Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

SHINee Taemin Romance Fanfic // Song & Kiss

15 Komentar

  • Genre :  Romance.
  • Rating : PG 13
  • Length : 2shoot
  • Backsound :
    SHINee – in my room
    Super Junior – strom
    Huk Gak – whenever you play that song
    – Like a star
  • Summary :  Tunjukkan Perasaanmu!

* * * Story by Rasyifa * * *

©Rara story

Pemuda manis bernama Taemin itu berjalan melangkahi ubin-ubin yang menyusun lantai  lorong sekolahannya, semua mata anak manusia yang berada disana memandangnya kagum, terlebih jika yang memandangnya itu adalah sepasang mata milik para gadis yang memang menyukainya. Tapi Taemin tidak pernah menggubris hal ini, dia bahkan bisa  berjalan dengan santai, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, dan seolah-olah  menganggap mata-mata itu tidak sedang memandangnya.

“Hai Taemin!” segerombolan anak laki-laki menghampirinya dan menyapanya, Taemin hanya tersenyum dan mengangguk. Seketika para gadis di sekitarnya heboh menjerit –ketika melihat senyum manis yang terajut dari bibirnya-.

“Apakah kau ingin bergabung dengan kami? Sudah lama rasanya tak melihatmu main basket,” tawar seorang anak laki-laki  yang memakai kupluk di kepalanya. Taemin memandang anak itu sebentar lalu melihat bola yang sedang di dribble anak itu.

“Baiklah..tapi tidak sekarang ya? Bagaimana kalau besok  waktu pulang sekolah?” tawar Taemin, anak lelaki di depannya tersenyum dan mengangguk setuju.

“Kalau begitu, kami tunggu kau di lapangan basket sehabis pulang sekolah besok!” Taemin mengangguk kepada anak lelaki itu untuk yang kedua kalinya.

*

*

*

Seorang gadis duduk di pojok kantin sambil meremas ujung blazernya, matanya berulang kali mengalihkan pandangan dari jam yang melingkar di pergelangannya ke sebuah toples makanan yang berisi bekal makan siangnya. ‘sebentar lagi waktu istirahat kedua akan habis’ gumamnya.

“Whhaaa…itu Taemin!!” teriakan itu membuat Shin___-nama gadis itu- ikut menoleh ke sumber suara jeritan itu berasal. Detak jantungnya  tiba-tiba terasa dipercepat puluhan kali saat sosok yang diteriaki namanya itu terlihat muncul memecahkan puluhan orang-orang yang bergerombol. Sosok itu berjalan ke arahnya sambil tersenyum, Shin___ dari tempatnya berada juga membalas senyum itu. Taemin terus berjalan dan menyisakan beberapa langkah lagi untuk berhadapan dengan ___.

“Sudah lama menunggu lama sayang?” ___ menggeleng, hingga tiba-tiba seorang gadis dari belakang ___ muncul dan merangkul Taemin sambil memamerkan senyum yang amat ceria.

Tidak..aku baru saja disini, oh iya oppa..oppa mau mencoba bekal yang aku buatkan untuk oppa?” hati ___ mencolos saat matanya memandang gadis itu bersama Lee Taemin yang berada disampingnya. ia sedang tersenyum miris dengan hati yang mulai mengilu, Hingga akhirnya matanya memutuskan untuk mengalihkan pandangan ke ujung sepatu miliknya sendiri.

‘ternyata ‘gadis itu’ bukan aku ..‘orang itu’ bukan aku, dan aku yakin aku tidak pernah menjadi ‘orang itu’ untuknya..bahkan dia tidak memandangku sama sekali saat aku ada di hadapannya’ ucap batin seorang gadis yang kini semakin kuat meremas ujung blazer seragam sekolahnya. Dia mencoba berdiri, meski ada getaran yang menumpu pada persendian lututnya –dan getaran ini membuat kakinya terasa lemah untuk di ajak bangkit-.

Shin ___ adalah salah satu gadis yang menyukai Lee Taemin, tidak.. Shin ___ sangat menyukai Lee Taemin. Tapi dia berbeda dengan gadis lain yang juga menyukai seorang Lee Taemin. Dia tidak pernah mengumbar-umbarkan perasaannya seperti yang gadis lain lakukan. Dia selalu menyembunyikan perasaannya dengan rapat. Seolah tidak terjadi apa-apa dan bersikap sewajarnya, meski ini membuat dirinya sendiri sulit karena dengan melakukan hal itu, berarti secara terang-terangan ____ membuat hatinya sendiri ngilu.

*

*

*

Rintikan air bening  berjatuhan menghapus birunya langit, kepulan awan hitam nampak berdendang menggemakan suara guntur dan sesekali kilatan putih muncul menghiasi awal suara gemuruh itu. ___ mendesah sambil menatap ke luar jendela ruang kelasnya. Waktu pelajaran sudah usai beberapa waktu lalu tapi dia masih terjebak di sekolah karena hujan yang tidak kunjung reda.

Angin dingin yang masuk melalui celah ventelasi jendela yang tertutup, sesekali menggelitik tengkuk ___, dan entah mengapa  suasana ini justru membuat ___ merasa nyaman.

___ mengambil sebuah earphone mungil berwarna putih dari kantong tasnya, memasangkan pada kedua telinganya dengan cekatan lalu menyandarkan kepalanya ke samping –bertumpu pada jendela-. Sebuah novel kecil yang tidak terlalu tebal mencoba menemaninya dengan deretan  huruf-huruf yang berbaris rapi pada lembaran halamannya. ___ mencoba menikmati waktunya dengan iringan musik ballad  yang mengalir dari speaker earphone yang tersambung dengan sebuah ipod berwarna senada dengan earphone miliknya.

“bblllluuggg” ___ merasakan seseorang duduk di dekatnya, dia menolehkan kepalanya. Dan seketika tubuh mungilnya itu menegang.

Lee Taemin mau apa dia disini?’ batin  ___ heran, dia mengelilingkan pandangannya -melihat kelas yang ia tempati kosong tidak ada orang selain dia , yah…meski sekarang ada Taemin disampingnya-. Jadi untuk apa Taemin kemari, apakah mencari teman-temannya? Tapikan teman-temannya ada di luar kelas, lalu apakah mungkin Taemin mencarinya? Demi apa ___ tak berani berharap dengan kemungkinan itu.

“————-eoh?”

___ tak dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang Taemin ucapkan padanya, tentu saja karena earphone yang terpasang di telinga ___. Taemin tersenyum menatap ___ sementara  tangan dengan kulit putihnya itu ia gerakkan untuk menggapai satu kepala earphone yang menggantung di telinga sebelah kanan ___  , kemudian dengan santainya Taemin memasangnya pada telinganya sendiri.

___ memandang Taemin tidak percaya, lebih tepatnya bingung..ah tidak tapi mungkin heran? Atau mungkin terkejut, akhhh… ____ benar-benar tak tahu situasi macam apa yang sedang ia hadapi sekarang.

Sementara, Taemin menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi, kedua tangannya terlipat rapi  di atas dadanya, sedangkan mata indahnya terpejam –seolah menikmati aliran musik yang di putar dari earphone milik ___. Sedangkan ___ masih diam di tempatnya, benar-benar bingung harus berlaku seperti apa.

Taemin sama sekali tidak mengeluarkan suaranya, dia hanya diam dan tenang dalam posisi duduknya yang terlihat nyaman, ___ merasa penasaran dengan yang sebenaranya di ucapkan Taemin sebelumnya? Apakah dia meminta ___ untuk berbagi musik dengannya? Yah.. mungkin saja begitukan.

Tapi… kenapa Taemin melakukannya?

*

*

*

“Aku ingin menagih janjimu!! Mana bekal makan siangku?” ___ kembali menegang saat sosok Taemin menegakkan duduknya, menyelaraskan posisinya agar tepat berhadapan dengan ___.

“Ap..apa?” melihat tingkah ___ yang nampak terkejut, Taemin tertawa renyah. Kemudian dengan santai menepuk pundak ___ dengan tangannya tanpa memikirkan akibat dari apa yang telah ia lakukan.

“Bukankah kau yang menjanjikan bekal makan siang untukku?” ucap Taemin memperjelas kepada ___. Mata ___ terbelalak, seolah baru saja mendapatkan sebuah kejutan besar.

“___-ah,surat kecil-kecil seperti ini…darimu kan?” Taemin menggeletakkan tumpukan kertas-kertas kecil di hadapan ___, membuat ___ semakin membelalakkan matanya, jantung ___ pun tak mau kalah dalam mengambil andil, karena sekarang jantung milik gadis mungil itu berdetak sangat cepat.

“Taemin-ssi, apa maksud dari semua ini?” ___ mencoba meminta penjelasan dari Taemin yang duduk di hadapannya. Taemin lagi-lagi tertawa renyah, kemudian dia tersenyum tipis.

“Kenapa kau tidak jujur saja? Kenapa kau harus menutupi semuanya? Toh..jika kau ungkapkan apa yang kamu rasakan takkan ada yang memarahimu,” ucap Taemin lembut sambil mendekatkan wajahnya menatap ___. ___ yang melihat aksi Taemin, mencoba beringsut memundurkan kepalanya, menghindari Taemin. Dan alangkah terkejutnya jantung ___ saat tangan putih milik Taemin justru menahan kepalanya dengan memegangi kedua belah pipi ___, sehingga ___ tak bisa mengelak lagi pada Taemin.

“___-ah, katakanlah!!” ucap Taemin yang membuat ___ ketakutan.

“Taemin-ssi, !!” panggil ___ lirih. Taemin menggelengkan kepalanya kemudian kembali tersenyum.

“Tidak akan ada yang marah, katakanlah!” Taemin kembali mendesak ___ untuk mengatakan ‘sesuatu’.

“Tiii..dak, tidak ada yang harus aku katakan padamu!” ___ menyerah, dia menunduk lalu mencoba menahan airmatanya agar tidak jatuh.

“Kau keras kepala, ___-ah, !” Taemin melepaskan tangannya dari pipi ___, dan ini membuat ___ sedikit lebih lega.

‘BLAKKK’

Tapi hanya sesaat ___ bisa lega karena sekarang Taemin justru memaksa ___ masuk ke dalam pelukan tubuhnya. Kemudian tangan itu mengelus lembut pundak ___.

“Ssssttt…tenanglah, tidak apa-apa!” Taemin berdesis di telinga ___, membuat ___ merasakan berjuta sensasi dalam sekejap. Sementara Taemin nampak tersenyum manis di balik pundak mungil ___.

“Apakah masih tidak ada yang ingin kau katakan padaku?” ucap Taemin berbisik, tapi ___ sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya diam dalam pelukan Taemin dan lebih menyibukkan diri dengan menggigit bibir bagian bawahnya. Sensasi aneh di rasakan jantungnya, detakan kencang dengan aliran darah yang terasa sesak pada nafasnya.

‘mungkinkah ini nyata, seorang Lee Taemin..sedang memelukku, memeluk gadis biasa, gadis bernama Shin ___’ batinnya.

“Kau sangat keras kepala ___-ah, tapi ini yang membuatku menyukaimu, saranghae.. mahal kita Shin___, would you be my girl friend?” ___ terpaku, waktu terasa berhenti saat ini juga, tubuhnya menegang, sebuah efek yang tercipta hanya karena mendengar kata-kata itu.

“dan sekarang….untuk yang terakhir kalinya, aku bertanya padamu…apakah masih tidak ada yang ingin kau katakan padaku, meski setelah apa yang aku katakan padamu tadi?” ___ mendadak gugup, terdiam menahan emosi. Ingin sekali dia merutuki kebodohannya, karena dia hanya diam sedari tadi.

Taemin perlahan melepaskan pelukannya setelah melihat ___ yang sedari tadi hanya diam, hingga gadis itu tiba-tiba mengulurkan tangannya untuk melingkari pinggang pemuda bernama Taemin itu. Taemin terkesiap sesaat kemudian dengan mudah ia mengontrol ekspressinya hingga dapat kembali tersenyum.

“katakan…katakan ___-ah,” pinta Taemin sambil mengelus halus rambut panjang milik ___.

“akkk..akku… aku mau menjadi pacarmu, nadoo..nado saranghae Taemin-ssi” ucap ___ akhirnya malu-malu, Taemin melebarkan senyumnya kemudian melepaskan pelukannya dan menatap ___ dalam dengan manik matanya. Wajah Taemin otomatis mendekat, seolah ingin mempertemukan bibir miliknya dengan bibir tipis milik ___, tapi ___ kembali beringsut mundur, sambil memamerkan gelengannya, sebuah pertanda untuk Taemin agar tidak melakukan hal ‘itu’ sekarang. Mata taemin awalnya melotot bingung, tapi lagi-lagi dengan mudah lelaki itu dapat mengontrolnya dengan menunjukkan senyum ramah.

“ne..mungkin tidak sekarang” ucap Taemin yang kemudian disambut dengan anggukan oleh ___.

“mulai sekarang kau juga harus memanggiku dengan sebutan ‘oppa’” lanjut Taemin masih memamerkan senyum manisnya pada ____.

* * *

“Bukankah kau dan kristal sedang pacaran?” tanya ___ menatap Taemin yang sekarang nampak kembali sibuk dengan earphone milik ___. Taemin menggumam lalu menatap ___.

“Aku sudah memutuskan hubungan dengannyalimabelas menit yang lalu” jawab Taemin santai. Tanpa Taemin tahu, jawabannya tadi membuat hati ___ mencolos karena merasa bodoh. ___ sadar Taemin bukanlah lelaki yang baru pertama kali menjalin hubungan, bahkan Taemin terkenal dengan cap ‘playboy’nya, dia selalu menerima semua pernyataan cinta dari gadis-gadis yang menginginkan Taemin untuk menjadi kekasih mereka.

Taemin tak pernah menolak satupun dari mereka, dia selalu bersedia, entah alasan seperti apa yang membuatnya melakukan semua itu.  Terlebih jika ___ mengingat bahwa Taeminlimabelas menit lalu masih berstatus sebagai kekasih dari gadis lain, dan sekarang tiba-tiba telah menjadi kekasihnya. Dimana harga diri seorang Shin ___ sebagai seorang perempuan, kenapa dia dengan mudah menerima pernyataan cinta dari seorang lelaki semacam Taemin, lagipula..bagaimana jikalimabelas menit yang akan datang Taemin sudah memutuskan hubungan mereka, apa yang bisa ___ lakukan setelah itu, menangis lagi?.

“hujannya sudah reda..ayo, kita pulang jagiya!” Taemin bangkit dari duduknya kemudian tersenyum ke arah ___ yang sekarang justru sedang terbengong-bengong melihat rupa manis Taemin dan terlebih mendengar Taemin menyebutnya dengan sebutan ‘jagiya’. Ya Tuhan.. jika aku sedang bermimpi, maka aku tak ingin bangun dari mimpi ini sampai kapanpun, batin ___ tanpa seorangpun mengetahuinya, termasuk lelaki yang sekarang ada di hadapannya.

* * *

___ menatap layar handphonenya sambil tersenyum, saat mengetahui ada puluhan email dan belasan panggilan tak terjawab dan terlebih saat dia mencek satu persatu bahwa semua email dan panggilan tak terjawab itu dari orang yang sama, yaitu Lee Taemin –kekasihnya-. Mungkin untuk kalian yang pernah menjalin hubungan special dengan orang yang memang kalian suka, pasti memahami betul..apa yang sedang dirasakan ___ saat ini.

Bahagia, rasanya kata itupun masih belum cukup ampuh untuk di pakai dalam situasi saat ini. Karena jika boleh jujur ___ sangat bahagia.

___ telah menjadi pacar Taemin selama satu minggu ini, ___ masih sering beranggapan apa yang sedang dia alami hanyalah sekedar mimpi indah yang akan berakhir dalam waktu singkat. Tapi..kenyataan tetaplah kenyataan, meski ___ beranggapan sebanyak seratus kali bahwa yang ia alami ini adalah mimpi belaka, toh..pada nyatanya semua ini memanglah kenyataan.
Dulu..rasanya ___ tak pernah berani berhayal menjadi kekasih Taemin, karena untuk bicara dengan Taemin saja rasanya sangat sulit. Oleh sebab itu ___ hanya sering menjadi seorang pengagum rahasia yang diam-diam selalu menatap Taemin, ___ hanya berani manuangkan perasaannya pada kertas-kertas kecil yang ditulis dari hasil pengetikan computer –sehingga tidak ada yang bisa melacak tulisan itu-, lalu secara diam-diam ___ pun menyelipkannya di loker Taemin.

Tapi ___ masih belum cukup pintar untuk menyembunyikan rahasia besarnya itu, karena pada akhirnya Taemin mempergoki ___ yang sedang menyelipkan kertas itu di loker milik Taemin, namun Taemin sama sekali tidak menghentikan ___, dia justru mengamati gadis itu. mengamati wajah gugup ___ yang takut jika sampai ketahuan seseorang sedang menyelipkan ‘suratcinta’ di loker Taemin. Dan Taemin justru menikmati pemandangan ini.

“jagiya..kau sangat nakal! Nakal sekali..kenapa kau baru saja menelponku. Tak tahukah kau aku sedang mencemaskanmu disini? Apakah sindrommu kambuh? Aisshh..kau membuatku seperti orang gila” ___ terkikik pelan mendengar suara Taemin yang nampak menggerutu di tempatnya karena perlakuan yang dia dapatkan dari ___.

“Kenapa kau justru tertawa jagiya, apakah kau mempermainkanku eoh?” ucap Taemin lagi dengan nada ketus.

“aniya oppa.. aku hanya merasa bahwa oppa lucu sekali,!” ___ tersenyum dengan handphone yang dia genggam disamping telinganya.

“mwo? Kau membuatku khawatir dan sekarang kau justru mengataiku lucu! Kau parah jagiya!! Apakah sindrommu sempat kambuh tadi? Sehingga kau dengan mudahnya mengabaikan semua email dan panggilan yang aku tujukan padamu?” ___ mendesah berat dengan sengaja, seolah ingin mempermainkan lelaki yang sedang berbicara di telpon. Entah kenapa, hal ini menjadi kebiasaan ___ beberapa waktu belakangan ini.

“___-ah, jagiya!! Gwenchana?” benar saja, Taemin langsung mengeluarkan kata-kata andalannya kepada ___, saat mendengar desahan berat dari ___ tadi.

“gwencahana oppa! Oppa bagaimana sih, tadikan aku les biola..handphoneku aku taruh di loker jadi mana aku tahu kalau oppa sedang menelponku, dan masalah sindromku..apakah oppa berharap sindromku kambuh?”

“Ya!! Cih, kau mulai bandel sekarang ya? Oppa mana pernah berharap sindrommu kambuh, lagipula..oppa justru berharap sindrommu itu hari ini tidak menyerangmu, karena oppa akan mengajakmu jalan-jalan”  mata ___ tiba-tiba berbinar saat mendengar kata ‘jalan-jalan’ yang di ucapkan Taemin.

“Jeongmalyo?” ucap ___ sambil tersenyum riang

* * *

“duduklah!” ucap Taemin, ia menyuruh ___ duduk di sebuah batu besar yang ada di hadapan mereka. ___ mengernyit tapi tidak melawan, dia bahkan menurut duduk di atas permukaan batu besar itu. angin malam yang bertiup sesekali memainkan poni ___, membuat Taemin tak lepas memandang gadis itu.

“untuk apa kita kemari malam-malam begini?” tanya ___ sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, dimana terdapat hamparan danau yang airnya terlihat menghitam karena langit malam, lalu ada juga pohon-pohon besar dengan ranting yang bercabang-cabang, terlihat seperti sosok monster yang siap menerkam ___. ___ mengencangkan jaket dengan warna ‘pale green’ itu sambil bergidik ngeri.

“melihat Bintang” jawab Taemin singkat, kemudian berlalu meninggalkan ___. Sepontan ___ menahan Taemin dengan menarik sweeter milik Taemin.

“mau kemana?” tanya ___ lagi, dan kali ini dengan mimik khas yang tak bisa membuat Taemin mampu menahan senyumnya.

“mengambil sesuatu di dalam mobil” jawab Taemin lagi, sambil melepaskan tangan ___ yang menggantung di sweeternya.

* * *

“lihat bintangnya pakai teropong ini!” ucap Taemin setelah kembali dari mobil, ___ menoleh dan menemukan sebuah teropong bintang yang di letakkan Taemin di atas bebatuan yang ada di tepi danau.

“darimana oppa mendapatkannya?” bingung ___, Taemin mengangkat pundaknya kemudian duduk di samping ___.

“ aku mencurinya dar Jinki hyung” ___ bangkit dari duduknya lalu mendekati teropong bintang itu, hampir saja tangannya menyentuh badan teropong itu jika Taemin tidak tiba-tiba mengeluarkan suaranya.

“jangan asal sentuh, kalau mau coba….kau harus sewa,” mendengar apa yang Taemin ucapkan, ___ mempautkan bibirnya lucu, dan ekspressinya sukses membuat Taemin tersenyum.

“ahni..jagiya!! aku hanya bercanda, cobalah teropongnya!! Lihatlah bintang dan aku akan menyanyikan lagu untuk menggiringmu menemukan bintang itu” ___ mempaskan posisi tubuhnya agar berhadapan dengan teropong bintang di hadapannya, kemudian ia mulai mengekerkan matanya pada lensa teropong, dan disaat yang sama Taemin mulai memetik senar-senar gitarnya.

“Ku pejamkan mataku di malam ini, dimana aku tak bisa tidur..
ku kumpulkan kembali kenangan tentangmu,

Aku benci diriku yang tidak mengetahui apa-apa.

Ku nyalakan lampu dan melihat sekeliling kamarku,

Tempat dimana mataku terpaku…

Dimana aku meletakkan hadiah ulang tahun yang tak ku buang..

Dan semua tentangmu…

Karena kamu adalah sang matahari, sang bulan..kau segalanya.

Dan semua yang ada dalam kamarku terlihat merindukanmu.

Jika aku sudah lelah untuk menemukanmu dan melupakanmu sementara waktu.

Kenangan tersembunyi kita masih tetap hidup..seakan tak mampu pergi.

Kau mengembara dalam lautan kehidupanku, semua mimpi yang hilang ada di pojok laciku..kamu tersembunyi bersamanya.

Sebuah fotomu ku temukan dari dalam kotak,
di bawah lapisan debu surat cinta berisi hati kecil ku..

Dan semua tentangmu…..

Karena kamu adalah sang matahari, sang bulan..kau adalah segalanya untukku..” (shinee – in my room)

___ terperangah mendengar suara lembut Taemin yang di iringi nada indah dari senar gitar yang dipetik. Suara itu terdengar menghanyutkan, ditambah jika melihat wajah Taemin yang sedang menyanyikannya, sangat..menghayati. seolah-olah apa yang ada di lirik lagu itu, adalah apa yang sedang dia alami.

“jagiya!! Bagaimana? Apakah lagu ciptaanku bagus?” ___ mengerjap dan tersenyum ke arah Taemin.

“Lagunya sangat menyentuh….bagaimana bisa oppa menulis lirik yang sangat menyedihkan seperti itu” ucap ___ kagum, Taemin tersenyum, kemudian melangkahkan kaki mendekati ___. Dia –Taemin- mengambil alih titik kuasa teropong yang sedang ___ pegang.

“itu lagu khusus untukmu, dan belum aku beri judul. Oleh sebab itu kau bisa memberikan judul sesukamu pada lagu itu” ___ tersenyum kemudian nampak berpikir.

“ bagaimana jika ‘di kamarku’ ” ___ nampak antusias, Taemin tertawa melihatnya kemudian memberikan gelengan.

“kau bilang terserahkukan? Kenapa kau tak terima kalau aku memberikan judulnya dengan kata ‘di kamarku’ oppa!”

“kau membuat laguku jadi jelek” canda Taemin yang membuat wajah ___ seketika muram.

“kalau begitu ‘in my room’ saja!” kali ini ___ lebih antusias dari sebelumnya, Taemin nampak berpikir kemudian mengangguk.

* * *

Bulan yang memantulkan sinar matahari pada waktu malam itu terlihat lebih besar dari sebelumnya, bayangannya nampak terlihat perkasa dari cerminan air danau. ___ sedang asyik melihat bintang-bintang di temani Taemin.

“oppa, bintang yang itu terlihat lebih terang dari yang lain. Apa itu bintang kejora?” tanya ___ pada Taemin yang berada di sampingnya.

“ahni..itu bintang Taemin” ucap Taemin santai. ___ mendengus mendengarnya.

“bagaimana bisa oppa menamai bintang itu sesuka hati oppa! Eoh?” Taemin menyengir dan menggaruk kepalanya yang memang kebetulan sedang gatal.

“tentu bisa, kau saja bisa memberikan nama pada laguku dengan sesuka hatimu!” ucap Taemin yang tiba-tiba menarik tubuh mungil ___ untuk mendekat ke tubuhnya.

‘deghh’ jantung ___ tiba-tiba berdetak lebih kencang.

“ta..pii, itukan oppa yang memintanya padaku!” ___ terlihat gugup, dan Taemin yang menyadari hal ini hanya tersenyum.

“Kalau begitu, pintalah aku untuk memberikan nama pada bintang itu juga!” Taemin membalikkan tubuh ___, lalu mencoba memperkecil jarak dengan mencondongkan wajahnya ke arah ____. ____ nampak terkejut melihat mata Taemin yang terpejam, dengan ujung bibir yang bergerak maju.

‘BUUGGHH’ ____ mendorong tubuh Taemin hingga terbentur di atas bebatuan.

Taemin memasang wajah meringis dan menatap ____ tak percaya.

“kau kenapa Shin___?” suara Taemin tiba-tiba terdengar ketus dan tak bersahabat.

“seharusnya aku yang bertanya pada oppa, apa yang ingin oppa lakukan terhadapku?” Taemin mencoba bangkit kemudian dengan kasar menarik wajah ____.

“Jagiya..kau ini kenapa? Aku adalah Taemin, kekasihmu..dan aku sangat mencintaimu,” aneh, suara Taemin kembali terdengar lembut tapi ___ tak menghiraukan suara itu kali ini, dia benar-benar ketakutan karena Taemin kembali memajukan wajahnya. ___ mulai menitikkan airmatanya, entah apa alasannya, gadis ini merasa bahwa dia belum siap untuk melakukan apa yang Taemin inginkan sekarang.

“hhhahh” Taemin menarik wajahnya, dan menatap kesal ke arah ___ yang mulai menangis.

“mian..aku..aku..tak bermaksud menakutimu, ayo kita pulang sekarang!” Taemin berlalu dan membopong teropong di tangannya. ___ mengikuti langkah Taemin dengan kepala yang menunduk.

‘oppa..apakah kau marah karena aku tak bisa memenuhi keinginanmu itu?’

To be Continued

AN : Publish dengan niat memperbanyak FF, meski ini FF jadul.. tolong don’t be silent reader!!

terimakasih

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

15 thoughts on “SHINee Taemin Romance Fanfic // Song & Kiss

  1. like….like….like…. ^^
    ngebayangin itu aku and taemin oppa beneran…

    next baca yah eonni ^^

    Suka

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s