apa dengan softdrink, perempatan jalan, halte dan putar?

Softdrink, perempatan jalan, halte, putar….

GELAP…

———–ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing————

*

*

*

Ku buka mataku perlahan, tubuhku terasa sangat lelah dan lemas.

Putih, berbau obat-obatan khas yang membuat perutku terasa mual. Rumah sakit, dimana lagi kalau bukan di tempat ini? Aku yakin kemarin mungkin aku pinsan di dekat trotoar perempatan jalan sesaat aku meminum softdrink.

Apa softdrink yang aku minum sudah tidak luarsa?

Hah tapi ajaib sekali, saat aku bangun aku sudah berada di tempat ini.

Kini pandanganku beralih ke luar Jendela yang tertutup tirai tipis berwarna putih, dengan tubuh lemah ini ku paksakan untuk berdiri dan berjalan mendekat.
Ku sibak perlahan tirai tipis yang menghalangi pemandanganku, dengan tangan kiriku yang entah sejak kapan ada  jarum infuse disana.

Sudah pagi…cahaya remang matahari menghempas dalam tubuhku, hangat…nyaman, aku suka ini.

Mungkin sebentar lagi aku akan merindukan kehangatan ini, karena sebentar lagi hanya akan ada butir-butir salju yang akan menyambut pagi. Aroma musim dingin, masih tercium dalam indra penciumanku meskipun di sela remang hangat matahari.

Annyeong!

Suara yang tidak terdengar asing. _____, bukankah itu suara _____? Apakah aku tak salah dengar?

“Key..kau sakit apa?” dengan guratan senyum yang sudah melebar, aku memalingkan wajahku menghadapnya. Benar, dia ada. Tepat disana, di dekat sofa, dia berdiri dengan mengenakan pakaian seragam sekolah. Dia ikut tersenyum saat melihatku tersenyum.

“Kau pucat sekali!”

Kenapa itu yang dia katakannya -_____-, harusnya dia mendekatiku lalu memelukku dan mengucapkan ‘good well soon’ bukan mengatai wajahku pucat.

“Terimakasih,” ucapku enggan menatapnya lagi. Aku tak suka caramu sayang, harusnya kau bersikap manis disaat aku sakit.

“Tapi..Key-ku masih tampan kok~” aku kembali berseri mendengar kalimat lanjutan itu. Astaga! aku mulai konyol.

Diam~

Tiba-tiba kami terdiam cukup lama.

Aku masih merasakan hangat mentari menerpaku, ada sebelah tangan yang bertumpu di pundakku sekarang. Tangan mungil –kulitnya putih- Tangan kekasihku, Lee____.

“___, kau tidak sekolah?” tanyaku tanpa menoleh ke arahnya.

“Tidak bisa Sekolah, saat kauu…………..”

“Heo, Apa _____? Bisa kau ulangi untukku?”

“Aku bilang aku tidak bisa sekolah, saat kauu……” Apa? Aku sama sekali tak mendengarnya.

“_____, tolong besarkan volume suaramu, entah kenapa telingaku tak bisa mendengar suara bernada pelan mungkin karena cairan infuse ini,” ucapku asal, muka _____ berkerut tapi kemudian tersenyum..

“Ttcckkkaiiiiuuu…appaaa…kkauuu saaakkk, yakkatbajkkkkiiiss?”  apa? Apa yang _____ ucapakan padaku, aku tak paham… tak mendengar, tak mengerti!

“Kiiiieeyy…” aku tak bisa mendengarnya, telingaku terasa tersumbat. Aku kenapa?

———–ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing————

Dengungan ini kembali datang, dan setiap kali ia datang, ia  menyiksaku. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?

*

*

*

Seminggu berlalu, aku memang sudah keluar dari tempat itu.
Rumah sakit yang memiliki bau khas yang mampu membuat perutku mual. Aku keluar dari sana, dengan kondisi yang masih sakit.

Key, mengalami gangguan pendengaran. Akibat Sinusitis yang dia derita.
Semakin lama, kemampuan indra pendengarannya akan semakin melemah, bahkan  tidak menutup kemungkinan jika indra pendengarannya akan mengalami kecacatan secara total.

Obat untuk penyakit ini belum ditemukan, kami hanya mampu memberikan obat untuk memperlambat proses pelemahan kemampuan indra pendengar itu.

Dan untuk sementara waktu, Key harus menjalani trapi dengar selama seminggu sekali.
Ini bertujaun untuk  memberikan rangsangan pada telinganya.
Kami harap kami bisa melakukan yang terbaik untuk Key..kami akan berusaha semampu kami.

Itu yang lelaki tua berjas putih di rumah sakit ucapkan pada Eommaku.

Sedih, perih..merasa menjadi tak berguna. Aku akan cacat, tidak bisa mendengar, tuli tepatnya. Tapi apa yang bisa aku perbuat? Mungkin hanya diam di tempat, tidak melakukan apa-apa, membiarkan hidupku hancur bersama semakin lemahnya indra pendengaranku.

“Key..kita ke Kantin, yukk!” Tapi di di detik ini –tepat saat detik ini-aku masih bisa bersyukur, karena telingaku masih dapat menangkap suara kecil nan lembut ini. Suara _____. Tapi sampai kapan aku bisa begini? Aku tersenyum tipis.

“AYO!” dia menarik tanganku kasar, menyuruh untuk menggiringnya. Di balik tangannya yang menggenggam tanganku, aku kembali tersenyum. Sebentar lagi mungkin aku akan melepaskanmu, _____. Kau tak mungkin terus denganku dalam kondisiku yang menyedihkan. Kau pantas mendapatkan sesuatu yang lebih baik dariku.

Mungkin ini pilihan yang tepat, merahasiakan semuanya. Karena jujur aku malu.

Hey, lelaki tuli? Demi Tuhan, aku tak suka gelar itu, dan sebentar lagi aku akan menyandang predikat itu. Bukankah lebih baik aku mati saja?

“Key…kau tahu, tadi Onew menyuruhku mengerjakan journal organisasi, tapi aku kabur ke kelasmu begitu saja, lalu ke kantin deh. Ahahahhah, baru kali ini aku bolos dengan sengaja dari rapat, dan rasanya menyenangkan sekali!” Aku terkekeh melihat ekspressi lucunya saat bercerita, gadis ini memang ahli membuatku terkekeh –tertawa- dan bahkan –mengulum senyum-, dia pandai tentang hal ini dan aku suka itu. Tapi sebentar lagi aku tidak akan bisa di sisinya.

“Kau tak boleh begini terus, ini memalukan.. bolos lalu kau bangga?” dia mendengus ke arahku, aku hanya mengangkat bahuku kemudian memesan minuman.

“Dua capoccino!”ucapku pada ahjussi penjaga kedai. Tidak menunggu lama, dua capoccino pesananku sudah siap, akupun membawanya ke tempat kekasihku dan aku masih menemui tatapannya yang penuh kekesalan beserta bibir yang maju beberapa senti. Kali ini aku tak dapat menyembunyikannya, aku tertawa renyah, ekspressinya sangat lucu.

“Pendek, minum capoccinonya dulu..setelah itu baru boleh marah.” dia kembali mendengus, lalu memainkan bibirnya yang maju. Hey Key, apa yang telah kau lakukan padanya? apakah Kau membuatnya marah lagi? Apa itu hobbymu yang baru?

*

*

*

“Kau bolos, lagi?” tanyaku sambil mengusap lembut poni kekasihku, sstt.. dia punya nama, namanya Lee _____.

“Iya, aku bolos rapat lagi! Tapi bukankah dengan begini kita bisa berduaan?” dia mendongakkan kepalanya menatapku, kami kini sedang berbaring di atas reremputan hijau di sekitar danau, di taman belakang sekolah.

“Aku tau, tapi aku tak suka caramu!”ucapku dan dia kini tiba-tiba memeluk pinggangku, kenapa dia bersikap manja seperti ini?

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku minta maaf.” Aku tersenyum, masih mengelus poni rambutnya.

“Tidak..bukan maaf, tapi ku harap lain kali kau jangan membolos! Aku tak suka jika kau membolos!”

“Baik-baik, aku janji tidak akan membolos. Tapi kau juga jangan membolos!” rangkulannya di pinggangku semakin meng’erat. Demi Tuhan, apa yang membuat gadisku berkelakuan seperti ini? Apakah ada yang mengganggunya? Ah Key tak usah munafik. Sebenarnya kau suka kan?

“____.” ku panggil namanya, dan dia menoleh padaku.

Inilah waktunya Key, kau tidak  bisa menunda lebih lama lagi.

“Maafkan aku, sepertinya kita tidak bisa bertemu lagi.”

*

*

*

Musim dingin telah tiba, hawanya yang sejuk membawa kekosongan dalam naluriku. Kini aku sedang duduk di pinggir danau, melihat pantulan wajahku sendiri.

Aku masih  tampan, tapi sekarang aku terlihat semakin menyedihkan.

Lagi-lagi Aku menghabiskan soreku disini, lagi dan lagi aku mencoba mengenang satu persatu kepingan kenangan beberapa bulan lalu.
Dahulu, tepatnya beberapa bulan yang lalu, setiap aku duduk disini itu berarti aku sedang menunggu seorang gadis, yang berstatus sebagai kekasihku. Tapi kini, aku hanya duduk disini sebagai seorang yang pikirannya kosong.

Lee _____, gadis itu kini bukanlah lagi kekasihku. Aku Key, bukan lagi golongan siswa pasif. Bukan karena aku telah mendapatkan gadis yang lebih baik dari _____, atau karena aku tiba-tiba mendadak menjadi orang cerdas.

Aku masih Key yang payah, Aku masih tidak suka diperhatikan orang banyak. Masih barbar yang hanya suka menyanyi di dalam kamar mandi. Dan bahkan mungkin sekarang aku semakin payah.

Aku sudah kehilangan _____, aku berhenti sekolah, karena aku bahkan tidak bisa mendengar suaraku sendiri di kamar mandi.

Aku benar-benar menjadi orang tuli sekarang, aku cacat, aku tak bisa mendengarkan suara-suara yang ada di dunia ini lagi. Dan ini membuatku merasa kalau separuh dari ragaku telah menginjak pada kematian.

“………………………” Merasakan seorang duduk di bagian kosong bangkuk-ku, aku menoleh, dan ternyata orang ini adalah…

“_____,” seperti di atur secara otomatis, nama itu tiba-tiba saja sudah keluar dari mulutku. Gadis ini, lama tak melihatnya dan dia semakin cantik.

“………………………………” entah apa yang dia ucapkan. Bibirnya bergerak, aku mencoba mengamatinya –berharap bisa mendengar melalui caraku melihat gerak bibirnya- tapi aku rasa aku percuma, aku bahakan tak dapat menerjemahkan satu katapun dari gerak bibirnya.

Aku menunduk, merasa menyerah…aku memang sudah tuli, tidak bisa mendengar. Aku cacat. Aku Key, seorang lelaki tak berguna!

Memalukan saat _____ mempergokiku begini.

‘Tes’

Basah

Hangat

Cair

Airmata? Airmata _____, kah?

Aku mendongakkan kepalaku, benar Tuhan,  _____ sedang menangis. Apa aku yang membuatnya menangis? Oh Key, Kau membuatnya menangis! Itu jauh lebih buruk dari membuatnya marah. Dengan ujung jari jempolku aku mengusap airmatanya.

“Jangan menangis sweety!” ucapku parau, dia menggeleng.

“…………………………………” Aku benar-benar bisa gila, aku tak bisa mendengar apa yang dia ucapkan gadis ini. Tapi semakin bibirnya bergerak cepat, airmata itu bertumpah ruah. Tuhan, tidak bisakah kau memberikanku mukzizat meski hanya beberapa saat untuk mendengarkannya. Entah itu kisah sederhana dalam hidupnya atau cacian kebenciannya padaku. Aku rindu mendengarkannya bercerita, aku rindu cerita tentang hidupnya, benar-benar rindu.

‘pluk’

Hangat

Erat

Manis

Dia memelukku! Gadis yang ku cintai tiba-tiba telah memelukku. Bahunya naik turun dalam pelukanku.

“Ku mohon jangan menangis! jangan pernah menangis di depanku,” ucap ku khawatir, dan ku temukan dia mengangguk padaku. Kemudian ia melepaskan pelukkannya –beralih pada buku catatan kecil yang sebelumnya ia letakkan dalam kantong tasnya-. Dan tanpa dikomando dia menulis sejeret kalimat dengan cepat. Apa yang dia tulis?

Jangan pernah berpikir, mudah untukku melupakanmu. Kau bahkan masih menjadi kekasihku, kau belum pernah memutuskanku secara resmi. Dan bukankah berati aku masih resmi menjadi kekasihmu!

Aku memang selalu butuh Key yang selalu mendengarkanku, tapi aku lebih butuh Key yang selalu setia berada di sampingku.

Aku tak mau kehilanganmu, apapun yang terjadi! Seharusnya kau tak menutupi semua ini dariku, hampir saja aku salah paham tentangmu yang tiba-tiba menghilang.


Aku bahkan mengataimu penjilat, Karena kau yang menyuruhku jangan membolos padahal kaupun membolos! Aku membencimu, sangat membencimu terlebih karena kau berhasil membuatku menyayangimu.
Key, i love you
.

Aku tersenyum membaca kertas itu, kemudian dengan berani aku merangkul orang yang telah menulis kalimat itu –kalimat yang hampir membuat jantungku melompat–. Gadis ini luar biasa –benar-benar luar biasa–, dia menerima-ku apa adanya! Ini membuatku semakin menyukainya.

‘ssssrrrttt’

Sesuatu terpasang di telingaku, bentuknya seperti earphone-tapi aku tahu ini bukan earphone-, ini alat Bantu dengar.

“…………………………………………….?”aku tersenyum menatap ke seseorang yang memasangkan alat ini ketelingaku, aku mengelus poninya seperti kebiasaanku dahulu.

“Sorry..i can’t hear you sweety!”

Salju turun satu persatu, meski telinga ini tak dapat mendengarkan suaranya, cerita sederhana tentang hidupnya. Tapi hati ini tetap menjadi yang di depan untuk menemaninya.

Meski aku terlihat mengacuhkannya, meski aku terlihat tak menggubrisnya.
Tapi Aku ingin dunia tahu aku sangat peduli padanya.

“Sorry, I can’t hear you sweety!” ucapku lagi, dan ku temui senyum manisnya untukku.
Dan kali ini terimakasih pada Tuhan, untuk musim dingin yang indah bersama Lee _____.

—-

*FIN*

An/ Fanfic dibikin ngebut 1 jam, maaf kalau cerita dan typo berterbangan ._. Terimajinasi dari Drama Dream High

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

20 thoughts on “Key SHINee Fanfiction Romance // Sorry I can’t Hear You, sweety!

  1. awww… key kenapa tuli TT… untungnya ada alat bantuan pendengar.. legaa…
    untungnya ceweknya juga baik… lega
    kawaii

    Suka

  2. Thorrr aku suka sma semua tulisanmuuu. *peluk

    Suka

  3. Ya Allah… Kak Rara? Kakak bisa buat FF sebagus ini hanya dalam waktu SATU JAM? SATU JAM? SATU? JAM? S A T U? J A M? waowwww. Daebak bak bak bak!!!? *gaje

    Suka

  4. anjir satu jam aja udah mengharukan begini apalagi yang dua jam atau lebih -_,-
    duh kak, bagus deh, baca ini aku jadi menysukuri semua panca indera yg udah Tuhan kasih ke aku, lengkap *Alhamdulillah*. Sedih ih storynya huhu

    Suka

  5. Aku kira ini bakal sad ending
    Si cewenya ngomongin onew lagi onew lagi aku kira lama-lama dia bakal jatuh cinta sana onew eh taunya dia masih nerima key apa adanya, terharu

    Ini nulis satu jam? Satu jam aja bisa menghasilkan ff yg bagus kaya gini? Wow

    Suka

  6. TT author punya akun wattpad? minta dong kalo punyaaaa, ceritanya bagussssss.

    Suka

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s