Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

SHINee Fanfic Horror // “Barbie Doll”

58 Komentar

choi minho fanfic, cover fanfic, horror fanfic shinee

  • Title : Barbie Doll
  • Author : Rasyifaon https://rarastory.wordpress.com
  •  Main Cast :
    Kau cast as Choi Min Jung (15 years)
    Choi Minho as Choi Minho / Your Oppa (19 years)
    Choi Siwon as Cho Siwon / Your appa
  • Genre : Fanfiction, Horror/mistery, Family.
  • Rating : Teen (PG-15)
  • Length : OneShoot / Drabble
  • PS : poster + FF horror gagal. mian ya?? -_____-
  • Summary : Berhati-hatilah dengan sebuah harapan!

  • A/: Horror? Bukan kok -_-

 2012_Storyline_by_Rasyifa

* * *

 

“Appa pulang!” sebuah seruan itu, membuat kedua daun telingamu bergerak-gerak, kau yang semula sedang asyik menonton televisi kini justru nampak berlari lari menghampiri asal dari seruan itu.

“Appa!” serumu memanggil sosok lelaki yang baru saja memasuki pintu rumah bernuansa minimalis milik keluargamu.

“Aaah, minjung~ah! Apa kabar putri appa yang cantik, eoh?” kau berhambur masuk ke dalam pelukan lelaki itu, yang setauku lelaki itu adalah appamu.

“Appa perginya lama sekali, appa tau..aku sampai bosan menunggu appa setiap hari!” mencubit perut lelaki itu karena gemas, memautkan sudut bibirmu lucu, sedangkan appamu hanya tertawa ringan melihat tingkahmu.

“Omona, gadis kecil appa sudah pintar merajuk nde?” kau hanya terdiam tak menjawab apa-apa, dan sebenarnya secara diam-diam  kau justru menyelidik pandangan pada sebuah koper besar yang tergeletak di belakang tubuh appamu, kaupun tersenyum penuh aura mencurigakan. ‘Oleh-olehku’ batin hatimu.

“Ah nde, kakakmu Minho mana Jung~ah?” tanya ayahmu sambil melepaskan pelukan yang sedari tadi belum terlepas.

“Molla, tapi tadi aku lihat sehabis pulang kuliah ia langsung masuk ke kamarnya, setelah itu aku tak melihatnya lagi!” kening appamu mengerut kemudian mengangguk kecil.

“Apa oppamu tak tau kalau appa pulang hari ini?” kau hanya mengangkat kedua pundakmu untuk menjawab pertanyaan itu, lalu berjalan mendahului appamu menuju ruang tengah, tempat kau menonton televisi beberapa saat lalu. Hmm, acara penyambutan kepulangan appa sudah selesai rupanya.

* * *

“Bagaimana kuliahmu Minho, apa ada masalah?” appamu mencoba membuat bahan pembicaraan saat makan malam tiba, sejenak Minho menghentikan aktivitas makannya kemudian memandang appamu dengan pandangan datar.

“Ahni~!” jawabnya singkat. Appamu mendesah saat mendengar jawaban oppamu yang terlalu singkat, kaupun sebenarnya juga ingin ikut mendesah tapi kau urungkan niatmu karena ini bukanlah hal yang terlalu aneh, tepatnya ini hanyalah hal yang sangat biasa. Oppamu memang bukan pembicara yang baik, dia bahkan jarang bicara,  berbeda sekali denganmu yang justru terkadang terlalu sering bicara.

“Appa tak menanyakan kabar sekolah gadis terimut sepanjang masa ini?” kali ini kaulah yang mencoba membuat bahan pembicaraan baru, setidaknya sekedar untuk meramaikan suasana yang bisa dibilang terlalu sepi ini.

“Ahaha, sepertinya kabarmu baik –bahkan terlalu baik—, jadi untuk appa apa menanyakannya?” kau mempautkan bibirmu kembali, ‘ck..benar-benar’ batinmu kesal.

Appamu kembali tertawa saat melihat kau memberikan ekspressi itu lagi, sementara Minho justru memandangmu dengan pandangan bosan. Ck, sebenarnya anak itu kenapa? Bukankah kalian bersaudara?

* * *

“Appa… appa-kan baru pulang, apa appa tak membawa sesuatu untukku? Yah..sekedar cendra mata dari Paris. Ayolah appa, jangan bilang kalau appa melupakan hal terpenting itu!” ucapmu disela-sela kegiatan menonton film horror yang DVDnya kau sewa dari rental dekat sekolahmu. Mendengar ucapanmu, appamu yang sedang menemanimu menonton film menoleh sesaat padamu.

“Akhh, appa hampir lupa jika kau tidak mengingatkannya Jung~ah!” jawab appamu dengan menepuk kening sebelumnnya, sementara kau justru tersenyum senang saat mendengar jawaban appamu.

“Berarti appa membawakan oleh-oleh untukku-kan? Apa itu appa, dimana appa menaruhnya?” antusias dan bahkan tak menghiraukan tatapan murka yang ada di sampingmu, tatapan yang berasal dari kakak kandungmu — Choi Minho— , dia memandangmu murka karena kau terlalu berisik sehingga membuatnya tak dapat berkonsentrasi dengan film horror yang sedang dia tonton. Yah, Minho juga ikut menemanimu menonton film bersama, karena ini film horror bukan film comedy romantis yang akan membuatnya muntah seharian. Orang yang aneh euh?

“Emm..appa menaruhnya di koper appa yang berwarna cokelat, kau ambil saja sendiri. Ah ya, sekalian bawakan juga oleh-oleh untuk kakakmu!” kau mengangguk lalu melangkah bangkit. Ssejenak kau tetap diam di posisimu —membuat seseorang kesal karena tubuh jenjangmu yang sedang berdiri itu menghalangi pemandangannya menonton film—. Ck..siapa peduli? Bahkan itu memang tujuanmu, membuat seorang Choi Minho kesal, setidaknya dengan begini kau dapat melihat orang itu menunjukkan ekspressi selain ekspressi datar yang selama ini menghiasi wajahnya.

“Jung~ah, kau mau apa berdiri disana? Katanya ingin mengambil oleh-oleh, jangan mengganggu kakakmu lah!” mendengar teguran appamu kau segera melangkahkan kaki menjauh, dan tak berselang beberapa detik saat itu juga kau mendengar helaan nafas lega yang berasal dari kakak kandungmu. Hhmmm, dasar orang aneh.

* * *

Kau memandang takjub pada sebuah miniatur rumah cantik yang ada di tanganmu. Cantik, dengan sentuhan warna putih dan merah muda yang anggun. Kau mengamati bagian miniatur itu, dan seketika mata bulatmu membesar. Di dalam miniatur rumah itu, juga terdapat banyak miniatur perabotan yang tak kalah cantik, diantaranya sofa kecil yang dilengkapi meja, lalu lemari-lemari serta akuarium dan bahkan sebuah tempat tidur mungil dengan selimut bercorak bunga-bunga kecil di atasnya.

“Mwo..rumah Barbie!” ucapmu sambil terus memperhatikan setiap bagian dari rumah kecil nan cantik itu.

“Ahya, oleh-oleh untuk orang itu!” menghentikan aktivitasmu sejenak dan justru kembali menyibukkan menggeledah koper berukuran besar yang ada di hadapanmu.

* * *

“Ini oleh-oleh untukmu! Miniatur menara effel, bagus tidak?” ucapmu sambil menggeletakkan benda yang kau sebut dengan ‘miniatur menara effel’ itu di atas meja belajar yang sedang di pakai seseorang.

Sejenak orang itu memandang pada benda tersebut, kemudian mengangguk singkat. Kau menghembuskan nafasmu enggan.

“Sepertinya ini dibuat dengan sangat teliti, dan menggunakan perbandingan skala yang sangat rumit! Bukankah terlihat mirip dengan aslinya?” ucapmu lagi dan kali ini sambil melipatkan kedua tanganmu di depan dadamu. Lelaki itu lagi-lagi mengangguk singkat. Aghhrr, ingin rasanya kau menjambak rambut ikal panjang milik lelaki di hadapanmu.

‘Tidak bisakah dia sedikit lebih agresif?’ rutukmu di dalam pemikiran otakmu. Hey..mungkin jika kau yang berada di posisi orang itu kau akan menjawab ucapanmu itu dengan mengatakan – bagaimana mungkin kau bisa mengatakan miniatur ini mirip dengan aslinya jika kau sendiri bahkan tak pernah melihat yang aslinya—. Tapi karena orang itu bukan kau maka orang itu tidak melakukan hal yang akan kau lakukan.

“Ah, apa kau menyukai oleh-olehnya?” masih belum jera, kau mencoba membuat bahan pembicaraan baru. Tapi bingo, lagi-lagi dia hanya mengangguk untuk menjawabmu.

“Kalau begitu ucapkan kau menyukainya!” nampak frustasi dan kini kau justru terdengar memaksa, membuat orang itu menolehkan pandangan padamu dengan memperlihatkan kening yang berkerut. Kau membalas tatapan itu dengan mengangkat kedua alismu.

“Katakan, kau suka benda itu! itu artinya kau benar-benar menyukainya OPP-PA!” menekankan nada bicara saat menyebutkan kata terakhir, sementara seseorang di depanmu memandangmu tak suka.

“Tidurlah!” sepertinya dia benar-benar tak ingin menggubrismu, dia menyuruhmu untuk tidur agar kau menjauh dan keluar dari kamarnya, tapi kau terlalu enggan menuruti ucapan lelaki itu.

“Katakan dulu kau menyukai oleh-olehnya, setelah itu aku akan keluar dari kamarmu tanpa kau minta!”

Sosok itu memandangmu tak suka, kemudian dia mendesah dari tempatnya duduk. Kaupun mengacak rambutmu frustasi. Hey, kau hanya menyuruhnya mengucapkan beberapa kata seperti ‘aku menyukai benda ini’ atau mungkin dia bisa menggunakan kata yang lebih singkat ‘aku suka ini’, maka semua akan lebih mudah, setidaknya kaupun tak perlu merusak tata rambutmu dengan mengacaknya.

“Katakan saja, apa susahnya sih!” ucapmu lagi-lagi memaksanya.

“Oppa, kaukan tak bisu, kenapa mengatakan hal semudah ini saja kau seperti merasakan kalau pita suaramu terikat dengan rantai!” masih teguh kau terus memaksanya. Sebenarnya kau sama sekali tak memiliki tujuan khusus untuk memaksanya, kau hanya ingin mendengar oppamu menyebutkan kata-kata yang selama ini tak pernah ia ucapkan. Hhh, kau bahkan hapal bahwa dia hanya mampu mengatakan kata-kata singkat seperti ‘ahni’, ‘nde’, ‘arra’, yah..kata-kata yang bahkan mampu diucapkan dalam waktu sesingkat satu detik.

“Oppa, ucapkan! Aku inikan dongsaengmu! Apa kau perlu seperti ini terhadap dongsaengmu sendiri!” sepertinya kakak kandungmu itu mulai muak dengan tingkahmu, ia mendorong kursinya lalu bangkit dari posisinya. Kau hanya terus memperhatikan tingkahnya, sampai kau melihat sosok itu telah merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya lalu dengan tenang dia memejamkan mata, seolah-olah di ruangan itu tak ada orang lain selain dirinya.

“Aghhhhhr!” frustasi, jera, kesal, dan sungguh… AGRRRHH. DASAR ORANG ANEH!

“Brraakk” kau menutup pintu kamarnya kencang saat kau memutuskan untuk keluar dari kamar tersebut. Setidaknya jika dia benar-benar marah, marahlah dengan mengataiku bukan dengan menganggapku tidak ada, batinmu semakin frustasi.

* * *

Terlalu suka, atau kau benar-benar jatuh cinta pada sosok miniatur rumah barbiemu itu? molla. Yang jelas, setiap hari kau selalu memainkannya, bahkan kau tak mengingat kalau waktu pagi telah menjelang ke malam atau sebaliknya. Untungnya, saat ini sekolah sedang dalam masa liburan, kaupun bisa berpuas-puas ria memainkan mainan kesayanganmu itu.

“Ah, jincha.. aku baru sadar kalau rumah-rumahan ini akan terlihat lebih baik, jika di dalamnya terdapat boneka!”

‘greeekk’ pintu kamarmu terbuka pelan, kau menolehkan pandanganmu pada sosok Minho yang nampak dengan canggung memasuki kamarmu. Chamkaman, Minho—orang itu— mamasuki kamarmu?Ada badai apa dia bersedia melakukannya.

“Jung” kau membulatkan matamu saat sosok itu memanggilmu dengan ‘jung’. Ah, panggilan macam apa itu?  kemudian kau melihat dia menggerakkan dagu kecilnya seolah sedang menunjukkan sebuah arah padamu. Sejenak kau terdiam tak mengerti, tapi saat melihat jam yang menggantung di dinding kamarmu kau mulai mengerti maksud kedatangan Minho ke kamarmu. Yah, dia sepertinya ingin mengajakmu makan siang bersama, tapi karena sesuatu hal kau mencoba pura-pura tak mengerti.

“Mianheyo, ada apa?” tanyamu memulai aksi kepura-puraan yang telah kau rencanakan.

Tapi sosok itu terus saja menggerakkan dagunya, hampir kau ingin melempar orang itu dengan rumah-rumahan milikmu, tapi karena kau terlalu menyukai rumah-rumahan itu, maka kau enggan melakukkannya.

“Oppa, wae?” dia nampak mendesah, memandangmu penuh selidik dan kebencian.

“Makan” akhirnya sebuah kata singkat itulah yang keluar dari mulutnya, sementara kau kini tersenyum puas. Yah, meski masih dalam satu kata, tapi setidaknya kata-kata itu tidak ada di kamus ucapan lelaki itu sebelumnya. Ingat dengan ‘ahni’, ‘nde’, ‘arra’?

* * *

“Karena kau telah mengucapkan kata-kata selain ‘ahni’, ‘nde’, ‘arra’, maka aku akan menemanimu untuk bermain bersama!” kau duduk begitu saja di atas ranjang Minho, tak mempedulikan kernyitan bingung di wajah lelaki itu.

“Kitakan saudara, sudah saatnya kita saling mengakrabkan diri. Kalau saudara saja saling menjaga jarak dan tidak akrab. Apa kata dunia?” lanjutmu dan lagi-lagi tak mempedulikan kernyitan bingung yang semakin melebar di kening lelaki itu.

“Hey, lihat! Apa menurutmu rumah boneka ini bagus?? Aku bahkan merasa rumah boneka ini sangat bagus!” ucapmu mencoba mengajak lelaki di sampingmu bicara, kau memamerkan rumah-rumahan boneka itu dengan senyum yang terlewat riang.

“Baguskan? Ah.. aku bahkan ingin mengubah ukuran tubuhku menjadi kecil agar aku bisa masuk ke dalam rumah ini, merasakan setiap parabotan dan pemandangan rumah ini secara langsung!” Minho tetap diam tak berniat memberikan tanggapan dari ucapanmu. Hh, nilai sosiologi Minho pasti buruk, batinmu mulai kacau.

‘Jlleepp’ kau tercekat di tempatmu berada, saat menyadari lampu di rumahmu tiba-tiba padam dengan sendirinya. Dan sekelebat perasaan takut mulai menghantuimu.

“Oppa, lampunya mati!! Gelap.. aku tak bisa melihat apa-apa, apa oppa masih disana?” tanyamu mulai cemas, akh.. apa  Minho akan menjawab pertanyaanmu?

‘sssrrrrrrrr’ angin dingin tanpa sumber mulai mengganggumu, sekarang pemikiran konyol tentang sesuatu yang gaib bermunculan dari pemikiranmu. Hening, tak ada suara yang menyahut. Ah, Minho…jincha!

‘grreeeet’ menelan air liurmu seketika mendengar suara pintu terbuka pelan. Hhh, mengingat appamu yang sedang tugas ke luar kota semakin membuatmu kikuk.

“Oppa, tak bisakah kali ini saja kau menjawab pertanyaanku… bicaralah! aku takut oppa!” gumammu sambil meneteskan airmata. Hey, kau benar-benar takut ditambah saat jendela kamar Minho nampak bercahaya karena kilatan petir di luar. Sejenak cahaya itu membuatmu dapat melihat seluruh ruangan di kamar ini, termasuk rumah kecil yang sedang ada di tanganmu.

“Mungkin di dalam rumah ini, aku akan lebih baik!” gumammu.

‘Pssssst Jderrrr’ suara gemuruh guntur hampir mencekik pernafasanmu.

“OPPAAA!” berteriak, merasa benar-benar terancam terlebih saat melihat sosok wanita memakai pita di rambutnya muncul secara tiba-tiba di kaca jendela Minho yang lagi-lagi bercahaya karena kilatan petir. Mengerikan, wanita itu memiliki mata putih yang gelap dengan bintik hitam kecil di tengahnya, belum lagi bibir merahnya yang bahkan mengalahkan merahnya air setrup.

“OPPA, APA SALAHKU, SETIDAKNYA JAWAB AKU, APA KAU ADA DISINI?” teriakmu sambil meraba sekeliling tempat tidur di tengah gelap yang menyiksa pupil matamu.

‘dapat’ kau merasa tenang saat tanganmu mendapatkan sesuatu —-seperti rambut—, kau yakini itu adalah rambut Minho oppa~mu yang sedang merebahkan diri di sampingmu.

‘Psssssst Jderr’ suara guntur terdengar kembali bergemuruh, bersama kilat yang setia menemaninya. Sejenak kau tertegun saat cahaya kilat itu membantumu melihat sesuatu yang sedang kau pegangi.

Ya benar, itu memang rambut. Rambut ikal pirang? Ya benar, rambut ikal pirang, persis seperti milik Minho, tapi rambut ini milik sosok wanita yang sebelumnya kau lihat di jendela. Wanita itu menampilkan giginya di antara bibir merah menyala yang mengerikan saat kau menatap matanya.

“I am Barbie!” cahaya kilat telah raip sehingga kini gelap kembali tersisa menamanimu yang mematung.

* * *

“Apa kau yakin Minho?”

“Nde appa, kemarin saklar rumah kita tiba-tiba mati, aku memutuskan untuk mengeceknya dan membenarkannya. Tapi setelah itu aku tak menemukannya lagi padahal sebelumnnya dia berada di kamarku dan sedang bermain dengan rumah bonekanya!” terusik dengan suara ocehan panjang lebar itu, tapi begitu menyadari kalau suara itu milik Minho kau segera membukakan matamu. Hey, fenomena langka! Minho bicara panjang lebar, kau tentu saja rela tidur indahmu terpotong untuk menyaksikannya.

Chamkaman, dimana ini? ini bukan kamarmu atau kamar Minho. Ruangan serba merah muda dan putih dengan dekorasi cantik yang anggun, seperti rumah barbiemu. Tunggu!

Kau menelan salivamu saat melihat sosok Minho–kakak kandungmu duduk di depanmu dengan ukuran tubuh yang sangat besar dan di sampingnya juga ada appamu dengan ukuran tubuh yang lebih besar. Jangan-jangan?

* * *

Kau menjerit dan berteriak, mencoba memanggil Minho atau appamu tapi mereka sama sekali tak mendengarmu atau bahkan sebenarnya mereka sama sekali tak dapat mendengarmu. Kau sadar dan seketika menangis, kau telah berubah menjadi sosok boneka penghuni rumah Barbie yang selama ini kau bangga dan cintai itu.

‘tap..tap..tap’ suara langkah yang membuat getaran cukup besar itu membuatmu merasa gugup seketika. Itu Minho dan dia sedang memperhatikanmu, hey.. dia bisa menyadari kehadiaranmu. Ini bagus!!

“Oppa!” panggilmu lirih, tapi Minho justru mengernyitkan keningnya.

“Sejak kapan ada boneka di dalamnya?” gumam Minho, dan setelah melihat Minho kembali berjalan  memunggungimu kau kembali menangis. Kau sadar, dia sama sekali tak dapat mendengarkan ucapanmu.

‘Minho oppa telah berubah menjadi orang yang banyak bicara, sementara aku justru menjadi boneka dan terjebak di dalam rumah mainan ini entah sampai kapan.’ gumammu sambil terus terisak hingga sebuah suara yang terdengar menyatu dengan angin mengganggu pendengaranmu.

“Hey, bukankah ini yang kau inginkan??…. I am Barbie

~THE END~

 

AN : hahaha, sudah aku bilangkan ini bukan horror! usahakan untuk tidak menjadi silent reader ya?? ^^

Interest read another fanfic? visit Fanfiction Library

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

58 thoughts on “SHINee Fanfic Horror // “Barbie Doll”

  1. Seremnya kerasa kok. Aku suka karakter Minho yang cuek dan irit ngomong🙂 nice ff

    Disukai oleh 1 orang

  2. Wah.. Terus gimana dong minjung kembali seperti semula ?

    Suka

  3. Omo,,,, dy bneran jdi barbie,,,,,, kyak.a serem pklo punya oppa kyak Minho oppa,,,,, ko’ and sieh ???? Nanggung tau

    Suka

  4. Maaf thor, tapi kurang serem.. trus itu akhirnya gimana? gantung lagi ya?

    Suka

  5. Keren bgt ffnya, sequel dongg.. Gantung masa

    Suka

  6. Sebenernya ff-nya rame,, tapi kayanya gantung banget thor… Tolong kalo bisa bwt sequelnya aja..🙂

    Suka

  7. kasihan….😥 kasih sequelnya dong thor,, ^_^ biar dia gak jd barbie lagi🙂

    Suka

  8. Iya ngga horror tapi lucuuu :3 dulu aku juga sering kayak gitu, mengagum2i rumah barbie sampe2 mikir pengen ikutan kecil kayak barbie biar bisa tinggal disana, eh tapi untung nggak kejadian kayak cerita ini ya.. ternyata serem juga kalo aku bisa tinggal di rumah barbie

    Suka

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s