Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

SHINee Fanfic Romance comedy // Husband, Jealous please!!! [ Mission 5] | ENDING

52 Komentar

–          Imaginary as Myunri  Lee [Choi Myunri ]

–          Minho Choi [ Choi Minho ]

–          Jinki Lee [ Lee Jinki ]

  • Another Cast :  *Find By Your Self*
  • Genre : Fanfiction, Romance, Little Comedy *diragukan*, Marriage Life.
  • Rating : PG + 15 ↑↑
  • Length : Sequel
  • Imagination : Korean Drama Naughty Kiss  a.k.a  Playful Kiss [kebetulan dapat idenya waktu nonton drama ini, drama manis yang kelewatan bikin aku kelepek-kelepek sendiri. Ha ha ha ]
  • A/N : Bukan untuk konsumsi BASHING, SILENT READER, DAN COPYCAT / PLAGIATOR. >:)

FF ini dibuat dengan kemampuan diksi dan humor yang rendah, dipublish dengan tujuan mempertambah koleksi FF. kekurangan penulisan serta  pengetikan atau pemilihan kata merupakan unsur ketidak sengajaan, as usual… no body is perfect.

— story© Rara Putriey—

Aku membuka mataku pelan saat merasakan sengatan panas menerpa wajahku. Sedikit mengernyit saat menemukan aku terbaring di atas sofa dengan keadaan tanpa selimut. Aku tertidur atau ketiduran ya. Ah.. memang apa yang terjadi semalam hingga aku sampai ketiduran seperti ini? hem.. tadi malam. Tadi malam itu.

Chu~

Minho mencium bibirku, dan mengecupnya lembut. Dia terus berulah dan bermain di atas bibirku. bahkan seolah belum puas dengan apa yang ia lakukan. dia kembali berulah pada leherku. Geli. Tapi aku tak bisa mengaku bahwa ‘aku membenci ini’. karena pada nyatanya ‘akupun menyukainya’.

“Hmmpttss”

“Hmmpttss”

AIGOO..

Itulah yang terjadi tadi malam. Benarkah ingatan itu?

Aku menggigit bibirku sendiri dan tiba-tiba degupan jantunganku bertambah kencang. Sepertinya, aku akan mati terkena serangan jantung di usia muda. Tapi apa benar, aku dan Minho semalam seperti itu.

Degh

Degh

Degh

Mengingatnya lagi sekarang, aku justru ingin mimisan.

* * *

Aku memilih-milah beberapa baju yang pantas untuk dipakai berkencan. Sudah ku putuskan untuk menerima ajakan Jinki Oppa. Kau tahu, sekarang perasaanku benar-benar sedang kacau. Bahkan aku tak bisa membuat lelucon yang tidak lucu lagi. Semua itu karena ulah si batu!Aku benar-benar kecewa dengannya. Ku pikir apa yang terjadi tadi malam itu, adalah sesuatu yang dapat mengubah segalanya. Tapi nyatanya, sedikitpun tidak. Tidak ada yang berubah. Bahkan kerasnya batu itu sedikitpun belum lapuk.

•Flashback•

“Kemarin malam…apa..ada..sesuatu yang ‘aneh’ terjadi?” tak tahu dapat darimana keberanian itu, sehingga aku berani menanyakan hal itu pada Minho, disaat kami berdua sedang menikmati sarapan. Sejenak ku lihat Minho,menghentikan makannya. Menatap kosong ke arahku. Ck..sebenarnya apa yang terjadi kemarin malam.

“…..”

Rasanya sedikit tidak percaya, dia tak menjawab dan justru melanjutkan makannya. Baiklah, teruslah bersikap seperti ini padaku.

“Kau tak ingin menjawabnya Minho?” aku menatapnya, seolah mengancamnya dengan sendok yang ku angkat perlahan dari tanganku. Aku tidak bercanda! Jika dia benar-benar tak menghiraukanku. Mungkin nasib sendok ini akan berakhir di kening atau kepalanya.

“Memang apa yang terjadi kemarin malam?” akhirnya dia bicara, meski tetap tak menjawab pertanyaanku dan justru membuat pertanyaan yang sama. Dia ini!

“Kau….!”

“Heeh..aku sudah selesai!” semakin geram saat dia mendorong kursinya mundur, kemudian membangkitkan diri untuk beranjak. Dia bahkan belum menggubris pertanyaanku. Minho..kau!, sudah kubilang aku tidak bercanda!

“YA! APA KAU TIDAK BISA MENJAWAB PERTANYAANKU!!” memekiknya sambil melemparkan sendok yang sebelumnya sudah ku genggam.

“XIAAAT!”

Plup

Mwo?

Kembali menjadi orang bodoh yang tercengang melihat Minho yang dengan mudahnya menangkap sendok itu, padahal tubuhnya sedang membelakangiku. Sekarang, ada pertanyaan baru untuknya. Dia itu manusia macam apa?

“Myunri~ya! Kau..benar-benar melupakan hal itu?” pelan, sangat pelan. Gumaman itu sangat pelan, untung saja tidak ada suara klakson mobil atau konser mendadak disini, jika semua hal itu ada. Gumaman itu tidak akan terdengar di telingaku.

Semantara Minho berlalu. Aku hanya bisa memandang hampa sosoknya yang pergi sambil membawa sendok yang sebelumnya aku lempar. Ku lihat ia langsung memasukki kamarnya. Dia benar-benar tak menggubrisku!

•Flashback off•

Bayangkan saja, bukankah hal itu menjengkelkan. Siapa yang tahan hidup dengan manusia semacam dia? Bicara saja sulit, berharap dia melucu. Aku yakin leluconnya pasti lebih buruk dari leluconku. Sudahlah, aku sudah terlanjur kecewa dengannya. Aku sudah melupakan apapun yang terjadi kemarin malam, dan aku juga tak mempedulikan apa yang terjadi. Anggap saja, kemarin itu dia benar-benar memukulku hingga aku pinsan dan menghayal yang tidak-tidak. Ya, itu lebih masuk akal daripada dia yang menciumku tiba-tiba.

Aku bukan mesum!

Jadi aku tak boleh memiliki pemikiran, Minho menciumku!

Srek..srekk..srekk.

Akh..yang ini boleh juga!

Akhirnya pilihanku jatuh pada sebuah dress pendek berwarna putih polos yang dihias renda-renda cantik berwarna senada. Aku akan memakai ini untuk berkencan. Dan aku pikir ini sesuai untuk  hotspant hitam dan sepatu lollyku. Sekarang saatnya berdandan.

* * *

Sederhana. Tapi ini gayaku. Sudahlah, biarkan seperti ini saja! aku tidak terlalu suka dengan tambahan kalung-kalung atau gelang. Sedikit polos, tidak apa-apa. Lagipula sepertinya sebentar lagi Jinki oppa akan menjemputku untuk berkencan. Berkencan? Seharusnya aku semangat. Tapi kenyataannya tidak sama sekali.

Ayolah Myunri!! Semangat!

Treak

Melangkahkan kaki keluar dari kamarku. Dan menemukan seseorang sedang duduk santai di depan televisi menyaksikan permainan sepak bola. Ck..aku bosan melihatnya!

Kembali melangkah menuju pintu depan, apalagi saat melihat sebuah motor baru saja terparkir disana. Astaga, Jinki oppa sudah datang rupanya!

“Kau mau kemana?” langkahku terhenti saat berada tepat di depan pintu. Tak menyangka dia justru menanyakan hal itu. Apa aku harus menjawabnya? Saat aku bertanya, bahkan dia tak menggubrisnya. Heh, baiklah. Peringatan, karena aku bukan batu seperti dia. Maka dengan berbaik hati aku akan menjawabnya.

“Apa kau lupa. Bukankah aku sudah pernah bilang, bahwa aku akan pergi berkencan di akhir minggu—hari ini—?” aku menjawab tanpa menoleh padanya. Dan bersiap-siap untuk membuka knop pintu rumahku. Minho, aku sedikit berharap kau menahanku saat ini. Karena jika boleh jujur, aku lebih suka menonton televisi di rumah bersamamu, meskipun aku tak digubris. Daripada pergi berkencan dengan orang yang tidak bisa melucu.

“Oh. Baiklah!”

Nyiutt..

Sepertinya, eomma dan appa telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidup mereka. Mereka salah, menjodohkan dua orang seperti kami. Yang satu terlalu sempurna, dan yang satu terlalu buruk. Mereka tidak bisa dipersatukan. Seharusnya aku bisa lebih pintar memikirkan hal ini. dan dengan begitu, aku tidak akan terjebak seperti ini.

“Ya..aku pergi dulu!” pintu di depanku telah terbuka. Dan dengan pelan aku meniti langkah berat. Jika boleh aku meminta, aku tak ingin kembali masuk ke pintu ini nanti. Aku tak kuat jika terus bersamanya. Dia terlalu menyilaukan. Dan itu membuat mataku sakit. Minho, kita selalu begini.  Atau lebih tepatnya, kau yang selalu membuatku begini.

Dan sekarang aku memiliki sebuah akal gila di dalam otakku.

Bagaimana…jika kita….berpisah saja!

Hey, ini terlalu konyol. Seorang istri yang ingin berkencan dengan lelaki lain, dan suaminya yang hanya menganggap hal ini biasa.

Mungkin…

Karena…

Semua ini…

Tanpa cinta..

Jadi…

Dia bisa…

Memperlakukanku..

Sesuka hatinya..

Tapi..

Aku tak bisa..

Jika terus begini…

Aku..

Tak bisa…

Menahan ini…

Sendirian…

* * *

Lelaki yang baik, sedari tadi terus mengajakku bicara dan membuatku tertawa. Sesekali aku tersenyum saat dia menunjukkan ekspressi lucu yang aneh. Tapi aku jauh lebih suka mengamati pemandangan disekitar Namsan tower daripada mendengarkannya yang melucu tapi tidak lucu.

“Itu kursi cinta! Kita duduk disana ya Myunri dan mengambil foto!” menunjuk ke arah kursi berbentuk aneh, sambil tersenyum antusias. Kursi yang ia maksud itu  memiliki kedua sudut yang miring ketengah—menyerupai segitiga terbalik–. Kursi cinta? Disebut seperti itu…Apa karena jika kedua orang yang duduk disana akan tersihir dan saling jatuh cinta?

“Kau tidak mau?”

“Ani.. baiklah!” aku tersenyum, dan akhirnya dengan berat hati duduk di kursi cinta bersama Jinki Oppa. Andai orang yang ada di sampingku sekarang adalah Minho. Sepertinya senyumanku akan jauh lebih lebar dari sekarang dan mungkin aku tidak perlu memaksakannya. Tapi tak apa. Bukankah ada pepatah yang mengatakan ‘tak ada rotan, akarpun jadi’.. tak ada Minho, Jinki oppa pun jadi’.

“Mian..hyung. bisakah kau mengambilkan foto kami berdua?” Jinki oppa menyerahkan handphonenya pada seorang lelaki yang kebetulan lewat di hadapan kami. Lelaki itu mengangguk sekilas saat Jinki oppa menyuruhnya untuk mengambil foto kami. Aku berdoa, semoga saja lelaki  itu bukan pencuri. Yang tiba-tiba kabur saat kami meminta ambilkan foto. Aku trauma, menyuruh seseorang untuk mengambilkan foto karena melihat serial Mr.Bean. disana Mr. Bean kehilangan kameranya, saat menyuruh seseorang mengambilkan fotonya. Eronis!

Jpreet

“Ini.”

Fiuh…syukurlah. Kejadian Mr. Bean tidak terjadi pada Jinki oppa. Orang tersebut, dengan baik hati mengembalikan kembali handphone Jinki oppa.

“Gamshamnida!”

Aku ikut membungkuk saat Jinki oppa membungkuk, untuk mengucapkan terimakasih kepada orang tersebut.

“Waahh..yepponya!” hanya tersenyum kecil saat Jinki oppa nampak mengagumi foto tersebut.

“Kau benar-benar sangat cantik Myunri!”

Mwo?

Blushh

Senang? Dan tersipu? Ya benar. Tapi entah kenapa , aku kurang suka..andai yang menggodaku Minho. Mungkin aku sudah berjingkrak kegirangan seperti orang gila. Huh, ternyata tak ada Minho, Jinkipun tak bisa digunakan.

“Hey, oppa pikir ini sudah saatnya! Bagaimana kalau kita naik ke atas tower?” hanya memberikan anggukan sebagai jawaban. Hari sudah beranjak malam, tapi Jinki oppa ingin mengajakku melihat kembang api sebentar. Tak ada salahnya. Lagipula, akupun malas pulang ke rumah dan bertemu si batu yang membuat perasaan berubah menjadi buruk.

* * *

Cantik.

Mengagumkan, kembang api itu benar-benar sangat indah.

“Kau suka?”

“Ne, gumawo oppa!”

“Kau sangat cantik saat tersenyum seperti itu!”

Aku hanya tersenyum sekilas. Sepertinya aku lumayan cocok bersama Jinki Oppa. Ya, setidaknya kami berdua sama-sama bisa membuat lelucon yang tidak lucu. Dan kami berdua sama-sama mudah untuk di ajak bicara.

Blar

Blar

Blar

Suara dentuman kembang itu menghias suasana kami. Disini banyak pasangan kekasih yang berkencan seperti aku dan Jinki Oppa. Meski kami bukanlah sepasang kekasih seperti mereka. Mereka terlihat saling bermesraan, saling merangkul dan bahkan ada yang berciuman.

“Myunri!”

Ah?

Deg

Deg

Deg

Aku membeku saat menolehkan kepala ke arah kanan—dimana Jinki oppa berada—. Disana Jinki oppa menatapku dalam dan mendekatiku secara pelan. Apa yang akan dia lakukan? Dan ada apa dengan mataku? Kenapa lama-kelamaan, wajah Jinki oppa mulai samar dan berubah menjadi wajah Minho.

Degh

Degh

Degh

Helaian nafas Jinki Oppa mulai terasa di tengkukku. Apa yang sebentar lagi terjadi. Dan Apa yang sebaiknya harus aku lakukan.

Membiarkan?

 Andwe!

Ini tidak boleh, ku geserkan langkahku menjauhi Jinki Oppa yang semakin mendekat. Tapi tangan lelaki itu justru mencengkram lenganku dan menarikku secara paksa ke arah sudut puncak tower, tempat kami berada.

Blam

Dia menyandarkan tubuhku secara paksa ke arah dinding.

Sakit~~

“Myunri!!” dia memanggil namaku pelan dan terkesan bernada lembut. Tapi aku justru takut saat mendengarnya menyebutkan namaku seperti itu.

Tuhan, bagaimana ini. sekarang bahkan dia mengunci tubuhku dengan kedua belah tangannya! Aku tak tahu harus bagaimana! Aku tak bisa menghindar lagi. Ku serahkan semua masa depanku padaMu!

Sreeeeettt

Ah?

Degh

Degh

Degh

Seperti merasakan sambaran petir secara langsung, saat merasa seseorang menarikku secara paksa. Dan orang itu kembali pada Jinki oppa setelah menarikku menjauh.

Ku lihat ia membungkuk sopan, dan meski suara kembang api masih menghiasi suasana. Aku masih dapat dengan jelas mendengar apa yang ia ucapkan.

“Maaf Sunbae, tapi dia istriku!” membungkuk kedua kali, saat ingin meninggalkan sosok Jinki Oppa yang terlihat mematung. Dan saat berada tepat di depanku, ia menarikku tanpa ekspressi. Minho~ya, benarkah kali ini kau? Atau lagi-lagi aku sedang bermimpi? Kapan kau datang, dan bagiamana mungkin kau bisa ada disini.

* * *

Tap

Tap

Tap

“Bodoh, seharusnya kau jangan melakukan ini!” dia terus menarikku atau lebih tepatnya menyeretku menuruni rentetan anak tangga. Baru kali ini, aku mendengarnya mendumel dan menggerutu seperti itu!

“kau berhasil Myunri. Aku cemburu!”

Degh

Blush

Meski kakiku sakit, karena harus berjalan dengan cara ditarik seperti ini. tapi hal itu tidak mempengaruhiku untuk tidak tersenyum saat mendengar lelaki di depanku berucap seperti itu. Batu, akhirnya kau bicara! Dan kau bilang apa tadi, kau cemburu! Mission is complete! Jiyeon, kita—ahni— aku berhasil!

* * *

Dia menghentikan langkahnya di sekitar taman dekat Namsan tower. Dan karena hal tersebut aku sempat membentur bagian belakangnya. Ck..penyakit konyolku mulai kambuh.

“Ada yang ingin aku bicarakan padamu!”

Eh?

Minho membalikkan tubuhnya menghadapku. Dan kedua mata bulat itu melihatku dari atas sampai ke bawah. Ada apa?

“Listen me carefully!” meski aku sedikit bodoh. Tapi aku masih bisa menerjemahkan apa yang sedang ucapkan. Baiklah, aku akan mendengarkannya dengan hati-hati.

“Emm..emm…emm…”

1 detik

2 detik

3 detik

“……”

“Em..emm….don’t make me jealous again my wife!”

Blakk

Deghh

Deghh

Blar

Blar

Suara detak jantungku beradu dengan suara dentuman kembang api. Seolah tak mau kalah, keduanya saling menghantam bagian dadaku. Sesak, tapi sama sekali tidak sakit. Apa lagi ketika Minho mengeratkan rangkulannya. Ya, dia merangkulku! Dia bilang ‘jangan membuatku cemburu lagi istriku!’. Berarti misiku selama ini benar-benar sudah berhasil.

“Saranghae!”

Darahku berdesir. Ribuan kupu-kupu terasa menghantam bagian perutku. Dia mengucapkannya, dia mengucapkan itu padaku! Dan tanpa terasa satu tetes air bening kebahagiaan jatuh dari sudut mataku.

“Nado!”

Ketika itu…pelukan kami terlepas. Dan Minho mulai menggerakkan wajahnya mendekat padaku.

Aku tahu apa yang terjadi nanti.

Dan aku tahu apa yang harus aku lakukan!

Memejamkan mata dan menikmatinya bersama…

Plupp

Sentuhan ini…ketika bibir kami menyatu…

Kehangatan yang muncul ini…

Ini lah yang sepertinya yang ku inginkan…

Dan ku harap kali ini bukan mimpi…

Batu, terimakasih karena kau telah bicara padaku. Dan mengucapkannya! Aku benar-benar sangat bahagia.

“Hhppttsss” ketika ciuman itu terlepas. Kami berdua sama-sama tersenyum. Dan senyum ini jauh lebih lebar dan sedikitpun tanpa paksaan.

“Ciuman pertama!” gumamku sambil menyentuh bibirku dengan ujung jari telunjukku, tapi Minho dengan segera menyingkirkannya sambil menggeleng. Kenapa?

“kedua!”

Mwo?

Jadi..apa maksudnya yang kemarin itu….kami benar-benar sudah… itu bukan mimpi?

“Sudahlah lupakan. Mari kita lakukan lebih banyak lagi!”

HAH?

Apa tadi itu benar-benar dia yang mengucapkannya? Kedua telingaku bahkan terasa hampir lepas saat mendengarnya. Bagiku, ucapan itu terlalu dahsyat untuk diucapkan seorang manusia berkepribadian batu sepertinya.

Pervert

* * *

Ketika panas matahari mulai menyengat. Aku membuka mataku. Menyibak ujung selimutku.

Apa kejadian kemarin malam itu mimpi lagi?

Sebuah senyum terajut lebar, saat melihat seseorang tidur di sampingku. Kedua matanya terpejam, menampakkan bulu mata yang lentik dan kelopak yang indah. Minho, jadi kemarin malam itu bukan mimpi.

“kau sudah bangun?” dia menggeliat, sedikit mengusap kedua mata saat merasakan wajahnya yang tersengat cahaya mentari. Aku mengangguk, dan tiba-tiba terkejut. Saat kedua lengan kekarnya merangkulku, memelukku, dan sedikit berulah nakal pada tengkukku. Sekarang lihatlah, siapa yang pervert. Sudah ku bilang sejak awalkan bukan aku yang pervert!

~END~

A/N : hohoho..end saudara-saudara! Beginilah ending yang terpikir di otak sang author. Mudah-mudahan ada yang suka sama Ending begini. Dan setelah ini tinggal menunggu Side Storynya dimana semuanya MINHO POV *seperti janji sang author*. Jangan lupa komentarnya ya! Atau Side storynya aku batalin😛.

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

52 thoughts on “SHINee Fanfic Romance comedy // Husband, Jealous please!!! [ Mission 5] | ENDING

  1. Aaahhh syukurdeh misinya berhasil! hahaa
    Lucuuu liat tingkah Minooo aigoo..
    dan.. hell yeah! Minho emng Pervert! wkwk
    Sukkkaaaaaaa~

    Suka

  2. Sweet ending! ^^ Deg-degan sendiri bacanya.. Seandainya itu terjadi padaku.. Oh god, i’m start daydreaming again -_-

    Suka

  3. endingnya bikin…….. Aaaaaaa romatisnya minta ampun.
    Bang jinki sama aku aja yok~ Daebak pokoknyaaaa

    Suka

  4. Abisss~ Eh ada side story-nya?
    Pokoknya kereeen, endingnya fluff banget.
    Suka deh sukaaa~

    Suka

  5. yesss aku seneng akhirnya begini xD

    Suka

  6. aaahhhhhhh SUKA ENDINGNYA!!!!
    kyaaaaaa so sweet >.<
    suka pas bagian minho mengakui kalo dia cemburu..hahahahhaa.
    aahhhhh❤❤❤

    Suka

  7. Namja yang sopan. Untung jinki gx ditonjok ama minho.
    Aigoo~
    Tuh kan minho pervert akhirnya udahan dulu gengsinya
    Kadar pervertnya lebih besar dari gengsinya
    Wkwkwkwkwk
    Tp romantis jg..

    Suka

  8. owh so sweet,, tpi apa minho dah tau klo myunri ingin buat dia cemburu ya, koq bilang myunri berhasil buat dia cemburu,, tau dri mana😕

    Suka

  9. Daebak thor !!!
    Akhirnya Minho mengungkapkan perasaannya .. Keren banget…

    Suka

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s