Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

Fanfic Romance // Husband, Jealous Please Mission 1

58 Komentar

–          Imaginary as Myunri  Lee [Choi Myunri ]

–          Minho Choi [ Choi Minho ]

–          Jinki Lee [ Lee Jinki ]

  • Another Cast :  *Find By Your Self*
  • Genre : Fanfiction, Romance, Little Comedy *diragukan*, Marriage Life.
  • Rating : PG + 13 ↑↑
  • Length : Sequel
  • Imagination : Korean Drama Naughty Kiss  a.k.a  Playful Kiss [kebetulan dapat idenya waktu nonton drama ini, drama manis yang kelewatan bikin aku kelepek-kelepek sendiri. Ha ha ha ]
  • A/N : Bukan untuk konsumsi BASHING, SILENT READER, DAN COPYCAT / PLAGIATOR. >:)

FF ini dibuat dengan kemampuan diksi dan humor yang rendah, dipublish dengan tujuan mempertambah koleksi FF. kekurangan penulisan serta  pengetikan atau pemilihan kata merupakan unsur ketidak sengajaan, as usual… no body is perfect.

— story© Rara Putriey–

 

Putih, tidak terlalu pendek, rambut spiral kecokelatan yang lumayan, cukup manis. Tapi kenapa  sepertinya orang itu enggan melihat mukaku. Apa karena aku sama sekali tak menarik dimatanya, ayolah..aku ini benar-benar cukup manis.

Oke.. untuk membuktikannya, mari kita bercermin lagi.

Putih, tidak terlalu pendek, rambut spiral kecokelatan yang lumayan, amat manis. Nah, bahkan setelah bercermin untuk ketiga puluh kalinya ternyata aku bukan hanya ‘cukup manis’ tapi ‘amat manis’.

“Apa yang kau lakukan di kamarku?” DEGH.. aku menolehkan kepalaku dan menemukannya yang Omo! Dia bertelanjang..

Pervert

Bukan bertelanjang keseluruhan, hanya bagian dada saja. Tapi itu juga sudah lumayankan.

Aghrr, Pervert!

“Aku?” ucapku yang mungkin terdengar seperti pertanyaan bodoh. Ya, setidaknya disini hanya ada aku, jadi apa mungkin dia berbicara dengan semut? Baiklah, jangan paksa aku untuk membuat sebuah lelucon yang tidak lucu.

“……” Dia tidak berbicara, dia justru melangkah mendekatiku. Astaga, dari jarak yang mulai mendekat aku dapat mencium aroma sabun mandi yang ia gunakan dan ini benar-benar menggoda keteguhanku.

Degh..Degh..Degh..

Aku mulai menggigit bagian bibir bawahku.

As usual, berdekatan dengannya memang  selalu membuatku deg-deg’an. Tapi apa maunya mendekatiku seperti ini? Jangan-jangan… ‘itu-nya’ sudah berlaku!

Tap..Tap..Tap..

Eh, kenapa dia justru melewatiku? Bukankah Jiyeon bilang kalau ‘itu’nya berlaku, dia akan menyergapku dan menarikku ke…tempat tidur —mungkin—?

“Apa kau mencari ini?” aku memalingkan tubuhku menghadapnya saat mendengar apa yang  barusan ia katakan. Dan sepertinya, aku berharap dapat mengulang waktu atau mungkin hujan meteor tiba-tiba, dimana meteor itu mengenai kepalaku hingga aku mengalami amnesia, dan melupakan semua ini. Ya..MELUPAKAN SEMUA INI!

“Ini.”

Soft pink, dengan renda dan pita putih yang manis, tapi terlihat eronis. Aku kembali mengigit bibir bawahku.

“Kau tak ingin mengambilnya?” 1000 ton, sepertinya tanganku tiba-tiba menjadi sangat berat untuk digerakkan dan sepertinya sebentar lagi tubuhku juga akan rontok. Aghrrr. Sementara dia semakin mengulurkan benda itu ke hadapanku.

“Te—-teri—-terima—kasih.”

Idiot, arrogant, sembarangan, bodoh, dan sangat konyol. Mungkin itu anggapannya saat melihat tingkahku yang bodoh seperti ini. Ayolah, mana ada sejarahnya adegan seorang suami menyerahkan celana dalam pada istrinya seperti ini! Aku rasa hanya aku yang mengalaminya dan ini membuatku frustasi. FRUSTASI!!!

* * *

“Ini usulmu, dan ini justru membuatku tak memiliki muka di depannya!”

“Ah, berlebihan! Itu..kau masih menggunakan mukamu dan tidak ketinggalan hidung bangirmu.” aku menggeleng sambil mencoba menyebut nama Tuhan. Berharap iblis di depanku hilang seketika.

“YA! Jangan mulai konyol Myunri-ah!”

“KAU TIDAK TAHU BETAPA FRUSTASINYA AKU JIYEON!!”aku sudah tidak tahan, dan mulai mengomel tak jelas untuk yang kesekian kalinya.

“Memang tidak!” aghhrr..dia ini temanku bukan sih? Sepertinya aku salah orang.

Baik, bukankah dia yang menyarankanku untuk melakukan ide gila seperti ini. Dia menyuruhku untuk menyembunyikan celana dalamku di dalam kamar Minho, dan dia bilang hal itu akan membawa aura magis di kamar Minho, bisa dibilang semacam kekuatan sihir yang bisa menakhlukkan hati Minho hingga jatuh cinta padaku. Ini konyol, bodoh dan tentu saja kalot, tapi masih ada yang mempercayai hal semacam ini, dan orang bodoh itu adalah aku.

Yang membuatku tidak terima adalah saat dimana Minho menemukan celana dalamku yang dengan paksa sudah aku masukkan diantara pakaian-pakaiannya –di dalam lemari– , bahkan aku ingat aku meletakknya di area celana dalam Minho, tepat disamping celana berwarna abu-abu polos yang terlihat serasi dengan celanaku. Aghhrr mulai konyol. Tapi, ini sangat memalukan bukan?

“Sudahlah, lagipula Minho-ssi kan bukan orang lain! Dia suamimu, kau perlu ingat itu!” wah, mudah sekali dia berucap seperti itu sementara aku, aku bahkan hampir kehilangan kemaluanku sendiri, karena usul gilanya itu. Aku rasa aku memang salah orang, dia memang benar-benar bukan temanku.

Akhirnya, Aku memilih menyeruput crazy chocolate-ku—yang sebelumnya mengganggur—. Menyeruputnya dengan sangat malas. Lalu mendesah berat.

Aku Lee Myunri, 19 tahun. Sekarang, Aku sudah duduk di bangku universitas negeri, semester dua. Itu memang bukan hal yang luar biasa, tapi setidaknya akan jadi luarbiasa kalau di usiaku ini aku sudah menikah. Ya, ya, ya.. aku menikah, sudah menikah. Tentu saja dengan seorang lelaki.

Kami dijodohkan, sesuatu yang aku pikir hanya ada di dalam drama, tapi see aku mengalaminya sendiri. Well, aku tidak keberatan dengan perjodohan ini. Karena lelaki yang dijodohkan denganku adalah lelaki yang benar-benar merupakan…idamanku. Nama lelaki beruntung itu Choi Minho, dia Sunbaenim-ku di Senior High School. Dia tampan, pintar, dan sangat berkecukupan. Semula, aku pikir pernikahan ini akan benar-benar menjadi pernikahan yang indah.

Tapi tidak, menikah dengannya bahkan membuatku merasa telah menikah dengan ‘sosok menekin’ yang selama ini bertengger di toko baju. Ya benar, seperti menekin di toko baju—istilah yang sangat tepat untuknya—.  Bukankah kalian tahu bahwa menekin-menekin itu hanya akan memakai baju–yang dipakaikan sang pemilik toko— dan jika tidak begitu alias jika sang pemilik tidak memakaikan baju, maka sang menekin akan telanjang tanpa sehelai benang.

Pervert!

Minho memang seperti itu. Tapi bukan berarti Minho tak memakai baju jika aku tidak memakaikannya. Itu hanya istilah. Lebih tepatnya Minho benar-benar sosok batu berbentuk fisik manusia. Dia pendiam, tidak banyak bicara, tidak asyik. Dia hanya bicara jika orang lain yang mengajaknya bicara—itupun terkesan seadanya—. Dan karena sikapnya ini aku merasa bosan! Dia itu batu, dia benar-benar batu! Batu, oh batu.

Dugghh!

“Appo!” ringisku sambil menatap Jiyeon tak percaya. Bagaimana mungkin orang yang mengaku temanku ini dengan tega memukul kepalaku sendiri dengan buku tebal itu. Aku mentapnya sangar, menuntut tanggung jawab dengan apa yang dia lakukan. Apakah dia tidak tahu, aku membenci keningku ini karena ukurannya lebih luas dari kening yang dimiliki orang lain, dan aku lebih benci lagi jika keningku yang memiliki benjolan.

“Siapa suruh kau melamun seperti itu, ayo cepat! Kelas sudah dimulai, kau tak ingin mempermalukan hidung bangirmu itukan dengan berdiri di depan kelas!” aku bangkit dengan malas, dan sejenak menatap nanar pada crazy chocolate ku yang bahkan belum habis —-dan tersisa banyak—. Bolehkan aku menghabiskannya dulu?

“Ayolah Myunri, jangan konyol sekali saja! Bisa tidak?” akhirnya aku mengangguk pasrah dan berjalan dengan gontai. Baiklah, sekali saja tidak bersikap konyol? Sepertinya bisa.

* * *

Bisa tdak sekali saja aku tidak bersikap konyol? Tidak bisa, sekarang bahkan aku kembali bersikap konyol. Setelah kelas kuliahku berakhir, aku justru terjebak disini—di kampus Minho—. Sambil menguntit apa yang sedang ia lakukan.

Apa alasanku melakukan ini? Jangan Tanya, aku hanya ingin menguntitnya. Dan sepertinya ini benar-benar konyol.

Minho, lelaki itu benar-benar terlihat tampan saat mengenakan stelan putih khas kampusnya—Universitas kedokteran—. Aku hanya bisa mendesah sambil menguap, kenapa muka tampannya itu justru membuatku mengantuk.

“Hooaah!”

Aku bosan, aku sudah menguntitnya, memfotonya, dan aku juga sudah merekamnya. Tapi aku tetap saja bosan. Aku bosan.

“Hey, apa yang sedang kau lakukan disini?” aku terkesiap lalu aku akhirnya  menoleh pada seseorang yang telah mengejutkanku, menatapnya  bingung karena tiba-tiba  saja sudah duduk di sampingku. Siapa dia? Apa dia berbicara denganku, aku bahkan tak mengenalnya.

“Daritadi aku melihatmu nampak sibuk dengan handphone, dan…orang itu!” dia menunjuk dengan jari telunjuknya—ke arah Minho—, lalu kembali melihat ke arahku dengan pandangan bingung.

“Jadi…apa yang sedang kau lakukan? Kau bukan penguntitkan?” aku kembali terkesiap ditempatku, Omo!! Aku menggeleng cepat, Bukan..aku bukan penguntit.

“Hahaha, baiklah kalau kau bukan penguntit. Jangan-  jangan kau itu agen rahasia! Hahaha”

Krik..krikk..krik

Aku tidak tertawa, bahkan tersenyum kecipun tidak. Malah aku bingung, apa yang sedang ia tertawakan. Apa ada sesuatu yang lucu? Atau apa tadi itu lucu? Agen rahasia, apa itu lelucon .

“Ah..maaf. itu tidak lucu ya?”

“Iya.”

“Eh?”

~Diam~

Kami terdiam, dia nampak salah tingkah saat aku mengucapkan kejujuran yang mungkin menyakitinya. Tapi akukan jujur, aku merasa itu tidak lucu.

“Aku Lee Jinki, mahasiswa kedokteran semester empa.” Akhirnya dia kembali memulai pembicaraan dan dia mengulurkan tangannya, sambil tersenyum ke arahku. Mengajak berkenalan?

“Myunri. Emm… Choi, ah.. Lee Myunri.” Bodoh.  Mungkin itu yang ada di pikiran lelaki ini sekarang, ck..bagaimana mungkin ada seseorang yang bahkan untuk mengucapkan nama marganya saja salah. Benar-benar memalukan. Tapi akupun bingung, siapa namaku sekarang. Apakah aku masih ‘Lee Myunri’ atau mungkin ‘Choi Myunri’, kalian tahu…suamiku bermarga choi, tapi keluargku Lee..jadi siapa namaku? Lagipula apa si’tuan Choi itu sudi meminjamkan marganya untuk namaku?

“Lee Myunri?” aku mengangguk sekilas, kemudian orang itu tertawa. Lagi-lagi ‘apa itu tadi lucu’?

“Marga kita bahkan sama, apa mungkin kita berjodoh!” mwo? Yang benar saja. Maaf ,aku bahkan sudah bersuami Tuan. Yang jelas suamiku tidak sipit sepertimu!

“Maaf, aku harus pergi!” ucapku sambil beranjak. Sepertinya jika aku berlama-lama bersamanya, hanya akan membuatku semakin Frustasi saja.

* * *

Hanya ada suara sendok yang berdenting—karena sesekali bergesekan dengan permukaan piring—. Benar-benar sepi dan membuatku bosan. Batu ini sama sekali tak berniat mengajakku bicara. Batu…bicaralah!

“Ehem..hukk..uhukk!” masih sempat bertingkah bodoh, bukannya membantunya mengambilkan air minum aku justru memandanginya yang sedang tersedak. Ini yang pertama kalinya aku melihatnya tersedak, andai aku tahu aku akan membawa kamera video tadi untuk merekamnya. Jujur, bahkan saat ia tersedak,  si’batu masih memiliki karisma yang kuat.

“Uhukk..uhukk..uhukk!” ah, jincha apa yang aku lakukan? Jangan konyol lagi Myunri.

“Ini..ini..ini Minho~ya!” ucapku sambil menyodorkan segelas air. Dia meneguknya dengan cepat kemudian nampak mengambil nafas. Baik, sepertinya masalah sudah sele..

“Uhukk..uhukk..uhukk!” apa? Masih. Dengan tergesak, aku kembali menuangkan air. Tapi lagi-lagi aku melakukan hal konyol. Seharusnya aku menuangkan air di teko ke gelas, tapi –entah karena terburu-buru atau memang aku yang bodoh—aku justru mengarahkan gelas kosong ke dalam teko. Dan yang lebih bagus, teko yang aku pakai tanpa tutup. Hingga gelas —yang mungkin licin— saat aku pegang itu terjatuh ke dalam teko. Bingo, good job!

“Uhukk..Uhukk..Uhukk!” aduh, apa yang harus aku lakukan. Sementara si batu masih saja tersedak.

‘Bughhh’

“Aahh”

‘Dughhh’

Apakah berhasil? Aku tadi melakukan praktek uji coba yang biasanya aku lihat di drama-drama. Praktek memukul bagian belakang seseorang yang sedang tersedak. Tapi tunggu, sepertinya aku melakukan kesalahan lagi.

“minho~ya!”  panggilku pada sosoknya yang sedang tertelengkup di meja. Apa dia tertidur. Apa tersedak mengakibatkan efek samping tertidur?

“…..”

“minho~ya!”

* * *

Aku adalah istri yang paling kejam di dunia. Bukannya membantu suami untuk menghentikan tersedak , tapi aku justru membuat penyakit baru untuknya. Tapi setidaknya setelah penyakit barunya muncul, dia telah berhenti tersedak. Jadi..berarti aku juga telah membantunya bukan?

“Myunri!” Minho akhirnya bersuara, dan dia nampak beranjak dari posisi duduknya.

Nde?”

“Terimakasih, karena telah membuat keningku benjol!”

“Iya, sama-sama..eh apa?!”

“Dasar, bodoh!”

“ya, eh..kau bilang apa tadi?”

Satu detik..

Dua detik..

Tiga detik..

“Dasar, bodoh!”

 

Huaaaa.. SUSU BASI! apa yang barusan ia katakan, dan apa yang barusan aku katakan padanya.

Baik, aku memang telah membenturkan kepalanya pada pinggiran meja—-saat aku memukul bagian belakangnya, untuk mengehentikan sedakannya—-, dan karena hal yang aku lakukan itu.. kening mempesona miliknya justru jadi terluka. Tapi inikan bukan salahku—setidaknya, tidak salahku sepenuhnya—-. Maksudku..siapa suruh dia tersedak seperti itu, lagipula niatkukan baik. AKU BENAR-BENAR INGIN MEMBANTUNYA!!

Fuh..Sepertinya kejadian ini akan membuatnya semakin menjadi batu. Dan sekarang.. sepertinya aku bukan hanya menikah dengan sosok menekin di toko baju, tapi juga menekin yang memiliki bincul di keningnya. Oh, Tuhan.. ini semakin buruk saja. Menekin dengan bincul di kening! Benar-benar eronis.

~To Be Continued~

A/N : FF aneh ini hadir ditengah-tengah suasana FF lain yang genrenya kebanyakan sad *plakk. Jadi ini adalah FF sequel yang genrenya Lumayan HHJJ—happy happy joy joy—.

READ MORE “HUBAND JEALOUS PLEASE”

Next partPart 3 | Part 4 | Part 5 [END] | Minho side

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

58 thoughts on “Fanfic Romance // Husband, Jealous Please Mission 1

  1. Ping-balik: husband jealous please mission 5 | Husband

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s