Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

Huba-hubi story

Fanfiction Romance Onew // Huba-Hubi Story Part 2

44 Komentar

Huba-hubi story

  • Title : Huba, Hubi Sweet Story
  • Author : Rasyifa|| https://rarastory.wordpress.com
  • Main Cast :
    – You as Kim ____ [ Hubi ]
    – Lee Jinki/ Onew SHINee as Lee Jinki/Onew [ Huba ]
  • Another Cast : Find By Your Self
  • Genre : Romantic, Comedy
  • Rating : General –Teen-
  • Length : TwoShoot

( Part 1 | Part 2 )

Huba, Hubi Story

Written by Rasyifa || https://rarastory.wordpress.com

* * *

Sudah dua minggu semenjak kejadian malam itu.

Komunikasi kami semakin merenggang. Aku tidak tahu kenapa. Tapi dua minggu ini, Onew oppa tak pernah mengantarkanku pulang atau mengajakku ke Toko Buku. Dia hanya mengirim sebuah pesan setiap malamnya dan isi pesan itu selalu sama.

From : Huba

Selamat tidur. Semoga tidur nyenyak dan jangan bangun kesiangan.

Aku hampir bosan membaca pesan itu. Hingga tiga malam terakhir, aku tak pernah membalasnya lagi.

Yang ku lihat,di Sekolah Onew oppa justru semakin akrab dengan gadis bernama Hyemi itu.

Jadi..

Apa benar Onew oppa menyukai gadis itu juga? Lalu, bagaimana denganku?

“Sudahlah. Jangan terlalu di pikirkan. Mungkin Onew sunbae memang sedang sibuk. Bagaimana jika kau ikut aku ke Mall? Aku ingin mencari kado untuk Minho. Hari ini, tepat dua bulan kami jadian!” Narim mengelus belakangku dengan lembut. Meskipun terkadang menyebalkan. Tetapi Narim selalu bisa menghiburku. Dia selalu menjadi tempatku untuk bercerita.

Tunggu..

Berbicara tentang hari jadi. Sepertinya, aku hampir melupakan…

“Narim, sekarang tanggal berapa?”

“Dua puluh satu November. Kenapa?”

DEGH..

Tanggal 25 November, adalah hari dimana kata sederhana itu terucap.

“Kalau kau tidak keberatan. Aku mau, kau jadi pacarku!”

Degh..

Dia menghentikan langkahnya. Menundukkan tubuhnya, menatapku yang memiliki tubuh jauh lebih pendek darinya. Heh, kenapa aku terlahir bertubuh pendek?

“Em..baiklah!”

Tinggal, empat hari lagi. Maka …genap dua tahun kami menjalin hubungan ini.

“Ya ____! Kenapa kau justru melamun!”

* * *

“Apa aku juga harus memberikannya hadiah? Tapi hubungan kami sedang tidak baik!” Aku berjalan disamping Narim yang nampak sibuk memilih kemeja pria. Beberapa kali ia berdecak kesal saat menemukan model yang bagus, tetapi ukuran yang tidak sesuai dengan Minho—kekasihnya selama dua bulan ini—.

“Justru karena hubungan kalian sedang tidak baiklah. Kau harus berusaha memperbaikinya. Dengan memberikan hadiah. Pasti akan memperbaik keadaan!” Aku tersenyum kecut mendengar apa yang barusan Narim ucapkan.

Hadiah memperbaik keadaan?

Saat hari jadi kami yang ke satu tahun. Aku memberikannya sebuah jaket, dan dia mengajakku ke toko buku. Lalu memberikan sebuah buku. Dia tak bilang, buku itu sebagai hadiah hari jadi. Tapi karena hari itu bertepatan. Maka ku anggap saja buku itu, hadiah darinya.

“Kau tak mau memilihkan kemeja untuk Onew Sunbae?”

“Tidak. Aku tidak tertarik memberikannya kemeja!” Ucapku sambil melangkah menuju rak boneka yang tergeletak berseberangan dengan tempatku sekarang.

Ada sebuah boneka yang membuatku tertarik.

Boneka dengan warna kuning yang dihias bercak-bercak hitam.

Memiliki ekor panjang yang terlilit lucu.

Mata bulat besar, daun telinga pendek, dan..bola mata yang besar.

HUBA!!

Tiba-tiba aku ingin memiliki boneka marsupiami di depanku ini. Dan aku ingin memberikannya pada Onew Oppa.

“Lucu sekali!”

“Aku ingin memberikannya pada Onew Oppa!”

“Memberikan boneka pada seorang laki-laki sebagai hadiah di hari jadi?” Narim mengambil boneka marsupiami itu dari rak, dan mencubit hidung boneka itu dengan gemas.

“Tidak ada undang-undang. Lelaki tak boleh menerima boneka sebagai hadiah hari jadi bukan?” Ucapku sambil melepaskan boneka itu dari tangan Narim. Aku tak ingin Narim merusaknya.

* * *

Aku harap dia menyukai hadiahku..

Aku harap saat dia melihat hadiahku, dia akan tersenyum manis.

Huba!

Hubi!

Aku juga berharap hubunganku dengan Onew oppa bisa seperti pasangan marsupiami. Huba & Hubi.

“Wa..lihat, perhiasannya keren-keren sekali. Kapan Minho memberikan hadiah yang seperti itu padaku?!” Aku ikut memperhatikan rak perhiasan yang dimaksud Narim.

Ya, deretan perhiasan itu begitu cantik.

Cahaya lampu membuat mereka terlihat semakin berkilau.

“Kau suka yang ini? Yang ini terlihat cantik!”

“Selera yang buruk! Sebagai seorang gadis, aku akan menolak jika kau memberikannya untukku! Itukan model ibu-ibu!”

“Oh. Kalau begitu tunjukkan padaku, seleramu sebagai gadis. Pilh yang mana yang kau suka?”

“Kau menyuruhku memilihnya sendiri?”

“Apa boleh buat, ini karena sedari tadi kau selalu menyalahkan dan memperolok seleraku!”

“Haha..!”

Katakan apa yang aku lihat barusan tidak benar. Katakan bahwa yang di depanku sekarang bukanlah Onew oppa dan…gadis bernama Hyemi itu.

“_____, kau melihatnya?”

“……..”

“_____, kau tak apa-apa?”

Mereka berdua terlihat sangat akrab. Seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih.

“_____, mungkin semua yang kita lihat tidak seperti kenyataannya!”

“…….”

Aku pikir, Onew oppa seorang Sunbae populer yang berbeda. Ku pikir dia tidak tertarik dengan gadis lain. Ku pikir dia itu dapat dipercaya.

“Narim. Bisakah kita pulang sekarang?”

“Eoh? Baiklah!”

Jadi seperti ini rupanya.

Dua minggu seolah menjauhiku, karena gadis itu.

Selama dua tahun belakangan, kau bahkan hanya mengajakku ke toko buku. Memberikanku sebuah buku yang bahkan sulit untuk kubaca.

Tapi dengan gadis itu…

Dua minggu jauh dariku, dan kau mengajakknya ke toko perhiasan. Memberikan perhiasan yang berkilauan.

“_____, mungkin Onew sunbae memiliki alasan lain!”

Ya. Mungkin dia memang memiliki alasan lain. Tapi siapa tahu, jika dia hanya mengada-ada. Yang ku percayai sekarang, adalah apa yang ku lihat dengan mataku sendiri.

* * *

Narim tak mengeluarkan sepatah kata apapun. Beberapa kali ku lihat ia menatapku dengan cemas. Sementara aku tak berniat mengajaknya mengobrol.

Sejak pagi tadi, hingga waktu istirahat kedua. Aku tak banyak berbicara padanya. Aku sendiri bahkan merasa enggan untuk membuka mulut, setidaknya untuk sedikit berbicara.

“_____, jangan seperti ini! Bicara saja. Tumpahkan segala perasaanmu!” Sedikit mendongak, dan ku lihat Narim menatapku dengan penuh iba.

“Apa yang harus ku tumpahkan? Kau sendiri bahkan melihatnya kemarin.”

“Tapi mungkin saja tidak seperti yang kita lihat.”

“Seberapa mungkin? Bahkan selama dua minggu ini dia menjauhiku. Dan gadis itulah penyebabnya!” Aku hampir menitikkan airmataku. Aku benar-benar tak sanggup lagi menahan ini semua.

“Narim. Selama dua tahun ini, dia memperlakukanku tidak selayaknya memperlakukan seorang gadis yang ia sukai. Dia selalu mengajakku ke toko buku, tanpa memikirkan apa aku menyukainya? Tanpa mempedulikan kemungkinan aku bosan? Dia bahkan tak pernah mengajakku untuk pergi ke Sekolah bersama. Tak pernah menjemputku di kelas. Bukankah ini aneh?” Narim mengangguk lemah padaku, sambil menghela nafas pendek. Sementara aku mulai tak bisa mengendalikan diri.

“Baginya…mungkin aku bukan seorang gadis yang pantas untuk diperlakukan sebagai kekasih. Kau tahu ini menyakitkan? Dia benar-benar mempermainkanku!” Aku menghela nafasku pelan.

Benar. Onew oppa, orang itu mempermainkanku.

Tiba-tiba mengaku bahwa aku adalah pacarnya. Lalu memperlakukanku sesuka hati, mentang-mentang aku tak pernah mengeluh padanya.

Dan terakhir, setelah mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku.

Tanpa mempedulikan perasaanku. Dia meninggalkanku.

Mungkin seperti caranya di waktu itu.

Secara tiba-tiba menjadikan aku pacarnya.

Dan secara tiba-tiba juga dia memutuskan hubungan ini.

Perfect!

Melambungkanku hingga menyentuh awan, dan tiba-tiba menghentakkanku hingga dasar bumi.

“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?” Aku mendongak dan tersenyum sedikit licik.

“Melanjutkan hidup. Dan membuat penderitan yang sama terhadap orang yang telah membuatku menderita!”

* * *

24 November

Aku berjalan melewati lelaki itu. Dengan sengaja tak menoleh padanya, seolah-olah aku tak melihatnya.

Onew oppa, kau pikir hanya kau yang bisa menyakiti hati orang? Aku juga bisa, jika aku mau.

“Datangya Sunbae ke acara ulang tahunku yang ke enam belas tahun!” Ucapku sambil menyerahkan beberapa undangan yang sudah diberi nama.

“Wah..pacar Onew ulang tahun rupanya! Asyik..bisa makan besar malam ini!” Aku hanya tersenyum canggung. Masih berusaha untuk tidak melihat ke arah orang yang namanya disebut-sebut dalam pembicaraan ini.

Oh yang benar saja. Aku pacarnya.

Bahkan aku tak menempelkan namanya pada salah satu undangan yang barusan ku berikan pada seorang Sunbae lelaki di depanku.

“Jangan lupa bawa undangannya Sunbae. Karena tanpa undangan, berarti tidak bisa masuk.” Ucapku kali ini sambil tersenyum lebar. Ku rasa, ada seseorang yang sedang menatapku.

Saat aku melirik dengan sudut mataku…

Perfect sekali.

Orang itulah yang sedang menatapku. Pandangannya mungkin datar, tapi dari matanya itu seolah menyiratkan kebingungan.

Oh tunggu, aku baru sadar. Kalau dia dan gadis itu ternyata teman sebangku. Bagus sekali permainannya.

Aku saja kesulitan untuk berdekatan dengannya.

Tapi dia dan gadis itu justru duduk sebangku.

“Undangan untuk Onew tidak ada ya _____?” Ucap Sunbae itu sesaat menyadari nama orang itu tak tercantum dalam undangan.

“Kau ini yang benar saja. Dia itukan pacarnya, mana mungkin tak diundang!” Hanya tersenyum kecil, dan beranjak meninggalkan tempat itu. Sebelum semuanya menyadari kenjanggalan ini.

Lihat..Lihat Onew Oppa!

Aku juga bisa melakukannya bukan?

Meski sebenarnya, sangat sulit sekali.

* * *

Seharusnya akan menjadi sangat membahagiakan.

Dihari ulangtahunku yang ke enam belas tahun, adalah hari dimana hubunganku dengan onew oppa juga menginjak angka dua tahun. Tapi seperti yang sering orang-orang katakan, terkadang apa yang kau inginkan..tak semuanya bisa menjadi kenyataan.

Dan tak semua cerita cinta berakhir bahagia.

“Selamat ulangtahun _____!”

“Selamat ya _____!, semoga apa yang kau inginkan tercapai!”

“Selamat ulang tahun ya _____, semoga semakin pintar dan cantik!” Membalas satu demi satu ucapan itu dengan senyuman dan ucapan terimakasih singkat. Meski terdengar mudah, tapi sedikit melelahkan juga jika harus membalasnya puluhan kali.

“Kau benar-benar tak mengundangnya? Tapi ku lihat ia datang ____!” Narim datang padaku sambil memberikanku handphoneku yang sebelumnya tertinggal di rumah. Untung Narim belum datang kesini, jadi aku bisa memintanya untuk ke rumahku dulu dan mengambilkannya. Dia memang teman yang baik.

Aku memang tidak menggelar pesta ulangtahunku di rumah, karena takut akan sangat merepotkan. Jadi aku merayakannya di restoran milik keluargaku, dekat taman kota.

“Dia datang? Tapi dia tak mungkin bisa masuk. Kau tahu, ada banyak petugas keamanan disana!” Ucapku acuh, sambil sibuk memeriksa handphoneku.

Ada tiga puluh pesan. Dua puluh diantaranya, adalah ucapan selamat ulangtahun dari teman-temanku yang tak bisa hadir ke pesta ini. Dan sepuluh lagi dari orang itu.

From : Mantan Huba

Kau tidak mengadakan pesta di rumahmu? Kenapa?

Dia bertanya padaku kenapa? Apa itu urusannya?

From : Mantan Huba

Kau lupa memberikanku undangan? Aku tak bisa masuk. Datanglah ke luar!

Aku tertawa sendiri membaca pesan itu. Yang benar saja, dia menyuruhku keluar, hanya untuk menjemputnya. Memangnya siapa dia?

From : Mantan Huba

Apa aku harus masuk melalui pintu khusus?

Pesannya yang ini semakin membuatku tertawa. Pintu khusus? Apa dia pikir, dia tamu spesial malam ini. Oh come on! Bahkan oppa kandungku juga harus memperlihatkan kartu undangan pada petugas untuk masuk ke dalam. Dan dia yang bukan siapa-siapa untukku, ingin masuk melalui pintu khusus.

Sebenarnya masih banyak pesannya yang lain. Tapi ku putuskan untuk tidak membaca. Lagipula tak ada gunanya-kan?

“Kau tidak merasa ini terlalu berlebihan,____?” Aku menggeleng pada Narim, sambil menunjukkan senyum termanisku.

“Aku hanya tak mengundangnya. Bukan berselingkuh di belakangnya! Lagipula ini bukan masalah besar!” Kali ini aku menarik Narim menuju panggung.

Sudah saatnya memotong kue.

“_____, kau harus tau. Tidak selamanya perasaan itu bisa diungkapkan melalui ucapan!”

* * *

Ku pikir akan benar-benar menyenangkan dan mudah. Tapi saat aku berdiri di depan sebuah kue yang dihias sebatang lilin yang menyala. Sesuatu mencolos…

Kenapa hanya ada satu lilin kecil di kue ku?

Dan saat melihat api kecil yang membakar sumbunya, aku teringat orang itu.

Apa dia masih di luar? Apa dia masih menungguku?

Apa benar yang Narim ucapkan padaku, kalau ini terlihat keterlaluan.

Tapi bagaimana dengan dia sendiri, dia bahkan memperlakukanku secara tidak adil?

Dia tak pernah bersikap manis dan romantis kepadaku. Padahal pasangan kekasih yang lain sedang sibuk bermesraan.

Dia juga tak pernah menciumku. Menggengam tanganku-pun sepertinya dia enggan.

Apa yang seperti itu tidak lebih keterlaluan? Lagipula..bukankah dia sudah menghianatiku? Dia berselingkuh di belakangku.

“Saatnya make a wish _____, dan tiup lilinnya!”

Oh, apa yang barusan aku lakukan? Melamun di depan kue ulangtahunku dan membuat orang menatapku aneh.

Bodoh sekali..

Baiklah, permintaanku di hari ulangtahunku.

Aku tak meminta banyak Tuhan, aku sudah cukup berterima kasih atas segala yang Kau berikan padaku. Kedua orang tuaku yang mencintaiku, meski sekarang mereka tak bisa hadir disini. Oppa kandungku yang menyebalkan tapi jauh dibalik itu aku menyayanginya, sahabatku Narim..yang sangat baik dan orang itu, onew oppa.

Aku ingin, dia…

Seperti yang Kau tahu. Awal dari hubungan kami. Tak ada kata suka darinya untukku. Tak ada kalimat romantis yang pernah ia berikan untukku. Tak masalah untuk semua itu. Biar semua menjadi masa lalu yang dapat ku jadikan pelajaran. Ya Tuhan, sekarang yang ku inginkan hanyalah orang yang dapat tulus mencintai-ku. Tak mesti onew oppa, siapapun dia. Aku ingin dia menjadi yang terbaik untuk untukku.

Fiuh~

Prak..prak..

* * *

Satu persatu teman-temanku dan para undangan lainnya meninggalkan tempat pesta ini. Hingga kini yang tersisa hanyalah aku, oppaku, Narim dan beberapa pelayan yang ditugaskan untuk menyiapkan pesta—-yang justru sekarang sibuk membersihkan sisa-sisa pesta beberapa jam yang lalu—.

“Nona, tadi di luar ada seseorang yang terus memaksa masuk. Dia mengaku teman dekat nona,”salah seorang pelayan menghampiriku dengan badan yang sedikit membungkuk dia bicara canggung.

“Bukankah sudah ku bilang. Tanpa undangan tidak boleh masuk. Jika orang itu tidak memiliki undangan berarti dia tidak bisa masuk, meskipun dia mengaku teman dekatku sekalipun. Lalu bagaimana akhirnya? Apa dia masih menunggu sampai sekarang?” Pelayan itu menggeleng ke arahku.

Apa yang pelayan ini maksud adalah Onew oppa?

Ya, tentu saja. Lagipula siapa lagi kalau bukan dia.

Hanya dialah orang terdekat yang tidak aku undang, bahkan Hyemi-pun aku undang.

“Kalau begitu saya permisi dulu nona!” Memberikan anggukan sekilas, sebagai bentuk persetujuan.

* * *

“Harusnya kau memberikan kue ketiga untuk Kibum. Pasti anak culun itu akan semakin menyukaimu. Kau tidak lihat saja tadi, wajahnya benar-benar berharap kau akan memberikannya kue. Terlebih kau sempat mengerjainya bukan?” Ku tanggapi ucapan Narim dengan tawa. Benar, tadi aku memang sempat mengerjai Kibum—anak culun satu kelas denganku—, aku berjalan ke arahnya seolah-olah akan memberikan potongan kue yang ku bawa untuknya. Tapi saat berada di depannya, aku membelokkan langkah menuju Narim.

Sekarang kami sedang melangkah ke luar restoran.

Aku memutuskan pulang bersama Narim.

Pak..Pak..Pak

“______!”

Menghentikan langkahku, saat mendengar seseorang menyebutkan namaku. Saat aku menoleh, ku lihat sosok lelaki jangkung dengan mata sipit berdiri di depanku.

Dia terlihat sangat tampan, meski di tengah redupnya cahaya malam.

Dengan balutan kemeja biru muda, rambut hitam kecoklatan, dan celana jeans berwarna hitam. Dia terlihat sangat tampan.

“Baiklah _____, ku rasa aku harus pergi lebih dulu!” Narim tanpa persetujuanku, melangkah cepat meninggalkanku. Hingga membuat kecanggungan menyeruak diantara aku dan lelaki di depanku.

“Selamat ulangtahun!” tersenyum manis sambil menyodorkan sebuah buku di depanku.

Oh. Tuhan! Buku lagi?

Tidak ada boneka beruang atau mungkin sebuket bunga yang harum di hari ulangtahunku?

“Tadi aku mencoba masuk. Tapi karena tak punya undangan..aku akhirnya menunggumu. Aku sudah mengirimkanmu beberapa pesan dan juga menghubungi nomer ponselmu. Tapi ku pikir, kau tak sedang menyentuh ponselmu!” Aku mencoba memandang matanya. Sungguh, dari matanya itu seolah-olah dia benar-benar sedang tak tau apa-apa.

Lelaki penipu yang handal.

“Kenapa oppa tak punya undangan?”

“Huh?eum..itu pasti karena lau upa memberikannya-kan?”

“Haha..iya, aku memang lupa. Lebih tepatnya sengaja untuk melupakannya!” Aku mulai tak tahan dengan semua ini. Ku pikir saat-saat inilah yang tepat untuk mengakhiri semua ini. Tak peduli bagaimana reaksinya, tak peduli dengan apa yang terjadi esok hari.

“Maksudmu?”

“Sudahlah..berhentilah berakting. Aku memang bukan gadis yang pantas untuk oppa. Aku tahu, aku hanya junior dengan wajah standar, tidak menarik, dan tidak membuat bangga kekasihnya. Oleh sebab itu aku pantas diperlakukan seenaknya.”

“Kau sedang bicara apa?”

“Bersamaku, oppa hanya bisa mengunjungi toko buku. Membaca buku bersama. Menjalani hari yang monoton. Jarang tersenyum dan bahkan bicara sekedarnya. Tapi bersama gadis lain, oppa bisa menjadi lelaki yang romantis. Mengajaknya berkencan ke sebuah mall, membelikannya perhiasan, atau bahkan melakukan hal yang tak pernah kita lakukan. Menyentuh tangannya, mungkin?” Berhenti sejenak, mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang masih ada. Hari ini aku sudah cukup lelah. Tapi, ku harap ini kali terakhirnya aku lelah karena lelaki di depanku ini.

“Aku lelah oppa. Jika memang oppa tak menyukaiku. Jika memang oppa tak menginginkanku, oppa cukup katakan. Kita bisa mengakhiri semua ini sebelum terlambat. Oppa tak perlu memaksakan diri bersamaku, jika dengan bersama perempuan lain oppa lebih bahagia. Lagipula, apa oppa pernah memikirkan perasaanku? Memikirkan kemungkinan bahwa aku bosan bersama oppa. Baiklah, aku pikir ini saatnya untuk mengakhiri ini semua. Maaf atas segala kesalahanku selama ini. Sampai jumpa. Ku harap kita akan tetap bisa berteman!” aku berjalan pelan melewati lelaki itu.

Sebenarnya langkah ini terasa berat..

Dan, oh..aku sedikit berharap dia menyelaku. Menghentikanku. Dan bilang, tak perlu ada yang diakhiri….

Dlup

Pluk

Dugh..dugh..dugh

“Tidak bisa semudah ini.” Aku terdiam, saat menyadari seseorang memelukku dari belakang. Pelukan yang teramat erat.

“Dia hanya temanku _____, tolong jangan salah paham!” Kemudian dengan pelan orang itu, membalikkan tubuhku.

“Jika kau memasalahkan tentang gadis bernama Hyemi itu. Maka percayalah, kami hanya teman. Satu-satunya pacarku adalah kau, _____. Dia membantuku untuk mencarikanmu hadiah. Lihat ini!” sebuah kalung berwarna putih, dengan bandul berbentuk marsupiami.

Hubi?

“Kau ingat ini? Ini Hubi, kau. Dan aku Huba. Mungkin akan terdengar lucu jika aku menceritakannya sendiri. Tapi percayalah! Aku selalu berharap bisa memanggilmu seperti itu. Tapi aku bukan lelaki romantis, aku bukan orang yang mudah seperti itu. Mungkin akan terdengar aneh, jika ku bilang aku sengaja membuatmu bosan bersamaku. Maksudku aku mungkin bisa berpura-pura menjadi lelaki romantis untukmu. Aku bisa memberikan apa yang diberikan lelaki lain untuk kekasihnya. Tapi apa gunanya semua itu? Bukankah kita tak bisa menjalani hari seperti itu selamanya? Pada akhirnya, semuanya akan terungkap dan kembali kepada sewajarnya. Semua yang romantis lambat laun akan menghilang. Aku tak ingin kau terkejut dengan perubahan semacam itu. Hingga di akhirnya akan ada kata kata semacam “Kau berubah” atau mungkin “Kau tidak seperti dulu lagi!”. Aku ingin mengenalkanmu pada dunia nyataku. Pergi ke toko buku setiap minggu, menghabiskan berjam-jam waktuku disana.” Aku terdiam mendengarnya bicara seperti itu. Aku tak menyangka jalan pikirannya sepanjang itu.

“Aku mengenalkanmu pada kehidupanku yang sebenarnya. Tidak ada yang ku buat-buat, tidak ada yang ku sembunyikan _____. Membosankan, tapi itulah kenyataan. Dan aku kagum, kau bisa bertahan cukup lama. Jadi..aku menyukaimu, sangat menyukaimu. Maukah kau tetap bertahan, ____?”

Aku tersenyum sangsi. Merasa tak dapat menjawab apapun dari ucapannya yang panjang lebar. Aku bahkan sedikit lupa, apa saja yang ia ucapkan. Tapi sepertinya ucapannya itu sangat romantis.

Akhirnya ku putuskan untuk mengangguk pelan, hingga mendapatkan senyuman manis dari wajahnya sebagai balasan. Dan kalung itu dengan pelan ia kenakan di leherku.

Kalung yang cantik sekali….

“Tapi kau jahat sekali tak mengundangku di pesta ulangtahunmu! Padahalkan aku pacarmu. Kau membuatku malu di depan teman-temanku!”

“….”

“Sekarang kau harus membayar semua itu?” Aku sedikit memberengut menatapnya, tapi setelah dipikirkan, dia benar. Aku memang harus membayarnya. Bagaimanapun juga aku tak mengundangnya ke pestaku, padahal dia adalah Onew oppa, yang teman-temanku tahu bahwa ia adalah pacarku sendiri.

“Baiklah oppa, aku minta maaf. Aku janji akan membayar semua itu!”

“Benarkah? Bagaimana jika aku memintamu membayarnya dengan menciumku? Kau bersedia?”

– – –

Huba sedang makan.

Hubi bahkan belum sarapan.

Huba ingin belajar menjadi fisikawan.

Sementara Hubi i ingin sibuk pacaran.

Sigh~ tak masalah apapun yang dikerjakan Huba dan Hubi.

Meski mengerjakan hal yang berbeda, mereka tetap bisa menjalaninya bersama.

Seseorang pernah mengatakan padaku , tak semua yang kau inginkan bisa menjadi kenyataan. Dan tak selamanya yang kau impikan adalah hal yang paling indah.

Tapi bagiku, memimpikannya adalah hal yang paling indah.

Dapat menjalani hari yang membosankan bersamanya, membuatku lebih percaya diri. Aku memang tak tahu bagaimana dengan esok. Akankah tetap begini atau akan berubah?

Tapi, untuk seseorang di depanku… ku ucapkan terimakasih atas segala yang telah kau berikan selama ini.

Membosankan atau memabahagiakan, semua itu sama saja..

Selama kita menjalaninya bersama, semua itu akan tetap menjadi kenangan manis.

END

A/N : wkwkwk…FF yang freak Mian ^^ But comment yaaa~ *hug yang comment*

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

44 thoughts on “Fanfiction Romance Onew // Huba-Hubi Story Part 2

  1. tersentuh sampe nangis krn ngebaca kata2nya onew. asli ini ngena bgt di akuu, lg ngalamin fase bosen dan pasti bakal keren kalo doi ngomong se-romantis onew, sambil bawain kalung mahal juga HAHAHA.

    Suka

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s