Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

SHINee Fanfic Romance Comedy // Husband, Jealous Please ! [ Mission 3 ]

59 Komentar

–          Imaginary as Myunri  Lee [Choi Myunri ]

–          Minho Choi [ Choi Minho ]

–          Jinki Lee [ Lee Jinki ]

  • Another Cast :  *Find By Your Self*
  • Genre : Fanfiction, Romance, Little Comedy *diragukan*, Marriage Life.
  • Rating : PG + 15 ↑↑*naik dua level*
  • Length : Sequel
  • Imagination : Korean Drama Naughty Kiss  a.k.a  Playful Kiss [kebetulan dapat idenya waktu nonton drama ini, drama manis yang kelewatan bikin aku kelepek-kelepek sendiri. Ha ha ha ]
  • A/N : Bukan untuk konsumsi BASHING, SILENT READER, DAN COPYCAT / PLAGIATOR. >:)

FF ini dibuat dengan kemampuan diksi dan humor yang rendah, dipublish dengan tujuan mempertambah koleksi FF. kekurangan penulisan serta  pengetikan atau pemilihan kata merupakan unsur ketidak sengajaan, as usual… no body is perfect.

— story© Rara Putriey—

“Untuk apa kita ke Perpustakaan?” Jiyeon berucap berbisik—takut jika suaranya yang melengking itu terdengar oleh orang lain dan mengganggu—. Baguslah, dia sadar jika suaranya itu benar-benar mengganggu!

“Mencari buku!”

“Buku apa?” ck..banyak Tanya!

“Buku yang berisi penjelasan tentang ‘cara-cara selingkuh yang baik atau mungkin langkah kilat membuat pasangan cemburu’” jawabku yang sepertinya membuat Jiyeon —yang semula berjalan menggiring di belakangku—, seketika menghentikan langkahnya. Jiyeon, cukup aku saja yang konyol jangan ikut-ikutan!

“Kau konyol Myunri!” Jiyeon menghentikan langkahku, membuatku harus berbalik untuk menatapnya. Gadis dengan rambut cokelat kepirang-pirangan ini menatapku dengan tajam. Hu..aku takut.

“Mana ada buku yang seperti itu di Perpustakaan kampus!”

“ADA!” jawabku cepat yang semakin membuat Jiyeon mendelik. Bagus! mendelik saja seperti itu, kalau perlu kau tak usah mengerjap lagi. Sekarang, kau benar-benar telihat seperti Monster Jiyeon.

“Konyolmu ini sudah naik tingkatan menjadi tolol, begitukah?” tidak terima dikatai seperti itu. Aku menjitaknya.

Plukk

“Sejak kapan konyol dan tolol mempunyai tingkatan Jiyeon~ssi,” ujarku dengan penekanan saat mengucapkan embel-embel ‘ssi’ pada namanya.

“Psstt.. kemari kau, aku ingin membisikkan sesuatu!” Lanjutku kemudian. Meskipun terlihat kesal, akhirnya Jiyeon mendekatiku dan akupun mulai mengambil ancang-ancang untuk berbisik di daun telinganya.

“Ah..geli, ah..geli!” YA, aku bahkan belum berbisik. Aku menatapnya murka, sementara gadis itu hanya meringis kecil di depanku. Sekarang dia juga ikut-ikutan Konyol, sama sepertiku. Apa konyol itu menular? kalau begitu kalian juga sebaiknya harus berhati-hati.

“Aku pernah menemukan majalah ‘mesum’ disini. Dan juga buku ‘cara berhubungan seks yang baik’. Jika hal seperti itu saja ada, tidak menutup kemungkinan ‘buku yang ku inginkan’ itu juga ada!” bingo. Jiyeon sukses terbelalak kaget. Entah karena tidak percaya atau takjub mendengar bisikanku. Sudahlah. Berlama-lama dengan gadis sepertinya, hanya akan membuang banyak waktu. Sebaiknya, aku mencari buku itu sekarang.

* * *

Aku bingung ingin mencari buku itu di rak mana. Rak buku sejarah, Matematika, Fisika, Sosial, Bahasa & Sastra, atau Kedokteran atau bahkan puluhan rak lain dengan berbagai kategori. Buku yang ku inginkan sama sekali tak masuk satu kategoripun dari rak-rak buku yang ada disini. Dan bicara masalah buku mesum yang tak sengaja aku dapatkan beberapa waktu lalu—yang aku bilang pada Jiyeon—, saat itu aku menemukannya di rak buku Matematika. Buku itu terhimpit buku enseklopedia Matematika yang tebalnya mencapai sepuluh centimeter. Apa mungkin, buku yang aku cari juga ada disana?

“Myunri~ya!” aku menoleh saat Jiyeon —memangnya, siapa lagi selain dia— datang dan tiba-tiba menggelayuti lenganku.

“Waeyo?”

“Majalah yang kau bilang itu, pssttt!” dia merendahkan volume bicaranya. Hem..sepertinya aku mengerti arah pembicaraan ini.

“Nde, kenapa dengan majalah itu?”

“Apa majalah itu, ada model lelaki seksinya?” pelan sekali, dengan wajah yang ku lihat mulai merah padam. Omo Jiyeon, kau sudah besar rupanya!

“Tentu saja ada. Namanya juga Majalah..Pssst!” Jiyeon menutup mulutku seolah tak membiarkan aku melanjutkkannya. Kemudian dengan wajah tertekuk malu ia bilang padaku bahwa ingin mencari majalah itu. Jiyeon kau memang sudah besar!

* * *

Abu-abu, ditutupi banyak debu, tebal dan terlihat misterius. Aku tertarik dengan buku itu, aku ingin mengambilnya. Tapi apa bisa? Buku itu berada di rak paling tinggi dan aku ini pendek. Oke, tak usah aku lanjutkan, kalian juga pasti tahu apa masalahku bukan?

Bughh..

Bughh..

Bughh..

Oh, seseorang tolonglah. Aku bahkan sudah meloncat layaknya anak itik yang sedang berenang. Tapi buku itu bahkan tetap tak bisa ku sentuh —bahkan dengan ujung jariku— sekalipun.

Bughh..

Bughh..

Bughh..

Ada sebuah pepatah yang berbunyi..meloncatlah sampai kau bisa terbang. Maka dengan kekuatan yang tersisa, aku masih mencoba untuk meloncat. Yah, aku berharap saat aku meloncat tiba-tiba aku bisa terbang. Myunri mulai konyol lagi.

“Ayo ku bantu!” eh?

Jlett

Seseorang, tinggi, laki-laki, berkulit putih –entah datang darimana—. Seenaknya mengangkat tubuhku, membuatku dalam sekejap lebih tinggi —seperti terbang—dan akhirnya akupun bisa menggapai buku itu.

Bugh

Dia mendaratkan tubuhku dengan pelan. Saat melihat aku sudah berhasil mendapatkan buku itu di tanganku.

“Ternyata menjadi pendek itu menyulitkan ya?” Degh..well, aku sadar. Senyumnya manis, dan mata sipitnya juga menyejukkan. Kenapa aku baru sadar sekarang, bahkan aku merasa kalau wajahnya sekarang sudah  masuk kategori orang yang harus aku hapal wajahnya. Lee Jinki.

“Hemm.. kau tertarik mempelajari hal itu?” acara takjub yang tak lepas dari kekonyolan sudah selesai. Tapi untuk memulihkan kesadaran aku mengerjap beberapa kali, dan menatap bingung pada orang yang ada di depanku.

“A—apa?”

“Kau tertarik memperlajari tentang sistem reproduksi manusia serta pembuahan?” aku terpaku. Dan menolehkan pandanganku pada buku abu-abu yang sekarang ada di tanganku. Bingo! Susah-susah aku dapatkan buku ini, dan buku ini justru hanya membuatku malu. Judul buku ini adalah ‘sistem reproduksi manusia serta pembahasan lengkap tentang proses pembuahan’. Sama sekali tak ada hubungannya dengan buku yang ingin ku cari.

‘Braakkk’

Keras dan nyaring, suara keras itu muncul dan mengusik perhatianku. Aku mangalihkan pandangan–untuk menoleh ke samping, untuk melihat sumber dari suara itu. Dan..

Degh..

Disana ada Minho yang sedang bangkit dari duduknya —sebelumnya ia terlihat menghempaskan kursi ke belakang sehingga memunculkan suara berisik–. Dan dari siratan matanya yang dapat ku lihat, aku melihat kalau dia juga nampak sedang emosi. Entahlah, sebenarnya aku tidak pandai mengartikan siratan mata seseorang, aku hanya asal. Tapi..apa yang sebenarnya telah terjadi? Apa jangan-jangan ada yang menaruh paku payung di kursinya. Omo..siapa yang berani melakukan itu pada Si Batu.

“Ya, Myunri! Kau selalu tak menjawab pertanyaanku!” aku kembali menoleh pada Jinki dan sekarang aku justru menemukan Jinki yang sedang menatapku dengan kedua alis terangkat dan kedua tangan yang dilipat di depan dadanya. Emm..sebelumnya, tadi dia bilang apa ya?

“Emm..apa?” ucapku dengan sedikit memelankan suara. Maaf, tapi aku benar-benar lupa tadi dia bicara apa.

“Ck..membuat orang penasaran saja! Benar-benar seperti menebak ayam dalam telur!” eh? Tanpa berpamitan orang itu sudah berlalu meninggalkanku. Apa aku membuat kesalahan tadi. Dan apa kesalahanku tadi membuat telur ayam bermasalah, misalnya …tidak mau menetas-netas. Kalau begitu sampaikan maafku pada si induk ayam, Lee Jinki.

“Myunri~ya! Tadi itu siapa?” aku menoleh. Ck..haruskah aku selalu menoleh saat ada suara atau orang yang memanggilku. Kenapa tidak orang yang memanggilku saja yang menoleh padaku. Tunggu, aku mulai bingung dengan ucapanku sendiri.

“Itu Lee Jinki!”

“Siapa?”

“Orang yang melucu tapi tidak lucu!”

“Apa?”

“Entahlah, waktu itu aku sedang menguntit Minho dan tiba-tiba ia menghampiriku. Tertawa tidak jelas dengan lelucon tidak lucu!” Jiyeon mengangguk-angguk saat aku menjelaskan. Aku curiga dia hanya asal menggangguk —maksudku jangan-jangan dia hanya menggaguk tanpa memahami apa yang aku ucapkan–.

“Baiklah, apa dia terlihat sedang ‘mendekati’mu?”sekarang, aku malah mengernyit mendengar pertanyaan anehnya. Sementara Jiyeon justru  tersenyum penuh arti. Ahh..apalagi ini?

“Dia hanya beberapa kali menyapaku. Eum, kemarin sih dia yang mengantarku ke Kampus karena aku tidak menemukan satupun bus pagi itu!” ucapku sambil menyibukkan diri melihat beberapa kumpulan buku pada rak, berharap menemukan satu buku berjudul ‘cara mudah membuat si’Dia cemburu’. Tapi yang tertangkap mataku justru buku dengan judul ‘Pembahasan lengkap Proses Ionisasi Kimia’, dari judulnya saja membuatku mual. Tidak, aku tidak berniat membaca atau menyentuh buku itu sekalipun!

“Hey..bagaimana jika dia yang membantumu?” Jiyeon tiba-tiba memekik, membuat keributan dan beberapa orang menoleh tak suka ke arah kami. Jiyeon, ku peringatkan kau untuk tidak ikut-ikutan konyol sepertiku! Tapi kenapa semakin ku larang, kau justru semakin membangkang.

“Apa maksudmu?” baik, sepertinya aku memang terlahir dengan kemampuan otak sedikit lambat. Aku lagi-lagi bertanya dan meminta penjelasan.

“Yah..dia bisa kau jadikan ‘lelaki lain’ untuk berkencan-kan! you know what I mean!” Oh, well. Lagi-lagi ide yang bagus. Tapi ada satu masalah.

“Tapi apakah Jinki-nya mau berkencan denganku?”

“Untuk itu perbanyaklah berdoa kepada Tuhan!” hah, baiklah—usul itu sangat bagus, Jiyeon—. Ya Tuhan mudah-mudahan Lee Jinki mau berkencan dengan hamba! Dan mudah-mudahan Choi Minho —suami hamba itu— cemburu! Amien.

* * *

Berjalan sendiri ke area parkiran. Sambil menenteng kantong plastic yang berisi makanan. Aku sudah melihat Minho yang nampak sibuk mengeluarkan sepeda dari area parkiran. Heuh, sepertinya aku harus menunggu lebih lama. Ya, inilah kebiasaanku. Pulang bersama suamiku, naik sepeda berdua. Romantis bukan?

“Hey..apa yang kau lakukan disini?” aku terkesiap. Hampir saja tadi aku tertabrak sebuah motor yang tiba-tiba berhenti mendadak tanpa izin dariku—well, sebenarnya untuk berhenti memang tak perlu meminta izin padaku, lagipula..memangnya siapa itu Myunri?—kenapa harus izin dengannya kalau ingin berhenti?—. Baik..kembali ke pengendara bermotor yang ternyata orangnya adalah dia lagi, orang yang melucu tapi tidak lucu, sebut saja namanya Lee Jinki.

“Kau ingin pulang bersamaku?” aku mengeryit mendengarnya, dan baru saja aku ingin menolak permintaan itu. Seseorang dengan sepeda berwarna biru tiba-tiba melewatiku. Orang itu nampak santai—tanpa memandangku—, dengan earphone yang tersumbat di telinganya. Minho~ya kau mau kemana, kenapa kau tak berhenti. Apa kau meninggalkanku lagi! Bagaimana nasibku Minho~ya!

“YA!” teriakku memanggilnya, tapi sepertinya teriakan itu tak terdengar olehnya. Batu, kau jahat sekali padaku. Memangnya apa salahku padamu, batu? Jawab aku..jangan beginikan aku terus.

“Kau mengenal orang itu?” aku kembali pada Lee Jinki, yang masih setia bertengger di motornya. Dia menatapku bingung sambil menunjukkan telunjuknya ke arah Minho yang semakin terlihat menjauh. Ingin sekali aku mengacak wajah lelaki di hadapanku.Sambil berteriak memaki ‘tentu saja aku kenal, dia itukan Suamiku. Dia lebih tampan darimukan! Makanya jangan dekat-dekat lagi padaku!’. Tapi karena namaku Myunri, aku anggap perilaku tidak terhormat itu, tidak ada di dalam kamusku.

* * *

Akhirnya harus begini, aku pulang di antar Lee Jinki. Dan ku lihat sepeda Minho sudah terparkir di garasi. Untung saja, setelah mengantarku Lee Jinki langsung pamit pulang. Aku bersyukur dia tak meminta masuk, yah..setidaknya bagaimana nantinya jika ia mengetahui aku dan Minho tinggal satu rumah. Bahkan kami hanya tinggal berdua di rumah ini.

Aku berikan contekan lagi, di seluruh kampus tidak ada yang mengetahui hubunganku dengan Minho yang sebenarnya—kecuali Jiyeon dan rector kampus tentunya—. Bahkan kalaupun mereka tahu, mereka hanya mengira hubungan kami ini sebatas pacaran. Dan setauku bahkan ada kabar yang mengatakan bahwa aku ini adalah pelayannya Minho. Jincha, memangnya seburuk apa aku ini?

“AKU PULANG!”

Hening..

Heuh, tidak ada yang menjawab sapaanku. Minho mungkin malah tak mempedulikan sapaanku. See, aku benar-benar  seperti telah menikah dengan batu-kan. Baiklah, sebaiknya aku tak usah membahas hal itu lagi. Aku lebih baik menyiapkan makan siang untuk perutku dan perut si batu itu.

‘BRAKKK’

Aku tercengang di tempatku, dan mematung. Pintu rumahku –yang seingatku belum aku tutup– tiba-tiba ditutup dengan sangat keras. Dan sekarang..terdengar suara langkah yang mulai mendekatiku.

Tap..Tap..tap..

Aku tak berani menoleh ke belakang. Jangan-jangan ini perampokan. Minho, dimana kau! Sekarang kita di rampok.

DLUPP

Tercengang, dan hampir kencing di celana. Saat aku merasa seseorang memelukku dari belakang. Kedua tangannya merangkul bagian pundakku. Dan wajahnya ia tenggelamkan di antara leher dan pundakku.

GELI

Saat ia tiba-tiba menciumi leherku. Astaga..benarkah yang aku lihat. Orang yang sedang melakukan ini adalah Minho. Kenapa lagi dia? Apa dia kerasukan malaikat mesum kali ini? Oh..konyol, yang ada otakku lah yang mesum bukan malaikat.

“Minho~ya!”

“Ssstt!” dia berdesis, seperti isyarat untuk menyuruhku diam. Dan akupun juga mengikuti maunya—agar aku diam—.

Kemudian, dia mengecup pipiku –kiri dan kanan—. Aku menegang dan SUMPAH..aku ingin pipis di celana gara-gara mendapatkan perlakuan seperti ini dari Minho.

JLEP

Dan sekarang dia justru memalingkan tubuhku, seolah memintaku untuk menghadap langsung dan memandangnya. Aku melihatnya, bening..bulat kehitaman. Mata itu, terlihat sangat teduh dan tak kalah menyejukkan dari mata si –orang yang ingin melucu tapi tak lucu–.

Degh..degh..degh

As usual , penyakit jantungku kumat, dan parahnya aku tak punya obatnya. Sementara Minho malah justru semakin mendekatkan wajahnya pada wajahku. Perlakuannya ini ,membuat satu kata tiba-tiba terlintas di otakku—ciuman–. Apa benar, Minho akan menciumku? Aku berjanji, setelah ciuman ini selesai. Aku akan menelpon Jiyeon untuk menceritakannya. Aku ingin pamer padanya.

Satu..

Dua..

Tiga..

Oh Gosh! Reflek, aku memejamkan mataku saat jarak kami benar-benar telah dekat. Bahkan aku dapat merasakan hembusan nafasnya menerpa wajahku.

Wusshh.

Inikah ciuman itu, kenapa rasanya hanya seperti angin dan anginnyapun hanya menyapu keningku, bukan bibirku. Apa iya ini ciuman? Penasaran aku membuka mataku, dan melihat Minho sedang memandangku dengan tatapan merendahkan—kepalanya sedikit dimiringkan.. membuat wajahnya semakin membuat kesal untuk dilihat—.

“Aku lapar cepat siapkan aku makan siang, dan jangan coba-coba untuk meracuniku!” aku kembali menjadi orang bodoh yang konyol. Saat ia sudah berjalan melewatiku dengan apa yang ia ucapkan sebelumnya kepadaku. Tuhan, apa malaikat mesum itu sudah keluar dari raganya? Dan Kenapa sekarang, aku justru berharap malaikat itu kembali memasuki tubuh Minho. Lalu melanjutkan aksi kami yang sebelumnya tadi. Huh, kalau begini! rencana menelpon Jiyeon untuk pamer.. gagal total.

Batu, sebenarnya..kau ini kenapa sih? Apa yang kau lakukan padaku. Kenapa sikapmu selalu berubah-ubah seperti ini. Memangnya apa salahku padamu batu? Selama ini aku-kan selalu memberikanmu makan. Apa masih ada yang kurang? Batu, jawab aku!

* * *

Kembali.. hanya ada suara sendok yang sesekali berdenting dengan piring, yang menghiasi acara makan siang kami. Aku mulai lelah dan gerah diperlakukan seperti ini. Apa dia benar-benar tak bisa bicara lebih dulu—untuk membuat suasana lebih ramai dan tidak kikuk–. Aku benar-benar merasa sedang makan siang dengan sosok batu.

Baik, masih tak mau bicara Minho? Kalau begitu, biar  aku yang akan bicara lebih dulu.

“Minho~ya, akhir pekan ini aku akan pergi berkencan. Bolehkan?” pertanyaan bodoh seorang istri terhadap suaminya, dan yang bodoh lagi aku berbohong. Memang aku mau kencan dengan siapa. Tapi urusan itu belakangan saja aku pikirkan, setidaknya aku ingin melihat reaksinya.

Prang

Satu sendok jatuh ke lantai. Hey, itu bukan sendok Minho.  Yang terjatuh justru adalah sendok milikku sendiri. Aku benar-benar terkejut melihat dia hanya memasang ekspressi datar seperti itu, setelah mendengar apa yang aku ucapkan.

“Terserahmu saja!” APA.. –terserahmu saja–. Jadi hanya itu tanggapannya. Benar-benar hanya itu.

Satu detik..

Dua detik..

Tiga detik..

Baiklah, karena dia bilang terserahku. Maka aku akan melakukan semuanya dengan sesukaku. Dan aku harap, dia tidak akan pernah menyalahkanku atas apa yang akan terjadi nanti. Karena sungguh.. kau benar-benar telah membangunkan Myunri yang sebenarnya Choi Minho.

~To Be Continued~

A/N : Part 3 selesai sampai disini dulu ya. Bagaimana, apakah FF ini harus dilanjutkan?? Atau stop aja. Itu tergantung dari komentar kalian. Dan maaf kalau feel Romantis dan comedynya sama sekali engga dapet. Aku sudah berusaha semampuku. Terakhir, DON’T BE SILENT READER, PELASE!.^^

READ MORE “HUSBAND JEALOUS PLEASE”

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 [ END ] | Side Story >> Minho Pov

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

59 thoughts on “SHINee Fanfic Romance Comedy // Husband, Jealous Please ! [ Mission 3 ]

  1. AAA minong itu romantisssss. Tapi kenapaaaaaaaaa….aaaaaaa geregetan pengen gigit(?) minong (jangan bilang mesum)

    Suka

  2. Nah, loh Minho~
    Liat tuh katanya Myunri dia udah bagun, lho emangnya dia tidur. Eh enggak deh dia bilang bangun menjadi diri dia yang sebenernya, hah ribet.
    Minho itu tuh sebenernya dia cemburu tapi egonya aja tuh yang bejibun jadinya gak mau ngakuin… Dasar batu~

    Suka

  3. dari part awal sampe part ini aku rada sebel sama sikapnya myunri yang super lemot. tapi di akhir part ini ada kata-kata membangunkan myunri yg asli, apa masih super lemot? atau malah makin super lemot? penasaran~~

    Suka

  4. myunri~~
    sadarlah kalau minho itu jealous,dia cuman terlalu gengsi buat ngaku.
    ah tapi ngasi pelajaran dikit ke minho juga gapapa sih..ehehehehe
    lee jinki,sini aku pukpuk~~

    Suka

  5. haduh si myunri mah lemot amat aatuh -,- jangan” sebenernya minho suka, tapi karna si myunri yang gak respek jadi agak susah fufu

    Suka

  6. Ih, si kodok batu (baca: minho) gengsinya kegedean, tapi gampang jealous ama myunri
    Aigooo~

    Nampaknya jinki akan sangat bermanfaat buat myunri.
    Blom apa2 minho ud mulai pengen skinship ama myunri, tp lagi2 gengsinya lbih gede daripada niatnya. Gx jadi deh kisseu-nya

    Suka

  7. wow wow,, si minho ni sebenarnya dah suka ya trus cemburu liat myunri ma jinki tpi lgi gengsi ngaku hehehe😀

    Suka

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s