Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

Fanfic Romance // Husband, Jealous Please Mission 2

51 Komentar

–          Imaginary as Myunri  Lee [Choi Myunri ]

–          Minho Choi [ Choi Minho ]

–          Jinki Lee [ Lee Jinki ]

  • Another Cast :  *Find By Your Self*
  • Genre : Fanfiction, Romance, Little Comedy *diragukan*, Marriage Life.
  • Rating : PG + 13 ↑↑
  • Length : Sequel
  • Imagination : Korean Drama Naughty Kiss  a.k.a  Playful Kiss [kebetulan dapat idenya waktu nonton drama ini, drama manis yang kelewatan bikin aku kelepek-kelepek sendiri. Ha ha ha ]
  • A/N : Bukan untuk konsumsi BASHING, SILENT READER, DAN COPYCAT / PLAGIATOR. >:) oh iya, ada perubahan jadwal. tadinya mau post FF ini setiap hari senin, tapi berhubung ada sesuatu FF ini dipublish setiap hari sabtu aja-kalau engga ada halangan-.

FF ini dibuat dengan kemampuan diksi dan humor yang rendah, dipublish dengan tujuan mempertambah koleksi FF. kekurangan penulisan serta  pengetikan atau pemilihan kata merupakan unsur ketidak sengajaan, as usual… no body is perfect.

— story© Rara Putriey–

‘Bughh’

SIAL.

JAHAT.

KETERLALUAN.

Minho benar-benar jahat dan keterlaluan, bahkan dia benar-benar niat melakukan ini padaku. Aku hanya bisa menatap nanar pada bagian sepedaku yang hanya tersisa satu roda berserta lapaknya—tergeletak tak bernyawa–. Tidak ada stang. YA! tidak ada stang. Stang dan bagian lain mungkin telah dibawa oleh si’batu ke kampusnya. Ini benar-benar keterlaluan, sekarang bagaimana nasibku!

Biasanya, aku pergi ke kampus bersama Minho, dengan menaiki sebuah sepeda yang bisa dibilang cukup unik. Family bike, yang memiliki dua lapak dan dua pendayuh sementara stang atau kemudinya hanya ada satu—yaitu dibagian depan, tempat yang diduduki oleh Minho—. Tapi sekarang hanya tersisa bagian sepadaku saja—bagian belakang sepeda yang hanya terdiri dari satu lapak dan satu pendayuh tanpa stang—. Sepeda yang kami pakai selain unik juga bisa dibongkar pasang atau dilipat, dan sepertinya si’batu telah membongkar bagian sepedaku hingga terlepas dari sepeda itu. Mungkin dia melakukannya untuk balas dendam padaku. Heh, kejadian tersedak waktu itu ..bahkan sama sekali bukan kesalahanku..

* * *

Sudah sepuluh menit ..

Tapi bus berwarna kuning itu belum juga muncul di depanku. Padahal jika dihitung-hitung mungkin kelas kuliahku akan dimulai dalam waktu kurang dari dua puluh menit lagi. Apa yang harus aku lakukan? Disaat seperti ini, aku justru berharap terlahir memiliki sayap. Selain dapat terbang, lagipula bukankah hemat energy.

Tit..tit..tit..

Eh?

“Mau ikut bersamaku?”  sok akrab, orang jahat, atau memang orang yang mengenalku. Tapi aku sama sekali tak mengenal sosok berhelm ini.

“Hey..kau akan terlambat jika tidak ikut denganku!” dia membuka kaca helmnya, lalu turun dari motornya. Aku semakin memandang orang itu dengan penuh selidik. TIDAK, JANGAN-JANGAN LELAKI INI,LELAKI YANG SERING MELAKUKAN AKSI MESUM  DI DEPAN UMUM ITU!

“Siapa kau?” ucapku yang membuat lelaki bermata sipit itu mengernyit.

“A— pa? apa kau lupa denganku?” Ya aku lupa, memang siapa dia? Apa aku mengenalnya? Wajahnya itu bukan level wajah-wajah yang harus aku ingat! Apa dia salah satu pengemudi ojeck yang biasanya umma sewakan untuk menjemputku sewaktu Senior High School?

“Astaga.. Myunri. Ini aku Lee Jinki, eumm.. o—oppa!” jincha? Sejak kapan aku pernah memanggilnya dengan sebutan o—ppa? Bahkan aku tak pernah memanggil siapapun di dunia ini dengan panggilan oppa, karena aku memang tidak memiliki seorang oppa. Sebenarnya aku ingin sekali memanggil seseorang dengan sebutan oppa, tapi sepertinya orang yang ingin ku panggil oppa itulah yang tidak sudi dipanggil oppa olehku.

“Hey..kau melupakanku secepat itu? Baru kemarin kita berkenalan!”

“…..”

“Ck..menunggumu seperti ini hanya akan membuat kita sama-sama terlambat, ya sudahlah! kajja!” tiba-tiba saja lelaki itu sudah menyeretku –secara paksa—untuk naik ke atas motornya. Dan aku hanya menurut. HANYA MENURUT!

“Setidaknya aku yakin, kau tidak akan membiarkan dirimu jatuh dari atas motor itu hanya karena tidak duduk dan berpegangan!” aku masih diam, terpatung, bodoh, takjub dan konyol tentu saja. Bagaimana mungkin aku sudah duduk dengan rapi di atas motor orang yang tidak aku kenali. Bagaimana jika aku diculik, dan penculiknya meminta tebusan. OMO..BERAPA HARGA TEBUSAN UNTUK ORANG SEMANIS AKU INI, JANGAN BILANG ..HARGANYA MEMBUAT KELUARGAKU BANGKRUT. ANDWE, BAHKAN SAMPAI KELUARGAKU BANGKRUT, ITU TETAP TIDAK BISA MENEBUS AKU YANG TERLALU MANIS INI.

Ddrrreeett…

Bremmmm

“Apa kau tidak merasa kalau kita ini benar-benar berjodoh? Bahkan kita kembali dipertemukan ketika kau tidak mendapatkan bus untuk berangkat ke kampus!” hemm.. kenapa dia tahu aku tidak mendapatkan bus untuk ke kampus. Seingatku aku bahkan tak mengucapkan apapun selain kalimat —siapa kau—- padanya. Apa dia keturunan cenayang.

“Hahah…ini benar-benar lucu! Hahaha..mirip drama korea ne..ahahhah..hahahukk..uhukk?” apa tadi itu lucu, apa tadi itu benar-benar lucu sehingga dia bahkan sampai tersedak seperti itu. Hem..tersedak? apakah aku harus memukul belakangnya, tidak-tidak. Memikirkan akibatnya membuatku enggan. Setidaknya biarkan tersedaknya hilang sendiri. Lagipula aku tak mau mengganti biaya asuransi motor dan keselamatannya hanya karena terjatuh dari sepeda motor, akibat pukulan untuk menghentikan sedakan. Sedakan membuatku trauma secara lahir dan batin.

* * *

“Terimakasih ya sudah mengantarku!” yah, akhirnya aku ingat siapa dia. Dia orang yang berusaha melucu waktu aku sedang mengintip Minho, dan sayangnya dia tidak lucu.

“Ah, jangan sungkan begitu. Nantinya kita juga akan berteman akrab!” aku hanya tersenyum sekilas, lelaki ini sebenarnya cukup manis. Dan well, rambut hitam dengan highlight kemerahan itu membuatnya sedikit..er keren.

“Ehem!” eh, Minho? Sejak kapan dia disana, dan kenapa dia justru menatapku dengan pandangan datar yang aneh. Seolah sedang mempergokiku kencing di celana. Ayolah, aku tidak akan kencing di celana, lagipula hari ini aku pakai rok.

“Permisi, jam berapa sekarang?” ku dengar Minho bertanya, dan Jinki —nama orang yang berusaha melucu tapi tidak lucu—-menoleh dan melirik ke pergelangan tangannya—yang terpasang sebuah gelang jam digital berwarna hitam—.

“Jam delapan empat puluh!” jawab Jinki. Oh jam delapan empat puluh, kalau begitu kelas kuliahku sudah di mulai dari sepuluh menit yang lalu.

Satu detik..

Dua detik..

Tiga detik..

APA, kelasku sudah dimulai sepuluh menit yang lalu. Omo bagaimana ini?

“Aku..aku permisi dulu, kelas kuliahku sudah dimulai!” tanpa menunggu jawaban aku langsung berlari. Dan dengan samar aku mendengar seseorang terkekeh dan berucap “Dasar bodoh”. Heuh, dasar batu! Dia pikir ini lucu. Aku beritahu ya, ini memang lucu. Eh, apa yang barusan aku ucapkan tadi? Oke, sepertinya ini benar-benar tidak lucu.

* * *

“Dia mengerjaiku! Dia melepaskan bagian sepedaku! Dia bahkan tertawa saat aku terlambat~ Huaa! Dia kejam, dia itu batu terkejam yang pernah aku temui!” Jiyeon hanya mendesah saat mendengar ucapanku. Mungkin yang ada dipikirannya sekarang adalah—memang kau pernah bertemu batu lain selain Minho, di dunia inikan hanya ada satu batu yang kejam yaitu Minho—(ini namanya pikiranku sendiri, bukan pikiran Jiyeon). Aku kembali memandang Jiyeon dan sekarang  gadis itu nampak tengah asyik memainkan ujung rambutnya. Ck..mentang-mentang dia baru smooting, dan sepertinya dia juga baru mencat warna kukunya. Dia pamer.

“Kalau begitu artinya dia marah padamu!”aku terdiam memikirkan, bicara tentang smooting aku sudah lama tak melakukannya di salon—bahkan aku sudah lama tak pergi ke salon–. Seingatku terakhir kali aku ke salon adalah saat aku akan menikah dengan Minho —sekitar tiga bulan yang lalu—- . eh, apa yang aku pikirkan, kenapa jadi membahas smooting dan salon.

“Tapi hanya marah-kan, bukan benci!” ucapku akhirnya sambil menatap Jiyeon. Jiyeon meringis kemudian mengarahkan telunjuknya di depan mukaku. Hwa, cat kukunya benar-benar keren, warna hijau melon dengan titik putih kecil menyebar dimana-mana, cantik dan sepertinya aku pernah melihat model yang seperti itu. Tapi apaya? Seingatku..aku tak pernah punya baju hijau dengan polkadot putih. Lalu apa ya?

“Myunri, orang yang marah itu pasti membenci kita, setidaknya dia kesal. Dan kesal itu satu tingkat di bawah benci!” benarkah? Sejak kapan benci berada satu tingkat di atas kesal. Aku pikir benci itu ya benci, dan kesal itu ya kesal. Tak ada istilah tingkatan-tingkatan.

“Jadi ?” Ahya, Minho. Minho memiliki celana dalam hijau dengan polkadot putih—aku tidak sengaja melihatnya, saat menaruh celana dalamku di dalam lemarinya—. By the way, hijau dengan polkadot putih, maniskan? Aku bahkan ingin sekali melihatnya memakai celana itu, dan berlagak sebagai model celana dalam di depanku. Pasti keren, saat hanya ada celana dalam dan ABSnya yang terlihat..

Pervert

“Apa yang sedang kau pikirkan, tiba-tiba aku merasa ada aura-aura laknat di sekelilingku sekarang!” Jiyeon nampak bergidik. Satu hal, Jiyeon selalu bersikap seolah-olah bisa merasakan aura. Heh, yang benar saja. Bahkan aku ragu itu.

“Jiyeon, jadi apa yang harus aku lakukan agar Minho tidak benci padaku?”

“Myunri, Perbanyaklah berdoa kepada Tuhan!”

Aku hanya menunduk pasrah. Sudahlah, memang apa peduliku. Mau si batu kesal, benci, dan bahkan marah padaku, memang apa urusanku. Untuk apa aku susah-susah memikirkannya. Lagipula, harusnya hari ini aku bersyukur tidak terlambat mengikuti kelas pertama, sebenarnya bukan tidak terlambat.. hanya saja keberuntungan memang berada di pihakku. Dosen pengajar sedang berhalangan masuk, dan sebagai gantinya kami—para mahasiswa—hanya diberikan tugas untuk membuat makalah tentang sosialisasi antar budaya. Hah, mengerjakannya nanti sajalah.

* * *

Aku kuliah di universitas Angyeong, jurusan ilmu sosial dan budaya. Semantara Minho kuliah di jurusan kedokteran, see..dengan begini saja kalian sudah bisa melihat siapa yang unggul di antara kami. Oh ya, satu hal lagi. Letak kampus kami bersebelahan, dan ini mempermudah aku memulai aksiku untuk menguntitnya.

Aku memang menyukai Minho, itu juga salah satu alasan aku tak menolak perjodohan ini. Aku benar-benar merasakan kejatuhan durian waktu itu, tidak percaya bisa dijodohkan dengan Minho si siswa popular di sentero senior high school itu.

“Di luar hujan. Tidak bisa pulang!” jiyeon datang lalu menghempaskan tubuhnya di atas kursi. Berani bertaruh, sebentar lagi dia akan meringis kesakitan.

“Appo!”

Benarkan? Yah..siapa suruh dia menghempaskan tubuhnya sendiri seganas itu di atas kursi yang sudah-sudah jelas keras. Lagipula, hujan turun saja kenapa dia memikirkannya sampai sekusut itu.

“Andai aku tahu, sebelumnya aku akan menaruh paku payung disana. Agar kau semakin kesakitan dan berteriak. Kalau perlu sampai Kim Jonghyunmu itu melihatmu!” ucapku asal yang membuat Jiyeon menatapku geram. Aku berikan satu contekan lagi, selain suka sok bisa membaca aura di sekitarnya, Jiyeon juga menyukai seorang sunbae yang bernama Kim Jonghyun. Apakah Kim Jonghyun tampan? Jangan ditanya, jawabannya sudah jelas..lebih tampan suamiku Choi Minho. Cih, aku mengakuinya suami, apakah dia juga mengakuiku sebagai istrinya.

“sebelum kau melakukan itu, aku sudah terlebih dahulu menempeli hidungmu dengan paku payung. Hingga suamimu yang kau sebut batu itu lari terbirit birit mendatangimu, kemudian dengan konyol dia memberikan nafas buatan untukmu!” nafas buatan, meski aku tidak ahli dalam ilmu seperti ini. Tapi dari ilmu yang ku peroleh dari melihat drama di televisi, nafas buatan itu —ada sentuhan bibir dengan bibir-kan—.

Pervert

“Hey. Kedengarannya itu ide yang bagus. Bagaimana jika kita praktekkan!” Jiyeon membelalakkan matanya saat mendengar apa yang aku ucapkan kemudian dengan tangan mungilnya, dia menjitak keningku. Ya, aku hanya menyetujui usulnya kenapa dia justru menjitakku.

“Mesum!” aku hanya tertawa mendengarnya mengataiku mesum—sementara dia meringis, mungkin frustasi memiliki teman sepertiku—. Tapi tiba-tiba, aku mendengar suara ribut-ribut dari luar. Ada apa? Apakah ada monyet lepas dari kandangnya atau ada ayam yang melahirkan kucing. Baik, sudah ku bilang jangan paksa aku untuk membuat sebuah lelucon yang tidak lucu, karena pada akhirnya memang akan berakhir tidak lucu.

“Ya!” aku menoleh.

*backsound : paradise by T-Max*

Meski aku sadar bahwa namaku bukanlah ‘ya’, melainkan Myunri. Tapi aku merasa tidak asing dengan suara itu. Dan benar saja, aku kembali membatu konyol saat melihat lelaki tinggi berdiri di depan kelasku. Lelaki itu berambut hitam —sedikit panjang—, dia memakai kemeja putih dan celana jeans hitam. Gagah!

“Ayo kita pulang!” lanjutnya sambil menggerakkan dagunya, dan membuatku semakin membatu.

Itu Minho, dia terlihat sangat gagah dan tampan. Meski ada sedikit hal yang membuatku gerah, yaitu payung berwarna merah mudah yang bertengger di sampingnya. Hello suamiku, kenapa harus memilih warna merah muda! Please deh itukan sama sekali tidak meching.

“Hey, Myunri! Apa lagi yang kau tunggu,  suamimu sedang menjemputmu! apa kau masih ingin berdiam diri —sebagai orang bodoh–disini?” aku tergerak saat mendengar ucapan Jiyeon. Dan akhirnya aku bangkit dari dudukku—berjalan mendekati Minho–, tentu saja dengan sebelumnya berpamitan dengan Jiyeon dan aku lihat Jiyeon nampak heboh sendiri. Hey, aku hanya dijemput oleh suamiku, kenapa dia yang kegirangan begitu? Inikan hal yang luar biasa saja, jadi tidak usah menanggapinya sampai begitu juga. Aku saja yang mengalaminya hampir pinsan berdiri, saking tak percayanya ini terjadi dalam hidupku, jadi orang-orang tak perlu heboh seperti itu. Cukup aku saja yang heboh!

“Kyaaa..romantis sekali!”

“Aku iri!”

“So sweet!”

“Pacarnya benar-benar tampan!”

“Aku juga ingin seperti itu!”

“Mereka terlihat sangat bahagia!”

“Payungnya bagus sekali!”

Yah itu hanya sedikit dari sekian banyaknya orang-orang yang bergumam tentang kami. Astaga, aku benar-benar merasakan menjadi seorang puteri yang sedang berjalan di tengah-tengah rakyatnya. Sementara saat aku menoleh pada Minho, dia nampak tenang dan memasang wajah biasa-biasa saja. Benar, adegan ini benar-benar seperti drama korea, patut untuk ditiru.

“Bisakah kau tak usah terlalu menghimpitku saat berjalan! Aku tak nyaman!” eh? Reflek aku menjauhkan diri dari Minho, dan sekarang justru tubuhku berada di luar jangkauan payung, sehingga air hujan dengan teganya menyiramku. Basah! ceh.

“Ck..dasar bodoh!” kudengar dia berdecak, decakannya saja terdengar sangat dingin. Membuat suhu udara yang dingin menjadi semakin dingin saja. Dan demi apa, aku yakin aku akan mati berdiri saat Minho dengan sebelah tangannya yang bebas dari tangkai payung tiba-tiba merengkuh pinggangku, dan membawaku masuk ke dalam dekapannya.

Degh..degh..degh

Mungkin aku akan terserang penyakit jantung.

“Begini saja! Tapi jangan menghimpitku!” yang disebutnya  dengan ‘begini saja’ adalah posisi dimana dia memeluk pinggangku dari samping. Dan demi Tuhan ini romantis sekali bukan. KAU TAHU SENSASINYA SEPERTI APA?, SEPERTI DISENGAT LISTRIK DENGAN KEKUATAN 1000 VOLT. Jika kau tak kuat menahannya, ku pastikan kau akan masti karena tersetrum.

“Nyamankan?”

Deghh…

Setelah berucap seperti itu, dia tiba-tiba tersenyum..manis. Dan bayangan dia yang sedang tersenyum sambil memakai celana hijau polkadot putih tiba-tiba menghiasi pemikiranku. Sepertinya dia akan benar-benar sangat tampan saat itu.  MINHO, SEBENARNYA KAU SEDANG KERASUKAN MALAIKAT APA? SEMOGA BUKAN MALAIKAT PENCABUT NYAWA, DAN AKU BERHARAP YANG MERASUKIMU ADALAH MALAIKAT CINTA.

* * *

Dia itu sebenarnya manusia dengan berapa banyak kepribadian, dua? Sepertinya lebih. Setelah dia menggemparkan isi hatiku ini, dia justru membuat hujan gerimis melanda hatiku.

Kami pulang naik bus, dan di dalam bus dia sama sekali tak menggubrisku. Sikapnya itu 360 derajat –ahni  tapi 720 derajat—berbeda dari  sikapnya saat kami berjalan berdua di bawah payung merah muda. Atau mungkin sekarang, dia sedang kerasukan malaikat pencabut nyawa, atau yang lebih parah—malaikat penjaga pintu neraka—.

“Ehem..kau apakan sepeda..kit—-ta?” hanya ingin berbasa basi tapi sejujurnya juga karena terlalu ingin mengajaknya bicara. Tapi yang diajak bicaranya hanya sibuk menatap ke luar jendela bus. Hey, wajahku bahkan lebih bagus dari pada pemandangan hujan di luar sana.

“Masuk bengkel!”

“Kenapa?”

“Tadinya aku ingin membongkarnya untuk melepaskan bagianmu! Tapi ternyata aku merusak semua bagian!” mendengar jawabannya membuatku kesal. Oh, apakah jawaban itu tidak terlalu jujur.

“Lalu kenapa kau meninggal bagianku di rumah, dan tidak membawa bagian sepedaku  dengan bagian lainnya ke bengkel untuk disambung!” gumamku sambil mulai menggerutu, dan tiba-tiba orang itu menoleh padaku.

Degh..

“Hemm..itu terserah padaku!”

Ya..apa-apaan dia, sungguh tidak etis sekali! Apa kalimat seperti —-itu terserahku— adalah sebuah alasan. Dasar batu!

Awas saja, aku akan membalasmu nanti. Ya, Nanti..entah kapan? Dan apakah benar-benar bisa terwujud—niatku untuk membalasnya–.

* * *

“Waaa… kau tahu Myunri, adegan ketika kalian berpayung berdua itu benar-benar sangat romantis. Kapan aku bisa merasakan itu, aku iri padamu..hikss!” aku terkekeh bangga mendengar suara Jiyeon yang nampak memujiku dari balik telpon yang tersambung. Dia benar-benar tergoda dengan adegan sepayung berdua—yang aku dan Minho lakukan saat di kampus tadi—.

“Ahaha..itukan biasa saja Jiyeon. Kau tak perlu  seperti itu!” ucapku sok sunkan, padahal jujur. Aku berharap dia kembali memujiku, misalnya dengan mengatakan —-ayolah! itu sangat romantis, bahkan menyerupai adegan drama korea, kau sangat beruntung!—.

“Iya, juga ya. Lagipula kaliankan suami istri, tentu saja harus seperti itu! Jadi apa yang perlu aku irikan. Lagipula nanti aku juga akan menikah!”APA, kenapa dia membenarkannya. Hey, harusnya kau kembali memujiku.

“Ya, tentu saja. Dan kau PASTI bisa mendepatkan lelaki SETAMPAN Minho, dan berjalan BERDUA dibawah SATU payung. RO—MAN—TIS, BU—KAN?” ucapku berharap Jiyeon akan terpengaruh untuk memujiku lagi setelah mendengarnya, perlu diketahui..aku menekankan beberapa kata saat mengucapkan kalimat tadi.

“Hemm..dilihat seperti tadi, aku rasa kalian berdua saling menyukai!” ahh..aku menyerah. Dia justru mengalihkan topic pembicaraan. Yang benar saja, Minho menyukaiku? Tidak, aku tidak berani bermimpi. Aku menyukainya? Bahkan aku berharap aku bangun dari mimpi ini. Tapi pada akhirnya ini memang kenyataan. Aku menyukainya. Boleh diulang? AKU MENYUKAINYA.

“Darimana kau tahu? Aku yang sudah tinggal tiga bulan bersamanya saja, bahkan aku tak tahu apa dia menyukaiku. Kalau dia membenciku? Aku pikir aku sedikit tahu!”

“Ku dengar cemburu itu tanda cinta, apa Minho pernah terlihat cemburu denganmu?” ingin rasanya aku tertawa dan menganggap itu lelucon, sayangnya aku tidak bisa. kalaupun bisa mungkin saat aku tertawa akan lebih terdengar seperti orang yang sebentar lagi akan mati.

“Bagaimana mungkin, kau pikir apa yang membuat Minho dapat cemburu denganku!”sahutku lemas.

“Ahya, kaukan gadis manis yang tak pernah dekat dengan lelaki!” jincha? Ku pikir dia akan memujiku, tapi ujung-ujungnya tetap menyakitkanku dan tentu saja memojokkanku.

“Kalau begitu bagaimana kalau kau mencobanya, dan aku rasa teknik terakhir ini cukup ampuh!”

“Kau ingin menyuruhku untuk apa, meletakkan celana dalamku di kamarnya lagi? Atau menyuruhnya meminum minuman yang sebelumnya aku minum. Metode menguap yang kau bilang juga gagal Jiyeon!” yah..mengingat rentetan teknik kada luarsa tanpa hasil –pemikiran Jiyeon— itu membuatku jengah. Tidak, aku tidak akan menuruti saran Jiyeon lagi. Dan semakin menjadi orang bodoh yang konyol. TIDAK AKAN!

“Buat dia cemburu! Dengan membuat cemburu kau bisa tahu perasaannya! Apa dia menyukaimu—bahkan mencintaimu—atau dia memang sama sekali tak memiliki rasa terhadapmu!”

“Bagaimana caranya?”

“Berkencanlah dengan lelaki lain!”

Hemm.. dan ku simpulkan untuk menarik ucapanku beberapa saat lalu, tentang tidak akan menuruti saran Jiyeon. Sungguh, kali ini sarannya cukup baik—atau bisa ku bilang saran terbaik dari saran-sarannya yang sebelumnya–. Tapi, tunggu! Berkencan dengan lelaki lain? Lelaki lain itu siapa? Ah jincha.. haruskah aku meminta bantuan kepada pengemudi oject yang biasanya disewakan umma untuk menjemputku pulang sekolah di senior high school. Setidaknya adakah pengemudi ojeck yang memiliki wajah tampan yang bisa disandingkan seperti….KIM HYUN JOONG. agar tidak membuatku malu. Saat berkencan dengannya!

~To Be Continued~

A/N : benarkah ini romance? Benarkah ini comedy? Kalau menurut kalian sama sekali tidak romance dan comedy, aku akan hapus genrenya di next part dan menggantinya dengan genre horror mystery. Hahah..karena sepertinya FF ini sangat mengerikan dengan gaya bahasa yang sangat hancur. Oke, Sekian dari aku. Terakhir..DON’T BE SILENT READER PLEASE!😉

READ MORE “HUSBAND JEALOUS PLEAS”

Previous | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 [ END ] | Side Story >> Minho Pov

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

51 thoughts on “Fanfic Romance // Husband, Jealous Please Mission 2

  1. Sumpah. Demi SHINee yang hari ini konser di Jakarta dan aku galau gara gara ngga nonton. Ini FF bikin aku berimaginasi kalo aku itu Myunri (hubungannya apa coba).
    Heh. Kocak pemikirannya Myunri. Aduh mana minho romantis kaleeee(melt) u

    Suka

  2. Duhai Tuan Choi~ joget gaje
    Ternyata dibalik kesan batumu itu ada sesuatu~
    Lol, di sini Onew sok kenal banget. Mau dong di gituin juga bang~

    Suka

  3. aku telat komen ‘-‘ mau bilang jangan diganti genrenya hehe ini udah lucu kok ceritanya. ohiya saran dari aku, jangan terlalu sering pakai “Sungguh, kali ini sarannya cukup baik—atau bisa ku bilang saran terbaik dari saran-sarannya yang sebelumnya–” garis panjang yg untuk penjelasan, kak, cukup di beberapa kalimat yang emang butuh penjelasan aja, soalnya kayak jadi ngga efektif dibaca gitu. eh efektif.. apa ya yg tepat.. gatau deh pokoknya jadi agak gimanaaa gitu wkwk saran doang sih~

    Suka

  4. yaampun myunri sering banget gagal fokus ya..hahahahahakkk kocak😀
    gogo myunri,taklukan hati minho!!

    Suka

  5. LOL
    Masa jinki dibilang ‘pervert’ di muka umum?
    Padahal kn dia garing kayak kerupuk
    Wkwkwkwkwk
    #abaikan

    Si minho alias si batu gengsi, tp mupeng ya?
    Nyuruh si myunri jaga jarak pas mreka payungan berdua, tp ujung2nya malah merangkul pinggang myunri

    Suka

  6. owh keren lucu critanya apalagi kata2 nya myunri dan tingkat percaya dirinya itu lho hehehe kocak😀

    Suka

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s