Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

Fanfiction Jonghyun // Jonghyun’s Story

23 Komentar

Jonghyun story
  • Title : Jonghyun’s Story | Fanfiction Special For Jonghyun Birth Day
  • Main Cast :
    . Kim Jonghyun as Kim Jonghyun
    . Imaginary Cast as Laresa
    . Kim Kibum as Kim Kibum
  • Genre : Fanfiction, Sad, Life, Fantasy, Family, Little Angst.
  • Rating : General
  • Length : OneShoot
  • Summary : Sejak tiga belas tahun yang lalu lelaki ini berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dan juga seorang adik bayi yang di asuhnya dengan tulus. Sejak lahir lelaki ini tidak pernah tahu siapa ayah dan ibunya, dia dibesarkan di sebuah panti asuhan di sudut kota Seoul, dan saat berumur sepuluh tahun anak lelaki itu terpaksa harus menjalani kehidupan berat. Panti asuhan yang selama ini menjadi tempat tinggalnya di gusur karena sebuah scandal —yang Jonghyun tak dapat mengerti apa alasannya bahkan sampai sekarang—. Banyak anak-anak terlantar termasuk Jonghyun karena insiden ini.

  • Disclaimer : Semua alur cerita kepunyaan saya, tokoh asli dalam cerita juga kepunyaan saya, intinya semuanya itu punya saya, hahaha😀 (nge-gaje)
  • A.N : Genrenya sad again, sad again, sad again? . Tenang, ini sad-nya abal-abalan kok~😀 La..la..la..la..la ~ ^^ ~ Finally, happy reading and don’t forget leave a comment.

    PLEASE..DON’T BE SILENT READER AND PLAGIAT !!  emoticon blog


Jonghyun’s Story

Copyright© All Rights Reserved Rasyifa

Lelaki itu terus berjalan sambil mendorong sebuah gerobak dengan kedua lengan kekarnya. Aku semakin melebarkan sayapku untuk terbang mendekatinya agar aku bisa lebih leluasa memperhatikannya.

Dia memiliki rahang yang tegas, matanya agak sipit dan dia juga memiliki lubang hidung yang  sedikit berukuran abnormal, hihihi…dia memiliki lubang hidung yang sedikit besar dan juga..

“LARESA!!”

“Nde, Sunbaenim.” Huh, maaf aku tak bisa melanjutkannya lagi atau mungkin aku akan kehilangan pekerjaanku.

* * *

Aku sampai di sebuah gubuk kumuh,  ku terbangkan tubuhku untuk melihat kondisi gubuk ini dari atas, dan yang aku temukan adalah kondisi atap gubuk yang memiliki banyak lubang disana-sininya.

“Lelaki ini tinggal disini?” gumamku saat melihat lelaki itu memasuki gubuk tersebut. Dan tanpa ia ketahui aku mengikutinya masuk ke dalam gubuk tersebut.

“Aku pulang!” ucap lelaki itu sesaat memasuki gubuk tersebut, sementara aku justru terpaku di tempatku saat melihat kondisi dalam gubuk yang bahkan jauh lebih parah dari apa yang sebelumnya aku lihat. Dinding-dinding gubuk yang seharusnya dapat melindungi sang penghuni dari angin, justru hanya terlihat seperti sebuah hiasan dengan lubang yang juga ada dimana-mana,belum lagi dengan ketidak ada-annya keberadaan jendela sebagai sirkulasi udara, membuat gubuk ini terasa pengap.

Hyung..kau sudah pulang!” aku berhenti mengamati keadaan rumah ini saat seorang anak lelaki terlihat berlari-lari menghampiri pemuda yang selama ini aku ikuti.

“Ne, hyung sudah pulang Kibumie!” lelaki bernama lengkap Kim Jonghyun itu menggendong anak tersebut di pundaknya, membuat anak tersebut tertawa riang di balik punggung kekarnya tersebut.

Sebuah senyum kecut muncul menghiasi wajahku, merasa malu terhadap diri sendiri saat melihat pemandangan ini. Hey, aku bahkan melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa lelaki itu tadi berjuang mendorong sebuah gerobak tua yang diisi dengan puluhan barang rongsok,  aku juga menyaksikan sendiri berapa banyak tetesan keringat yang muncul di balik tubuh kekarnya itu, dan setelah apa yang dia lakukan dia masih bisa membuat seorang anak kecil tertawa.

“Hyung, hari ini kita makan apa?” lelaki tersebut terdiam sejenak kemudian tersenyum lembut.

“Hemm apa ya? Kibumie tunggu disini, hyung akan buatkan makanan dulu!” dengan lembut lelaki itu menurunkan anak lelaki yang sebelumnya berada di gendongannya, sesaat ia mengusang lembut rambut anak tersebut, seolah sedang memberikan kasih sayang tulus dari seorang kakak terhadap adiknya.

“Ne, hyung!” anak itu menurut saja, kemudian mengangguk kecil. Hem..anak yang manis.

* * *

“Kapan nasinya masak hyung?” sudah yang ketiga kalinya anak bernama Kibum ini menghampiri Jonghyun, hanya untuk sekedar bertanya ‘kapan nasinya masak’ dan dengan sabar lelaki bernama Jonghyun itu akan menjawab ‘lima belas menit lagi’.

“Mungkin sekitar lima belas menit lagi. Kibumie tidur saja dulu, nanti kalau nasinya sudah masak, hyung pasti akan membangunkan Kibumie!” ucap Jonghyun sambil tersenyum lembut pada Kibum. Dan setelah mendengar jawaban itu anak kecil tersebut akan kembali ke tempatnya semula, merebahkan tubuh mungilnya dengan sebuah selimut usang yang diperoleh Jonghyun dari tempat pembuangan sampah.

Aku menggigit bibir bawahku, tak manyadari kalau mataku mulai berair. Aku pikir adegan ini hanya ada di sebuah drama yang sering dibuat oleh anak-anak manusia, tapi ternyata adegan ini benar-benar ada dan adegan ini benar-benar membuat hatiku merasa miris.

Tidak ada nasi yang dimasak lelaki bernama Jonghyun, dia hanya merebus air di dalam panci berukuran kecil itu. Tidak ada yang dapat dimasak di gubuknya, hingga ia terpaksa membuat sebuah kebohongan untuk adiknya. Lelaki itu tidak akan tega mengatakan kepada adiknya bahwa hari ini, ia sama sekali tak mendapatkan uang untuk membelikan makanan, ia tak mungkin tega melihat Kibum duduk meringkuk sambil memegangi perut yang sedang menuntut jatah makan, ia tidak akan tega untuk semua itu. Berbohong bahwa ia sedang memasak nasi akan terasa lebih baik, sebab dengan begitu sang adik dapat sedikit tersenyum, yah..meski ia akan terus berbohong bahwa nasi yang sedang ia masak belum matang hingga sang adik tertidur.

Aku melangkahkan kakiku mendekati Kibum yang sedang berbaring di atas sebuah tikar yang sebenarnya sudah tidak layak lagi untuk digunakan. Dengan pelan aku mendekati Kibum lalu memeluknya dengan tangan dan bahkan kedua sayapku.

“Tidurlah adik manis!” berucap lembut di daun telinganya, sambil mengeratkan pelukan yang melingkar di tubuh mungil anak lelaki ini.

“Tidurlah!” ucapku sekali lagi. Ya, aku memutuskan untuk membantu lelaki itu menidurkan anak ini, meski ini bukan sesuatu yang besar aku harap aku dapat membantu Jonghyun meringankan bebannya.

“Tidurlah, biarkan mimpi menghapus semua rasa sakitmu sayang! Tidurlah, maka esok akan lebih baik dari hari ini!” ucapku terus dan terus mencoba menidurkan anak lelaki ini, hingga ku sadari kedua mata anak ini sudah tertutp rapat.

“Jonghyun, adikmu sudah tertidur!” gumamku pelan sambil melepas pelukan dari anak kecil ini.

* * *

Lelaki itu menyandarkan punggungnya pada dinding gubuk yang rapuh, kedua bahunya naik turun, sementara aku melihatnya nampak berusaha menahan sebuah isakan.

“Kau menangis Jonghyun?” gumamku sambil mendekati tubuh lelaki itu. Dan dari tempatku berada aku dapat menemukan airmata yang terus menyeruak dari ujung matanya.

Jangan bertanya kenapa lelaki ini menangis, jangan menanyakan apa yang menyababkannya menangis. Dia tidak sedang menangis karena merasa nasibnya sial, dia tidak menangis karena murka kepada Sang Pencipta atas apa yang dianugerahkan dalam hidupnya, dia menangis untuk sebuah penyesalan atas apa yang dia lakukan. Dia merasa telah menjadi seorang kakak yang buruk bagi adiknya.

“Tuhan..tabahkan dia!” tanpa sadar airmataku ikut menyeruak saat  memperhatikan lelaki ini menangis. Aku ikut menyandarkan tubuhku ke dinding rapuh —di sampingnya—. Jonghyun, kau bisa menangis sepuas yang kau mau, Kibum tak akan mendengarnya karena dia telah tertidur pulas. Jonghyun tetaplah tabah menjalani hidupmu, aku yakin Tuhan akan memberikan balasan yang setimpal untuk semua makahlukNya yang tabah. Aku yakin itu Kim Jonghyun, dan ku harap kau-pun bisa meyakininya.

* * *

Aku tersenyum kecil sambil mengamati Jonghyun yang sedang sibuk memilah-milah tumpukan sampah di depannya. Wajahnya nampak serius memperhatikan setiap sampah plastik yang berhasil ia temukan. Dan aku tersenyum karena aku menyadari bahwa lelaki ini memiliki rupa yang tampan, bahkan meski di wajahnya terdapat banyak kotoran sekalipun.

Jonghyun kembali mendorong gerobaknya setelah berhasil mengumpulkan beberapa barang plastik yang masih bisa dijual ke pengasok. Dan aku terus mengikuti langkahnya sambil terus memperhatikan setiap gerak-geriknya.

Semuanya terjadi secara cepat di penglihatanku. Saat itu Jonghyun menunduk untuk mengambil sebuah botol bekas minuman kaleng, kemudian seseorang yang sedang berlari dengan cepat melemparkan sebuah benda ke dalam gerobak Jonghyun.

‘Pluk’

Jonghyun yang menyadari sebuah suara, menolehkan kepalanya ke arah dalam gerobak, dan alangkah terkejutnya ia saat menemukaan sebuah dompet di dalam gerobaknya, sementara seseorang yang tadi melemparkannya sudah berlari jauh. Tuhan, kenapa aku tiba-tiba merasakan aura tidak nyaman, dan aura itu bertambah saat Jonghyun mengambil dompet itu dari dalam gerobaknya.

“INI DIA MALINGNYA!”

Degh

 

* * *

Aku hanya bisa tercengang di tempatku berdiri, saat puluhan orang dengan kasar tiba-tiba menghajar Jonghyun. Salah seorang dari puluhan orang tersebut bahkan merebut paksa dompet yang sebelumnya berada di tangan Jonghyun.

Bugh

Bugh

Bugh

Orang-orang tersebut terus saja menghajar Jonghyun, tidak mempedulikan bagaimana keadaan lelaki itu. Bahkan dari mulutnya cairan berwarna merah itu telah menyeruak. Ya, Tuhan aku harus bagaimana? Kenapa ini semua bisa terjadi.

Terus berdiri mematung, aku hanya bisa menangis dan menjerit, sungguh.. ini salah paham, lelaki bernama Jonghyun bukanlah pelakunya. Aku berani menjaminnya. Aku berani menjaminnya, jadi ku mohon..hentikan memukul wajah tampan itu, ku mohon…

* * *

Aku terus menangis, sementara sosok Jonghyun nampak duduk di depanku dengan pandangan datar. Aku tahu apa yang ada di pikirannya. Yang jelas  lelaki itu tidak sedang merutuk atau menyumpah serapah terhadap puluhan orang yang sudah menghajarnya atau bahkan terhadap seseorang yang melempar dompet tersebut ke dalam gerobaknya tanpa bertanggung jawab. Lelaki itu justru sedang memikirkan nasib seorang anak yang sedang menunggu kedatangannya, menunggu kedatangan seorang kakak yang membawa makanan untuk dimakan.

“Jonghyun!” menyebut namanya pelan, kemudian dengan lembut ku sentuh luka yang terlihat berwarna biru legam itu dengan telapak tanganku. Kemudian dengan tololnya aku kembali menangis.

Sejak tiga belas tahun yang lalu lelaki ini berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dan juga seorang adik bayi yang di asuhnya dengan tulus. Sejak lahir lelaki ini tidak pernah tahu siapa ayah dan ibunya, dia dibesarkan di sebuah panti asuhan di sudut kota Seoul, dan saat berumur sepuluh tahun anak lelaki itu terpaksa harus menjalani kehidupan berat. Panti asuhan yang selama ini menjadi tempat tinggalnya di gusur karena sebuah scandal —yang Jonghyun tak dapat mengerti apa alasannya bahkan sampai sekarang—. Banyak anak-anak terlantar termasuk Jonghyun karena insiden ini.

* * *

Aku menarik nafas lega saat menemukan Kibum nampak sedang menyantap makanan yang diberikan salah seorang tetangga yang berbaik hati. Hhh, aku memutuskan mengunjungi Kibum untuk memastikan anak itu dalam keadaan yang baik-baik saja.

“Kibum, hari ini hyungmu tidak bisa pulang!” gumamku dan dengan tolol kembali menangis sambil terus memperhatikan anak itu melahap makanannya.

“Hyungmu dituduh mencuri, apa yang harus kita lakukan?” seolah anak itu bisa mendengarkan aku bicara, aku terus mencoba mengajaknya bicara.

“Padahal hyungmu sama sekali tak bersalah. Bagaimana ini?”

“Hikss.. Kibum, aku tidak tahu bagaimana caranya tapi aku berani menjamin. Hyungmu pasti akan pulang, jadi ku mohon kau baik-baik saja selama hyungmu belum pulang!”

* * *

Aku bisa menghembuskan nafas lega kembali, saat ada seseorang yang dengan baik hati mau menolong Jonghyun, dia memberikan uang tebusan agar Jonghyun bisa keluar dari tempat yang dipenuhi pagar-pagar besi —yang dimataku terlihat mengerikan— . Aku tidak tahu secara pasti siapa orang itu, tapi setauku dia adalah salah satu teman Jonghyun di Panti asuhan dulu, namanya Lee Jinki. Tapi bedanya dengan Jonghyun, nasib Jinki jauh lebih beruntung, karena anak tersebut sudah di adopsi oleh sepasang suami istri sebelum Panti Asuhan tersebut di gusur.

“Aku tidak tahu bagaimana cara berterimakasih kepadamu Jinki~ssi!” lelaki itu tertawa renyah saat mendengar ucapan Jonghyun, kemudian dengan pelan lelaki itu menyikut perut Jonghyun.

“Jangan terlalu formal begitu Jonghyun, kitakan sahabat! Mungkin dengan cara seperti inilah Tuhan mempertemukan kita lagi!” Jonghyun tersenyum canggung dan kemudian mengangguk kecil. Sahabat?

“Ahya, mau ku antar pulang?” Jonghyun dengan cepat menggelengkan kepalanya saat mendengar tawaran itu, ia tak mau Jinki melihat gubuk tua yang menjadi tempat tinggalnya. Ya, dia memang malu tapi alasan terbesar ia menolak ajakan itu adalah dia tak ingin dikasihani. Jonghyun bukanlah orang yang suka dikasihani.

“Baiklah. Kalau begitu aku duluan, ada yang harus aku urus!” Jonghyun mengganggukkan kepalanya lagi sambil merajut senyum kecil dengan garis bibirnya. Sementara lelaki bernama Lee Jinki itu mulai mengayun langkah menjauh dari Jonghyun.

* * *

Jonghyun berjalan pelan menyusuri sebuah jalan kecil, sesekali kakinya menendang kerikil jalanan yang menghalangi langkahnya. Karena kejadian itu Jonghyun kehilangan gerobaknya dan sekarang ia tak tahu bagaimana ia bisa mencari uang. Aku hanya bisa mendesah melihatnya yang terlihat kusut. Maaf, aku tak bisa membantumu bahkan tugasku hanya mengawasi dan memperhatikanmu.. jadi aku tak bisa berbuat banyak.

Hyung!” pekikkan itu membuat langkah lelaki di sampingku berhenti, dia mengangkat kepalanya hingga ia bisa melihat siapa yang sedang memanggilnya, akupun ikut menolehkan kepalaku untuk mencari tahu siapa sumber dari pekikan itu.

Itu Kibum, dan dia nampak sedang berlari mendekati Jonghyun.

Hyung kemana saja, kenapa hyung baru pulang?” anak itu lalu berhambur masuk ke dalam pelukan Jonghyun, Jonghyun hanya bisa tersenyum, dan lagi-lagi begitupun denganku —aku hanya bisa tersenyum—melihat adegan kakak beradik yang sangat akur ini.

* * *

Hyung tidak kerja?” anak lelaki itu menatap Jonghyun dengan kedua mata sipitnya, membuat Jonghyun harus memutar otak untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan anak berambut lurus itu.

“Gerobak hyung hilang, hyung tidak tahu harus bekerja dengan apa?” kali ini memilih untuk mengatakan hal yang sebenarnya, tanpa harus membuat sebuah kebohongan, membuat sosok anak kecil di hadapannya menurunkan kedua sudut bibirnya seolah kecewa dan merasa sedih saat mendengar apa yang diucapkan oleh kakaknya.

“Kalau hyung tidak kerja, berarti kita tidak akan mendapatkan uang untuk makan-kan?” pertanyaan polos anak itu seperti sebuah panah yang berhasil menusuk ke dalam jantung Jonghyun. Aku dapat merasakannya saat melihat mata kecil milik lelaki itu nampak berair.

“Ahni~, hyung tetap akan mencari uang untuk kita makan!” mencoba tersenyum di antara kepedihan yang sedang menderanya, mencoba menguatkan diri untuk tetap menjadi seseorang yang tegar dan tabah. Tapi aku justru merasa semakin miris terhadapnya.

* * *

Jonghyun melangkahkan kakinya pelan, sepertinya ia tidak tahu harus kemana. Bukankah biasanya lelaki ini berjalan dengan sebuah gerobak tua yang di pikulnya. Sekarang dia harus berjalan dengan tangan yang kosong.

“Apa hari ini?” aku mengernyit saat Jonghyun tiba-tiba bicara, tapi pada siapa? Disini bahkan tak ada oranglain selain dia —tentunya karena dia tak bisa melihatku—. Dan aku tidak bisa dibilang ‘orang’.

“Apa yang harus aku lakukan agar dapat membelikan Kibum makanan, tubuh anak itu semakin hari semakin kurus karena aku semakin sering membiarkannya tidak makan. Hyung macam apa aku ini?” aku baru menyadari kalau ternyata Jonghyun hanya sedang bergumam sendirian. Aku tersenyum menatap wajahnya yang terlihat sedang serius berpikir.

“Apapun Jonghyun yang penting halal!” ucapku menjawab pertanyaannya.

“Ya, itu pasti!” kembali tercengang saat Jonghyun seolah kembali sedang berbicara dengan seseorang. Apa dia bisa melihatku? Tidak, itu tidak mungkin.

* * *

Aku terkadang tertawa saat Jonghyun menyanyikan sebuah lagu dengan nada yang asal, atau terkadang ia menari-nari dengan raut wajah tidak ikhlas. Hari ini Jonghyun  bekerja sebagai seorang pengamen sekaligus kuli angkut. Yah, dia melakukan apa saja untuk mendapatkan uang. Dia melakukannya bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk seseorang yang telah menjadi tanggung jawabnya sejak lama, dan dia melakukan semua ini tanpa mengenal pamrih.

* * *

Jonghyun tersenyum puas saat mendapatkan sebungkus roti gula, yang ia beli dengan uang hasil bekerjanya hari ini. Akupun ikut tersenyum sambil terus mengikutinya langkahnya.

Degh

Tiba-tiba aku kembali merasakan aura tak nyaman, atau lebih tepatnya firasat buruk. Aku tidak tahu apa itu, tapi aura ini bahkan terasa lebih besar dibandingkan aura buruk yang sebelumnya pernah aku rasakan sewaktu Jonghyun difitnah menjadi maling.

“Kibum pasti akan menyukainya!” Jonghyun terus bergumam sambil tak henti-hentinya tersenyum saat menatap sebungkus roti gula yang ada di tangannya. Tidakkah ini terlalu miris? Hanya sebungkus kecil roti gula tetapi lelaki ini bahkan benar-benar mensyukurinya. Bagimana denganmu?

Degh

Aura tak menyenangkan itu terus saja merasukiku, sebenarnya apa yang akan terjadi?.

“LARESA!!” sebuah suara memanggilku, itu adalah suara Sunbaenimku. Kenapa dia tiba-tiba memanggilku?

“Nde Sunbae?”

“Tugasmu hari ini, lima detik lagi!”

Degh..

Tugasku? Lima detik lagi?

* * *

Brakkk….

 

Suara benturan itu terjadi begitu saja, bahkan sebelum aku dapat menyadari apa yang sedang terjadi.

Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat tubuh lelaki itu terlempar jauh bersama sebungkus roti gula yang ada di tangannya, kemudian terhempas di tanah, tidak hanya itu..tubuhnya-pun juga sempat menggelinding di tanah, membuat kulit putihnya bergesakan dengan kasarnya permukaan aspal.

Semburat darah mengalir dimana-mana, hidung atau bahkan mulutnya. Luka goresan-pun berada dimana-mana. Aku hanya terus terpaku menatapnya. Tugasku?

 

Akhirnya dengan memantapkan hati melangkah mendekati tubuhnya yang terbaring tak berdaya itu.

“Kim Jonghyun!” lirih memanggil namanya pelan, dan sejenak mata kecil itu terbuka seolah dia bisa melihatku. Tunggu, dia memang bisa melihatku.

“LARESA!!”  kedua bola mataku membulat saat dia mengucapkan namaku dengan mulut yang dipenuhi darah. Bagaimana dia tahu namaku?

Dengan pelan, ku jalankan tugasku. Pertama ku sentuh keningnya dengan telapak tanganku. Mengambil nafas sejenak….

 ‘Jonghyun, ku harap  ini tidak akan terlalu sakit’.

Setelah telapak tanganku berada di keningnya, kemudian ku angkat kembali telapak tanganku hinga sebuah cahaya putih keluar dari kening itu.

“Happy Birth Day Kim Jonghyun, dan selamat tinggal!” mencoba tersenyum meski airmata sudah mulai menyeruak dari balik ujung mataku. Dan saat itu pula cahaya putih tersebut terbang ke arah langit.

“Orang ini sudah mati!” seseorang diantara gerombolan manusia yang mengelilingi tubuh Jonghyun nampak mengeluarkan sebuah pernyataan yang sontak membuat manusia yang lain terpaku.

* * *

Perkenalkan aku Laresa. Mungkin sepertinya aku terlambat memperkenalkan diriku, tapi sungguh menurutku karena itu sama sekali tidak penting. Aku hanya sesosok malaikat maut, ya..aku bertugas mencabut nyawa manusia.

Empat puluh hari sebelum manusia tersebut meninggal maka dia akan di temani oleh sesosok malaikat maut yang terus berada disisinya, dan manusia itu akan menyadarinya saat hari terakhir mereka tiba. Hem.. inilah yang terjadi dengan Jonghyun.

Lelaki bertubuh kekar itu kini sudah tiada, dia meninggal dihari yang sama dengan hari kelahirannya. 8 april, akan ku ingat itu dengan baik. Dimana kisah seorang manusia yang tabah telah berakhir, dia  meninggalkan begitu banyak jejak hidup yang pedih —yang selama ini ia jalani—. Dia meninggakan banyak pelajaran hidup yang berharga. Sebuah perjuangan, ketabahan, keikhlasan, dan ketulusan. Dan aku yakin dari semua pelajaran kehidupan yang ia sampaikan melalui kisah hidupnya akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Tuhan.

* * *

Kini aku sedang mendudukkan diri di samping Kibum yang nampak sedang duduk bersandar sambil meringkuk dan memegangi perutnya.

“Hyung, kenapa kau belum pulang juga?” rasanya sesuatu dari dalam diriku menjerit saat mendengar ucapan polos anak kecil ini, tapi dengan penuh paksaan aku mencoba untuk merajut senyum dengan garis bibirku. Tidak ada airmata Laresa, tidak ada! Ini bukan cerita sedih, bukan!!.

“Kibum, maaf kali ini aku tidak bisa menjamin bahwa hyungmu akan pulang!”

―Manusia yang luar biasa, adalah manusia yang bisa selalu bertabah saat menjalani kehidupannya― ( Rasyifa)

 

* * *――END―― * * *

 

Notes : Happy Birth Day Jonghyun Oppa~, meskipun sedikit telat.. tapi fanfic ini adalah hadiah spesial dari aku buat Jonghyun oppa. Aku berharap semoga oppa tetap menjadi seorang Jonghyun Oppa, dan jika memang harus berubah maka berubahlah menjadi yang lebih baik  ^^. Dan semoga oppa selalu diberikan ketabahan dalam menjalani hidup. ~Wish You All The Best Oppa~  emoticon blog

 READ MORE FANFICTION >> FANFICTION LIBRARY

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

23 thoughts on “Fanfiction Jonghyun // Jonghyun’s Story

  1. tadi eon baru protes, jinki yg dibuat treagis mulu…
    ni giliran jjong….

    eon merinding, baca ini, saeng….

    oke, deh… selalu ingat kematian
    biar kita lebih kontrol diri dari semua perbuatan dosa….
    dan, jngan sampe ninggalin sholat…

    SHINee jg, jgn sampe lupa sholat 5 waktu, ya….
    O.O…

    siapa tau, mrk dpt ilham, masuk Islam…
    bentuk Nasyid, deh…

    ada yang mau bilang ‘amin’…????

    eon mau.., aamiin….

    Suka

  2. IGE MWOYAAAAAAAAA???

    EH AUTHOR KOK JAHAT BANGET SIH JADI ORANGGGGG??? UDAH BIKIN JJONG HIDUP MENDERITA, DIBUAT SAD ENDING PULA! JONGHYUN PERNAH BUAT SALAH APA SAMA KAMU THOR??? /oke ini lebay

    Huweeeee ;_____;

    Kim Jonghyun, harusnya kamu ke rumah aku aja dari awal pantinya digusur. Aku mau kok punya kakak kaya kamu plus adik kaya Kibum. Makan kalian pasti terjamin. Aku aja mau diet gabisa-bisa gara-gara di rumah banyak makanan (((loh kok malah curhat)))

    Ini daebak bgt! recommended!

    Suka

  3. Maaf, ya eonnie😦 tapi entah kenapa aku kurang suka sama endingnya. Aku memang bukan kimbum fangurl, tapi, kan kasihan sih kibum tinggal sendiri kelaparan trus itu laresa mau nyabut nyawanya kibum juga eoh? :3 *gaje

    Suka

  4. ini ff udah lama bgt astaga tapi aku baru baca…… dan jonghyunnya meninggal TvT aku kira endingnya bakal kayak drama high school love on/? TvT
    tapi ini bagus…….. gak kebayang jonghyun jadi gembel nn mending aku adopsi jada suami deh /? xD

    Suka

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s