Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

Onew Fanfic Sad // Gwenchana Part 2

42 Komentar

  • Gwenchana

    • Genre : Marriage Life, Romance,  Sad, Straight, Life, Family.
    • Rating : Teen (PG-15)
    • Length : Sequel
    • Summary : Andai boleh jujur, aku memulai perasaan ini karena kasihan. Menyedihkan dan tentunya menyakitkan jika Han Ji~Eun mengetahui hal ini.  Aku berpikir, tidak ada salahnya menikah dengan gadis sepertinya, bukankah penyakitnya akan membuatnya mati dalam waku dekat. Dengan begitu akupun akan terbebas darinya? Dan waktu itu, ada seorang ibu datang dengan airmata yang berlinang, dia datang padaku sambil memohon untuk menikahi anaknya. Perlu kalian ketahui, aku tidak akan tega melihat seseorang memohon seperti itu.

    Gwenchana

    ©Storyline_2012_Rasyifa

    Aku memandang langit senja yang terlihat memancarkan cahaya kuning kemerah-merahan. Hhh, hari ini aku melakukan kesalahan lagi, dan jika kemarin aku hanya memecahkan sebuah gelas, sekarang aku justru memecahkan sebuah piring. Bagus, aku semakin membuat ibu mertuaku merutuk.

    Tes

    Aku jenuh menangis seperti ini, aku jenuh dengan diriku sendiri. Aku hanya bisa menangis dan merenungi nasib. Aku benci diriku sendiri. Kenapa aku terlahir menjadi wanita seperti ini. kenapa Tuhan tidak adil, kenapa disaat wanita lain sedang bahagia menjalankan tugasnya menjadi seorang istri untuk suaminya dan bahkan  menjadi  ibu bagi anak-anaknya, aku justru tetap seperti ini. Duduk murung  di atas sebuah kursi roda, menyusahkan seorang suami yang seharusnya aku layani.

    Tes.

    Sepertinya aku terlalu naïf, sepertinya aku terlalu egois untuk menikah dengan suamiku. Seharusnya aku tak melakukannya. Aku benar-benar telah melakukan kesalahan besar.

    Tes

    Dua puluh satu tahun aku menjalani hidup seperti ini, tak ada perubahan. Bahkan masa kanak-kanakkupun tak jauh menyenangkan dari hidupku sekarang. Bagaimana tidak, aku hanya menghabiskan masa kanak-kanakku di sebuah rumah sakit. Penyakit ini memang telah bersarang di tubuhku, sejak aku lahir. Bahkan seorang dokter mengatakan bahwa aku bisa hidup sampai sekarang, adalah sebuah keajaiban yang tak terduga.

    Tes

    Ya, aku memang sakit parah. Sebuah organ penting di tubuhku, tidak berfungsi dengan baik, lebih tepatnya organ itu mulai rusak. Jantung, organ itu adalah jantung. Siapa yang tidak tahu apa itu jantung? Jantung adalah organ yang sangat penting. Bahkan jantunglah yang membuat perbedaan terbesar antara orang yang sudah mati  dengan orang yang masih hidup. Dan aku memiliki sebuah jantung yang rusak.

    Tes

    Tapi apa bedanya aku dengan orang mati? Aku bahkan hidup dengan sebuah jantung yang detakannya sangat pelan dan lambat. Terkadang aku berpikir, bukankah aku lebih baik mati? Dengan begitu tak ada lagi orang yang perlu ku susahkan. Tapi setiap kali pemikiran itu muncul, aku hanya bisa mendesah pelan untuk mengakhirinya. Hey, aku tidak seberani itu.

    Tes

    Angin sore mulai menyentuh kulitku, hangat saat memandangi sang surya mulai menyelinap masuk di ujung barat.

    ‘dugh’

    Akh, dadaku tiba-tiba terasa sesak. Aku merasa tak dapat menemukan oksigen untuk ku hirup. Ya, Tuhan.. ini bukan yang pertama kali aku seperti ini tapi kenapa aku masih belum dapat menahan rasa sakit ini.

    Sakit..sesak, sakit sekali.

    Hah, hah, hah, aku bahkan tak bisa mengeluarkan suara. Bagaimana mungkin aku bisa meminta pertolongan.

    “Ehem..istriku….!” terkejut di tempatku, saat mendengar suara halus itu memanggilku. Tuhan, bagaimana ini aku tak ingin  Jinki melihatku dalam keadaan seperti ini. Aku akan merepotkannya, aku hanya akan membuatnya kesulitan, tidak-tidak-tidak, aku tak boleh menyusahkannya lagi, dia sudah cukup lelah dengan pekerjaannya dan aku, aku harus bisa menahan rasa sakit ini.

    “Hey..permasyuriku! sedang melihat sunset-ya?”

    Dadaku semakin terasa sesak, pandanganku mulai berkunang-kunang. Ya, Tuhan bagaimana ini, kenapa aku harus kumat disaat seperti ini?

    “Istriku, apa kau baik-baik saja?” aku merasakan sepasang tangan menyentuh kedua pipiku lembut, aku yakin tangan ini adalah tangan milik suamiku, tapi aku tak bisa melihat wajahnya karena sekarang penglihatanku tiba-tiba menjadi buram.

    “Yeobbo, apa kau kembali merasakan sesak?” dia mengangkat daguku, sementara aku masih terdiam. Sungguh, sesak di dadaku semakin bertambah.

    ‘degh..degh..degh’

    terdengar suara jantungku yang berdetak lemah, dan suara itu membuat kepalaku merasakan pening.

    “Jieun, bertahanlah.”

    Dan sekarang justru hanya gelaplah yang dapat aku rasakan. Meski diantara kegelapan ini dengan perlahan aku dapat mendengar sesorang sedang menjerit. Ya, Tuhan.. aku membuat lelakiku kembali menderita karena keadaanku. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi istri yang baik untuknya?

    * * *

    Dimana aku sekarang? Semua terlihat putih dan terlihat tidak ada batasnya. Aku melangkahkan kakiku pelan. Tunggu, aku bisa berjalan..bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Dan dengan sayup tiba-tiba aku melihat dua sosok manusia berada di depanku, satu sosok kecil dan yang satu sosok yang terlihat lebih besar. Sepertinya kedua sosok itu tidak asing untukku.

    “Han Ji~Eun harus minum obatnya ya?”

    “Tidak mau, tidak mau. Han Ji~eun tidak suka obat itu, rasanya pahit. Han Ji Eun maunya makan ice cream, eomma tidak pernah membelikan Ji~eun ice cream!”

    mataku memandang nanar pada seorang anak kecil yang duduk di atas kursi roda. Bukankah itu aku, lebih tepatnya itu adalah aku yang berumur sembilan tahun, dan seseorang yang sedang membujuk sosok kecilku minum obat adalah eomma, dia adalah eomma kandungku.

    “Tapi Ji~eun harus minum obat, kalau Ji~Eun mau sembuh!”

    “Eomma berbohong! Obat tidak bisa membuat Ji~Eun sembuh eomma, buktinya sampai sekarang Ji~Eun tidak sembuh-sembuhkan.  Coba eomma lihat Jonghyun, aku sering mempergokinya membuang obat yang diberikan dokter, tapi sekarang dia sudah sembuh dan besok dia akan pergi keluar rumah sakit. Sedangkan aku? aku tetap begini-begini saja!”

    aku termangu saat mendengar sosok kecilku berucap seperti itu.

    Tes

    Sekarang aku kembali menangis, perih sekali rasanya. Sungguh ini sangat perih.

    “Ji~Eun maafkan eomma!” eomma tiba-tiba berlari meninggalkan sosok kecilku membuatku sesaat termangu di tempat. Dan tanpa sadar kaki ini melangkah untuk menggiringi langkah eomma.

    * * *

    “Dia terlalu kecil untuk menderita, dia terlalu kecil untuk merasakan sakit. Ya Tuhan, tolong kasihani anakku, jangan buat dia menderita lagi, jangan biarkan penyakit itu membuat hidupnya tersiksa. Ya Tuhan, aku tahu aku bukanlah hamba yang baik, aku tahu aku selalu membuat kesalahan terhadap-Mu, tapi aku mohon izinkan aku meminta padaMu, berikanlah kebahagiaan untuk anakku. Aku tahu aku terlalu egois, aku tahu aku terlalu banyak meminta. Tapi ku mohon, lindungi anakku, limpahkanlah kebahagiaan untukknya. Dan aku rela jika harus menebus kebahagiaan anakku dengan kebahagiaanku sendiri. Tuhan, ku mohon..kabulkan doaku, aku tak tahu harus kemana lagi mengadu. Aku tidak pernah tega, saat melihat anak itu terbangun di waktu tidurnya karena merasakan sesak, aku tak pernah sanggup mendengar dia menjerit kesakitan saat darah segar muncul di rongga hidungnya. Tuhan, tolong hambamu ini, kasihani hamba Tuhan, kabulkan doa hamba ya Tuhan.”

    Tes

    Tes

    Tes

    Menangis lagi? Tentu, sepertinya keahlianku hanyalah menangis. Tapi sungguh, kali ini airmata ini jatuh begitu saja. Doa itu, doa yang ku dengar dari mulut seorang wanita yang telah mengandung dan melahirkanku. Doa seorang wanita yang selalu menyodorkan bungkusan obat untuk menemani masa kecilku. Ya, Tuhan..inikah caramu membuatku sadar, betapa besar cintanya untukku.

    Eomma, bagaimana aku harus mengucapkan terimakasih padamu? Bagaimana aku membalasmu! tidak, aku tidak pernah bisa membalas semua kasih sayangmu terhadapku.

    Tapi eomma, ku mohon jangan menangis seperti itu. jangan menangis, karena aku tak sanggup melihatnya.

    “Eomma!” ku panggil lirih sosoknya, tapi sepertinya dia tidak menyadari kehadiaranku disini. Dia terus menangis, dan aku yang berada disisinya juga ikut menangis.

    “Jika bisa kebahagian hamba ditukar dengan kebahagiaan anak hamba, maka hamba mohon, tolong tukarkan kebahagiaan hamba itu dengan kabahagiaan anak hamba.!”

    Jleep

    Tiba-tiba semuanya menjadi hitam, aku tak dapat melihat apa-apa selain hitam, dan bahkan aku kehilangan sosok eomma yang sebelumnnya berada di sisiku.

    “Jika bisa kebahagian hamba ditukar dengan kebahagiaan anak hamba, maka hamba mohon, tolong tukarkan kebahagiaan hamba itu dengan kabahagiaan anak hamba!”

    Tapi suara itu terus terulang di telingaku. Namun aku tak bisa menemukan apa-apa selain kegelapan yang hitam.

    “Jika bisa kebahagian hamba ditukar dengan kebahagiaan anak hamba, maka hamba mohon, tolong tukarkan kebahagiaan hamba itu dengan kabahagiaan anak hamba!”

    Eomma dimana kau, kenapa aku tak bisa menemukanmu?

    “Jika bisa kebahagian hamba  ditukar dengan kebahagiaan anak hamba, maka hamba mohon, tolong tukarkan kebahagiaan hamba itu dengan kabahagiaan anak hamba!”

    Eomma cukup hentikan, jangan berdoa seperti itu lagi. Aku akan bahagia jika eomma bahagia, jadi ku mohon, jangan berdoa seperti itu lagi.

    “Jika bisa kebahagian hamba ditukar dengan kebahagiaan anak hamba, maka hamba mohon, tolong tukarkan kebahagiaan hamba itu dengan kabahagiaan anak hamba!”

     

    * * * JINKI POV * * *

    Ingin sekali menangis dan menjarit, saat melihat tubuh wanita ini terjatuh di dalam dekapanku. Ya, Tuhan..baru dua hari dia ambruk seperti ini, dan sekarang dia kembali ambruk. Tidak, bukan karena aku bosan mengurus dan menjaganya. Tapi karena aku tak sanggup melihatnya kesakitan.

    Rasanya seperti luka silet yang dikoyak dan ditaburi air garam. PEDIH.

    Melihat kedua mata bening yang sedang tertutup, lalu mendengar suara instrumental dari alat pendeteksi detak jantung. MIRIS.

    Dia gadis yang ku cintai, sedang terbaring dengan keadaan koma. Melihat keadaannya aku merasa benar-benar tak sanggup.

    Ku gapai tangannya, kemudian ku genggam erat. Dan tanpa ku sadari aku mulai terisak.

    Terisak dalam sebuah jeritan yang tertahan, saat mengingat dimana untuk yang pertama kali aku melihatnya.

    Waktu itu…..

    Seorang gadis dengan kepala botak, duduk di atas kursi roda sambil memandang ke depan dengan pandangan kosong. Hari itu hari pertamaku menjadi dokter di rumah sakit tersebut, dan ku dengar gadis berkepala botak itu adalah satu dari sekian banyak pasien yang harus aku urus.

    Memberanikan diri, aku mulai melangkah mendekatinya.

    “Melamun itu tidak baik untuk kesehatan!” yah..teguran singkat yang semula berawal dari pendekatan  seorang dokter terhadap pasiennya, tanpa ku duga berubah menjadi pendekatan seorang lelaki yang jatuh cinta pada perempuan.

    .

    .

    Apa yang kulihat dari sosok gadis berpenyakitan seperti Han JI~Eun? Maaf, aku tak bisa menjawab pertanyaan itu, karena aku tak tahu apa jawabannya. Aku tidak tahu apa yang kulihat dari sosok gadis dengan penyakit jantung kronis yang divonis hampir mati. Aku tidak tahu apa yang membuatnya sangat menarik di mataku.

    Senyuman-nya? Senyuman-nya memang manis, tapi bukankah masih banyak senyum gadis-gadis lain yang lebih manis dari senyumnnya. Bagimana jika matanya? Matanya begitu cantik, tapi sayang mata itu terlalu sering menangis sehingga mata cantik itu lebih sering terlihat bengkak dan sembab.

    Andai boleh jujur, aku memulai perasaan ini karena kasihan. Menyedihkan dan tentunya menyakitkan jika Han Ji~Eun mengetahui hal ini.  Aku berpikir, tidak ada salahnya menikah dengan gadis sepertinya, bukankah penyakitnya akan membuatnya mati dalam waku dekat. Dengan begitu akupun akan terbebas darinya? Dan waktu itu, ada seorang ibu datang dengan airmata yang berlinang, dia datang padaku sambil memohon untuk menikahi anaknya. Perlu kalian ketahui, aku tidak akan tega melihat seseorang memohon seperti itu.

    Aku bajingan, aku benar-benar bajingan. Andai kalian tahu apa yang aku lakukan setelah menikah dengannya. Aku bahkan menjalin hubungan dengan wanita lain. Come on, apa yang bisa aku harapkan dari seorang gadis seperti Han Ji~Eun. Dia benar-benar tidak bisa memuaskanku dalam segi apapun.

    Tapi karena kenaifanku, aku terjebak dalam pemikiran konyolku sendiri. Sudah hampir setahun aku bersamanya, dan dia tidak kunjung mati. Aku frustasi, sangat frustasi. Ditambah dengan jasa praktek dokterku yang semakin hari semakin sepi, semenjak aku menikah dengannya. Mungkin orang-orang berpikiran, bagaimana seorang dokter dapat menyembuhkan pasiennya jika istrinya sendiri tidak bisa ia sembuhkan. Aghrr…aku rasa saat itu aku benar-benar sudah gila. Aku ingin sekali menceraikannya, karena dia benar-benar telah menghancurkan hidupku, baik disegi karir maupun hubunganku dengan keluargaku. Kau tahu, semenjak menikah dengannya, aku dan ibuku lebih sering berdebat!

    Aku kerepotan mengurus obat-obatnya yang harus dia minum, apalagi harga obatnya yang membuat isi dompetku menipis, aku lelah menjadi suaminya, benar-benar lelah. Aku lebih merasa jika aku adalah PEMBANTUNYA bukan suaminya.

    Pemikiran yang terlalu kejam, hingga disuatu malam Tuhan menunjukkan sebuah kenyataan yang sedang terjadi.

    Han JiEun tiba-tiba pingsan, dan aku benar-benar panik. Apalagi saat melihat alat pendeteksi detak jantung itu mengeluarkan sebuah bunyi monoton yang panjang, bersama sebuah garis hijau yang datar.

    Malam itu aku benar benar menjerit. Aku seperti orang sinting yang tak bisa berpikir. Aku berteriak sambil menangis.

    “JI~EUN BANGUN!!! BANGUN..AKU MENCINTAIMU!”

    Ucapan spontan itu benar-benar seperti sebuah mantra pendatang keajaiban, hingga dengan pelan aku melihat mata cantik yang terlalu sering menangis itu terbuka secara perlahan.

    Malam itu, adalah malam dimana aku menyadari bahwa aku mencintai Han Ji~Eun, aku tak sanggup kehilangannya. Dan aku sadar aku melakukan semuanya karena aku tulus. Yah, meski semula aku mengawalinya dengan sebuah kebohongan yang bejat. Tapi sekarang aku berani menjamin, AKU BENAR-BENAR MENCINTAINYA TANPA MEMANDANG APA-PUN DARINYA.

    Hhh, sudahlah. Mungkin itu hanyalah sepenggal kisah masa lalu burukku. Dan kini aku kembali menemukan wanitaku terbaring lemah dengan keadaan yang jauh lebih parah dari sebelumnya.

    “Sayang..bangunlah!” bisikku lembut, diiringi airmata yang menyeludup keluar dari ujung mataku.

    “Sayang…bangunlah!” ku kecup kening pucat itu, dan airmataku semakin nakal menyeruak.

    “Sayang..bangunlah! ku mohon, jangan tinggalkan aku seperti ini!” terdengar suara nafas pelan dari Ji Eun membuat seluruh tubuhku menegang saat mendengarnya. Tuhan, aku benar-benar tak bisa membayangkan jika suatu saat suara nafas itu tidak terdengar lagi dari tubuh wanitaku. Apakah aku masih bisa bertahan, atau aku justru akan ikut mati bersamanya.

    “Sayang..bangunlah! aku ingin mengajakmu jalan-jalan!” lagi membisikkan sebuah kalimat, berharap apa yang ku ucapkan dapat menjadi sebuah mantra ajaib yang dapat membuat kedua matanya terbuka.

    Chu

    Kali ini mengecup bibir kebiruan itu dengan lembut. Berharap ia dapat merasakan sentuhan bibirku, setidaknya meski mata itu tidak dapat terbuka tapi aku ingin dia mengetahui satu hal,  bahwa disini seorang lelaki bernama LEE JINKI sedang menemaninya. Oleh sebab itu, dia tak perlu khawatir akan kesepian. Sebab suaminya akan terus mendampinginya, karena suaminya begitu mencintainya.

    “Sayang..aku sudah menciummu, jadi bangunlah! Bukankah sekarang kita sedang bermain drama putri tidur. Kau seharusnya melakukan peranmu dengan baik, kau seharusnya bangun setelah aku cium!! Apa kau tidak membaca skenarionya? hiks..hiks..hiks!”

    * * * Normal POV * * *

    “Sayang..bangunlah! ku mohon, jangan tinggalkan aku seperti ini!” mendengar suara itu, membuatku terpatung. Itu adalah suara suamiku, tapi dimana dia? Dimana suamiku itu?

    Aku menjerit diantara kegelapan yang pekat. Apakah Tuhan sedang menghukumku karena tidak pernah  bersyukur dengan apa yang ku miliki?

    Tes

    Tes

    Tes

    Ya, Tuhan. Aku tahu aku akan mati, aku tahu aku tidak bisa menghindar dari takdirmu itu. tapi ku mohon, jangan saat ini. Jangan saat ini kau mengambil nyawaku. Biarkan aku hidup meski hanya beberapa bulan lagi, setidaknya biarkan aku  menjalani hidupku seperti selayaknya.

    Ku mohon padamu, berikan aku kesempatan sekali lagi.

    Tes

    Tes

    Tes

    Setelah itu Kau bisa mencabut nyawaku, kapanpun Kau mau. Tapi ku mohon berikan aku satu kali lagi kesempatan. Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan hidupku yang terakhir.

    Aku ingin Kau mengijinkanku membuat sebuah kebahagiaan untuk orang-orang terdekatku, sebelum aku menghadapMu. Ku mohon, kabulkan doaku. Ku mohon…

    * * *

    Perlahan, ku buka mataku. Semula semua terlihat silau tapi semakin lama, pandanganku terlihat baik, begitupun saat aku menyadari sebuah tangan menggenggam tanganku dengan erat.

    Tersenyum simpul saat melihat pemilik tangan sedang tertidur pulas.

    “Eungh..” aku terus mengamati mimik wajahnya yang lucu saat mengerang dari tidurnya.

    “Yeobbo, kau sudah sadar?” dia membulatkan mata sipitnya saat melihat ke arahku. Aku mengangguk singkat sambil tersenyum dan tiba-tiba dengan segera dia berhambur masuk ke dalam pelukanku.

    “Gumawo!” aku menggangguk singkat, dan menggigit bagian bawah bibirku ketika menyadari airmataku kembali ingin menyeruak. TIDAK, aku tidak ingin menangis lagi, aku tidak suka menangis. Aku bukan gadis lemah, yah..lagipula ini bukan saatnya untuk menangis.

    * * *

    “Hah, ku pikir kemarin itu kau akan mati, ternyata kau tidak selemah itu. baguslah, setidaknya anakku tidak perlu merepotkan diri untuk mengurus pemakamanmu!” lagi-lagi ucapan yang membuat ulu hatiku merasa ngilu. Tapi kali ini aku tak akan menangis. Ini adalah hari pertamaku di rumah, setelah dirawat inap selama satu minggu di rumah sakit. Aku tak ingin hari pertama ini, aku lalui dengan sebuah tangisan.

    “Nde eomma, maaf karena telah membuatmu khawatir!”  tersenyum kepada ibu mertuaku yang justru membalas senyumanku dengan tatapan jijik. Hhmm…sebegitu bencinya kah dia padaku? Ahni, aku tak boleh berburuk sangka. Aku telah berjanji kepada Tuhan, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan hidupku yang terakhir ini. aku tidak boleh mengingkarinya.

    “Eomma, ada yang ingin aku bicarakan!”

    “Kau ingin membicarakan apa denganku, jika itu hanya hal yang tidak penting. Aku tidak bersedia!” aku memantapkan hatiku untuk menjawab ucapan itu. Hhh, aku harus tegas, aku harus yakin bahwa aku siap melakukannya.

    “Aku ingin menyetujui usul eomma!” ibu mertuaku melepaskan pandangan dari majalah yang sebelumnya menjadi pusat perhatiannya, dia memandangku dengan pandangan penuh menyelidik.

    “Tawaranku, maksudmu?” meneguk airliur yang tiba-tiba terasa pekat. Menyiapkan hati untuk menjawab pertanyaan itu dengan sungguh-sungguh. Han Ji~Eun, ayolah! Bukankah ini adalah keputusanmu sendiri, bukankah kau sudah yakin ini yang terbaik, kalau begitu cepat katakan.

    “Aku menyetujui usul eomma, bahwa Jinki oppa harus menikah lagi untuk mendapatkan keturunan. Aku bersedia untuk…untuk!” Tuhan, ini menyesakkan. Ku mohon Bantu aku melanjutkan kalimat ini, ku mohon.

    “Untuk..berbagi suami dengan wanita lain!”

    ‘Pluk’

    To Be Continued

    “READ MORE GWENCHANA”

    Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 [END] | Side story

    Penulis: Rasyifa

    ♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

    42 thoughts on “Onew Fanfic Sad // Gwenchana Part 2

    1. Ping-balik: Onew Fanfic Sad // Gwenchana Part 4 | R A R A S T O R Y

    2. Ping-balik: Onew Fanfic Sad // Gwenchana Part 3 | R A R A S T O R Y

    3. Ping-balik: Coming Soon Fanfiction // “Gwenchana” | R A R A S T O R Y

    4. Great Thor! Sampai nangis saya :’

      Suka

    5. Jinki ternyata awal yg bejat untuk mencintai seorang wanita –– tp Jinki leadernim keren. eh tp ga harus juga kan anda selingkuh leadernim –– selingkuh lbh kejam drpd pembunuhan sebenarnya. kekekekkee..
      Eommanya jinki apa apaaan sih. Ahjumma kok anda jahat betul. minta gw ketekin nih😀 eh tp ga berani ._.

      andwae jinki. jgn mau nikah lagi. tidak tidak itu jahatt…

      kak rara good job. FF yang buat bella nangis dengan cantikknya ._.

      Suka

    6. Duuuhhh nyesek senyeseknya. Oh ternyata jinki awalnya brengsek banget ya. Main wanita dan berharap jieun cepet mati ckck. Untunglah dia sudah sadar.

      Suka

    7. Nangis T.T … Ga nyangka jinki awalnya kek gitu

      Suka

    Feedback. . .♥

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s