Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

SHINee Fanfiction Romance // I Need a Kiss – Part 4

101 Komentar

i need a kiss

I Need a Kiss Part 4

·        Author : Rasyifa || https://rarastory.wordpress.com

·        Genre : Romance, Fantasy, Little bit of Comedy—maybe–.

·        Main Cast :
– [YOU] Kim Gweeboon
– Onew  SHINee – Lee  Jinki
– Minho SHINee – Choi Minho

·        Other Cast :
– Find by your self.

·        Length : Chaptered.

·        Rating : Teen-General.

·        Summary :

Seorang gadis yang terpaksa harus menikahi seorang lelaki kaya raya, yang bisa berubah menjadi wanita. Awesome!

– —
(!) Ditulis dengan kemampuan diksi dan humor yang rendah.
Di publish untuk memperbanyak arcive.

Happy reading~

– —

 I Need a Kiss

Written by Rasyifa | https://rarastory.wordpress.com

– – –

 

“Wah..sepi sekali. Pantas kau bersedia memakai baju seperti itu.”

 

Jinki hanya meringis dan berjalan acuh melewati Gweboon yang mencibirnya dari belakang.

 

Mereka masih bersama di mall itu, melewati malam yang panjang di sebuah mall, hanya berdua. Dengan Jinki yang masih berpakaian seperti seorang wanita.

 

“Apa yang harus kita lakukan sekarang, kenapa kita tidak pulang saja?” Gweboon yang sudah nampak kelelahan berjalan pelan menyusul Jinki di depannya.

 

“Aku ini lelaki sibuk. Jarang-jarang bisa pergi seperti ini. Jadi jangan menyia-nyiakan kesempatan bagus ini. Ohya aku ingin bertanya apa yang biasanya ingin wanita lakukan saat berkencan?”

 

Pertanyaan Jinki membuat Gweboon mematung. Kencan? Jadi apa Jinki menganggap ini , tapi Gweboon kira ini hanya seperti….

 

Tunggu, kenapa dada Gweboon berdebar-debar saat mendengar Jinki mengucapkan kata ’kencan’ barusan.

 

“Ya, anak Kim Kibum! Cepat jawab aku!” Barusan Jinki benar-benar membuat Gweboon terkejut dan salah tingkah. Ah, kenapa Jinki kembali memanggil Gweboon dengan sebutan itu.

 

“Mungkin, pergi ke gunung dan melihat…bintang?”

 

Gweboon memasang wajah ragu. Jinki menatapnya sambil berpikir, “Gunung..bintang? ah..apa tidak bisa berkencannya di mall. maksudku, apa yang akan dilakukan seorang perempuan jika ia diajak berkencan di mall?”

 

Gweboon bertambah bingung. Jinki yang seperti ini membuatnya ketakutan. Apa Jinki akan berbuat macam-macam kepadanya?

 

“Aku tidak tau!”

 

“Ck, ya sudah bagaimana denganmu! Sekarang apa yang ingin kau lakukan di kencan kita!?”

 

“Aku hanya ingin pulang dan tidur!” Jinki membulatkan matanya tak percaya.

 

Come on! Jinki sudah susah payah bersikap baik dengan anak gadis Kim Kibum ini. Dia juga berusaha keras mengontrol emosinya yang buruk. Tapi apa yang barusan ia dengar?  anak ini justru ingin pulang dan tidur?

 

Apa dia menganggap kalau wajah Jinki ini mirip bantal? Tidak, Jinki lebih suka kalau dianggap guling. Dia benar-benar tersinggung.

 

Jinki menatap sekitar—mengalihkan pandangan dari Gweboon—, dengan wajah frustasi.

 

Aha!

 

 Senyum kejam itu tiba-tiba terlukis di wajahnya. See, siapa yang berkuasa disini Kim Gweboon!

 

“Ayo! sebelum pulang. Kita harus melihat sesuatu yang romantis!” Jinki melingkarkan tangannya ke arah leher Gweboon. Dan dengan baik hatinya, ia menyeret paksa Gweboon menuju suatu tempat untuk melihat sesuatu yang romantis.

Gweboon memberontak. Tapi tunggu..

 

Sesuatu yang romantis?

 

Apa itu gunung…bintang?

 

Gweboon tersenyum penuh harap. Baiklah, dia tidak akan memberontak. Dia hanya pura-pura saja.

 

* * *

 

“TIDAK MAU! KAU KEJAM!” Gweboon berteriak membuat keributan.

 

Tapi Jinki tak peduli, dia tetap menarik Gweboon masuk.

 

“Kau ingin membuatku mati berdiri? Kau keterlaluan!”

 

Jinki masih tak peduli, justru semakin menarik Gweboon dengan wajah yang tersenyum cerah.

 

Apanya yang gunung, apanya yang bintang!

Jinki justru mengajak Gweboon ke bioskop yang gelap untuk melihat film horror. Dan ini sudah tengah malam.

 

“Duduklah dengan baik, sebentar lagi filmnya akan mulai.” Jinki kembali menarik Gweboon, dan kali ini dengan kasar Jinki membuat Gweboon terduduk di salah satu kursi di dalam bioskop.

 

Bioskopnya luas, gelap dan…sepi. Gweboon takut. Bukankah mereka akan menonton film horror?

 

Ah kenapa tidak menonton film romantis saja?

 

-20 menit berlalu, saat film diputar-

 

Gweboon benar-benar ketakutan, tubuhnya tegang. Bahkan Gweboon hampir menangis saat melihat sosok mengerikan di layar bioskop.

 

Jinki benar-benar kejam memperlakukan Gweboon seperti ini.

 

Tapi tanpa diduga sosok tangan besar tiba-tiba meraih tangan Gweboon dan menggenggamnya erat, “Jangan takut itu hanya film! Lagipula aku ada disini-kan!”

 

Gweboon menoleh ke arah Jinki. Wajah Jinki tersenyum damai. “Ayo lihat lagi!”

 

* * * 11.40* * * *

 

Sudah dua puluh menit mereka bermain di area permainan itu. Bahkan dengan konyol Jinki menaiki sebuah mainan berbentuk gajah yang bisa berjalan, mainan yang biasanya dinaiki oleh anak berusia 2-5 tahun dengan pengawasan orang tua.

 

Tapi kali ini Jinki memainkannya, dengan pengawasan Gweboon.

 

“Aku gagah seperti poo chai-kan (poo chai = Lee Minho-City hunter).” Gweboon tertawa mendengarnya.

 

Ahni, kau lebih mirip dengan gajahnya. Dan gajah yang kau naiki lebih mirip dengan poo chai.” Gweboon kembali tertawa. Jinki mendengus, tapi ikut tersenyum saat melihat Gweboon yang tertawa.

 

Dada Jinki kembali berdebar, seperti saat pertama kali ia melihat Gweboon yang tersenyum di trotoar.

 

Ah ya, Adegan di bioskop sama sekali tak sukses. Saat menit ke 45 film di putar, Jinki justru berteriak dan berlari ke luar bioskop. Gweboon yang melihat itu ikut-ikutan berlari bahkan dia menangis, karena Jinki berlari di depannya.

 

 Payah!

 

Untuk menutupi rasa malunya, Jinki berbohong pada Gweboon, bahwa Jinki benar-benar melihat ’yang asli’nya sedang duduk di sudut Bioskop. Itulah kenapa dia berlari. Dan Gweboon terlalu polos, untuk mempercayai semuanya begitu saja.

 

Tapi ya sudah. Lagipula mereka baik-baik saja sekarang.

 

“Anak Kim Kibum.. Saat kita pertama kali bertemu. Kau menyebutkan nama ’Minho’. Apa dia kucing peliharaanmu yang melarikan diri?”

 

Pertanyaan Jinki membuat Gweboon mematung. Ah, benar..dia  baru ingat tentang Minho. Kenapa dia bisa melupakan lelaki tampan itu?

 

“Dia orang yang aku sukai sejak kecil. Aku memanggilnya Minho oppa,” Gweboon menjawab jujur.

 

Jinki hanya terdiam. Menyesal mengajukan pertanyaan itu.

 

* * *

 

Pelan-pelan, mata dari wajah cantik itu terbuka. Mengerjap dan memandang sekitar.

 

Tidak menemukan Jinki di sofa ataupun disampingnya. Dan merasa sedikit kecewa.

 

Gweboon yang baru bangun, berjalan pelan menuju jendela kamar. Menatap pemandangan kota seoul, sambil tersenyum tipis.

 

Kemarin malam, dia benar-benar bahagia. Bahkan dia ingat, kalau saat pulang. Dia digendong oleh Jinki karena tertidur, atau lebih tepatnya pura-pura tidur.

.

.

 

Di ruang makan, Eunsook sudah duduk rapi menyiapkan sarapan. Saat melihat Gweboon yang menuruni anak tangga dia tersenyum.

 

“Gweboon. Kau sudah bangun? Hari ini kau bisa bersekolah. Kau akan diantar supir keluarga Lee.”

 

Gweboon membalas senyum sambil berjalan mendekat ke arah meja makan. Menatap kursi-kursi satu persatu.

Hanya ada Eunsook dan para pelayan. Kemana Jinki?

 

“Pagi-pagi sekali Jinki pergi ke luar. Ku dengar ada pertemuan bisnis pagi ini. Gweboon, aku minta maaf putraku sangat sibuk. Mungkin kau akan sering diperlakukan seperti ini olehnya. Apa kau tidak apa-apa?” Seolah tahu apa yang dipikirkan gadis itu, Eunsook mendekat dan merangkul tangannya dengan hangat.

 

Gweboon mengangguk kecil sambil tersenyum, “Tidak apa-apa eommonim. Aku tahu dia sibuk!”

 

Sebenarnya Gweboon lagi-lagi kecewa.

 

Baik, Gweboon tahu dia tak berhak kecewa..Jinki memang sangat sibuk. Bahkan Jinki mengatakannya kemarin malam, “Aku ini lelaki sibuk. Jarang-jarang bisa pergi seperti ini. Jadi jangan menyia-nyiakan kesempatan bagus ini….”

 

* * *

-Hati manusia itu terkadang menjadi hal yang paling rumit untuk dimengerti.-

 

 

Jinki yang telah kembali menjadi sosok perempuan, kini telah berada di dalam rumah barunya. Rumah yang Gweboon bilang mirip fullhouse.

 

Lalu apakah kisah cinta Jinki-Gweboon juga akan seperti fullhouse?

 

Tidak. Di fullhouse, Ayah dari si pemeran perempuan bukan bernama Kibum —yang menjadi kepala keamanan—. Dan di fullhouse, Rain (actor fullhouse) tidak pernah menjadi perempuan.

 

Hah…

 

Jinki mengingat lagi apa yang diucapkan Gweboon kemarin malam.

 

’Minho oppa adalah temanku sejak kecil. Dia menghiburku disaat kehilangan eomma. Dia sering membelikanku ice cream. Dia sering membantuku mengerjakan PR’

 

’Dia selalu ada saat aku membutuhkannya. Aku sangat menyukainya. Dan bahkan tak bisa melepaskannya.’

 

Jinki meremas gengaman kedua tangannya. Jinki kesal dan ingin marah.

 

Kesal, karena kenapa bukan dia yang menjadi Minho—yang tak bisa dilepaskan oleh Gweboon—.

Dan Marah..karena kenapa bukan dia yang lebih dulu menemukan Gweboon?

Lalu menghiburnya, membelikan ice cream, dan membantu mengerjakan PR.

 

Jinki terdiam di tempatnya.

Jika saat itu dia sudah bertemu Gweboon. Mungkin masa kecilnya tak akan seburuk waktu itu. Mungkin dia bisa memiliki seorang teman, yang bisa dijadikan tempat untuk berbagi cerita.

 

-flashback-

 

Ayah Jinki sebenarnya tidak meninggal karena sakit. Ayah Jinki dibunuh oleh rivalnya dalam dunia bisnis.

Jinki melihatnya sendiri waktu itu.

Bahkan seharusnya dialah yang mati terbunuh, bukan ayahnya.

 

Hari itu…

Ayah Jinki mengajak Jinki dan istrinya, pergi ke kebun binatang dengan mengendarai sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam.

Jinki kecil terlihat sangat bahagia dan menyanyi dengan riang sepanjang perjalanan. Begitupun dengan kedua orang tuanya.

 

Tapi siapa sangka, tiba-tiba muncul sekelompok orang yang keluar dari dalam sebuah mobil yang berada di depan mereka. Sekelompok orang itu  bahkan menodongkan pistol. Dan salah satu dari pistol itu mengelurkan peluru yang menembus kaca mobil keluarga Jinki.

 

Peluru itu mengarah tepat menuju Jinki. Hingga Ayahnya menghalangi peluru itu dengan tubuhnya sendiri. Bahkan dia kehilangan nyawanya.

 

Jinki trauma, dan mengalami guncangan hebat karena hal itu. Bahkan itupun yang menjadi alasan kuat bagi Jinki untuk tidak mengemudikan mobil.

 

Tapi dia menyimpan luka dan kenangan itu sendiri. Dan berpura-pura melupakan kejadian itu di hadapan Eunsook.

Dia tak ingin, melihat orangtua satu-satunya yang ia miliki terluka karena keadaannya. Dia tidak ingin terlihat rapuh.

 

-flashback off-

 

“ Kau kemana saja? Aku merindukanmu!”

 

Minho memeluk Gweboon yang ia temui di lorong sekolah. Gweboon yang menerima perlakuan Minho nampak terkejut, dan tak percaya.

 

Minho merindukannya?

 

“Apa oppa tidak bertanya pada Appa?”

 

Minho menatap Gweboon lembut, “Dia bilang kalau Gweboon sedang berbulan madu dengan pangerannya. Oppa tahu itu pasti bohong. Jadi selama ini Gweboon kemana saja. Kenapa nomer Gweboon selalu tidak aktif.”

 

Gweboon terdiam. Dia tidak pernah berbohong pada Minho sebelumnya. “Oppa, yang dikatakan appa itu benar!”

 

Minho tertawa mendengarnya, “Aigoo, apa ayahmu mengancammu? Bagaimana mungkin, kau bisa berbulan madu. Sementara pangeran-mu ada disini sweetdear?”

 

Gweboon terhenyak. Apa, pangeran? siapa? Minho? Jadi Minho mungkin…

 

“Ya sudah, oppa tidak akan bertanya lagi. Kalau begitu saat pulang sekolah. Kau temui Oppa. Oppa ingin mengajakmu ke suatu tempat, seperti janji oppa waktu itu! Kali ini kau harus benar-benar berbulan madu dengan pangeranmu.”

 

Minho melangkah menjauh.

 

Gweboon yang masih terdiam hanya bisa menatapnya.

 

Jadi, Minho belum berubah.

Selalu seperti itu. Membuat Gweboon melambung, dan menjatuhkannya. Seolah-olah perasaan Gweboon ini tahan banting.

 

* * *

 

Tidak terlalu banyak cerita yang bisa diceritakan di jam pelajaran Gweboon di sekolah.

 

Gweboon.

 

Gadis itu memang tidak terlalu menonjol, dan bergaul juga seadanya. Mungkin namanya juga tidak terkenal di sekolah, tapi banyak para siswa yang diam-diam tertarik padanya.

 

TING NONG~

 

Pelajaran sekolah sekarang sudah berakhir. Gweboon dengan cepat berlalu keluar kelas.

Ingin menghindari Minho saja kali ini. Tapi…

 

“Cepat sekali! Kalau begitu, kita pergi sekarang saja!”

 

Sosok tangan besar Minho sudah terlebih dahulu meraih tangan Gweboon, menggengam dengan lembut dan menuntun untuk berjalan.

 

Gweboon kali ini tidak bisa menghindar lagi.

 

“Kita akan pergi kemana?”

 

“Bagaimana kalau taman bermain?”

 

Gweboon hanya tersenyum kecil, dan mengangguk setuju.

 

 Baiklah, dalam sehari semalam, Gweboon bisa berkencan dengan dua pria tampan. Bahkan salah satunya, sudah menjadi suaminya.

 

Gadis yang benar-benar beruntung.

 

* * *

 

Jinki tak bisa berbuat banyak. Dia hanya bekerja di depan laptopnya selama dua jam dan setelah itu dia tertidur.

 

 Biasanya di jam seperti ini, dia sibuk mengadakan meeting.Tapi dalam keadaanya yang seperti ini, sekarang dia tak mungkin  mengadakan meeting. Yang ada diakan diusir dan dianggap gila. Hah, jika keadaannya seperti ini. Bagaimana dia bisa meneruskan hidup.

 

Lalu bagaimana dengan Gweboon.

 

Apa hari ini dia memulai sekolahnya lagi? Bagaimana dia saat di sekolah? Apa dia juga mengingat Jinki sekarang?

 

Jinki tersenyum bodoh.

Apa yang sedang ia pikirkan. Kenapa dia harus mengingat gadis itu?

 

* * *

 

Memakan ice cream sambil berayun. Ada Minho yang membantunya untuk mendorong ayunan. Gweboon tersenyum lebar.

 

Manis sekali. Yah, tak bisa dipungkiri. Gweboon dan Minho juga cukup serasi. Dan sepertinya sudah saling menyukai sejak dulu. Hanya saja terlalu sunkan  untuk mengungkapkan perasaan masing-masing.

 

“Akhirnya aku melihat senyummu lagi!” ucap Minho sambil duduk, di ayunan yang ada di samping ayunan Gweboon.

 

Sambil tersenyum Gweboon menoleh ke arah Minho.

 

“Apa oppa tidak ada janji dengan pacar oppa? oppa bisa pulang sekarang. Aku akan pulang naik bus saja!” ucap Gweboon sambil melirik ke arah handphone Minho yang sedari tadi terus mengeluarkan suara.

 

“Apa kau yakin?” Gweboon mengangguk, sambil memberikan isyarat untuk Minho agar cepat pergi. Minho tersenyum canggung dan akhirnya beranjak pergi. Selama lima tahun belakangan Minho memang tak pernah sepenuhnya ada untuk Gweboon.

 

Tapi setidaknya hari ini, Minho menemani Gweboon selama lima jam. Bahkan selama lima jam Minho tak mengangkat telpon yang masuk. Gweboon benar-benar merasa aneh, sekaligus senang. Karena biasanya Minho tak pernah bersikap seperti ini. Tapi, ya sudah..toh Minho juga sudah pergi.

 

Angin berhembus. Sinar matahari senja yang hangat, membuat Gweboon menengadah pada langit yang berwarna jingga.

 

Memandang sekitar, sambil mencari bus untuk pulang. Tapi seketika sadar, dimana dia sekarang berada.

 

Taman ini, dekat dengan rumah Jinki-Gweboon. Gweboon tersenyum dan memutuskan untuk melihat rumah mirip fullhouse  itu lagi.

 

* * *

Heran..

 

Pintu rumah mirip fullhouse itu dapat dibuka oleh Gweboon.

Apa ada orang di dalamnya?

Apa itu mungkin Jinki..tapi rasanya tak mungkin, bukankah Jinki terlalu sibuk untuk menjenguk rumah mereka?

Jadi mungkin ini adalah…Eunsook.

 

Gweboon melangkah pelan. Dan melihat seorang wanita asing berdiri di depan jendela yang menghadap ke pantai. Gweboon hampir menghampiri wanita itu, Jika saja tubuh wanita itu tidak berubah.

 

Rambut panjang wanita itu seketika memendek dengan model rambut yang tidak asing untuk Gweboon. Tubuh yang semula terlihat berbentuk ramping, berubah menjadi tubuh yang terlihat berisi, khas lelaki.

 

Dengan matanya, Gweboon sadar siapa sosok itu sekarang.

Gweboon menutup mulutnya, saat melihat sosok itu berpaling menatapnya.

Sosok itu juga nampak terkejut dan tak kalah shock dari Gweboon.

 

Sosok itu…adalah Jinki yang berubah menjadi lelaki kembali.

Aigoo..bagaimana ini, Jinki ketahuan?

 

– – –

 

“Kau..?”  gadis itu menggantungkan ucapannya.

 

Apa ini? Apa yang barusan ia lihat. Apa mungkin seorang perempuan bisa berubah menjadi lelaki hanya karena matahari tenggelam? Apa itu masuk akal? Itu gila!

 

“Gweboon…apa yang kau lakukan disini?” Jinki yang berdiri tepat di depan Gweboon, mencoba menyingkirkan kegugupannya. Dia sudah ketahuan sekarang. Dan dia tidak tahu harus bagaimana.

 

“Tadi itu apa?”

 

Tentu saja, Jinki tak akan mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. Justru dialah yang akan memberikan jawaban untuk pertanyaan Gweboon barusan.

 

Satu..

 

Dua..

 

Jinki mulai melangkah mendekati Gweboon. Langkahnya benar-benar terlihat berhati-hati.

 

Benar,  tidak ada cara lain selain memberitahu Gweboon. Lagipula, pada akhirnya Gweboon juga berhak tahu apa yang terjadi pada Jinki. Bukankah mereka sudah menikah?

 

Gweboon.

 

Gweboon yang melihat Jinki mendekat, membulatkan mata kecilnya. Apa yang dilakukan Jinki? Apa jangan-jangan yang ada di depannya sekarang bukanlah Jinki, melainkan Alien atau hantu penunggu rumah ini. Gweboon menarik nafasnya…dan..

 

Dia pingsan.

 

Membuat Jinki gelabakan, tak tahu harus berbuat seperti apa.

 

* * *

“ITU MUSTAHIL!” Gweboon memekik di depan wajah Jinki saat mendengar penjelasan Jinki.

 

“Aku juga berharap seperti itu. Tapi kau melihatnya sendiri tadikan?”

 

Baik, jadi sebenarnya Gweboon tidak pingsan. Dia hanya terlalu takut, dan pura-pura pingsan. Jinki yang melihat itu, dengan cepat menggotong tubuh Gweboon ke atas sofa. Memberikan pertolongan pertama sebisanya.

 

Sambil menunggu Gwebon sadar dari pingsan pura-puranya. Jinki terus menceritakan kronologis keadaannya. Sedikit tidak waras, memang. Coba saja Gweboon benar-benar pingsan. Bagaimana ia tahu apa yang diceritakan Jinki. Dan usaha Jinki benar-benar sia-sia.

 

Tapi karena Gweboon hanya pura-pura pingsan, dia bisa mendengar semuanya. Dan memekik nyaring di wajah Jinki saat mendengar cerita Jinki yang tak masuk akal. Dia tak mempercayai apa yang diucapkan Jinki.

 

Jinki yang ingin menjadi perempuan untuk melakukan kloning. Jinki yang mendatangi seseorang dan mendapatkan bubuk ajaib. Jinki yang tanpa sengaja meminum bubuk itu dan menjadi perempuan.

 

“Jadi kau menyalahkan orang bernama Kim Jonghyun itu? Jadi apa ini bukan kutukan yang kau derita  sejak kecil?”

 

Jinki menghela nafas, saat mendengar Gweboon mengucapkan ’kutukan’. Yang benar saja, anak ini percaya yang namanya ’kutukan’! Dan kenapa dia membela Kim Jonghyun itu. Bukankah semua ini memang salah Kim Jonghyun? Dia yang memberikan Jinki bubuk itu. Tapi hey, Jinki-kan yang memintanya? Ok-Ok, Jinki amnesia bagian itu!

 

“Tentu saja tidak. Kau pikir apa yang aku lakukan jadi aku di kutuk aneh seperti itu! Lagipula saat hari pernikahan kita bersama selama 24 jam, aku masih menjadi Jinki laki-laki kan.”Jinki membela diri, sementara Gweboon hanya terdiam mendengarkan.

 

“Lalu apa yang harus kau lakukan untuk menghilangkan mantra kutukan itu?” Gweboon masih kekeh dengan menyebut itu sebagai ’kutukan’. Hah, Jinki sudah bilang ini bukan kutukan. Gadis ini sebenarnya kenapa? Apa dia ingin membuat Jinki marah?

 

Jinki menarik nafasnya. Mengendalikan emosi, jauh lebih sulit dari yang dibayangkan.

 

“Aku harus dicium.”

 

Pelan sekali, Jinki bahkan seperti berbisik. Dia juga tak berani menatap Gweboon. Seolah tahu kalau Gweboon akan marah mendengar jawabannya barusan. Tapi, siapa yang menduga, Gweboon justru…

 

“Baiklah. Kalau begitu kau harus mendapatkan ciuman.”

 

Jinki terbelalak, dan menatap Gweboon dengan pandangan heran.

 

Benarkah?

 Jadi apa Gweboon mau mencium Jinki?

Jinki terseyum, dan menatap dengan mata berbinar-binar ke arah Gweboon.

 

Gweboon sebenarnya tak mengerti kenapa wajah Jinki berubah begitu aneh, dan terlihat seperti anjing mesum. Tapi, Gweboon tak leluasa untuk tidak membalas senyum itu.

 

“Kita akan membuat sayembara ciuman untuk para perempuan yang berhasil melepaskan kutukanmu itu!”

 

Apa yang barusan Gweboon ucapkan, benar-benar merusak suasana.

 

Wajah Jinki berubah menjadi flat seperti lantai. Senyum anjing mesumnya, hilang seperti baru saja disuntik obat rabies.

 

Jadi bukan Gweboon sendiri yang akan menciumnya.

Tapi sayembara ciuman?

 

Bisakah Jinki kesal dengan sikap Gweboon ini. Gweboon istrinya, tidak bisakah Gweboon saja yang mencium Jinki?

Dan..

Disaat itu…

Tanpa mereka sadari, selembar kertas kecil berwarna putih melayang-layang diantara mereka.

Di kertas itu tertulis…

 

’Dia yang mencintaimu sebagai wanita’

 

Saat kertas itu jatuh tepat di permukaan lantai. Kertas itu tiba-tiba lenyap tanpa bekas. Kemudian ada selembar kertas lagi yang melayang di antara mereka.

Di kertas kedua itu tertulis.

 

’Buktikan dengan bibir, karena bibir tidak pernah bohong’

 

Dan seperti yang terjadi pada kertas pertama, kertas kedua itu juga lenyap saat berada di permukaan lantai. Tapi masih ada kertas ketiga yang melayang di udara.

dan kali ini tulisannya cukup aneh…

 

’Tidak ada Minho orang lain di hatinya’

 

Kertas ketiga juga lagi-lagi lenyap begitu saja di permukaan lantai. Sebelum Jinki-Gweboon menyadarinya.

 

 Sementara itu di langit-langit rumah Jinki -Gweboon, nampak seorang lelaki dengan pakaian ’prajurit’ zaman georeyo duduk bersila melayang di udara. Dan sepertinya kertas-kertas tadi adalah ulahnya.

 

Sosok lelaki itu memasang senyum aneh saat melihat Jinki-Gweboon yang sedang duduk berhadapan. Bahkan sosok itu memonyongkan bibirnya sambil mengedipkan mata tidak jelas ke arah Gweboon.

 

Bukankah sosok itu…Kim Jonghyun, yang pernah ditemui Jinki itu?

 

* * *

“Kalian pulang bersama? Manis sekali.” Eunsook menyambut kedatangan Jinki dan Gweboon sambil tersenyum penuh arti.

 

Eomma, jangan berlebihan seperti itu!”

 

Jinki yang masih kesal dengan sikap Gweboon, berlalu masuk ke  dalam kamar mereka tanpa mengatakan apa-apa lagi.

 

Aigoo anak itu. Bahkan ayam lebih hormat daripada dia. Ahya, Gweboon..apa kau sudah makan?”

 

Gweboon tersenyum tipis dan mengangguk. “Aku sudah makan eommonim. Maaf,  Aku ke atas dulu!”

 

Dan Gweboon-pun  juga berlalu meninggalkan Eunsook.

 

Hah, Eunsook kecewa. Sebenarnya dia sudah menunggu Jinki-Gweboon selama tiga jam untuk makan malam bersama. Tapi pada kenyataannya, dia harus makan malam sendiri.

 

Disaat-saat seperti ini dia selalu rindu dengan ayah Jinki. Meski ayah Jinki sibuk bekerja, tapi dia tak pernah mengecewakan Eunsook. Ayah Jinki selalu menemani Eunsook makan malam bersama.

 

Yeobbo..bogosippo

 

* * *

 

“Besok, sepulang aku dari sekolah, kita akan memulai sayembaranya.” ucap Gweboon sambil menyisir rambutnya yang basah sehabis mandi.

 

Jinki hanya diam dan tak menoleh ke arah Gweboon. Dia lebih tertarik untuk melihat gambar-gambar di majalah yang ia baca. Untunglah, jika melihat Gweboon. Mungkin saja Jinki akan tergoda.

 

“Aku bosan.”

 

Jinki menutup majalahnya, berdiri dari duduknya di ranjang. Dan berjalan menuju jendela kamarnya, yang memperlihatkan pemandangan kota Seoul di malam hari.

 

Dreeett…Dreettt

 

Suara getaran handphone Gweboon itu membuat Jinki melirikkan ujung matanya ke arah gadis yang sering dia panggil anak Kim Kibum itu.

 

“Hallo, ada apa Minho oppa? ”

 

Hati Jinki semakin merasa kesal saat mendengar suara Gweboon yang begitu manis. Terlebih saat menyebut ’Minho Oppa’.

 

Sial bagi Jinki. Jinki jauh lebih tua dari Gweboon, Jinki juga jauh lebih tua dari Minho oppa-nya itu. Tapi Gweboon bahkan tak memanggilnya ’oppa’. KENAPA?

Dan Gweboon  justru memanggil Jinki dengan sebutan ’bapak tua’. Tidak sopan!

 

Apa dia seperti ini hanya karena Jinki tidak membantunya mengerjakan PR, seperti Minho oppa-nya itu. Kalau begitu baiklah…

 

“YA!” Jinki merampas handphone Gweboon begitu saja. Dan mematikan sambungan telponnya.

 

Gweboon memicingkan mata.

 

“YA! Apa-apaan kau bapak tua! Kenapa kau merampas handphoneku. Sini, kembalikan!” Jinki hanya menggeleng dengan wajah tegas. Padahal sebenarnya, Jinki takut dengan wajah Gweboon yang seperti itu. Dia hanya berpura-pura berani.

 

“Kau punya tugas rumah?”

 

“Huh?”

 

“Ayo, ku bantu mengerjakannya!”

 

“APA?”

 

* * *

 

Jinki memasang kacamatanya. Sebuah buku tebal dengan sampul kecoklatan bertuliskan ’Fisika Bilingual’ di genggam erat di tangannya.

Jinki akan membantu Gweboon mengerjakan PR. Dan buku tebal di tangannya ini, adalah buku Jinki saat di SMA dulu, yang akan dijadikan pedoman Jinki untuk membantu Gweboon. Entah dengan telepati atau bagaimana, tapi Jinki begitu yakin dia akan mengerjakan soal fisika.

 

Dulu aku ini cerdas. Bahkan aku menjadi juara umum secara berturut-turut selama dua tahun di SMA. Aku juga mengikuti program akselerasi. Aku yakin aku akan lebih baik dari Minho itu.

 

Jinki membatin, penuh dengan kepercayaan diri yang tinggi.

 

“Ini.” ucap Gweboon sambil meletakkan buku tebal berwarna putih di depan Jinki.

 

“Kebetulan aku ada PR Sejarah korea. Jadi bantu aku mengerjakannya!”

 

“Se…sejarah korea? Apa kau tak punya PR Fisika, Kimia, atau Biologi?”

 

“Huh, aku tidak belajar itu.”

 

“Apa?”

 

“Kau ini kenapa sih. Aku ini kelas Social. Bukan Sains. Mana aku belajar Fisika, Kimia, apalagi Biologi.”

 

“APA?”

 

Oh..Jinki bodoh! dan sekarang hanya bisa menatap prihatin buku sejarah di depannya. Jinki memang sempat belajar  Sejarah Korea di SMA. Tapi hanya dasar saja. Seperti…pembentukan negara  korea selatan 15 Agustus 1948. Selebihnya…Jinki angkat tangan.

 

“Kenapa? katanya ingin membantuku mengerjakan PR! Padahal tadi Minho oppa mengajakku keluar. Dia bilang dia sudah bisa mengemudi mobil. Kau ini…apa yang sebenarnya ada di pikiranmu! Kau merusak acaraku!”

 

Jinki hanya memasang wajah cemberut. Sambil membaca deretan soal yang tidak ia pahami.

Ah, Minho..Kenapa harus membicarakan anak itu?

 

“Apa bagusnya sih kucing peliharaanmu itu!” ucap Jinki sambil menuliskan jawaban di soal yang ia ketahui. Syukurlah, setidaknya Jinki tidak terlihat bodoh dengan membuat kosong lembar jawaban itu. Tapi tunggu apa yang dia tulis…

 

’Siapakah salah satu pemimpin negara yang membentuk Komite persiapan untuk Pendirian Negara Korea? ….. Lee Jinki’

 

“Apa maksudmu kucing peliharaan itu..Minho oppa? Dia tentu saja sangat bagus. Dia  itu tampan, pintar, kaya, dia juga bisa naik motor dan sekarang…dia bisa mengemudi mobil. Dia sangat keren!” Mata Gweboon yang berbinar-binar saat menceritakan Minho, membuat Jinki semakin cemberut.

 

Dan dengan kesal Jinki kembali menuliskan jawaban..

 

’Siapakah yang memimpin penjajahan Jepang di Korea?….Minho oppa’

 

Gweboon kali ini menyadarinya. Menyadari jawaban Jinki yang asal tulis itu. Dengan cepat ia menarik bukunya.

 

“Apa yang kau lakukan dengan pekerjaan rumahku. Ya jawaban gila macam apa ini?”

 

Gweboon menghapus jawaban yang ditulis Jinki dengan kasar, dan mengganti jawaban itu.

 

’Siapakah salah satu pemimpin negara yang membentuk Komite persiapan untuk Pendirian Negara Korea? ….. Choi Minho

 

’Siapakah yang memimpin penjajahan Jepang di Korea?….Seorang Bapak-bapak tua yang menyebalkan, kalau tidak salah marganya Lee’

 

Gweboon tersenyum manis melihat jawabannya kali ini. Sementara Jinki semakin kesal.

 

“Siapa itu ’bapak-bapak tua yang menyebalkan, kalau tidak salah marganya Lee’ ?” ucap Jinki sambil menatap tajam ke arah Gweboon.

 

“Entahlah. Aku juga tidak tahu..mungkin Lee Teuk, Lee Hyukjae, Lee Jonghyun, Lee Hyun Woo, atau aaaa…Lee Jinki?”

 

Saat menyebut nama terakhir, Gweboon memainkan nada bicarnya. Benar-benar terdengar menyebalkan. Jinki mengambil spidol dan mencoret tangan Gweboon dengan cepat.

 

“Dasar tidak sopan!”

 

“YA! Apa yang kau lakukan dengan tanganku. Kau yang tidak sopan. Tidak punya etika!” Gweboon yang tak suka kalah, mengambil spidol  yang lain, dan dia justru mencoret wajah Jinki.

 

Hah..tentu saja Jinki tak terima. Dan akhirnya, klise…seperti adegan murahan. Sepasang suami istri yang aneh itu saling mencoret satu sama lain.

 

Anehnya, mereka tidak berlarian atau menghindar. Mereka duduk satu sama lain dengan tenang. Dan saling mencoret, jika salah satunya berani mencoret lebih dulu.

 

“Kau mencoret wajahku. Baiklah, aku akan menambahkan kumis di wajahmu!” Jinki menggambar kumis di wajah Gweboon.

 

“Kumis huh? Setidaknya aku akan menggambarkan janggut seperti kakek-kakek di wajahmu!”

 

“Janggut ya? Tidak buruk. Dan bagaimana Jika aku menggambarkan tahi lalat super besar di wajahmu nona muda?”

 

“Tahi lalat? Kalau begitu untuk tuan muda Lee, aku akan memberikan Tahi  gajah di wajahmu!”

 

“MWO?”

 

“Apanya yang ’MWO’ Hah!”

 

* * *

Gweboon tersenyum senang pagi ini. Meski Jinki lagi-lagi tidak ada di dalam kamarnya. Tidak masalah. Toh, hari ini mereka sudah janjian.

 

Jinki akan menjemput Gweboon di sekolah. Setelah itu mereka akan memulai sayembara ciuman.

 

“Kau terlihat bahagia. Apa kau begitu senang, karena aku sudah bisa mengemudi mobil?” ucap Minho sambil merangkul Gweboon.

 

Gweboon seketika terdiam. Dia bahkan tak menyadari kalau sedari tadi Minho ada di sampingnya, dan terus mengoceh.

 

“Ahya, kalau begitu besok aku akan menjemputmu untuk pergi ke sekolah. Appa bilang, mobil untukku akan datang sore ini. Kau akan jadi orang pertama yang aku ajak keliling Seoul dengan mobil baruku!”

 

Gweboon pelan-pelan tersenyum. Dan memasang wajah ceria. Kenapa begini…

Kenapa rasanya berbeda. Dadanya tidak berdebar lagi saat Minho mengajaknya bicara.

 

“Kalau begitu aku masuk kelas dulu.” Minho berjalan masuk ke dalam kelasnya. Membuat Gweboon terdiam sejenak.

 

Apa mungkin, Gweboon tidak menyukai Minho lagi?

 

* * *

 

Sementara itu, Jinki dengan sosok perempuannya, tengah asyik belajar mengemudi di kursus mengemudi.

 

Jinki mengingat lagi bagaimana Gweboon memuji Minho, hanya karena ’kucing peliharaannya’ itu bisa mengemudi mobil.

 

Preg…Brummm

 

 

“YA NONA! SUDAH KU BILANG INJAK PEDALNYA PELAN-PELAN. APA KAU MAU MEMBAYAR ASURANSI JIWAKU!”

 

Jinki tak menghiraukan makian seorang ahjussi di sampingnya. Yang dia pedulikan hanya…

 

Menjadi Jinki yang tampan, cerdas, kaya raya, dan bisa mengemudi mobil.

 

Agar Gweboon..juga bisa memanggilnya ’oppa’.

 

Aish..tidakkah ini terlalu malang. Hanya untuk panggilan ’oppa’ dari Gweboon, Jinki bahkan rela menghilangkan traumanya pada mobil. Seperti Goo Jun pyo yang rela belajar berenang untuk menyelamatkan Geum Jandi.

 

* * *

Seorang gadis dengan rambut tergerai cantik. Memakai kacamata fashion berwarna hitam. Tersenyum cerah dengan sebelah tangan yang menari-nari di udara, sementara tangannya yang lain nampak asyik bermain di kemudi mobil yang berjalan mundur. Berjalan mundur?

 

Awesome!

 

Itu…gadis tanpa nama. Ah, lebih tepat jika disebut sosok Jinki yang menjadi wanita.

 

“GWEBOON~NIE!” Jinki memekik dengan suara perempuannya. Membuat Gweboon yang berdiri di depan gerbang sekolahnya, memutar kedua bola matanya malas.

 

Apa yang dilakukan Jinki, dengan mobil yang digerek oleh sebuah mobil penggerek. Gweboon menghampiri Jinki. Dan mendumel kesal.

 

“Apa kau sudah gila?”

 

“Huh?”

 

“Kau membuatku malu!”

 

“Apa?”

 

“Untuk apa kau naik mobil dengan cara seperti ini?”

 

“Hah?”

 

Gweboon menghentikan aksinya. Menatap tak percaya dan menghela nafas malas. Padahal Gweboon berharap Jinki menjemputnya dengan sepeda itu.

 

Meskipun pantat Gweboon sakit saat duduk di lapak sepeda. Tapi melihat pantat Jinki yang bergoyang ’Greeaat Greeot’, menjadi hiburan tersendiri untuk Gweboon.

 

Dan ternyata Jinki justru datang dengan mobil mewah berwarna putih ini, membuat Gweboon sedikit  kecewa.

 

“Naiklah!” ucap Jinki, menyadarkan Gweboon. Gweboon terdiam dan akhirnya menurut saja, untuk masuk ke dalam mobil.

 

Dari kejauhan..Minho melihat semua itu dan nampak heran.

Dia kembali memandang tidak suka ke arah Jinki.

 

Tapi..kenapa kali ini Gweboon pergi dengan seorang wanita, bukan lelaki tua yang seperti di cafe itu.

Dan..kenapa wajah wanita itu mirip dengan lelaki tua itu? Sebenarnya siapa mereka berdua itu?

 

—–To Be Continued—-

READ MORE FANFICTION ‘I Need a Kiss’

I Need a Kiss Season I (Sequel )
|| Teaser | Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7 | Part 8 | Part 9 | Part 10 | Part 11 [END] ||
I Need a Kiss Season II (Sequel )
( Part 1 | Part 2 [END] )

 AN: jangan lupa komentarnya ya X  D

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

101 thoughts on “SHINee Fanfiction Romance // I Need a Kiss – Part 4

  1. bahahaahaa… jinki jinki😄
    ngajak cewek nonton horor di tengah malem kan greget😄

    keep writing

    Suka

  2. Aduhhh. Fullhouse pake di bawa². Tp lucu bgt alur nya
    Ketawa gulung2

    Suka

  3. Ya Allah… ff ini sukses bikin sy sakit perut. duhlah sepasang makhluk gajelas ini sebenarnya romantis dengan cara mereka sendiri…
    jinki sampe rela belajar nyetir demi gwe,,
    gwe udah gag berdebar2 lg kalo deket minho berarti di uda gasuka minho lg dong…

    Suka

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s