Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

Onew Fanfic Sad // Gwenchana Part 5

35 Komentar

  • Genre : Marriage Life, Romance,  Sad, Straight, Life, Family.
  • Rating : Teen (PG-15)
  • Length : Chaptered / sequel
  • AN : if you read this fanfic,  I hope you leave comment after that !.
  • Summary :“Anak appa! Appa sudah melakukannya untukmu! Apa kau bahagia?”Degh…‘anak appa’Jinki..kau!

    “Berhentilah bersandiwara. Aku suamimu. Aku memahamimu. Jika tidak, tolong ucapkan apa yang terjadi, jangan pernah menyembunyikan sesuatu hal dariku. Aku tak suka rahasia, Lee Jieun!”

Gwenchana

2012©Rasyifa

“Jinki aku hamil! Aku harus bagaimana?” gumamku pelan sedikit menahan isak. Aku tak tahu, apa yang harus aku lakukan. Jika aku memberitahukan semua ini, maka kemungkinan pernikahan ini akan batal atau paling tidak aku akan merusaknya. Tapi jika aku tak memberi tahukannya. Bagaimana dengan nasib anakku ini.

“Tuhan..bagiamana ini?”

Brakk

Tap..tap..tap.

Suara?

Apa itu? Jangan-jangan ada orang diluar sana. Ya Tuhan, bagaimana jika orang itu mendengar apa yang barusan ku ucapkan tadi. Ahni..tidak mungkin, ya..tidak mungkin ada orang yang mendengar percakapanku dengan dokter Jang tadi.. tapi jika benar orang itu mendengarnya…

Ji Eun..hentikan!

Lagipula..siapa yang peduli dengan percakapan seseorang di dalam toilet. Hanya orang yang kurang kerjaan yang mau melakukannya.

*

*

*

“Kau darimana saja?” aku terhenyak. Aku baru saja keluar dari toilet dan Jinki sudah menghadangku dengan wajah yang terlihat sedang kusut, dan nada bicaranya pun menyiratkan ‘ketidak tenangan’. Apa yang terjadi dengannya?

“Kau tak lihat..aku baru saja keluar dari toilet. Kurasa kau bahkan melihatnya!” Jinki menatapku tak percaya, saat mendengar apa yang barusan aku katakan untuk menjawab pertanyaannya.

“Apa yang kau lakukan di dalam toilet Ji eun?”

Hanya mengernyit bingung dan tiba-tiba aku ingat tentang suara tadi. Apa suara itu berasal dari Jinki, apa dia mendengar percakapanku dengan dokter Jang? Tuhan, aku berharap dugaanku salah.

“Aku…aku..aku hanya. .. em..Untuk apa kau menanyakan hal itu, tentu saja aku ke toilet karena ada ‘sesuatu’ yang harus aku tuntaskan!” sekali lagi Jinki memandangku dengan tatapan tak percaya saat aku menjawab pertanyaannya.

“Benarkah?”

“….”

“Aku harap itu benar!”

“Kau sendiri..apa yang kau lakukan disini? Bukankah sebentar lagi pestanya akan dimulai?” lagi-lagi menatapku dengan cara pandang yang aneh. Ku rasa, mungkin tadi itu aku salah bicara.

“Kau benar-benar membuatku kesal sampai ke puncak ubun-ubun Lee Ji Eun!” Jinki melangkahkan kakinya mendekatiku. Saat tepat dihadapanku, tubuh jenjang itu membungkuk..menselaraskan tinggi dengan tubuhku yang duduk di atas kursi roda.

“Apa kau benar-benar menginginkan hal ini terjadi?”

Aku tak tau apa yang ada dipikirannya. Dia bahkan mengelus halus pipiku dengan telapak tangannya. Dan mata itu…begitu teduh saat menatap ke dalam mataku.

“Jika iya, maafkan aku Ji eun! Aku tak sanggup untuk menyanggupi keinginanmu ini!”

Degh

“Apa yang kau bicarakan Jinki?”

“Ssstt…kali ini biar aku yang bicara. Kau cukup mendengarkan!” sebenarnya apa yang sedang terjadi. Kenapa Jinki bersikap aneh seperti ini.

“Beberapa minggu belakangan. Aku mencoba menyukai hal ini, pernikahan ini dan wanita lain. aku mencoba berpikir. ‘Hey Jinki..kau seorang lelaki. Memiliki istri dua tanpa dipermasalahkan istri pertama, sangatlah jarang terjadi. Harusnya kau bersyukur dan merasa senang’. Tapi kau tahu, setiap kali pemikiran itu muncul di otakku. Aku justru semakin tersiksa dan membenci diriku. Entah, mungkin lelaki-lelaki lain akan menertawakanku. Tapi nyatanya, aku tidak suka pernikahan ini. bagiku, cukup satu kali…dan itu hanya denganmu.!”

Aku tercengang. Jinki menangis! dia bahkan tak mengusap air matanya yang menyeruak. Jinki, kenapa kau begini. Kau tahu, melihatmu menangis bahkan jauh membuatku merasa sesak daripada membuat keputusan ini.

“Aku ingin menjadi seorang lelaki. Yang menikah satu kali dalam hidupnya. Aku tak perlu perlu wanita lain. Mungkin sebagian orang hanya akan menganggapku membual. Tapi biarlah, aku tak peduli!”

“….”

“Ku mohon Ji eun. Hentikan! Dan tolong ‘jangan menyuruhku melakukan hal ini’!”

Aku juga ingin begitu Jinki. ingin sekali. Ak juga ingin memelukmu sekarang, lalu menangis dalam dada bidangmu, dan menyesali permintaan bodohku sendiri. tapi tak ada yang dapat menjamin apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku takut, bukankah pernikahan ini, wanita lain itu, adalah permintaanku sendiri. aku tak bisa menjadi orang konyol yang menarik permintaan itu tiba-tiba. Aku takut menyakiti banyak orang. Wanita yang mereka harapkan bersamamu bukanlah aku, tapi sosok Yoona, bidadari itu.

“Maaf. Tapi aku tidak bisa! Sekarang bersihkanlah wajahmu dan kembalilah ke Yoona. Mungkin orang-orang, termasuk gadis itu sedang kebingungan mencari calon pengantin prianya!” aku melepaskan telapak tangan Jinki dari kedua pipiku. Tak berani menatapnya, aku mulai mendorong kursi rodaku menjauhinya.

Maafkan aku jinki, aku tak bisa menuruti keinginanmu. Aku tak bisa mencabut permintaanku itu.

Kau tahu… ini janjiku. Dan aku harus menepatinya.

Dan tentang anak kita, aku rasa….aku akan merahasiakannya.

“AGGHHHR!”

Saat pekikan itu terdengar, akupun ingin melakukan hal yang sama, memekik. Andai aku tidak sakit, mungkin cerita kita tidak begini, Jinki. Tapi seperti yang kau bilang, bukankah karena sakit yang ku deritalah kita dipertemukan Tuhan.

Jinki…tak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. kau hanya perlu menutup matamu, dan meyakini bahwa ini hanyalah skenario sebuah drama yang harus diselesaikan.

Dan akan berakhir, saat sosok wanita bernama ‘Han Ji Eun’ itu meninggal. Tak perlu waktu lama, mungkin hanya beberapa bulan ke depan. Atau sampai..anak ini lahir.

*

*

*

Aku duduk di bagian depan aula. Beberapa kali aku harus menunduk untuk mensterilkan detak jantung dan menahan airmataku menyeruak.

Jinki dan Yoona, berdiri berdampingan di depanku. Serasi.

“Baiklah..bisa kita mulai acara ini?”

Seseorang bertanya, membuat suasana aula yang semula cukup ramai mendadak menjadi hening.

“Ya..silahkan!” aku mengenal suara itu, itu suara ibu mertuaku. Beliau duduk tidak jauh dari tempatku duduk. Dan beliau terlihat sangat bahagia di hari ini.

Satu orang merasakan kebahagiaan karena pernikahan ini, dan wanita lain. Baguslah, setidaknya..aku tak sia-sia melakukan hal ini.

“Yoona dan Jinki. Hari ini kalian dipersatukan di tempat suci ini, untuk saling mengikat janji sehidup semati. Mudah-mudahan Tuhan selalu merestui langkah kalian!”

Tiba-tiba…waktu berjalan sangat lambat. Dan kepalaku mendadak nyeri. Aku tak sanggup mendengar hal ini. aku tak sanggup.

“Lee Jinki, bersediakah kau menerima  Im Yoon Ah menjadi istrimu. Berjanji menerima satu sama lain, dan saling melengkapi. Hidup bersama baik di kala susah maupun senang?”

“….”

Aku teringat akan hari itu, hari yang sama seperti hari ini. tapi yang berbeda yang ada disamping Jinki bukanlah Yoona melainkan aku. Dan pesta itu terjadi di sebuah ruangan rumah sakit. Bukan sebuah aula megah seperti ini.

“Lee Jinki, bersediakah kau menerima  Han Ji Eun menjadi istrimu. Berjanji menerima satu sama lain, dan saling melengkapi. Hidup bersama baik di kala susah maupun senang?”

“Ne..saya bersedia”

Saat itu..aku merasa senang sekali. Karena aku, seorang gadis sakit yang sebentar lagi akan mati, justru bisa menikah dengan seorang dokter muda yang tampan.

“Saudara Lee Jinki?”

“….”

Ah?

Astaga, lamunan tentang masa laluku justru membuatku lupa dengan apa yang sedang terjadi. Rupanya, sedari tadi Lee Jinki tak menjawab apa yang orang itu tanyakan padanya. Jinki, apa lagi yang ada di pikiranmu.

“Baiklah kita ulangi.. Saudara Lee Jinki, bersediakah kau menerima  Im Yoon Ah menjadi istrimu. Berjanji menerima satu sama lain, dan saling melengkapi. Hidup bersama baik di kala susah maupun senang?”

Jinki jawablah….

“Emm.. aku..aku.. bers..!”

Degh

Degh

Degh

Tes

Selalu bertentangan dengan perasaanku sendiri. karena nyatanya, aku sadar bahwa aku sendiri tak tahan lagi membendung airmata ketidak relaan itu. Dan biarlah, airmata itu jatuh membulir disekitar mataku. Menunduk tak tahan. Ternyata aku benar-benar tak sanggup mendengarnya. Ngilu…sesak dan perih.

“Em..aku..aku..”

Tuhan..aku ingin sekali berteriak sekarang. Menghentikan semua ini, dan membiarkan semua orang menertawaiku. Tapi aku tak bisa. Aku tak bisa melakukan hal itu. Bagiku itu terlalu sulit.

“Maaf, aku tidak bersedia menerima menerima  Im Yoon Ah menjadi istriku. Dan akupun tidak bisa berjanji menerima satu sama lain, dan saling melengkapi. Aku tak bisa hidup bersama dengannya baik di kala susah maupun senang.”

Degh..

Jinki, apa yang barusan kau ucapkan.

Tap

Tap

Tap

Saat aku mendongakkan kepalaku. Sosok lelaki itu sudah ada di hadapanku, memberikan senyuman manis dan menundukkan tubuhnya di hadapanku.

“Anak appa! Appa sudah melakukannya untukmu! Apa kau bahagia?”

Degh…

‘anak appa’

Jinki..kau!

“Berhentilah bersandiwara. Aku suamimu. Aku memahamimu. Jika tidak, tolong ucapkan apa yang terjadi, jangan pernah menyembunyikan sesuatu hal dariku. Aku tak suka rahasia, Lee Jieun!”

Plupp

Dia merangkulku erat. Sementara aku justru menangis. jangan bertanya, kenapa aku justru menangis. aku sendiri bahkan tidak tahu.

Prakk..Prakk..Prakk..

Dan aku semakin menjadi orang linglung, saat mendengar suara tepuk tangan yang terdengar riuh itu menggema di seluruh aula.

Bahkan ‘wanita lain itu’ tersenyum lebar ke arahku. Apa yang sebenarnya terjadi?

*

*

*

“Kenapa kau bisa hamil?”

Mwo?

Apa yang barusan ia tanyakan. Lee jinki, ku harap kau sedang tidak bercanda. Karena itu tidak lucu sama sekali.

“Apa maksudmu? Tentu saja karena kau yang menghamiliku!”

“Eh? Ehehe..iya juga! Ngomong-ngomong anak kita perempuan atau laki-laki?”

“Jinki~ya! Ini baru 3 minggu! Kau pikir ini telur ayam yang tiga minggu langsung bisa menetas!” jinki hanya terlihat menggaruk kepalanya. Sambil memasang wajah yang dipenuhi senyum-senyum aneh. Dia terlihat sangat bahagia. Hey..lihatlah! bukankah Tuhan itu sangat Maha Besar, bahkan ia dapat mengubah suasana yang menyedihkan itu secepat kilat menjadi suasana yang menyenangkan.

“Tapi bagaimana kau bisa tahu hal ini. apa kau menguping pembicaraanku dengan dokter Jang?”

Jinki hanya tersenyum penuh arti dan menggeleng.

“Yoona. Dia yang memberitahukan-ku. Saat itu dia bilang ingin pergi ke toilet tapi saat mendengar kau mengucapkan ‘Aku hamil’ dia langsung berlari terbirit-birit!”

“Dia langsung memberitahukanmu, setelah itu?”

Jinki menggeleng sambil menyandarkan kepalaku di atas pundaknya. Sekarang kami sedang di dalam kamar, berbaring berdua di atas ranjang yang sama.

“Dia tak memberitahukanku. Tapi aku melihatnya keluar dari toilet tergesak-gesak. Dan setelah itu tak lama kaupun keluar, dengan kepala tertekuk dan mata yang terlihat sembab. Ku pikir Yoona melukaimu saat itu!”

Ck..bisa-bisanya ia menduga orang lain yang tidak-tidak seperti itu.

“Dia langsung memberitahukan eomma! Dan aku sendiri, baru tahu saat akan memasuki aula. Aku menjadi yang terakhir kali tahu tentang keberadaan anak kita!” aku hanya tersenyum canggung.

Entah kenapa sekarang kepalaku mendadak pusing.

Degh

Degh

Yeobbo!”

“Hemm?”

Hanya berdehem pelan mendengarnya memanggilku dengan panggilan genit itu. Karena sekarang aku merasa kedinginan.

“Maafkan, sikapku yang kemarin. Semua itu hanya skenario. Aku dan Yoona. Kami memang pernah menjalin hubungan istimewa. Tapi itu sebelum kita menikah, setelah kita menikah aku…hanya ingin bersamamu!”

Lagi-lagi aku tersenyum canggung. Sekarang nafasku juga terasa sesak. Tuhan, apa lagi yang akan terjadi selanjutnya.

“Kau mau memaafkanku kan?”

“Nde!”

“Aku tersiksa melakukan kebohongan itu. Karena memanggil orang lain, selain kau dengan panggilan ‘yeobbo’ . menyiksaku sekali!”

Sayup..aku mulai menutup mataku. Sungguh ini sesak sekali, seperti ada beban berton-ton yang bersarang di dadaku. Berat.

“Jieun?”

“….”

“Jieun..kau ?”

“YA! Jieun kau kenapa?”

Aku mendengarmu Jinki, aku mendengarmu sayang. Tapi aku tak bisa menjawabmu.

Ini terlalu sesak, maaf sepertinya aku harus menutup mataku sebentar.

“Jieun! Tubuhmu dingin sekali!”

* * * JINKI POV * * *

“Dia kenapa, apa yang terjadi dengannya!?”

“Tenanglah dokter Lee. Tapi sebelumnya apa kau tahu. Bahwa nyonya Lee sedang hamil?”

“Tentu saja aku tahu, lalu kenapa…?”

Aku terhenyak, diam dalam keheningan. Bodoh! Dokter macam apa kau ini Lee Jinki. Kenapa kau bisa setolol ini. Ji Eun itu sedang sakit, dalam kondisinya yang lemah seperti itu. Hamil justru membuatnya semakin lemah. Babo! Kenapa kau justru senang, istrimu sedang mengalami hal terberat dalam hidupnya.

“Sepertinya..kau sudah menyadarinya!”

“….”

“Kemarin saya sudah menawarkan pada istri anda. Agar janin itu sebaiknya digugurkan sebelum bertambah besar dan semakin membahayakan kondisi kesehatannya!”

“Lalu apa jawabannya?”

“Dia belum menjawabnya sampai sekarang!”

Tentu saja, itulah Jieun-ku. Berani bertangguh, meskipun dia memberikan jawaban. Jawabannya pasti akan tetap mempertahankan janin itu di dalam rahimnya. Lalu apa yang seharusnya aku lakukan.

“Jadi aku harus bagaimana sukkie?” ucapku pada Jang Geun Suk, dokter yang sekarang menangani istriku.

“Jika aku berada di posisimu. Akupun pasti bingung sepertimu!” dia menepuk pundakku pelan. Selain menjadi dokter Jieun, Geun suk atau Sukkie juga merupakan sahabatku. Kami bahkan menjalani masa kuliah bersama.

“Aku tak mungkin menyuruhnya menggugurkan janin itu. Kau tahu, keberadaan janin itulah yang membuatnya nekat melakukan apapun. Akupun tak mau kehilangannya hanya karena mengandung anakku!”

“Jinki!”

“Aku suami terburuk. Aku bahkan tak bisa memilih keputusan terbaik!”

“Jinki..!”

“Sukkie, aku tak tahu harus seperti apa sekarang?”

“Tenanglah..pasti ada jalan keluar untuk semua masalahmu!”

Mana mungkin aku bisa tenang disaat seperti ini. disaat istriku sedang terbaring lemah di sebuah ruangan di rumah sakit, hanya karena ingin mempertahankan seonggok janin di dalam rahimnya. Tuhan, sebenarnya apa mau-Mu? Kenapa Kau seperti ingin mempermainkan kami dengan takdirMu?

—Continued—

“READ MORE GWENCHANA”

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 [END] | Side story

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

35 thoughts on “Onew Fanfic Sad // Gwenchana Part 5

  1. g tau ga tau. speechless. susah mengungkapkan. ga tau hrs komen apa.

    kak rara jgn buat jinki sedih lg…

    keep writer kak rara

    Suka

  2. aaa nyentuh banget disinii🙂 tapi untung jinki nggak jadi sama yoona-,-

    Suka

  3. Fiuuuuhhhh untung gk jadi nikah sama yoona, yoona ketuaan sandingan ama jinki yg unyu #peace

    duh pasti bingung deh jd jinki, antara milih istri atau janin di dalam rahim istrinya.

    Suka

  4. oh ternyata dugaan q salah yoona itu baik koq hehehe,, owh jinki dihadapkan dengan pilihan yang sulit, hwa kira2 pa ya yg akan terjadi hem penasaan hihihi

    Suka

  5. Syukurlah ga jd nikah.. Semoga jieun dan bayinya bisa bertahan wkwkkwkwkw

    Suka

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s