Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

Onew Fanfic Sad // Gwenchana [6 ] | Finall Chapter

65 Komentar

Gwenchana

  • Title : Gwenchana [6 ] | Finall Chapter
  • Author : Rasyifa on https://rarastory.wordpress.com
  • Main Cast :
    Imaginary cast as Han Ji-Eun/ Lee Ji-Eun
    Onew SHINee as Lee Jinki
  • Genre : Marriage Life, Romance,  Sad, Straight, Life, Family.
  • Rating : Teen [ bingung PG berapa ya? ( -__-”) ]
  • Length : Chaptered / sequel [ 6 chapter ]
  • AN : if you read this fanfic,  I hope you leave comment after that !
  • Summary : Anak ini…meskipun belum terlahir ke dunia. Dia sudah mampu memberikan kebahagiaan.Ji Eun-ku, semenjak anak ini ada di rahimnya dia tak pernah mengeluh sesak dan sakit lagi. Bahkan dia menjadi periang dan sering tertawa. Anak ini hebat..persis seperti appa-nya !!!

Gwenchana

2012©Rasyifa

~JINKI POV~

Apakah hamba sepertiku masih layak untuk meminta pada Tuhan. Aku bahkan ingat, aku terlalu sering mengeluh dengan takdirNya. Aku juga ingat, bagaimana aku menjadi hamba yang tak tahu malu. Disaat sedang bersedih atau sedang terpuruk, aku akan menangis di hadapanNya, memohon dan berlutut untuk penyelesaian masalahku. Tapi, disaat kebahagiaan dan anugerahNya Ia limpahkan padaku, terkadang aku bahkan lupa mengucapkan terimakasih. Atas semua yang aku lakukan..apakah aku masih pantas meminta padaNya.

Tuhan..

Aku tak sanggup menatap wajah yang sedang terpejam damai itu. Tapi aku lebih tak sanggup jika harus kehilangannya. Istriku, Ji Eun.

Jika anak itu tak lahir, maka Ji Eun tak perlu bersusah payah menahan sakit. Tapi..apa Ji Eun bersedia menggugurkan anak itu?

“Eunghh!”

Mendengar suara erangan yang pelan itu membuatku sadar, aku benar-benar tak bisa kehilangannya.

“Syukurlah, kau sudah sadar. Apa kau merasa sesak?”

Mengerjapkan matanya, dan nampak mengedarkan pandangan ke sekitar. Mungkin dia heran, mengapa bisa berada disini. Tentu saja, terakhir kali sebelum ia pingsan. Bukankah ia berada di dalam kamar denganku.

“Apa aku jatuh pinsan lagi?” hhh..dia mengabaikan pertanyaanku. Baiklah, kali ini tak masalah.

Menganggukkan kepala pelan untuk menjawab pertanyaannya. Dan ia nampak mendesah berat setelah melihatku mengangguk. Ji Eun..jangan memasang wajah seperti itu. Kau tahu, aku tak suka.

“Yeppo~..tersenyumlah! sebentar lagi juga kau akan keluar dari sini!” ucapku sambil mengelus pipinya. Dia tak tersenyum, hanya menatap hampa pada langit-langit kamar rumah sakit. Ji Eun, ku mohon jangan begini.

“Yeppo~ kau berani mengabaikanku?” masih berusaha mengambil alih perhatiannya, tapi sepertinya percuma. Ji Eun, sebenarnya apa yang ada di pikiranmu sekarang.

“Aku tidak mau Jinki. Bahkan jika kau memaksaku, aku tetap tak mau. Anak ini…akan tetap berada di rahimku sampai aku melahirkannya kelak. Bahkan karena itu aku mati-pun, tak masalah.”

Aku diam. Tidak berani mengungkapkan satu kata-pun. Aku tak ingin berdebat lagi dengannya, aku tak ingin mengulang kejadian di masa lalu.

Ku sentuh pipinya dan ku elus lagi. Ku pandangi wajahnya yang putih tirus. Tidak terlalu cantik, tapi aku sangat menyukai wajah ini.

“Kenapa? Kenapa kau ingin mempertahankan janin itu? Padahal kau tahu..keadaanmu tidak memungkinkan untuk semua itu?” berucap pelan seolah menyembunyikan semua luapan emosi yang sebenarnya hampir tak bisa ku kendalikan. Dan seketika, wajah itu berpaling, menatapku.

Yeppo..sudah puas memandangi langit-langit kamarnya?

“Karena dia…karena dia segalanya untukku. Dia keajaiban. Semua orang tahu. Han Ji Eun, perempuan yang sakit-sakitan itu tidak akan pernah bisa hamil. Dan ternyata…sekarang.” Aku menyeka sebulir air yang jatuh dari sudut matanya. Tenanglah Jinki. Kendalikan emosimu.

“Ya..aku paham yeobbo.”

“….”

“Tapi apa kau tahu, untukku  kau lah segalanya!” hampir tercekat saat mengucapkan hal itu. Dan pertahananku roboh, akupun ikut menjatuhkan bulir airmata. Bahkan lebih dari satu.

“Jinki…”

“Kau..dan seonggok janin di dalam rahimmu. Kalian segalanya untukku! Aku tentu tak bisa melepaskan salah satu diantara kalian!”

Lagi. Ke elus pipinya, dan mencoba membendung perasaanku sendiri. aku lelaki! Menangis, tentu bukan gayaku.

“Bisakah kau bantu aku memilih?”

Ji Eun mengangguk sambil tersenyum lirih.

“Pilih anak kita!” ujarnya dengan suara yang terdengar pelan dan serak.

“Alasannya?”

“Karena jika kau memilih anak kita, maka aku janji akan tetap bertahan untuk kau dan anak kita. Tapi jika kau memilih aku. Anak kita belum tentu mampu berjanji untuk tetap bertahan!”

Hemm..begitukah?

Bisakah kupercaya janji itu yeobbo…?

Dan akhirnya, aku pilih untuk mempercayainya.

Silahkan kalian mengatakan aku lelaki yang tak mempunyai perasaan, dan lelaki terkejam di dunia. Membiarkan istriku sendiri menantang maut dengan memelihara janin itu. Hhh, tak masalah..bukankah ini keinginannya. Tak apa-apa. Aku yakin Tuhan memiliki rencanaNya sendiri. dan aku yakin rencana itu akan jauh lebih indah dari rencanaku.

*

*

*

“Apa yang terjadi dengan perempuan itu. Benarkah dia hamil?”

Sore ini aku pulang sebentar ke rumah, untuk mengambil beberapa pakaian dan barang-barang yang dibutuhkan Jieun dan aku selama di rumah sakit. Sukkie bilang, Jieun harus dirawat inap. Padahal baru beberapa bulan yang lalu, aku melakukan hal ini.

Jinki, apa yang kau lakukan? Mengeluh? Tuhan benci orang yang suka mengeluh, Jinki.

“…..”

“Jinki! Tak bisakah kau…!” ku tolehkan pandangan pada ibuku, membuatnya yang semula mengoceh seketika diam. Sedari tadi ia terus saja melihat ke arahku, tanpa berniat membantuku mengepak barang-barang. Tak bisa membantah, bahwa aku sedikit muak dengannya. Bagaimanapun Ji Eun bersikap seperti ini karenanya. Dia yang begitu menginginkan cucu. Oh shit! Jinki sadarlah…dia ibu kandungmu sendiri.

“Harus seperti apa eomma?”

“?”

“Hah…harus seperti apa agar eomma dapat menyukai istriku, Ji Eun?” ku pandangi wajah yang mulai menua itu. Mata kami berdua saling bertaut.

Pluk

Seperkian detik, tubuhku sudah bersujud di depan wanita itu, dan entah apa yang membuatku tiba-tiba tertarik untuk mencium kedua telapak kakinya.

“Sudah lebih dari setahun. Dia telah menjadi istriku eomma! Dia melakukan yang terbaik yang dia bisa. Dia hebat, dia tidak lemah. Dan dia perempuan terbaik yang pernah aku temui seumur hidupku!”

“….”

“…yang membedakannya. Hanya karena dia sakit!!” bibirku telah bergetar mengucapkannya. Airmataku telah meluap. Sekarang, aku bahkan terlihat sangat cengeng.

“Dia bahkan rela mati, untuk cucu impian eomma!”

“Jinki~!”

“Eomma…setidaknya, kali ini saja bantu aku. Aku tak mungkin bisa menghentikannya. Tapi ku rasa eomma bisa., setidaknya mencobanya. Maukah eomma melakukannya untukku?”

“?”

“..katakan padanya. Gugurkan anak itu! Aku mohon! Jinki tak sanggup kehilangannya!”

Ibuku memandangku dengan nanar. Entah apa arti dari tatapan itu tapi aku harap itu berarti baik.

“Baiklah..jika itu yang kau inginkan!”

Aku hanya tersenyum tipis pada ibuku. Tak tahu harus berucap seperti apa, tak tahu harus seperti apa.

“Terimakasih eomma!”

Tidak apa-apakan kalau aku seperti ini. tak apa-apakan jika aku melakukan hal ini. Anakku, appa menyayangimu tapi maafkan appa! appa juga tak bisa kehilangan eommamu!

*

*

*

Apa yang ada ditebakkan kalian saat ibuku membujuk Ji Eun untuk menggugurkan kandungannya? Bersedia? Tentu itu bukan Ji Eun-ku dan aku yakin kalianpun tahu itu. Dia tak mungkin bersedia melakukan hal itu demi apapun. Lalu, apakah dia menolaknya? Sepertinya tidak juga.

Karena..saat itu dia hanya terdiam sambil memasang senyum tipis. Dan kau tahu, hebatnya lagi dia bahkan membuat ibuku mengelus perutnya. Ibuku terisak, dan mengecup kening Ji Eun untuk yang pertama kalinya. Entah apa arti dari semua itu.

Apa bisa ku sebut itu dengan…penerimaan? Penerimaan tentang keberadaan Ji Eun.

“Omo!”

Pekikan itu membuatku, dengan tergesak berlari dari lantai satu rumahku ke lantai dua. Padahal aku baru pulang dari rumah sakit. Tuhan, ada apa kali ini?

“Kau kenapa?” ucapku sambil terengah-engah dengan mata yang mulai menjambahi seluruh tubuhnya. Gosh. Sekarang aku sadar, aku bukan anak muda lagi. Bahkan setelah berlari menaiki tangga seperti tadi,  aku ngos-ngosan.

“Dia menendang-nendang!”

Eh?

Dia tersenyum? dengan garis bibir pucatnya itu? Sudah lama aku tak melihat senyumnya yang seperti itu. Apalagi kedua mata hitam itu juga ikut tersenyum. Dan entah aku yang menjadi gila atau aku memang sudah gila. Aku melihatnya, dibalik punggungnya ada sepayang sayap putih. tak lebar, memang.  Tapi terlihat bersinar.

“Hey! Lihat appa-mu. Wajahnya lucu sekalikan mirip teletubis?”

Dia kembali tersenyum usil sambil mengelus dengan lembut permukaan perutnya yang telah membuncit.

Usia kandungannya sudah tujuh bulan lebih, hampir menginjak angka delapan.

Dan tiada hari tanpa kecemasanku untuknya. Aku semakin takut jika suatu saat tiba-tiba ia meninggalkanku. Aku merasa belum siap untuk hal itu.

*

*

*

“Aku ingin ke pantai!”

Aku segera mengalihkan pandangan dari laptop-ku yang menyala. Menatap heran pada sosok perempuan yang sekarang sedang terbaring di sampingku. Dia bilang..ingin ke pantai?

“?”

“Aku ingin ke pantai yeobbo!”

“Untuk apa?”

“Hem..kau pernah menonton drama ‘Goong’ ?”Aku menggeleng. Goong, alat musik itu maksudnya?

“Disana pangeran shin mengajak istrinya ke pantai untuk melihat matahari terbit! Aku juga ingin seperti itu. Bisa kau membawaku prince Jinki ?”

Memperhatikan wajahnya yang terlihat cerah saat bercerita. Kemudian mengangguk semangat saat dia menatapku penuh harap.

“Tentu saja. akan ku buktikan bahwa prince Jinki jauh lebih baik dari pangeran Sin!”

“Shin!”

“Ya.. maksudku itu!”

“Ahahah…lihat wajah konyol ayahmu sayang. Dia lucu sekali bukan? Itu sebabnya eomma menyukainya!”

Pipiku memanas saat mendengarnya mengatakan ‘Itu sebabnya eomma menyukainya’. Tuhan..semoga naluri lelakiku tak terpancing saat ini.

“Ya! Kau mengatakan apa saja tentangku pada anak kita!” ku geser laptop yang semula berada di pangkuanku, dan ku geser tubuhku mendekati Ji Eun. Saatnya aku yang beraksi Ji Eun!

“Sekarang giliranku yeobbo, aku juga ingin bicara dengan anak kita!” ucapku sambil mendekatkan wajahku pada perut buncitnya.

“…. Babby, kau tahu tidak ayahmu itu sangat ganteng dan dia itu sangat mencintai ibumu ini!”  ucapku sambil mencolek dagu Ji Eun. Dan dia tertawa melihat tingkahku yang mungkin konyol.

Anak ini…meskipun belum terlahir ke dunia. Dia sudah mampu memberikan kebahagiaan.

Ji Eunku, semenjak anak ini ada di rahimnya dia tak pernah mengeluh sesak dan sakit lagi. Bahkan dia menjadi periang dan sering tertawa. Anak ini hebat..persis seperti appa-nya!

“Kita perginya pagi ini ya?” ucap Ji Eun disela tawanya, aku hanya mengangguk, mengiyakan.

Tak apa-apakan. Jika aku melupakan penat ini sebentar. Tak apa-apakan jika aku menghilangkan keresahan itu sesaat. Hanya berpikir kami sedang bahagia, hanya berpikir untuk menjalani hidup yang sederhana.

*

*

*

“Kau sudah siap hon?” tanyaku sambil menoleh pada Ji Eun yang sibuk mematuti diri di depan cermin. Dia mengangguk dan berdiri, berjalan dengan tertatih ke arahku.

Jangan heran.

Ini bukan mimpi, ini keajaiban yang terjadi di dalam hidup kami.

Semenjak hamil dengan usia kandungan 3 bulan, Ji Eun selalu berusaha menjauhkan diri dari kursi rodanya dan ingin berjalan sendiri. dia bilang duduk di kursi roda membuatnya mual. Lucukan?

Terkadang aku berpikir, apa mungkin anak itu adalah obat dari penyakit Ji Eun? Maksudku keajaiban datang bertubi-tubi pada kami berdua, semenjak anak itu ada di rahimnya.

“Apa yang sedang kau pikirkan. Apa karena cara berjalanku yang aneh?” ucap Ji Eun di depan wajahku, membuatku terkesiap untuk beberapa detik.

“Aa~ yeppo. Aniya! Cara berjalanmu sudah seperti putri, tidak ada yang aneh!”

Hup

Ku gendong tubuh ringkih Ji Eun. Dan berjalan pelan menuruni anak tangga. Meskipun keadaannya sudah baikkan. Tapi untuk menuruni anak tangga tetap saja, aku tak mengizinkannya. Aku bahkan sempat berpikir untuk mengganti tangga di rumahku dengan escalator, tapi apa yang dikatakan almarhum appaku di surga nanti saat melihat rumahnya aku ubah seperti itu.

“Sudah..turunkan aku! Aku bisa sendiri!”

Aku mengangguk, lagi-lagi untuk mengiyakan kemauannya. Dan dengan pelan ia kembali meniti langkahnya, menuju mobilku. Ji Eun..kau benar-benar perempuan hebat, persis seperti suamimu!

*

*

*

“Aku tak sabar! Aku ingin cepat-cepat melihat matahari terbit!” Ji Eun menggelayut manja di lenganku yang sedang mengemudi. Aku hanya tersenyum dan sesekali menoleh padanya, hanya sekedar memastikan kalau aku sedang tak membawa istri orang!

“Bisa lebih cepat Jinki. Aku takut tak sempat!” aku hanya mengerutkan kening saat mendengarnya yang benar-benar terlihat terburu-buru. Baiklah, as your wish babby!

“Jinki…kau pernah melihat matahari terbit sebelumnya?”

Masih tetap fokus untuk mengemudikan mobilku, sambil mengingat-ingat jawaban dari pertanyaan istriku.

“Kurasa ‘iya’..entahlah aku tidak terlalu ingat!”jawabku tanpa menolehkan pandangan ke arahnya.

“Apa matahari saat terbit sangat cantik?”

“eumm… seingatku waktu itu aku melihatnya bersama-sama anak pramuka. Biasa saja, tak secantik kamu hon!” ucapku sambil tertawa sendiri.

“….”

“Apa di ‘goong’ yang kau lihat itu, mataharinya sangat cantik?”

“….”

“Ji Eun! Jawab aku hon!”

“….”

Degh

Saat aku tak memperoleh jawaban, dan saat rasa penasaranku membuatku menoleh padanya, yang ada di sampingku. Sesuatu mencambukku dengan keras. Tepat di dadaku. Tuhan..apa ini rencanaMu? Rencana yang indah itu.

“Kau kenapa hon?”

Bertanya dengan pelan, saat melihat wajah pucatnya dipenuhi keringat-keringat dan nampak ditekukkan. Bibir itupun juga nampak bergetar.

“Gwencha…na! lan..jut..kan.. sa..ja!”

Maaf. Kali ini aku tak bisa mengangguk untuk mengiyakan kemauanmu. Ku hentikan mobilku tepat di pinggir jalan.

“Apa yang kau rasakan?” ucapku sesaat aku selesai memparkirkan mobil.

“Biasa..dia hanya menendang! Tapi kali ini cukup kuat!”

Maaf lagi. Sepertinya kali ini aku tak bisa mempercayai kata-katamu. Aku yakin, kau sedang merasakan sesak sekarang. Itu terlihat dari caramu bernafas.

“Kurasa, sebaiknya kita pulang saja!”

Saat tanganku hendak meraih kemudi, sebelah tangan mencengkram tanganku. Cengkraman yang sangat pelan.

“Jangan..aku ingin melihat matahari terbit!”

“Tapi kondisimu tidak memungkinkan Ji Eun. Kita bisa melihatnya lain kali!”

“Tidak. Aku ingin melihatnya sekarang!”

“Ji Eun!”

“Ku mohon..mengertilah!”

Sejenak..ku tarik nafasku dalam dan mencoba menetralkan perasaanku sendiri.

“Kita pulang,” ucapku dengan suara yang terdengar bergetar.

“Tidak. Jangan Jinki! Jika kau pulang, aku akan keluar sekarang! Aku akan berjalan kaki menuju pantai!”

“Jangan konyol Ji Eun!”

“Ke pantai sekarang!”

“KAU!! TIDAK BISAKAH MENGERTI AKU SEDIKIT SAJA!” emosiku mulai tak terkendali, bahkan baru ku sadari, tadi aku memekik tepat di depan wajahnya. Damn! Bodoh kau Lee Jinki.

“Ji Eun..mengertilah! aku takut kau….aku takut. Aku benar-benar takut!”  bicaraku kacau. Suasana yang sebelumnya terasa menyenangkan terasa menjadi aneh.

“Aku mengerti! Aku sangat mengerti. Tapi ku mohon..kali ini saja dengarkan aku. Kita ke pantai sekarang. Lagipula aku sudah baikkan!” mendengarnya yang berucap sambil terisak membuatku membatu. Bodoh! Bodoh sekali.

“Kau tidak pernah mengerti aku!” Ucapku pelan, sambil menyalakan mesin mobilku. Baiklah, sesuai kemauanmu..pantai.

Ji Eun..kau sadari atau tidak.  kau selalu melakukan apa yang kau inginkan tanpa mendengarkan pendapatku! Kau selalu seperti itu, dan itu membuatku sesak. Kau pernah menyuruhku mencari wanita lain, padahal jelas-jelas aku menolaknya, juga saat kau ingin mempertahankan janin itu, kau bahkan tak mendengarkan ucapanku. Kau…selalu seperti itu.

*

*

*

Suasana hening, hanya ada serbuan dari suara angin pantai.

Ji Eun duduk di pinggir pantai. Sesekali ombak membasahi ujung kakinya. Aku hanya memendangnya dari sini, tak berada terlalu jauh atau terlalu dekat dengannya. Masih mencoba menetralkan emosiku yang sebelumnnya sempat menyeruak.

Matahari yang ia tunggu belum nampak muncul. Bahkan langit terlihat kelam dengan warna biru kehitam-hitaman yang pekat. Sepertinya mendung.

“..di ‘goong’. Mataharinya juga tak muncul!” ucap Ji Eun sesaat aku mendudukkan tubuhku di sampingnya. Kedua matanya menatap lurus ke depan,memandangi laut yang terlihat tak berujung.

“Kita bisa melihatnya lain kali!” ucapku sambil melepaskan jaketku dan memasangkannya di tubuh perempuan di sampingku.

“Ya..jika masih sempat!”

Hening lagi… aku tak menyahut apa yang dia ucapkan barusan. Dan akupun tak memiliki sebuah topik pembicaraan yang bisa ku keluarkan. Bahkan sekedar lelucon atau rayuan murahan.

“Terimakasih untuk segalanya Jinki!”

Aku menoleh..wajah itu kembali terlihat pucat. Oh Shit!! Aku takut sekarang.

“Terimakasih karena telah mendengarkanku.. terimakasih karena sejauh ini kau selalu melakukan apa yang aku mau. Ide konyolku untuk mencarikanmu wanita lain, mempertahankan anak ini, dan hal-hal kecil lain yang tak bisa ku sebut satu persatu. Kau.. yang terindah untukku!”

Ku geserkan tubuhku mendekatinya, dan dengan pelan ku raih kepalanya untuk bersandar di pundakku. Sementara dia masih mengoceh.

“Kau bahkan menuruti ucapanku. Untuk memilih anak kita!”

“Itu karena kau yang berjanji akan tetap bertahan!”

“Ya..itu benar!”

“Kita bisa melihat matahari terbit lain kali, jadi jangan memasang wajah kecewa seperti itu!” dia mengangguk pelan sambil memejamkan matanya.

“Hey…kita belum memberikan nama untuk anak kita!” ucapku sambil mengelus wajahnya, berusaha membuat matanya yang tertutup itu terbuka. Ji Eun, aku ingin sekali mengatakan ‘jangan tutup matamu’, karena..apa kau tahu? entah kenapa sekarang,  aku tiba-tiba merasa takut.

“Aku sudah memikirkan beberapa nama. Jika anak kita perempuan, berikan saja nama Eun Ji , itu singkatan dari nama kita Ji Eun dan Jin Ki!” aku hanya tersenyum mendengarnya menyebutkan nama itu.

“Lalu jika laki-laki?”

“Aku tak tahu..tapi bagaimana kalau Taemin?”

“Eum..aku kurang suka!”

“Kenapa?”

“Aku mempunyai hoobae sewaktu senior high school, namanya Lee Taemin dan dia itu tampan!”

“Lalu?”

“Dia menandingi kepopularitasanku!” ku dengar ia terkekeh pelan. Sementara aku justru semakin takut. Ku rangkul tubuhnya. Dan benar dugaanku, tubuhnya dingin seperti es.

“Jinki..!”

“Eum?”

“Yakinlah semua akan baik-baik saja. yakinlah tidak akan terjadi apa-apa! Kau lihat mentari tak muncul hari ini. tapi kau tahukan masih ada besok dan besok lagi. dimana matahari akan bersinar terang!”

Aku tak suka ini. aku takut. Ini seperti…

“Jinki gwenchana..jangan takut! Aku akan mendampingimu selalu! Kau harus yakin kalau semua akan baik-baik saja!”

Kau salah Ji Eun..sekarang aku justru semakin takut.

“Ji Eun!”

“…”

“Ji Eun! Jangan bercanda!”

“…”
“JI EUN !”

“…”

“Ya princess! Bangun!!!”

“….”

*

*

*

Eommaku datang dengan wajah yang dihias airmata yang tumpah. Sementara aku langsung berhambur ke pelukannya.

Ji Eun pingsan saat di pantai, dan sekarang dia sedang di operasi. Anak yang ada di dalam kandungannya sedang kritis. Tentu saja, Ji Eun pingsan bayinyapun juga akan mengalami masalah.

“Eomma, bagaimana ini?”

Hanya mengelus punggungku dengan lembut tanpa memberikan jawaban. Dan ikut menangis pelan di dalam pelukanku. semenjak Ji Eun hamil, eomma terlihat menyayangi Ji Eun. Bahkan eomma selalu menjaga Ji Eun dan memperhatikannya saat aku sedang bekerja. Sikapnya sangat bertolak belakang dengan sikapnya sewaktu Ji Eun belum hamil.

“Gwenchana Jinki. Ji Eun pasti baik-baik saja. bukankah dia pernah bilang seperti itu padamu?”

Aku mengangguk dan tak berselang lama, seorang dokter yang masih berpakaian khas operasi datang menghampiriku.

“Anda harus membuat keputusan secepatnya dokter Lee. Istri anda atau anak anda?”

“…”

Apalagi ini Tuhan. Apalagi?

“Kami mohon maaf, kami tak bisa menyelamatkan kedua-duanya. Kemungkinan jika kami masih gegabah, justru kedua-duanya akan merenggut nyawa.!”

“….”

Tuhan..apa Kau mengutukku? Apa aku pernah memiliki dosa yang teramat besar?

“Jinki!!” eomma menyadarkanku, menatapku dengan penuh iba dan memberikan anggukkan pelan. Keputusan ada di tanganku. Ji Eun atau anak kami.

“Karena jika kau memilih anak kita, maka aku janji akan tetap bertahan untuk kau dan anak kita Tapi jika kau memilih aku. Anak kita belum tentu mampu berjanji untuk tetap bertahan!”

Suara Ji Eun tiba-tiba terngiang di benakku. Ji Eun, kali ini apakah janji itu masih berlaku?

“Dokter Lee?”

“…Selamatkan…Ji…Eun Ji, anakku!”

Aku tak tahu apa keputusan yang ku pilih ini benar atau salah. Tapi sekali lagi, aku memilih untuk menuruti kemauanmu. As your wish yeppo. Dan ku harap kau tak mengingkari janjimu, bertahanlah demi aku dan anak kita!

*

*

*

Kepalaku berdenyut, dadaku terasa sesak. Saat melihat lampu operasi yang tiba-tiba berubah warna menjadi hijau. Sebuah pertanda bahwa operasi yang ada di dalam ruangan itu telah selesai di kerjakan.

Tak berselang lama.. ku dengar suara tangis bayi yang menggema. Hatiku mencolos. Tangis itu..anakku?

Brak

Tap..tap..tap

Beberapa orang perawat dengan sigap membawa sosok bayi kemerahan berjenis kelamin perempuan dan bertubuh mungil itu menuju sebuah ruangan yang terdiri atas kaca-kaca. Saat bayi itu melewatiku, hawa dingin mencekatku.

Mata itu…

Seperti mata seseorang yang sedang terbaring di dalam.

Eun Ji! Ini appa! Selamat datang di dunia, sayang.

*

*

*

Langkahku berat saat menghampiri seorang perempuan yang terbaring lemah dengan selang-selang di tubuhnya. Ketakutanku..akhirnya datang.

“Ji Eun!”

Tak ada jawaban. Karena sang pemilik nama bahkan tak kunjung membuka matanya. Tapi setidaknya, dia tak langsung meninggalkanku sesaat melahirkan anak itu. Dia telah menepati janjinya.

“tiiiiiiiiiiiiiiittttttttt!”

Mataku membulat, langkahku bahkan belum sampai menghantarku tepat di depannya. Tapi suara mesin yang menggema itu semakin membuat langkahku kaku.

Brakk.

Tap..tap..tapp

Pintu ruangan tempatku berada di buka kasar, beberapa orang menghampiri istriku. Salah satu diantaranya temanku, sukkie. Dia menggunakan sebuah alat yang biasanya kami –para dokter—pakai untuk merangsang detak jantung orang yang sedang kritis.

Brakk

Tubuh Jieun terhempas beberapa kali. Dan aku disini, terus mematung. Menjadi penonton setia yang tak memiliki daya apa-apa. Bahkan sekarang aku merasa ngeri. Aku sering melakukan hal seperti itu terhadap pasienku, tapi… sekarang melihat Ji Eun. Aku seolah tak sanggup melakukan hal itu lagi.

“tiddddddiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttt!”

Aku pasti bermimpi. Garis lurus berwarna hijau itu muncul bersama suara yang memekik. Ya, aku sedang bermimpi. Saat aku bangun, Ji Eun akan ada di sampingku sambil mengelus perutnya yang buncit.

Puk..puk..puk

“Kami sudah mencoba melakukan yang terbaik!”

Degh

Untuk apa dia bicara seperti itu. Untuk apa sukkie bicara seperti itu?Ho-oh tentu saja untuk mendramatisir keadaan. Tenang Jinki, lagipula ini mimpikan. Ya, ini mimpi.

“JI EUN!” ku dengar suara eomma yang memekik, saat aku menoleh padanya. Ku temukan matanya yang sembab itu juga menatapku.

“Tenang eomma! Ini mimpi. Sebenatar lagi Jinki juga akan bangun dan harus bersiap-siap pergi ke rumah sakit!”

Eomma menatapku nanar sambil terus menangis. kenapa aku belum bangun juga dari mimpi ini. Ji Eun apa kau tak berniat membangunkanku?

* * *

“Di ‘goong’. Mataharinya juga tak muncul!” ucap Jieun sesaat aku mendudukkan tubuhku di sampingnya. Kedua matanya menatap lurus ke depan– memandangi laut yang terlihat tak berujung–.

Aku masih merasa ini mimpi. Mimpi buruk yang datang dari Tuhan.

“Kita bisa melihatnya lain kali!” ucapku sambil melepaskan jaketku dan memasangkannya di tubuh perempuan di sampingku.

“Ya..jika masih sempat!”

Bahkan aku lupa cara menangis. aku hanya bisa menatap sebuah gundukan tanah itu dengan pandangan hampa. Sesekali aku menoleh ke arah kiri, dimana eommaku nampak terisak sambil menggendong seorang bayi perempuan yang masih kecil. Bahkan dia baru kemarin, dia menghirup udara di dunia.

Benarkah, istriku sudah tidak ada? Benarkah gadis yang mendampingiku beberapa tahun belakangan ini sudah merenggut nyawa. Ya, tentu itu benar. Bahkan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri bukan?

 “Yakinlah semua akan baik-baik saja. yakinlah tidak akan terjadi apa-apa! Kau lihat mentari tak muncul hari ini. tapi kau tahukan masih ada besok dan besok dimana matahari akan bersinar terang!”

 “Jinki gwenchana..jangan takut! Aku akan mendampingimu selalu! Kau harus yakin kalau semua akan baik-baik saja!”

Masih bisakah aku bertahan dan menganggap semua ini baik-baik saja, Ji Eun? Bahkan saat melihat tubuhmu dimasukkan ke dalam peti dan dikubur di dalam tanah kemerahan itu, sesaat aku lupa cara bernafas dengan baik. Tuhan, inikah rencana indahMu itu?

Brukk

Kini aku bahkan kehilangan penglihatanku. Semua yang terlihat hanya ruangan gelap tanpa sudut dan ujung. Namun dengan samar telingaku mendengar suara teriakan eommaku bersama tangisan seorang bayi… itu Eun Ji –anak kita— yeobbo. Yang bahkan tak pernah kau lihat wajahnya.

3 menit. Kau memang menepati janjimu untuk bertahan. Tapi kenapa hanya 3 menit yeppo? Kenapa tidak 3 hari? Ah..3 minggu? Ah..3 bulan? Ah..tiga tahun? Ah…untuk selamanya saja –sampai anak kita besar—dan akhirnya kita meninggal bersama-sama. Kau tahu, tanpamu aku tak yakin mampu mengurus anak itu dengan baik.

“Terimakasih untuk segalanya Jinki!”

 “Terimakasih karena telah mendengarkanku.. terimakasih karena sejauh ini kau selalu melakukan apa yang aku mau. Ide konyolku untuk mencarikanmu wanita lain, mempertahankan anak ini, dan hal-hal kecil lain yang tak bisa ku sebut satu persatu. Kau.. yang terindah untukku!”

Kali ini suaramulah yang menggema di telingaku. Terimakasih? Ya kembali sayang. Dan…goodbye dear.

THE END

“READ MORE GWENCHANA”

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 [END] | Side story

A/N : Jinki engga meninggal kok cuman pinsan bentar. Wkwkwk ^^. Thanks a Lot, buat yang udah mau baca FF gwenchana dari awal atau yang baru baca. Mudah-mudahan terhibur ya.🙂 dan maaf ceritanya semakin hari semakin engga jelas. Aku juga engga ngerti sebenarnya yang aku tulis di atas itu apa ? (-___-”).

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

65 thoughts on “Onew Fanfic Sad // Gwenchana [6 ] | Finall Chapter

  1. Sumpah, ini bikin tenggorokanku nyesek, sakit, tercekat habis-habisan! Walau jieun mati tp ada eunji yg akan selalu menemani jinki. Semoga jinki tabah yah

    Suka

  2. aigoooo hwaaaa T_T sedihhh mataji nyampek sembab,,, dan feel nya dapet banget hua keren

    Suka

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s