Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

SHINee Fanfiction // If Rain / Ficlet

23 Komentar

cover fanfic, editan photoshop, rara story, ff shinee, jinki ff, jinki di tangga, ff shinee keren, shinee onew, onew

  • Genre : Supranatural, Teen Life.
  • Rating : General
  • Length : OneShoot/Ficlet/Drabble
  • Summary : Saat hujan turun, adalah saat Tuhan mempertemukan kita.

Rasyifa_2012_storyline

Siang itu awan-awan hitam bermunculan di atas langit, mungkin ini pertanda bahwa sebentar lagi hujan akan turun. Angin dingin pun terasa berlari-lari di tengkuk-ku, membuat sensasi dingin yang menghanyutkan menggelayut pada tubuhku.

Hanya bisa menahan nafas berat, saat mengamati lembaran kertas putih yang sedari tadi bertengger di atas mejaku. Tinggal satu soal lagi diantara lima soal yang  harus aku isi dengan jawaban, satu soal tentang ‘tinjauan pengertian Negara’. Ku pejamkan mataku berusaha memusatkan konsentrasi untuk mencari jawaban dari satu soal itu.

Hening beberapa saat….namun,

Ck..aku sama sekali tak dapat mengingat apa-apa.

Setauku lelaki berkepala plontos itu tak pernah memberi tahukan aku tentang hal ini. Memilih menyerah dan istirahat sebentar, beralih pada jam tangan mungil yang melingkari pergelangan tanganku.

‘11.00 AM’

Kalau tidak salah, mugkin masih tersisa enam puluh menit lagi untuk menyelesaikan soal ini, hah….waktu yang cukup lama.

Dan untuk mengisi waktu yang cukup lama itu, aku tertarik untuk menengokkan kepala ke samping kiri dan kanan. Melihat wajah-wajah itu, rasanya kurang meyakinkan.

Apa mereka tau jawaban dari soal ini? Entahlah, mungkin kutanyakan nanti saja, lagipula guru pengawas itu terlihat sedang memperhatikanku.

Hey bu, aku bahkan sudah menyelesaikan 4  butir soal  dalam waktu kurang dari dua puluh menit, mencontek satu soal, sepertinya tidak masalah. Ck..seperti kau tak pernah muda saja.

* * *

Suntuk saat menyadari harus menunggu lebih lama lagi, empat puluh menit.

Dan yang memperparah, sekarang tidak ada satu soal pun yang tersisa untuk memenuhi kepalaku. Bukannya sombong, aku hanya menjawab satu soal itu dengan asal.

Ck..siapa peduli yang penting aku menjawabnya bukan?

‘jreng’

‘jreng’

‘jreng’

Suara petikan gitar tiba-tiba mengusik pendengaranku, ku tolehkan kepalaku pada sekitar dan ku lihat tidak ada yang mempermasalahkan suara gitar tersebut, apa karena mereka tidak mendengarnya? Tapi suara gitar itu begitu jelas.

Kembali ku edarkan pandanganku mencoba mencari sumber dari suara itu. Dan tepat di luar sana, di atas sebuah gedung yang berada di seberang gedung Sekolahku.

Aku melihat seorang lelaki duduk di atas loteng gedung tersebut sambil memainkan sebuah gitar, dilihat dari wajahnya yang sedang bermain nampaknya dia benar-benar menghayati lagu yang sedang dia miankan. Sejenak aku tertegun saat melihat wajahnya, dia benar-benar tampan..itulah dikripsi singkat yang bisa ku jabarkan.

* * *

Wajahnya yang putih menengadah pada Langit, pandangannya yang tenang melesat ke awan, menuju sebuah tempat antah berantah yang tak bisa dijambah hanya dengan sepasang mata manusia.

‘jreng’

‘jreng’

‘jreng’

Kembali memetik senar gitarnya dan disaat yang bersamaan, ku lihat tetesan air langit mulai berjatuhan membasahi permukaan bumi. Tapi sosok itu sama sekali tak mempedulikan hal ini, dia justru terlihat semakin hanyut dalam permainan gitarnya, begitu pula aku yang juga semakin hanyut memperhatikannya.

Aku pikir dia menyukai air hujan itu, dan  ku pikir dia juga menikmati sensasi basah dari air hujan yang mengenai wajahnya, dia terlihat damai dan begitu tenang meski suara hujan mengalahkan suara petikan senar gitarnya.

Dari sini, aku hanya bisa tersenyum samar menatapnya, aku sudah melihat sosok itu selama dua minggu ini, lebih tepatnya saat aku memulai ulangan semester dua minggu lalu, dan hari ini adalah hari terakhir ulangan semester di adakan dan kupikir ini adalah hari terakhir aku melihatnya juga.

Andai saja, aku masih mempunyai waktu. Mungkin aku akan memberanikan diri untuk menghampirinya dan mengajaknya berkenalan dan mungkin dengan begitu  aku bisa  menjadi sesuatu yang istimewa baginya. Tapi sayang, aku sudah tidak mempunyai waktu lagi.

* * *

Lelaki tampan itu bernama Lee Jinki, dulu dia bersekolah di Sekolah yang sama denganku, tapi dia berada dua tingkat di atasku.

Setelah lulus, Jinki Sunbaepun meneruskan pendidikannya di salah satu Universitas Seni dan kebetulan gedung Universitasnya berseberangan dengan gedung Sekolahku. Jika boleh ku tambahkan Jinki Sunbae termasuk dalam golongan siswa popular, dia terkenal karena ketampanan dan bakatnya, Bagi semua orang yang mengenalnya dia itu lelaki yang istimewa —tidak terkecuali bagiku—.

Tapi sayang, hidupnya tidak berjalan semulus seperti yang dipikirkan orang lain tentangnya. Ku pikir itu wajar, bukankah dia juga manusia? Mempunyai masalah tentu bukan hal yang aneh. Hidup memang terkadang begitu kan, tidak pernah selalu mulus dan selalu bergelombang. Tapi aku tidak pernah berpikir, sunbae tampan dan berbakat itu, menyelesaikan masalahnya dengan cara yang menurutku SALAH.

Tepatnya dua minggu yang lalu, dia ditemukan tewas di loteng gedung Universitasnya dengan kondisi yang mengenaskan. Yang ku dengar dari kabar yang beredar, dia mengalami frustasi saat kekasihnya memutuskan hubungan secara sepihak, selain itu Jinki Sunbae juga merupakan anak dari keluarga yang sudah sudah tidak utuh, kedua orang tuanya bercerai dan dia hidup dengan neneknya di Korea. Sementara masing-masing dari kedua orang tuanya justru membina keluarga baru di luar Korea.

Semakin membuatku miris saat ku dengar dia tewas karena overdosis obat-obatan terlarang, dan saat dia merenggut nyawa adalah saat dimana dia ketagihan barang tersebut.

Tapi di saat itu, dia berusaha melawannya dengan melukai pergelangannya sendiri menggunakan  senar dari gitar yang selalu ia bawa kemana saja. Mungkin dia berusaha menahan dengan cara mengecap darahnya sendiri, bukankah orang-orang bilang ini adalah salah satu hal yang sering dilakukan para pengonsumsi saat mereka ketagihan obat tersebut. Tapi naas, hal itu bukannya menyelamatkannya, justru membuat nyawanya terenggut secara paksa.

* * *

Andai masih ada waktu, aku ingin hadir dalam hidupnya. Bukan untuk menjadi pacar yang dicintai dan mencintainya. Cukup dengan statusku sebagai adik kelas yang mengaguminya. Ya, cukup dengan statusku itu, aku ingin berada di sisinya saat dia terluka, untuk memberikan perhatian dan aku ingin mengatakan padanya bahwa : “pasti ada jalan keluar dari semua masalah yang kita hadapi dan jalannya bukan dengan mengkonsumsi barang mengerikan  itu, atau bukan pula menyendiri dengan menjauhi orang-orang di sekitar kita, cukup dengan bertekad berani dan nekat untuk menghadapi segala resiko yang akan terjadi. Cukup dengan begitu, dan Tuhan pasti akan menolong kita Sunbae”.

Setidaknya meki ucapanku itu hanya dianggap angin lalu olehnya, tapi aku akan bersyukur karena pernah mengingatkan dan memberitahunya. Tapi sayang, aku terlambat dan aku sudah tak punya waktu lagi. Aku hanya bisa diam dan selalu memandang jiwa yang kosong itu menengadah pada langit di setiap hujan turun.

Ya, di setiap hujan turun dia selalu ada disana, bermain gitar dan menikmati hembusan angin dingin yang ku pikir dinginnya tak dapat lagi dirasakan oleh tubuhnya. Dia selalu memainkan sebuah lagu yang membuatku terhanyut saat mendengarnya. Sepintas aku sering melihatnya tersenyum namun tiba-tiba menangis dalam jeritan yang terlihat tertahan. Aku yakin dia pasti kesakitan,  menengadah pada langit mungkin adalah salah satu bentuk permohonan maafnya pada Tuhan.

* * *

‘tttttttttttttteeeeeeeeeeeeettttt’

Suara bel Sekolahku yang memekik membuat semua lamunanku buyar, kini aku mengalihkan pandangan pada sekitar dan melihat teman-temanku yang lain nampak sibuk membereskan alat-alat tulis serta kertas kertas soal yang telah menemani kami kurang lebih selama 90 menit yang lalu.

Berbeda dengan teman-temanku, aku justru terlihat tenang dan sekarang malah kembali menolehkan pandangan  pada sosok ‘jiwa kosong’ yang ada di seberang gedung sekolahku. Sosok Lee Jinki Sunbae.

 

‘Degh’

Terkejut saat menemukan sosok itu nampak sedang memandangiku. Ini benar-benar membuatku mematung, dan semakin terkejut lagi, saat melihat sosok ‘jiwa kosong’ itu mengangkat tangannya lalu melambaikan ke udara. Dan kemudian sosok itu lenyap secara perlahan di tengah udara dingin yang menyelimuti deru gerimis saat ini. Hingga aku tak dapat melihat lagi sosoknya.

.

.

Dia telah pergi menuju negeri antah berantah yang tak terjambah oleh mata manusia.  Ke sebuah tempat damai yang tak pernah bisa ditembus oleh nalar, sebuah tempat abadi yang jauh, lebih jauh dan lebih tinggi dari langit ke tujuh.

Dan dia melambaikan tangannya padaku, sebagai bentuk salam perpisahan. Mungkin itu yang dapat ku terjemahkan dari bahasa tubuh dan wajahnya yang terlihat damai.

Lee Jinki Sunbae, Selamat jalan! semoga kau mendapatkan tempat paling  indah di dekat Tuhan.

Cerita tentang hidupmu akan ku jadikan sebuah pelajaran hidup yang berharga dalam hidupku, dan kelak semoga tak ada Lee Jinki yang lainnya lagi. Yang menyelesaikan masalah dengan sebuah cara yang salah.

 

 

—-Hidup adalah sebuah kesempatan berharga yang diberikan Tuhan pada kita , dan dengan menyianyiakan hidup kita sendiri berarti kita telah menyianyiakan kesempatan berharga yang Tuhan berikan pada kita—- (Rasyifa)

~END~

 

AN :  FF drabble dengan panjang paling singkat yang pernah aku buat, komentarnya sangat diharapkan!! Terimakasih~

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

23 thoughts on “SHINee Fanfiction // If Rain / Ficlet

  1. Setiap tulisan mu pasti ada pesan moral
    #saya suka..saya suka

    Suka

  2. Demi Jinki yg gak pernah aku tau bisa maen gitar…

    eon seneng pas baca maincastnya Jinki… lagi…
    dan sedikit narasi yang yah… memuji Jinki…
    tapi…

    jjleb…

    ada narasinya bilang “…tewas mengenaskan…”

    yah…. kecewa…??? nggak juga…
    karena, setelah dibaca sampe akhir,
    pelajarannya dapet….

    Thanks Rara…
    ni mudah2an bisa sedikit menggelitik
    orang2 yang mengambil keputusan yg salah atas hidup mereka…

    good job!!!!

    Suka

  3. Bagus :’)
    Feelnya dapet banget ;’))
    Keep writting unnie!🙂

    Suka

  4. keren …. terimakasih atas ff singkatnya ini .. meskpin sedih sama ceritanya .. aku fans onew oppa.. meskipun ga terima kalo ceritanya oppa mati gara-gara bunuh diri hehe .. tapi keren veritanya inspiratif dan bisa memetik hikmahnya .. pesannya yang mau di sampein penulis dapet banget ..

    Suka

  5. Keren bingit *.*

    Suka

  6. aku kurang dapet konfliknya masa xDD

    Suka

  7. kok miris
    jinki ya ampun ga nyangka, pas baca dia udh meninggal aku ternganga (?) apalagi pas bagian penyebab kematiannya aku makin ternganga (?) miris banget

    Suka

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s