Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

SHINee Fanfic Fantasy // Sorry I am Vampire Part 2 || FINAL CHAPTER

32 Komentar

  • Title : Sorry I am Vampire 2
  • Author : Rasyifa on https://rarastory.wordpress.com
  • Main Cast :
    – Imaginary cast as Park Jinyeon
    – Onew SHINee as Lee Jinki
    – KEY SHINee as Kim Kibum
  • Another Cast : *find by your self*
  • Genre : Sad, Fantasy, Romance, Angst.
  • Rating : Teen –General-
  • Length : Twoshoot
  • Imagination : film twilight

2012_Rasyifa_Storyline

Sorry, I am Vampire
Part 1 || Part 2

* * *

Aku tak tau pasti, kapan semua ini di mulai. Aku tak tahu sejak kapan aku selalu ingin menghabiskan waktu bersama gadis bernama Park Jinyeon itu. Entah ini sejak dua bulan lalu—disaat untuk yang pertama kalinya ia menunjukkan batang hidungnya di depan wajahku di tahun 2012—. Atau justru sejak sembilan puluh satu tahun yang lalu, disaat kehidupannya yang terdahulu bahkan hampir merenggut sebagian dari kehidupanku .

Tahun 1921.

Umurku delapan belas tahun saat itu, dan sebagai pemuda normal. Aku mengalami apa yang disebut dengan jatuh cinta.

Aku jatuh cinta pada seorang gadis bernama Park Jiyeon. Seorang gadis, anak dari kepala suku tempatku tinggal. Kami cukup dekat. Kami sering bermain bersama, baik sekedar menghabiskan waktu di atas ranting-ranting pohon atau mencari ikan di Sungai. Jiyeon, satu-satunya teman perempuan yang ku miliki. Hanya dengannya aku merasa nyaman. Dan hanya dia satu-satunya yang bisa ku percayai.

Pada hari ke sepuluh bulan maret di tahun 1921, aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku. Karena aku merasa, Jiyeon sepertinya juga memiliki perasaan yang sama denganku. Dan dugaanku memang tepat. Jadi tak berlebihan jika waktu itu aku menjadi orang yang terlalu percaya diri.

Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Satu bulan kemudian, aku jatuh sakit. Aku menderita sebuah penyakit tanpa nama. Dimana semua kulit ari-ku terkoyak atau terkelupas sendiri. Misalnya saja, disaat aku berbaring di tempat tidur, maka kulit-ku akan menempel disana. Penyakit yang mengerikan bukan? Ditambah aku sering mengeluarkan darah, baik di hidung maupun mulutku. Tak ada tabib yang bisa menyembuhkanku. Mereka menyerah dengan keadaanku. Bahkan ayahku sendiri, selalu berusaha mengusirku dari rumah. Dia bilang aku adalah aib dalam hidupnya.

Tak cukup sampai disana. Aku selalu mendapatkan cacian dari orang-orang. Anak iblis, dikutuk dewa dan bahkan monster. Tunggu..itu masih belum seberapa bagiku. Karena puncak dari sakitku adalah saat gadis bernama Park Jiyeon itu datang padaku, setelah setengah tahun lamanya aku tak melihatnya.

“Jiyeon. Aku merindukanmu!” ucapku padanya sambil sedikit  terisak. Kedengarannya memang sangat cengeng. Tapi disaat itu, aku benar-benar bahagia. Kau tahu? Aku bahkan hampir tak percaya dengan apa yang ku alami saat itu. Maksudku, setelah enam bulan lamanya dan.. akhirnya aku melihatnya berdiri di depanku, kekasihku. Dia berdiri menggunkan dress putih selutut, rambutnya terlihat jauh lebih panjang dari terakhir kali aku melihatnya. Dia begitu cantik.

“Maafkan aku Jinki!” ucapnya sambil menunduk. Aku tersenyum. Andai aku bisa bangkit, mungkin aku sudah memeluknya dengan erat. Tapi karena kondisiku waktu itu— aku bahkan tak bisa bangkit dari posisi berbaringku tanpa bantuan orang lain—. Memeluknya? tentu saja tak mungkin.

“Aku mengerti. Ayahmu pasti melarangmu menemuiku karena keadaanku yang seperti ini. Tak apa Jiyeon, dengan melihatmu yang baik-baik saja seperti ini sudah cukup untukku!” Jiyeon tak menyahut dengan posisi masih menundukkan wajahnya, dan sempat ku lihat beberapa kali ia mengggigit bibir bawahnya. Apa yang sebenarnya terjadi, aku merasa dia menyembunyikan sesuatu dariku.

“Jinki!”

“Ya?”

“Eumm….”

“Kau tak mau duduk di sampingku dulu?” ucapku sambil menepuk bagian kasur tempatku berbaring. Aku merindukanmu Jiyeon. Tak berniatkah kau memelukku. Oh.. aku benar-benar ingin memelukmu.

“Tidak perlu! Karena aku tak akan lama!”

“Oh..baiklah, Tapi kau akan datang lagi besok-kan? Eum.. kalau kau datang, bisa aku meminta tolong padamu?”

“…..” Jiyeon tak menjawab, ku artikan saja diamnya itu sebagai pertanda setuju. Maka ku lanjutkan kembali ucapanku, “aku rindu aroma anggrek bulan berwarna ungu yang tumbuh di atas pohon maple di tengah hutan, dekat sungai. Tempat kita bermain dulu. Bisa kau petikkan, setangkai saja untukku?!”

“Aku tidak bisa!” jawabnya pelan. Dan saat mendengar jawabannya itu. Entah mengapa tiba-tiba aku merasakan sebuah firasat buruk.

“Tapi aku benar-benar menginginkannya!”

 “KALAU KAU INGIN BUNGA ITU AMBIL SAJA SENDIRI! DAN… MULAI DETIK INI, HUBUNGAN KITA BERAKHIR!” seperti tiba-tiba merasakan granat yang meledak dengan kekuatan dahsyat di dalam dadaku. Nafasku tiba-tiba sesak. Dengan segala usaha, aku mencoba mengendalikan keadaanku.

“Kau tak bisa? Oh..ya, itu pasti akan membuatmu repot. Kalau begitu tak apa. Kau tak perlu mengambilkannya. Tapi kau tak perlu mengucapkan kalimat seperti ‘mengakhiri hubungan kita’. kau tau, itu tidak lucu!”

“Mengertilah Jinki!”

“…..”

“Ku mohon mengertilah keadaanku. Aku masih muda, aku seorang gadis dari anak kepala suku desa ini. Kau sakit parah, kau bahkan tak bisa bangkit dari posisimu sekarang!” aku mulai tak mengerti arah pembicaraan ini. Tapi firasat burukku semakin menjadi-jadi.

“Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?”

“Seperti yang ku ucapkan barusan. Mulai detik ini hubungan kita berakhir. Jangan mengharapkan kedatanganku lagi. Karena aku tak akan datang ke hadapanmu lagi, bagaimanapun keadaanmu. Kau tahu…kita tak bisa bersama. Hubungan ini harus segera di akhiri!”

“Tapi kenapa?” penglihatanku mulai kabur. Entah sejak kapan banyak air yang menempel pada mataku. Aku rasa semenjak gadis di depanku mengatakan ‘hubungan ini harus segera di akhiri’. Kata-kata itu sukses menikamku.

“Kau sakit. Kau tak memiliki kemampuan apa-apa. Di luar sana, terjadi perang dimana-mana. Dunia kacau, dan kehidupanku terancam. Sebagai seorang perempuan aku tak bisa berbuat banyak. Maka aku butuh seseorang yang bisa menjagaku, melindungiku. Bukan seseorang yang hanya bisa merepotkanku, kau tahu maksudku..misalnya aku harus mengurusnya yang sedang sakit!” ucapan itu benar-benar menusuk tepat di jantungku. Perih. Dan aku hampir saja merintih kesakitan di depannya. Tapi bukankah tadi dia bilang, dia tak akan datang lagi, bagaimanapun keadaanku. Jadi untuk apa aku merintih di depannya. Itu hanya semakin membuatku terluka dan terlihat semakin bodoh.

“Tapi aku akan sembuh Jiyeon!” sahutku yang akhirnya membuat Jiyeon mendongakkan kepalanya. Dia menatapku nanar. Semula ku pikir dia menangis, tapi ternyata tidak. Bahkan tak ada satu tetespun airmata yang jatuh dari sudut matanya. Oh, jadi hanya aku yang tersakiti saat ini. Mengenaskan!

“Kapan itu? Apa harus ku tunggu hingga akhir zaman?”

“Kau tak bisa meninggalkanku seperti ini!”

“Kenapa tidak bisa? Kau bahkan tak mempunyai kekuatan untuk mendekatiku! Jangankan untuk mendekatiku. Untuk bangkit dari posisi tidurmu saja, aku sangsi kau mampu melakukannya tanpa bantuan orang lain! Oh ya, Kau tahu kenapa aku tak pernah datang selama enam bulan belakangan, maksudku semenjak keadaanmu seperti ini?”

“Ke—napa?”

“Karena semenjak enam bulan lalu, aku telah menganggapmu mati!” Jiyeon. Gadis yang ku cintai. Inikah ucapan yang tulus dari hatimu. Jiyeon kau benar-benar telah melukai hatiku.

“Pergilah sekarang Jiyeon. Dan datang lagi besok, aku akan menganggap semua ini tak pernah terjadi!”

“Kau pengecut Lee Jinki! Bukankah sudah ku bilang aku tak akan datang lagi. Apa sekarang, kau juga menjadi tuli. Kau menjijikkan!” aku tak sanggup mendengarnya mengatakan hal itu. Dengan tangan yang masih mampu ku gerakkan, aku melempari tubuhnya dengan sebuah vas bunga yang kudapatkan di atas meja dekat tempat tidurku.  Hingga vas itu mengenai sedikit bagian kepalanya.

“Terimakasih atas lemparannya Lee Jinki!” dan dia berlalu…

Begitu saja….

Meninggalkanku…

Tanpa sebuah salam perpisahan…

Dan setelah itu, akupun tak pernah melihatnya lagi….

Sederhana saja. Semenjak kejadiaan itu aku merasa menjadi manusa yang benar sia-sia dan hina. Dulu, aku masih bersikeras tak ingin di asingkan di tengah hutan. Tapi ketika tawaran itu datang kembali. Aku dengan cepat  menyanggupinya. Dan singkat cerita, ayahku sendiri yang membawaku ke hutan. Dia meninggalkanku begitu saja di tengah hutan, di tepi sungai..tempat bunga anggrek bulan berwarna ungu yang ku rindukan tumbuh.

Kau tahu, ayahku bahkan meninggalkanku tanpa makanan. Dan aku tak mempunyai banyak kekuatan untuk bangkit dan mencari makananku sendiri.

Selama beberapa waktu aku dapat bertahan dengan hanya meminum air sungai yang dekat dengan posisiku (tanpa memakan apapun). Aku hidup dalam keadaan yang sangat menderita. Dimana aku hanya bisa berbaring, dan bahkan aku membuang kotoran di tempatku berbaring saat itu (ya, aku hidup bersama kotoranku). Menjijikkan sekali!

Sekarang… aku tak punya siapa-siapa lagi untuk di percayai. Lagipula, aku memang tak membutuhkan seseorang untuk dipercayai. Sebab sebentar lagi aku akan mati disini.

Saat ini harapanku satu-satunya adalah kematian. .

Hingga di suatu malam. Yang saat itu ku yakini sebagai akhir dari hidupku. Di saat rasa lapar benar-benar menderaku dan aku tak punya selera lagi untuk meminum air.

Malam itu, Lee Sung Gi datang, dia bertanya tepat di depan wajahku.

“Kau ingin sembuh anakku? Apakah Kau ingin menjadi abadi. Kau bisa hidup bersama denganku hingga akhir zaman. Kau bersedia?” Dengan kekuatan yang masih aku punya, aku memberikan anggukan lemah padanya untuk menjawab pertanyaannya itu. Aku tak tahu apa yang membuatku mempercayainya semudah itu. Hanya saja, saat melihat wajahnya yang pucat itu tersenyum ke arahku, aku merasa ada sesuatu yang istimewa darinya dan tanpa mengucapkan kata apapun lagi dia menggigit leherku.

“Selamat terlahir kembali dengan kehidupan barumu anakku!”

Seperti yang dia bilang saat itu,“Selamat terlahir kembali dengan kehidupan barumu anakku!”. Ya, aku seperti terlahir kembali. Menjadi sosok yang luar biasa. Bahkan kini aku bisa mengalahkan kecepatan manusia dalam berlari. Dengan kondisiku yang seperti ini, melindungi gadis seperti Jiyeon bukanlah masalah besar lagi.

Tapi siapa yang mengira. Kehidupanku yang seperti ini —kehidupan abadi yang ku jalani sekarang–. Aku justru menyesal memilikinya. Andai mesin waktu benar-benar telah ada. Aku ingin meminjamnya, setidaknya aku ingin kembali di malam itu. Dan aku akan memilih untuk mati daripada harus hidup selama akhir zaman dengan keadaan seperti ini.

Seperti itulah ceritaku Sembilan puluh satu tahun yang lalu. Dan kini aku seperti menemukan kembali sosok Park Jiyeon dalam diri Park Jinyeon. Dan oh Tuhan, nama mereka bahkan hampir sama. Apa mungkin Jinyeon adalah Jiyeon. Jika memang mereka adalah satu, lalu apa yang bisa aku lakukan?

* * *

“Jauhi gadis itu Lee Jinki!” aku terkejut saat memasuki kamarku dan tiba-tiba Kibum menyemprotku dengan ucapannya.

“Ku lihat akhir-akhir ini kau sangat dekat dengannya! Apa kau menjalin hubungan yang istimewa denganya?”

“Tidak sejauh itu, tapi akan ku pikirkan untuk ke tahap itu. Bagaimana menurutmu, dia manusia yang membuatku merasanya nyaman!”

“INI TERLARANG LEE JINKI! KAU TAHU APA AKIBATNYA BUKAN!” tiba-tiba saja Kibum memekik di hadapanku. Kenapa dia? Kenapa bersikap aneh seperti ini.

“Berhentilah bersikap seperti ini. ku rasa apapun yang terjadi dengan kami berdua. Bukanlah urusanmu!” ucapku dengan nada sarkatis di depan Kibum. Kibum menatapku tajam seolah apa yang barusan ku ucapkan adalah hal yang paling dia benci dalam hidupnya.

“Bukan urusanku! Ini tidak fair Jinki” Kibum mendelikku, seolah menusukku dengan kata-katanya.

“Aku rasa kau masih ingat dengan Kim Min Suk? Seorang gadis yang mati di tanganmu! Padahal kau tahu aku mencintainya!” lanjut kibum begitu saja.

Dan diapun meninggalku sendirian. Sementara Aku tiba-tiba terdiam..

Kim Min Suk..

Itu nama seorang gadis yang dulu Kibum cintai. Tapi sayang, Min Suk justru harus mati di tanganku.

Selama ini hubunganku dengan Kibum,  tak bisa dibilang akrab dan baik. Kami justru sering bertentangan pendapat, kami sering terlibat perkelahian. Mungkin tak terlihat selama ini, itu karena Kibum mahir menyembunyikan perasaannya. Dia bisa tersenyum di depanku. Tapi, aku tahu..di balik semua itu dia benar-benar ingin memusnahkanku.

Kim Min Suk, gadis polos yang baik hati. Sikapnya seratus delapan puluh derajat berbeda dengan Park Jiyeon. Min Suk sangat menyukai Kibum, begitupun dengan Kibum. Kibum bahkan pernah bilang kalau Min Suk adalah Narkotika baginya. Dia selalu kecanduan untuk bertemu gadis itu, dia tak sanggup untuk melepaskan Min Suk.

Lalu bagimana akhirnya Min Suk bisa mati di tanganku? Aku rasa cerita itu terlalu mengerikan untuk di ceritakan. Tapi tak ada alasan aku tak menceritakannya.

Sebenarnya cerita ini berawal dari kehidupanku sebagai vampire baru. Aku tak bisa mengendalikan hasrat berburuku dengan baik. Aku akan melahap mangsaku, kapanpun aku merasa lapar. Seperti yang pernah aku terangkan pada Jinyeon. Kami (manusia sejenisku ) hanya akan meminum darah manusia disaat tertentu. Dan biasanya kami akan mendapatkan panggilan untuk melakukan hal itu sendiri. Misalnya adanya hasrat yang luar biasa (hasrat untuk meminum darah manusia), maka itulah saatnya kami meminum darah manusia. Ya, tidak setiap saat hasrat meminum darah manusia itu muncul. Tidak jika manusia yang kami temui adalah manusia biasa, —-manusia yang tidak memiliki aroma yang khas (jinyeon tidak termasuk dalam kategori ini, karena kurasa  Jinyeon sedikit istimewa)—-

 Dan hari itu —tiga hari sebelum akhir tahun 1924—.  Sepertinya aku mendapatkan panggilan pertama untuk meminum darah manusia.

“Jinki! Apa kau melihat Kibum?” seorang gadis berparas manis mendatangiku. Dia memakai dress panjang berwarna cokelat, rambutnya ia ikat satu. Senyumnya terlihat damai di mataku. Tapi aku tak bisa menyentuhnya, sebab Min Suk adalah kepunyaan Kibum.

“Dia  barusan pergi. Dia bilang kau bisa menunggunya  di taman belakang!” jawabku yang dibalas dengan anggukan bersemangat dari gadis itu.

Entah apa yang membuatku menjadi tertarik untuk mengikuti gadis tersebut. Dengan diam-diam, aku mengikutinya yang perlahan menuju taman belakang tempat kami tinggal.

Ku lihat ia mendudukkan dirinya di bangku taman. Angin sore yang berhembus saat itu benar-benar kencang. Dan tanpa aku sadari  panggilan itu mulai mendatangiku.

Jantungku berdegup cepat, seolah aku sedang berlari. Dalam pikiranku terbayang manisnya darah dari tubuh gadis itu. pelan-pelan aku mulai mendekatinya.

“Jinki, ada apa?” Min Suk nampak heran dengan kehadiranku. Tetapi saat itu aku tak menjawabnya, aku hanya berusaha mendekatinya.

“…..”

TAP

TAP

“Jinki..matamu memerah!” saat gadis itu mengucapkannya. Aku mendapatkan informasi baru. Ketika panggilan ini datang, mata kami akan memerah. Seolah menyerupai iblis yang membawa api di matanya.

“Kau ingin bermain denganku sweetheart?” darisini aku mulai kehilangan kesadaraanku. Aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Tapi aku tetap akan menceritakannya, sesuai apa yang diceritan Lee Sung Gi dan Kibum padaku.

Min Suk ketakutan melihat gelagatku yang aneh, dia mundur perlahan dan menjauhiku. Tapi sangat disayangkan kakinya justru tersandung. Dan dia kesulitan untuk bangkit lagi. Selama ini Min Suk tak tahu siapa Kibum, dan aku yang sebenarnya. Dia hanya tahu kami pindah ke desanya karena pekerjaan Lee Sung gi.

“Perlu ku bantu?” ucapku yang kali ini dengan cepat menghampirinya. Ku sentuh kaki Min Suk yang putih, dan dengan pelan aku menggosokkan tanganku. Tak lama kemudian…kuku-ku berubah menjadi lebih panjang dan kehitaman. Kemudian seperti seekor elang yang mendapatkan mangsanya, aku mencengkram kaki Min Suk. Hingga kuku-ku menembus daging kakinya. Tentu saja gadis itu tak berdiam diri, dia berteriak dan Kibum-pun datang saat itu.

Pertarungan antara aku dan Kibum terjadi. Tapi percayalah padaku, seorang vampire yang mendapatkan panggilan berburu darah manusia akan menjadi sepuluh kali lipat lebih kuat dari vampire normal.

Kibum beberapa kali menyerangku, tapi dengan mudah aku dapat dengan mudah menghindarinya.

“BRENGSEK KAU LEE JINKI!” dia memukul perutku. Perih sekali rasanya, dan karena tak terima diperlakukan seperti itu, aku meloncat ke arahnya, dengan gigi taringku yang sudah muncul sedari tadi, ku gigit daun telinga Kibum. Dan sampai sekarang semuanya masih berbekas. Daun telinga  sebelah kanan Kibum terlihat hampir robek. Saat itu aku juga mendapat balasan dari Kibum. Dia menggigit tanganku. Dan sampai sekarangpun di tanganku masih ada luka bekas gigitan Kibum.

Ku singkat cerita ironi itu. Hingga akhirnya Lee Seung Gi datang. Dia menjauhkan Kibum dariku. Saat itu aku ingat, dia bilang…

“HENTIKAN KIBUM! KAU HANYA AKAN MELUKAI DIRIMU! DIA TAK BISA DI HENTIKAN. DIA TELAH DI PANGGIL!”

“TAPI KENAPA HARUS MIN SUK? DIA KEKASIHKU!”

Dan akhirnya Min Suk. Gadis polos itu mati di tanganku..

Sejak saat itu Kibum menjaga jarak dariku. Kami sering terlibat pertengkaran. Dan bahkan aku ingat, Kibum pernah bilang padaku “Suatu saat kau akan menerima balasan dari perbuatanmu itu Lee Jinki”

Aku tak tahu apa maksudnya. Mungkin dia akan membalas sakit hati yang dia rasakan. Tapi saat itu —saat aku membunuh Min Suk—, aku benar-benar dalam keadaan tidak sadar. Seperti yang Lee Seung Gi katakan, aku telah di panggil.

Dan baru lima tahun belakangan. Kibum kembali membuka dirinya untukku. Meski aku tau dia tak sepenuhnya memaafkanku. Tapi sepertinya ia sadar, inilah resiko kami, sebagai makhluk berdarah hitam. Vampire.

“Aku sudah memutuskan. Aku memilihmu Jinki!” ucap Kibum suatu sore di pertengahan musim gugur. Saat aku menanyakan apa dia tak marah lagi padaku?

“Apa maksudmu?” aku meminta penjelasan.

“Min Suk hanya bisa menemaniku sebentar!” dia terlihat menghela nafasnya.

“Dan kau, kita bahkan akan bersama menghabiskan hari-hari sampai akhir zaman, sesuai perjanjian kita. . .  memang sudah sepantasnya bukan aku memilih teman sepertimu! Ah..ku perbaiki, sudah sepantasnya aku memilihmu saudaraku! Daripada seorang gadis yang bahkan akan semakin tua setiap harinya. Berbeda dengan kita yang akan terlihat seperti ini untuk selama-lamanya! Sebentar tak ada apa-apanya dengan selamanya!”

* * *

“Kau akan mengajakku kemana? Apa kita akan bermain baseball?” Tanya Jinyeon saat aku mengajaknya untuk berkeliling wilayah tempat kami tinggal. Dia pindah ke sini untuk tinggal bersama neneknya, karena ayah ibunya telah meninggal. Gadis yang malang.

“Untuk apa? Untuk meniru Edward Cullen-mu itu?” ucapku sarkatis. Ku lihat ia memutar bola matanya. Gadis ini sebenarnya cukup pendiam, dan terlihat misterius. Tapi entah kenapa, saat bersamaku ia justru menampakkan sisi lain dari dirinya. Sisi dimana ia ingin mendapatkan perhatian, sisi dimana ia menunjukkan bahwa ia ingin di temani. Aku ragu..aku bisa memberikan segala hal yang ia inginkan itu. Mengingat aku Lee Jinki, hanyalah seorang Vampire. Dia mungkin berharap aku seperti Edward Cullen. Tapi sepertinya aku tidak sama sekali seperti orang itu. Maksudku, aku jauh lebih tampan.

“Tidak.. hanya ingin mengetes seberapa cepat kecepatanmu itu!”

“Agar ditandingkan dengan si Edward Cullen? Lagipula aku tak bisa bermain baseball!”

“Bukannya kau yang menyuruhku jangan mengucapkan nama Edward Cullen lagi. Tapi sekarang justru kau yang terus menerus mengucapkan nama itu!” aku hanya terkekeh melihatnya yang nampak menggerutu. Dia terlihat semakin manis saja.

“Kita akan pergi ke pantai Jinyeon!”

“Bukannya pantai tempat terlarang untuk kau datangi?”

“Cih! Sudah ku bilang aku berbeda! Aku ini nyata, dan si Edward-mu itu tidak!” dia tak menyahutku lagi. Dia nampak terdiam, larut mengamati pemandangan dari kaca mobilku.

*

*

*

“Darimana saja kau?”

“Sejak kapan aku perlu melapor padamu tentang kemana saja aku pergi ?”

“Jinki…maafkan aku soal itu!” aku menatap Kibum. Sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikannya. Aku tak tahu apa itu, tapi semua itu sepertinya hal buruk. Sayang sekali, kemampuanku untuk membaca pikiran hanya bisa digunakan pada manusia. Pada vampire mungkin bisa, tapi hanya berupa firasat. Seperti yang aku rasakan sekarang.

“Aku tak pernah menganggapmu berbuat salah. Aku pergi ke atas dulu!” ucapku sambil berlalu. Aku tak ingin ambil pusing.

*

*

*

Sudah Sembilan puluh satu tahun aku tak pernah tertidur. Aku bahkan lupa bagaimana caranya tidur dan bagaimana rasanya tidur. Bicara tentang tidur, entah apa hubungannya aku tiba-tiba mengingat Jinyeon. Ku raih selfonku dan ku putuskan untuk menghubunginya.

“Apa kau sudah tidur?” ucapku pada telpon yang tersambung ke telpon Jinyeon. Ku dengar ia menggerutu pelan.

“Tadinya aku sudah bermimpi. Tapi karena telpon darimu aku terbangun. Ada apa?”

“Aku merindukanmu!” ucapku cepat dan spontan. Ya ampun, barusan apa yang aku katakan padanya.

DEG

“Aku juga!”

“Kau mau jadi kekasihku?” yang ini jauh lebih absurd. Sepertinya aku sudah tidak waras. bisa membantuku membenturkan kepala ke tembok?

“Apa tidak berbahaya jika aku menjadi kekasihmu?” ooh..syukurlah dia tak langsung menjawab pertanyaanku. Jika ia bilang ya, mungkin aku akan mendatanginya saat ini juga dan memeluknya, tapi jika ia bilang tidak. Mungkin aku akan mendatanginya dan langsung menggigitnya. Aku Vampire, jangan sembarangan menolak cintaku!

“Tentu saja berbahaya, kau tahu..aku vampire!”

“Maksudku..bukan aku, tapi orang-orang terdekat kita. Apa mereka dalam bahaya juga!?”

“Tergantung!”

“Baiklah, sepertinya menyenangkan! Mulai saat ini..kita —Aku dan kamu pacaran—!” saat mendengarnya berucap seperti itu aku merasa kesadaranku hampir hilang.

*

*

*

Satu minggu pertama. Hubunganku dengan Jinyeon berlangsung baik. Kami sering menghabiskan waktu bersama. Tapi hubunganku dengan Kibum semakin merenggang. Aku tidak tahu kenapa, tapi ia selalu menghindariku.

Saat di rumah. Ia akan mengurung dirinya di dalam kamar dan tidak akan keluar selama aku berada di luar kamarku. Ayahku —Lee Seung Gi— menyadari hal ini, ia sempat menanyakan sebab dari renggangnya hubungan kami. Aku tak bisa menjawab apa-apa. Aku hanya bilang mungkin Kibum yang bisa menjelaskan alasan semua ini. karena aku benar-benar tak tahu apa-apa. Tapi semakin hari, firasat burukku semakin menjadi-jadi.

*

*

*

“Sampai jumpa nanti sore!” aku mengangguk pelan pada Jinyeon yang nampak sedang tersenyum di depan pintu rumahnya. Dan setelah melihatnya masuk ke dalam rumah, dengan pelan ku injak gas mobilku.

Rencananya sore nanti, kami akan berkencan. Sekedar menghabiskan waktu bersama. Tapi pemikiranku tentang kencan kami tiba-tiba terganti saat melihat sosok Kibum yang nampak sedang bersembunyi di balik pohon yang tumbuh tak jauh dari rumah Jinyeon.

Apa yang dilakukan Kibum? Rasa penasaranku membuatku merasa harus menyelidiki hal ini. Tapi aku tahu, Kibum menghindariku. Maka aku pura-pura tak melihatnya dan melajukan mobilku. Setelah merasa jarakku cukup jauh dari Kibum, aku menghentikan mobilku dan keluar.

Aku menemukan Kibum di depan pintu rumah Jinyeon. Ku lihat ia menggerakkan kepalanya dan alangkah terkejutnya aku saat menemukan Kibum merubah wajahnya menjadi wajahku. Apa yang sebenarnya ia rencanakan?

“Jinki, apa yang kau lakukan? Bukannya tadi kau sudah pulang?” ku dengar Jinyeon bertanya kebingungan pada Kibum yang menjelma menjadi sosokku. Tentu saja Jinyeon tak bisa menyadari bahwa itu bukan aku. Oh, sekarang firasat burukku semakin menjadi-jadi.

“Aku hanya merasa kita harus pergi sekarang!”

“Kemana?”

“Berkencan?”

“Bukannya kita janji berkencannya nanti sore?” bagus Jinyeon. Kau harus curiga seperti itu. kau tak boleh begitu saja percaya dengan apa yang Kibum ucapkan untuk menipumu.

“Menunggu sore terlalu lama untukku!” dan SHIT Kibum sepertinya berhasil mengelabuhi Jinyeon. Merekapun akhirnya berjalan berdua menyusuri jalan. Aku masih mengikuti mereka dari belakang. aku yakin Kibum mempunyai niat lain, aku tak percaya dia hanya berniat ingin mengajak Jinyeon bicara.

*

*

*

Kibum mengajak Jinyeon pergi ke bukit dekat rumah Jinyeon. Sejauh ini Kibum tak melakukan hal apapun, dia hanya mengajak Jinyeon mengobrol. Dan sepertinya mereka cukup bisa berkomunikasi dengan baik.

Tiba-tiba saja angin berhembus kencang. Dan Oh SHIT! Aku melihat mata Kibum memerah. Apakah mungkin dia mendapatkan panggilan. Dan manusia yang menjadi tumbal kali ini adalah Jinyeon, kekasihku. apa kejadian beberapa tahun lalu, aku kembali terulang? haruskah terbalik seperti ini..

“Kau mau bermain denganku sweetheart?” seperti melihat reka adegan ulang, dimana aku menghabisi Min Suk. Kibum bahkan mengucapkan kata-kata yang sama, yang ku gunakan saat mendapat panggilan meminum darah manusia ( saat itu darah Min Suk ).

“Apa maksudmu?”

“Kau hanya perlu memberikan darahmu untukku!”

“Jinki kau..AAAAA!” Kibum cepat sekali, dia bahkan menggunakan kukunya untuk mencakar dada Jinyeon. Darah menyembur dimana-mana. aku ingin menghentikan Kibum, tapi aku merasa seperti tak memiliki kekuatan untuk itu.

“KIBUM!” ucapku memanggil namanya. Kibum menoleh padaku, matanya merah menyala. Yah, memang persis seperti iblis yang membawa api di matanya.

“TAPI KENAPA HARUS JINYEON? DIA KEKASIHKU!” jeritku, mengulang apa yang Kibum ucapkan dulu. Aku tak memukul ataupun memberikan serangan pada Kibum. Aku ingat, ayahku bilang itu percuma. Dan lagipula, Kibum bukanlah musuhku. Dia adalah saudaraku sendiri. aku tak mungkin menyakitinya.

“Ji..ji..jinki? kau..ada dua?” Jinyeon di tengah masa-masa sekaratnya menatapku dengan nanar. Aku tak kuat melihat semua ini, aku melangkah perlahan menjauhi dua orang yang ku sayangi yang sedang melakukan hal paling ironis di dunia. Saudaraku dan kekasihku…aku tak bisa memilih siapapun. Karena pada akhirnya hanya ada kata percuma di akhir ceritaku.

* * *

Saat aku datang kembali untuk menemui Kibum. Aku melihat Kibum duduk lemas sambil bersandar pada batang pohon. Nafasnya tersengal, noda darah melumuri pakaiannya.

“Sudah selesai?”

“Seharusnya kau hentikan aku! kau tahu, aku sudah menyadari panggilan ini beberapa minggu belakangan! itulah alasan mengapa aku menyuruhmu menjauhinya. Aku tak mau kau merasakan sakit yang dulu aku rasakan!” ucapnya sambil menyapun noda darah di sudut bibirnya. Aku hanya tersenyum tipis, sambil menepuk pundaknya.

“Sekarang kita sudah 1- 1. Kita seri Kibum. Dan mari hentikan permainan ini!”Ucapku sambil mengedarkan pandanganku, hingga  aku menemukan sosok yang tak asing, berada sekitar dua meter di depanku. Itu tubuh Jinyeon yang terlihat dilumuri banyak darah. Aku berjalan pelan mendekatinya. Ku taruh setangkai bunga anggrek bulan berwarna ungu. Ku letakkan tepat di dadanya.

Wajahnya benar-benar pucat. Aku tak tahu, apa yang terjadi beberapa menit lalu. Aku tak tahu, sekeras apa dia meneriaki namaku. Mungkin dia membenciku. Saat yang ia lihat akulah yang membunuhnya.

“Dia bilang..dia bahagia. Gadis gila! ” aku tersenyum mendengar ucapan Kibum. Hey Jinyeon, dia sudah mengataimu gadis gila! Apa kau tak ingin membalasnya?

“Hum..dia seorang pemimpi, bahkan sampai akhir hidupnya! Dia masih mengira aku Edward Cullen yang akan melakukan apapun demi keselamatannya!”

“Nyatanya?” Tanya Kibum menghampiriku.

“sSperti yang kau bilang Kibum.. kita bahkan akan bersama menghabiskan hari-hari sampai akhir zaman, sesuai perjanjian kita. . .  memang sudah sepantasnya   aku memilihmu saudaraku! Daripada seorang gadis yang bahkan akan semakin tua setiap harinya. Berbeda dengan kita yang akan terlihat seperti ini untuk selama-lamanya! Sakit sebentar tak ada apa-apanya dengan persaudaraan selamanya!”  aku berjalan menuju arah mobilku. Ku dengar derap kaki Kibum mengikutiku dari belakang.

Jinyeon. Entah kehidupan selanjutnya itu benar-benar ada atau tidak. Tapi jika Sembilan puluh satu tahun yang akan datang nanti, kita dipertemukan kembali. Aku ingin mengulang semuanya. Aku akan memperbaiki kesalahanku. Aku tak ingin membiarkan seorangpun mengetahui identitasku. Jika dengan semua itu hanya akan membuat orang yang ku sayangi dalam bahaya, seperti yang terjadi saat ini.

Maaf untuk kehidupanmu kali ini. aku bukanlah pangeran tampan yang dapat membahagiakanku. Aku bukan Edward, vampire hayalanmu yang akan melakukan apapun demi keselamatanmu. Aku hanya Lee Jinki.  Aku vampire biasa. Yang justru hanya bisa membahayakan hidupmu dan membuatmu mati mengenaskan. Jinyeon, sekali lagi aku minta maaf..karena aku hanyalah seorang vampire.

Sampai berjumpa Sembilan puluh satu tahun yang akan datang sweetheart!

–Selalu ada pilihan untuk sebuah akhir disetiap cerita (Rasyifa)—

FIN

 

Interest read another fanfic? visit Fanfiction Library

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

32 thoughts on “SHINee Fanfic Fantasy // Sorry I am Vampire Part 2 || FINAL CHAPTER

  1. o-ooowh~ unexpected ending~ hehehehehe~ jinkibum polepel😀

    Suka

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s