Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

SHINee Fanfic Sad Romance // Beautiful Yeoja

47 Komentar

shinee fanfic sad, shinee fanfic fantasy, cover fanfiction

  • Title : Beautiful Yeoja
  • Author : Rasyifa on https://rarastory.wordpress.com
  • Main Cast :
    .
    Choi Minho
    . Imaginary Cast as Oh Gyoemi
  • Genre : Fanfiction, Sad, Romance, Life, Angst, Little Fantasy.
  • Rating : Teen (General)
  • Length : OneShot / Ficlet
  • Disclaimer : Semua alur cerita kepunyaan saya, tokoh asli dalam cerita juga kepunyaan saya, pokoknya semuanya punya saya, hahaha😀
  • BackSound :
    . Kim Dong Wook (My Heart is Calling)
    . SHINee (In My Room)
    . Jung Il Wo (scarecrow)
  • A.N : Cukup dengan ‘Membaca ceritanya sampai selesai’, ‘ Tinggalkan Komentar’, ‘Like —kalau bisa—’. Dan terimakasih banyak ^^

2012_Storyline_by_Rasyifa

Gemercik air hujan membasahi pucuk kepalanya, tetap tersenyum memandang ke depan dengan pandangan kosong. Gadis cantik, hari ini dia membawa sebuah payung putih tapi kenapa dia tak memakainya dan justru menggeletakkan payung itu begitu saja di atas tanah kemerahan itu.

Bagaimana jika udara hujan membuatnya kedinginan, bagaimana jika setelah ini dia sakit, lalu dia tak bisa datang lagi kesini, dan itu menjadi sebuah peringatan besar untukku, karena dengan begitu aku tak bisa lagi melihatnya.

Tetap tersenyum, bibirnya yang terlihat pucat terus tersenyum manis. Matanya teduh seperti rembulan yang biasa ku lihat saat malam. Gadis cantik, cantik sekali. Terdengar olehku  suara nafas pelannya, membuatku merasa tegang saat sosok itu mulai bangkit dari duduknya. Apakah gadis itu berniat pergi dari tempat ini? apakah gadis itu akan kembali lagi nanti?

Hujan semakin deras, aku menengadah pada langit. Melihat tak ada jejak sedikitpun dari warna biru, hanya warna putih bercampur hitam yang terlihat muram.

Gadis itu menangis, tetesan air matanya bercampur dengan air hujan, dan bodohnya aku..aku hanya bisa melihatnya dari sini.

Dia menjerit di sela suara gemuruh air hujan, dia menjerit dengan tubuh bergetar. Seketika aku merasa ada sebilah duri yang menyangkut di kerongkonganku di setiap gadis itu mengeluarkan jeritan. Jeritannya terdengar pedih, dan menyelipkan penderitaan di dalamnya.

‘Tes’

Apa yang terjadi? Kenapa aku justru ikut menangis seperti ini?

Gadis cantik itu menghentikan jeritannya, terdiam beberapa saat lalu tersenyum kembali seperti beberapa waktu lalu. Tersenyum? Tapi aku justru merasa miris saat melihat lengkungan itu terajut dari bibirnya, dan aku mematung karena nyatanya dia kembali menangis.

‘Tes’

Apa yang terjadi? Kenapa aku justru kembali ikut menangis seperti ini?

Aku terdiam saat tiba-tiba dia menatapku. Astaga Tuhan, dia mempergokiku yang sedang menatapnya.

Dipukul telak dari dalam dadaku saat dia melangkah menyeberangi jalan, atau bisa kubilang dia berjalan menghampiriku. Dia tersenyum kaku, tapi air matanya yang bening itu terus mengalir dari ujung matanya.

Sejenak aku berpikir, siapa yang bodoh? Aku atau dia. Aku yang bodoh karena dengan mudahnya membiarkannya menangis tanpa berniat menghentikannya atau dia yang bodoh, karena terus menangis sambil tersenyum seperti itu.

“Minho,” tersentak saat ternyata gadis itu telah berada tepat di hadapanku. Tapi tunggu, tadi apa dia bilang ‘Minho’, siapa itu Minho? Apa jangan-jangan ‘Minho’ itu adalah aku?

Tubuhnya basah dari ujung kepala hingga kaki, wajahnya kusut dan terlihat pucat di antara air hujan yang membuat penglihatanku mengabur. Tapi satu hal, gadis ini tetap terlihat cantik di mataku. Gadis cantik, apa yang sedang terjadi denganmu?

“Maaf.”  terkejut saat tiba-tiba dia berhambur memelukku. Tercekat saat melihat tubuhnya menembus tubuhku.

Mematung dan tiba-tiba sekelebat peristiwa muncul di pikiranku, seperti sebuah slide film yang diputar secara cepat.

* * * (flashback) * * *

“Gyoemi,” gadis itu tercekat saat mendengarku menyebutkan namanya, dia justru terdiam dengan sebuah jarum suntik yang sebenarnya jika aku tidak menyebutkan namanya tadi, maka ujung jarum itu sudah dengan mulus menusuk permukaan kulit putih gadis itu.

Mulai memantapkan hati, dengan pelan ku bawa langkahku mendekatinya sambil memaksakan untuk tersenyum. Aku tahu, sepertinya aku lelaki ter-aneh yang ada di dunia. Aku tahu, kebanyakan dari lelaki pasti akan pergi begitu saja setelah melihat semua ini. Aku tahu, tapi karena aku tahu kebanyakan lelaki bersikap seperti itulah, maka aku tak mau menjadi lelaki dari kebanyakan lelaki itu, aku ingin menjadi Minho yang menjadi diri sendiri.

Bertatapan dengan wajahnya saat aku menjongkokkan tubuhku. Matanya masih bening, tapi bola mata itu menyiratkan ketakutan yang mendalam. Ku ambil nafasku perlahan kemudian dengan lembut ku rangkul tubuh ringkihnya.

‘plukk’

Suara benda terjatuh, ku lirikkan ujung mataku. Ku temui jarum suntik itulah yang menjadi sumbernya.

“Gadisku, jangan menangis, tidak apa-apa!” mencoba menenangkannya sambil memberikan belaian lembut yang ku harap dapat menenangkannya.

 

* * *

Aku membawanya pulang ke rumahnya, lalu menidurkannya di sebuah tempat tidur king size miliknya. Dan dengan lancang aku ikut berbaring di sampingnya, dan kalian boleh mengataiku bajingan saat aku menggeletakkan kepala gadis yang kini sedang tertidur itu di dadaku. Entah kenapa, disaat seperti ini aku justru memiliki pemikiran konyol, contohnya dengan berpikir bahwa merebahkan kepalanya di dadaku akan jauh membuatnya lebih nyaman daripada membiarkan bantal-lah yang menjadi tempat dimana kepala mungil ini terbaring.

Nafasnya terdengar pelan dan syahdu. Ku amati wajahnya yang nampak tirus, di bawah kelopak matanya juga terdapat goresan hitam. Apa sebesar itu penderitaannya selama ini? ahh, sungguh maafkan aku… gadisku.

Sial, aku bertambah lancang. Aku kini justru mengecup keningnya dan dengan sombong aku menyanyikannya sebuah lagu. Choi Minho, kau pikir sebagus apa suaramu itu?

* * *

Gadisku bernama Gyoemi, lengkapnya Oh Gyoemi. Dia gadis yang manis, penurut dan penuh kasih sayang, dia hangat dan cantik. Tapi ku pikir gadisku kurang beruntung. Aku tahu sepertinya aku ini sok tahu, aku tahu aku ini sebenarnya hanya lelaki yang hanya bisa bicara tapi tak bisa berbuat banyak. Bolehkah mengataiku lelaki pengecut? Tentu, silakan, dengan hormat ku izinkan.

Aku selalu terdiam saat melihat gadis itu dengan nakal memakai jarum suntiknya, bukannya mengehentikan lalu menyadarkannya bahwa itu salah. Ya, aku justru mengangguk dan terkadang membantunya. Aku bodoh ya? Tentu saja jawabannya iya. Terkadang aku juga membelikannya minuman beralcohol untuk membantu menenangkannya.

Bukannya aku ingin mengatakan aku manusia terpandai sedunia, aku hanya ini hanya manusia biasa. Tapi aku selalu ingin memandang setiap permasalahan dengan sudut pandang yang berbeda. Aku tak ingin terlalu kaku, memandang sesuatu yang salah itu selalu salah dan memandang sesuatu yang benar itu selalu benar. Terkadang aku merasa, ada kalanya apa yang kita nilai salah akan bernilai benar, jika kita memandangnya dengan sudut pandang yang berbeda, begitupun sebaliknya.

Salahkah jika aku menganggap apa yang dilakukan Gyoemi sama sekali bukan sesuatu yang salah, salahkah jika aku membiarkannya terus mengkonsumsi minuman dan suntikan itu? mungkin disatu sudut pandang aku memang salah, tapi kenapa tak mencoba memandang dari sudut pandang yang berbeda hingga apa yang aku pikirkan bukan lagi suatu kesalahan.

Dan aku bukan seorang lelaki yang akan mengatakan ‘jangan menangis jika tidak ada aku disampingmu’. Benar, aku bukan lelaki pemaksa seperti itu, aku hanyalah lelaki yang selalu bersedia meminjamkan bahu untuk dijadikan sandaran gadisku menangis, aku hanyalah lelaki yang bersedia menjauh, jika gadisku ingin menyendiri. Ya, aku memang Choi Minho yang berbeda dari lelaki lain.

Bagiku gadis itu hanya menjadikan suntikan dan minuman tersebut sebagai pelampiasan, sebagai sesuatu yang dijadikan alat untuk sandaran. Yah, aku selalu menemaninya tapi tetap ada sebuah batasan dimana aku tak bisa di sampingnya. Aku memang menjadi seseorang dengan segala peran dalam kehidupannya, tapi tentu saja semua itu tidak cukup. Dia butuh alat bantu lain, dan aku rasa bukan hanya sosok lelaki yang ada di sampingnya. Aku paham dia hanya seorang gadis yang terpuruk, maka aku tak ingin melukainya lagi.

Suntikan itu hanyalah suntikan penenang dengan dosis tinggi. Sebenarnya tidak masalah jika dia memakainya satu atau dua kali, tapi akan menjadi masalah jika dia memakainya hampir setiap saat, dia akan mengalami kecenderungan.

Ayah dan ibunya meninggal karena kecelakaan pesawat terbang, mayat kedua orangtuanya tidak di temukan. Dia anak tunggal, dan terlebih dia tidak memiliki siapa-siapa selain orangtuanya. Dia terpuruk? Tentu saja jawabannya iya, dan aku sebagai kekasihnya sudah berusaha menengkannya dan mencoba mengambil alih semua peran yang dia butuhkan untuk mengisi hidupnya. Menjadi orang tua, sahabat, pacar, dan segalanya. Aku terlalu naïf, seharusnya aku tak melakukannya. Ini mungkin, karena aku bodoh.

Pernah suatu malam, dia datang ke apartemenku dengan air mata yang sudah terurai mengaliri pipinya yang pucat. Dia memelukku dengan erat sambil bercerita di sela isakannya. Dia bilang, banyak orang datang ke rumahnya lalu merusak semua barang, dia bilang orang-orang itu memintanya menyerahkan banyak uang untuk menebus hutang-hutang ayahnya di perusahaan. Aku terdiam di tempatku, sambil mengingat bahwa akupun tak punya banyak uang di dompetku. Aku hanya seorang pelajar tingkat tiga di sekolah menengah  atas yang untuk makan sehari-hari pun masih ditanggung kedua orang tuaku.

* * *

Disuatu malam yang lain, dimana aku sedang menarik dengan kuat gas motorku dengan tangan kananku sendiri. Dimana angin-angin malam membuaiku untuk hanyut melaju dengan kecepatan tinggi. Suara desingan mesin motor memenuhi pendengaranku. Tekatku hanya satu, memenangkan permainan ini lalu memberikanmu sebuah hadiah manis dari hasil balapan liar yang ku jalani.

Desingan suara mesin motor-motor lain semakin terdengar di telingaku. Gawat, aku harus menarik gas motorku lebih dalam.

Motorku melaju dengan cepat sayang, selayaknya desiaran darahku saat bersamamu. Membayangkanmu tersenyum saat menerima hadiahmu nanti, membuatku ikut tersenyum di balik helm yang sedang terpasang di kepalaku.

Speedometer itu memperlihatkan betapa aku melakukan semuanya dengan baik, dari sini aku telah dapat melihat gerombolan manusia bersorak menyambut kedatanganku.

Saat gerbang dengan tulisan finish itu telah ku lewati dengan tepat, sesuatu hal yang aneh tiba-tiba menyentak secara telak bagian jantungku. Rem motor ini tidak bisa diinjak, terus ku coba menginjaknya.

Sekali lagi ku injak, tetap tak bisa.

Ada apa ini?

Tetap berusaha, menginjak lagi.

Tidak berniat berputus asa, menginjak sekali lagi.

Injak sekali lagi,

Dan… berhasil. Aku berhasil.

‘Brak’

Oh Tuhan, kenapa semuanya tiba-tiba menjadi gelap….

 

* * * ( Flashback Off ) * * *

Aku masih tercengang sambil menatap gadis di depanku tak percaya, ku coba untuk menyentuhnya tapi tanganku justru menembus tubuhnya.

“Gyoemi” menyebut namanya pelan. Jadi selama ini gadis yang ku perhatikan, gadis cantik ini adalah gadisku sendiri.

‘Tes’

Tolong, jangan mengatai lelaki yang menangis adalah lelaki lemah. Sungguh, demi Tuhan, aku tak ingin gadisku malu hanya karena lelakinya adalah lelaki yang lemah.

‘Tes’

Gyoemi, beginikah caramu hidup setelah kejadian malam itu? kenapa kau terlihat semakin menyedihkan sayang. Kenapa kau membuatku tersiksa karena melihatmu seperti ini. Tak bisakah kau hidup dengan baik, tak bisakah kau memulai hidupmu dengan baik?

Aku mendesah, malam itu aku benar-benar naïf. Aku memang berhasil menginjak rem motorku, tapi aku melakukannya disaat yang tidak tepat.

Sebuah truck tanpa ku sadari melaju dari arah berlawanan, aku yang terlalu sibuk dengan masalah rem justru malah mengabaikan truck tersebut. Truck yang membuat sebuah benturan keras di tubuhku, dan anehnya meski benturan itu sangat keras, aku sama sekali tak dapat merasakan sakit.

* * *

Nanar, ketika tiba-tiba segerombolan orang mengangkat tubuhmu yang terbaring di atas permukaan tanah. Orang-orang itu membawamu masuk ke sebuah mobil putih dengan tulisan ‘Rumah sakit Jiwa’. Hmm.. separah itukah gadisku?

Tersenyum miris, ketika mobil itu melaju dari tempat ini dengan kau yang ada di dalamnya. Sebenarnya aku ingin menjerit, lalu menangis sekuat yang aku bisa.

Aku ingin menuntut hidup untuk yang kedua kalinya.

Tapi ku urungkan niatku itu dalam-dalam, saat membaca sebuah nama di atas batu nisan yang tak tersentuh air hujan, karena sebuah payung putih tergeletak disampingnya –untuk melindunginya—.

Choi Minho

Born : 09-12-1991

Dead : 06-04-2012

Kembali memamerkan senyum miris mengingat aku mati terlalu muda, mengingat belum banyak kabaikan yang aku lakukan di dunia, dan mengingat wajah orang yang ku cintai benar-benar terluka karena kepergianku.

Mendesah lagi, saat merasakan sebagian tubuhku terasa hampa. Dan ternyata sepasang kakiku telah lenyap di makan udara, aku bahkan tak dapat melihat kakiku, tapi aku benar-benar telah merasakan kekosongan.

Untuk yang terakhir kalinya, ku tengadahkan kepalaku pada langit yang masih nampak hitam.

Aroma dingin angin di sela hujan membuatku semakin merasakan kekosongan melanda tubuhku.

Gyoemi, mungkin kejadian malam itu adalah sebuah hadiah yang dapat aku berikan padamu sebagai hadiah terakhir. Aku tahu kau tak menyukai hadiahku, tapi belajarlah untuk menerimanya sayang.

Hadiah terakhirku, hadiah dari Choi Minho yang mencintaimu dengan setulus hati. Yah, mencintaimu setulus hati, tapi itu dulu disaat aku masih bisa menemanimu dengan jantung yang masih berdetak di dalam tubuhku. Tapi kini cinta itu hanyalah sebuah kekosongan bagiku, jadi ku mohon berhentilah mengharapkan dan membutuhkanku.

Gyoemi, aku percaya kau adalah gadis yang kuat!

Gyoemi gadis cantik yang tegar!

Kau bisa menjalani hidupmu, kau tak memerlukanku. Tak memerlukan seorang Choi Minho lagi.

Gyoemi, gadisku yang cantik.  Terimakasih karena telah bersedia menjadi bagian dalam hidupku yang singkat. Maaf jika hadiah terakhirku menyakitimu.

Dengan penuh cinta.

Lelaki yang dulu mencintaimu.

Choi Minho

—-cara termudah untuk mempelajari kehidupan adalah dengan menerima semua kenyataan yang terjadi dalam hidupmu—- (Rasyifa)

* FINISH *

A.N 2 : Jangan lupa di kasih komentar ya? Dan mian.. kalau feel sedihnya sama sekali engga dapet. saya memang bukan penulis handal~~ jeongmal Mianhe. TT___TT

Interest read another fanfic? visit Fanfiction Library

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

47 thoughts on “SHINee Fanfic Sad Romance // Beautiful Yeoja

  1. soooo saaaddd T.T
    dikira yg mati cwenya pas diawal eh ternyta Mino.. huweeeee T.T
    Kasiaan ih nasib si yeojanya, malang bgt nasib kmu nak nak ckck
    Sabar yaaa~ puk pukk

    Suka

  2. Eeonniyyaa…. daebakk!!!

    Suka

  3. miris banget hidupnya..

    Suka

  4. yaampun miris bamget idupnya raT-T
    berasa dunia gakadil haha
    kasian si gyeomi nyaaaaaaa

    Suka

  5. yaampun miris banget kehidupan mereka -_-

    Suka

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s