Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

SHINee Fanfiction Romantic Comedy // I Need a kiss – Part 5

94 Komentar

i need a kiss

·        Title : I Need a Kiss – Part 5

·        Author : Rasyifa || https://rarastory.wordpress.com

·        Genre : Romance, Fantasy, Little bit of Comedy—maybe–.

·        Main Cast :
– [YOU] Kim Gweeboon
– Onew  SHINee – Lee  Jinki
– Minho SHINee – Choi Minho

·        Other Cast :
– Find by your self.

·        Length : Chaptered

·        Rating : Teen-General

·        Summary :

Seorang gadis yang terpaksa harus menikahi seorang lelaki kaya raya, yang bisa berubah menjadi wanita. Awesome!

– —
(!) Ditulis dengan kemampuan diksi dan humor yang rendah.
Di publish untuk memperbanyak arcive.

Happy reading~

– —
I Need a Kiss

Written by Rasyifa | https://rarastory.wordpress.com

– – 

Gweboon berjalan dengan sempoyongan, sementara Jinki dengan wajah santainya duduk di sebuah bangku taman.

“Aku kira, aku akan mati tadi!” ucap Gweboon sambil memegang kepalanya sendiri. Jika boleh sebenarnya ia ingin memegang kepala Jinki saja, lalu mencakarnya dan mencabut semua rambut Jinki. Agar bapak tua itu tahu rasa!

Tadi…Gweboon dan Jinki mengendari mobil yang berjalan mundur selama 30 menit dengan kecepatan 60 Km/jam. Siapa yang tidak akan merasa dirinya akan mati. Jika ada, mungkin itu hanya…Jinki.

“Kau tidak akan mati semudah itu!” Jinki menyahut santai, sambil memainkan handphonenya.

“Bahkan jika terjadi kiamat. Aku yakin hanya kau dan kecoa saja yang bisa selamat di muka bumi ini,” lanjut Jinki.

Gweboon tertawa sinis. Hidup bersama kecoa, apa maksudnya?

“Kau pikir aku ini sudi hidup bersama kecoa, yang wajahnya jelek sepertimu! Lebih baik aku pindah ke planet jupiter dan menetap disana.”

Mwo?

Kali ini Jinki benar-benar merasa direndahkan. Gweboon bilang apa? wajah kecoa sejelek wajah  Jinki? Itu jauh lebih parah daripada mendengar ’wajah Jinki mirip kecoa’.

“Hey. Tadi itu pujian. Kenapa kau justru mengataiku. Kau tahu, Kecoa masih dapat bertahan hidup meski tanpa kepala. Itu maksudku, kau dan kecoa sama-sama bisa hidup meski tanpa kepala! Kenapa kau justru membalasnya, dengan mengatai wajah kecoa sejelek wajahku!”

“Oh itu pujian? Kalau begitu…anggap saja, barusan aku juga memujimu!”

Benar-benar.

Jinki hendak sekali mencubit kedua pipi Gweboon itu. Oh tunggu, memang apa salahnya mencubit Gweboon. Dia itukan istri Jinki.

Baiklah. Jinki kali ini benar-benar akan mencubit Gweboon. Dia sudah terlewat kesal. Sungguh, istrinya ini nakal sekali!

“Gweboon…?”

Tentu saja Jinki mengurungkan niatnya. Bahkan tangannya masih menggantung di udara, belum sempat menyentuh ujung pipi Gweboon apalagi mencubitnya, itu semua karena tiba-tiba ada orang yang memanggil Gweboon.

Sementara Gweboon yang merasa terpanggil, menolehkan kepalanya menuju sumber suara.

Itu Minho.

Dan lelaki itu sedang berjalan mendekati Gweboon-Jinki.

“Minho oppa. Apa yang kau lakukan disini?”

Nyiutt~

Jadi ini rupanya yang namanya Minho oppa itu. Tubuhnya lebih tinggi dari Jinki, dan matanya tidak sipit. Kepercayaan diri seorang Jinki mendadak turun. Apalagi sekarang Jinki dalam sosok wanita. Tentu saja kalah telak. Mengingat ucapan Gweboon yang mengatai wajah kecoa sejelek wajahnya, bertambah sakitlah hati Jinki.

“Apa maksudmu ’apa yang aku lakukan’. Memang tak boleh aku kesini?” Gweboon hanya menggeleng kecil. Sementara Minho tersenyum, melangkah mendekat, dan merangkul Gweboon.

Ada sepasang mata yang terbelalak. Tak terima melihat sang istri diperlakukan seperti itu. Hey man, Gweboon itu istri Jinki!

“Sekalian saja. Karena kita sudah disini. Bagaimana kalau kita jalan-jalan bersama!”  ucap seseorang bernama Minho itu, dengan masih tetap merangkul Gweboon.

“YA! kenapa kau memperlakukannya seperti itu!” Jinki berseru, tidak memperdulikan sikapnya sekarang yang seharunya seperti seorang wanita manis. Minho yang melihatnya mengernyit bingung.

“Kau siapa?”

“Aku ini…,” suaminya, Sebenarnya  Jinki ingin menyahut begitu. Tapi saat mata Gweboon mendelik tajam ke arahnya. Jinki hanya bisa menggantungkan ucapannya.

“Dia ini teman baikku oppa,” Gweboon menjawab, mengambil alih pembicaraan.

Nyiutt untuk kedua kalinya~

Lagi-lagi Jinki merasa kepercayaan dirinya turun. Kenapa teman baik? Kenapa tidak katakan suami…pacar…atau mungkin teman kecan?

Baik. Jinki tahu, jika Gweboon menjawab seperti itu. Gweboon akan disangka tidak normal. Tapikan Jinki senang dengan itu. Apa salahnya membuat hati Jinki senang, Gweboon!

 Gweboon itukan istri Jinki, sudah sewajarnya membuat hati Jinki senangkan?

* * *

Dia Jinri. Gweboon kenal dari dunia maya. Meski begitu, Jinri dan Gweboon sangat akrab dan memutuskan menjadi teman baik setelah sering bertemu.

Tapi ada masalah dengan Jinri.

Dia itu tidak seperti gadis kebanyakan.

 

Jika pria tampan yang berotot akan membuat gadis lain tergila-gila. Jinri justru akan tergila-gila pada gadis dengan kaki seksi. Ringkasnya, Jinri tidak normal.

Skenario gila yang dibuat Gweboon tidak hanya membuat Minho terbelalak. Tapi juga Jinki, yang menjadi tokoh ’Jinri’ marah tak berdaya.

Jinki kesal. Tidak bisakah mengarang sebuah skenario yang lebih bagus, seperti…

Dia ini sebenarnya lelaki. Hanya saja karena terlalu sempurna. Ada kakek sihir jahat yang iri padanya. Lalu mengutuknya menjadi perempuan. Dan Gweboon jatuh cinta pada lelaki yang sedang dikutuk ini.

Jinki tersenyum aneh membayangkan skenario hasil pemikirannya. Baiklah, itu memang jauh lebih gila, dan tidak masuk akal! Tapi…Jinki senang. Lalu apa salahnya membuat Jinki senang? Jinki kan suami Gweboon.

“Kau seharusnya menjaga jarak darinya!” ucap Minho sambil memandang sosok Jinki yang duduk di depannya.

Mereka bertiga sekarang berada di sebuah café. Minho dan Gweboon duduk berdampingan, sementara Jinki ada di hadapan mereka.

“Oppa, dia teman baikku. Jika hanya karena hal seperti itu saja aku menjauhinya. Untuk apa kami berteman!”

“Tapi dia bahaya Gweboon,” kali Minho menatap Gweboon penuh dengan kekhawatiran.

Ya! Jinki masih ada disini. Didepan mereka. Tidak mengertikah bagaimana rasa sakit Jinki sekarang? Jinki yang dibicarakan. Mendengar semuanya.

Cukup! Gweboon juga tidak membantunya. Justru Gweboon-lah yang menyudutkannya seperti ini.

Jinki bangkit dari duduknya, membuat Minho dan Gweboon menoleh bersamaan.

“Aku memang berbahaya. Karena aku suka menggigit dan mencubit. Tapi setidaknya aku tidak seperti seseorang yang suka menarik-ulur perasaan orang lain!”

Awesome!

Jinki berjalan dengan kerennya, menjauhi Gweboon dan Minho.

Jinki benar-benar terlihat marah. Bahkan dia lupa cara membuka pintu café. Dia terus mendorongnya, padahal ada tulisan ’tarik’ di depannya.

* * *

Sudah seminggu Jinki menjauhi Gweboon. Tidak berbicara apa-apa, kecuali saat di depan Eunsook. Itupun juga hanya sekedar mengucapkan kata ’Ya’ atau ’Tidak’ .

Jinki-Gweboon bahkan sekarang jarang bertemu. Disaat siang, Jinki yang berubah menjadi perempuan tidak ada di rumah. Dia menyendiri di rumah fullhouse atau sekedar mengadakan sayembara ciuman di jalan—-meski dianggap gila—-. Saat malam, Jinki akan bekerja di kantor. Dia mengubah agendanya bekerja dan meetingnya menjadi malam. Dan jika agendanya selesai lebih awal, dia akan pulang dan langsung tidur di sofa.

Tanpa menghiraukan Gweboon.

Tanpa mempedulikan Gweboon.

Tanpa mengetahui perasaan Gweboon.

Hey! Tidakkah Jinki memikirkan Gweboon yang kesepian. Selama beberapa hari suaminya sendiri bahkan tidak mengajaknya bicara. Ini merupakan tekanan batin.

Yang lebih sial, sebenarnya….karena Gweboon butuh uang.

Ck..

<flashback>

“Appa…aku ingin meminta uang saku untuk satu bulan!” Gweboon yang kehabisan uang, nekat mendatangi kantor ayahnya untuk meminta uang.

Kibum terbelalak mendengarnya. Uang saku?

“Kau ini kenapa? Minta saja pada suamimu. Sekarangkan kau sudah punya suami. Kenapa justru meminta pada Appa!”

Gweboon memasang wajah memelas pada Kibum. Kibum cuek saja, dan tidak mempedulikannya.

“Aku tidak mungkin meminta uang saku padanya!” ucap Gweboon akhirnya sambil mendudukkan diri dengan lemas di sebuah sofa yang ada di ruang kerja ayahnya.

“Kalian bertengkar?” Gweboon menggeleng lemah.

Tidak..Gweboon dan Jinki tidak bertengkar. Karena mereka memang tidak pernah akur sebelumnya.

“Kalau begitu minta saja. Apa perlu Appa contohkan caranya?”

Gweboon menatap malas sang ayah yang sekarang justru berdiri sambil memasang wajah sok seksi.

Kibum memasang wajah cemberut yang lucu, tubuhnya sedikit ia miringkan. Kedua telapak tangannya terbuka dan ditengadahkan di bawah dagu, “Suamiku….aku minta uang ja—–jan~~~!” ucap Kibum memberi contoh ’cara meminta uang saku pada suami yang baik’.

Gweboon harusnya tertawa melihat wajah ayahnya, seperti halnya yang dilakukan para bawahan Kibum yang mengintip dibalik pintu. Tapi Gweboon justru menitikkan airmatanya.

Kenapa bisa Gweboon yang cantik, memiliki ayah sejelek Kibum?

Aish! anak yang kurang ajar.

<flashback off>

* * *

Sampai kapan Jinki akan bersikap seperti ini?

Sudah pukul 2 malam. Dan Jinki baru saja pulang dan menidurkan diri di atas sofa. Gweboon yang sebelumnya memang memutuskan untuk menunggu Jinki. Hanya bisa mengintip di balik selimut dan berpose seolah sedang tertidur dengan wajah sexy.

Jinki benar-benar tidak menganggap kehadiran Gweboon. Dia bahkan tak menoleh pada Gweboon yang berbaring di ranjangnya.

Gweboon sedih.

Mana bapak tua yang sering berlaku kasar padanya? Mana bapak tua yang bisa membuat Gweboon diam-diam tertawa.

Apa Jinki marah pada Gweboon?

Tapi..kenapa?

Bukankah seharusnya Gweboon yang marah pada Jinki. Karena Gweboon harus mengulang di pelajaran ’sejarah kebudayaan korea’. Karena hasil pekerjaan rumah yang Gweboon kerjakan dengan bantuan Jinki tidak tuntas.

Hah, sudah malam. Gweboon juga sudah mengantuk. Lagipula, tidak ada yang bisa dilakukannya saat ini. Hanya berharap, saat pagi —-dia bangun—-, Jinki ada disisinya dan memarahinya. Gweboon masih tahu diri, kalau Jinki tidak akan tersenyum padanya. Jinki tidak akan bersikap manis pada Gweboon. Karena Gweboon tahu, Jinki tidak menyukainya.

* * *

“Cokelat atau strawberry?”

“……..”

“Gweboon, cokelat atau strawberry?”

Sosok tangan kekar itu menyodorkan dua buah cup ice cream di depan Gweboon. Gweboon yang sedang tak sadarkan diri, hanya bisa menatap kosong kedua cup ice cream itu.

“Gweboon!”

Gweboon akhirnya menoleh malas. Membuat Minho yang sedari tadi memperhatikannya, merasakan sesuatu yang janggal.

“Apa ada sesuatu yang menganggumu, Gweboon?”

Gweboon hanya terdiam. Mendiamkan begitu saja pertanyaan Minho barusan.

“Baiklah, ku pikir ini saatnya aku mengatakannya padamu Gweboon!”

 Minho menghela nafasnya sejenak, meski sudah tahu tak dihiraukan Gweboon. Minho tetap tak menyerah.

Bahkan kedua mata bulatnya mengalihkan pandangan ke sekitar. Mempersiapkan diri dengan apa yang akan dikatakannya.

Sepertinya hal yang serius.

Tapi Gweboon, sama sekali tak menaruh perhatiannya untuk Minho.

Otaknya lebih sibuk memikirkan cara agar dapat bertemu Jinki. Memastikan keadaan Jinki, dan…meminta uang begitu saja.

Gweboon masih mengelak isi hati kecilnya. Yang berujar, Gweboon merindukan Jinki.

“Akhir minggu depan nanti, aku dan teman-temanku akan mengadakan perjalanan mendaki. Banyak teman-temanku yang membawa pasangannya. Oke, mungkin ini akan terdengar sedikit aneh. Tapi, aku ingin kau menjadi pasanganku. Bisakah kau menemaniku?”

Wajah Gweboon terlihat menanggapi dengan serius. Tapi sebenarnya, dia bahkan tak menyimak dengan baik. Yang ada di pikirannya hanya…

Dimana Gweboon dapat menemukan Jinki? Seberapa banyak uang yang bisa ia dapatkan dari Jinki? Apa cukup banyak untuk dapat membeli jatah pembalut selama tiga bulan?

“Gweboon?!” Memanggil gadis itu dengan lembut, Minho seolah ingin membuat gadis itu mengatakan ’ya’ pada tawarannya.

Mata Gweboon kini beralih pada dua cup ice cream yang masih disodorkan di hadapannya.

Apa Gweboon bisa menemui Jinki di fullhouse?

Oppa. Apa kau bisa memberikan aku dua cup ice cream ini?”

“Huh?”

Tanpa mempedulikan ekspressi kebingungan Minho, Gweboon merampas paksa dua cup ice cream itu.

Dan gadis itu berlari cepat sambil tersenyum.

Satu, dua, tiga, empat, lima..

Gweboon menoleh kembali ke belakang. Tersenyum manis pada Minho.

Oppa..Aku pasti akan membayarnya, jika aku sudah berhasil mendapatkan’nya.”

Minho tentu saja semakin tidak mengerti.

Mendapatkannya? Mendapatkan apa?

Gweboon sendiri mungkin mengartikan kata mendapatkan’nya’ sebagai mendapatkan uang dari Jinki.

Tapi jauh di lubuk hati, siapa yang tahu. Jika  ’nya’ adalah sosok Jinki sendiri. Atau hati Jinki, yang …jauh berharga daripada uang itu.

* * *

Uang terakhir yang Gweboon punya, sudah dihabiskan untuk naik sebuah bus berwarna kuning.

Dan bus kuning itu mengantarkan Gweboon ke rumah mirip fullhouse.

Jika, Jinki tak ada di dalam rumah itu. Habislah Gweboon, dia akan rugi besar. Bahkan dia mungkin akan pulang berjalan kaki.

Dengan tangan yang menggenggam dua cup ice cream yang hampir meleleh, Gweboon akhirnya memantapkan hati untuk masuk ke dalam rumah itu.

Treak.

Seperti dugaan Gweboon, pintu rumah itu lagi-lagi tidak terkunci. Seolah memang menunggu kehadiran Gweboon disana. Tapi tidak ada siapa-siapa di dalam. Suasananya juga sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan.

“Bapak tua?”

Panggil Gweboon untuk Jinki, tapi tidak ada yang menyahut.

“Bapak tua, apa kau ada disini?”

“Bapak tua!”

Kedua kaki Gweboon melemas. Apa Jinki tidak ada disini? Apa Gweboon tidak dapat bertemu dengan Jinki disini? Jadi ini sia-sia?  Lalu dimana dan bagaimana agar dia bisa bertemu Jinki?

Gweboon…

Gweboon benar-benar….merindukan Jinki. Dan sekarang, Gweboon kecewa dan dia  juga merasa…..

Tap…Tap..Tap

Suara langkah itu membuat Gweboon mendongakkan kepalanya, menatap sekitar. Dan seketika tersenyum tipis saat melihat sosok Jinki dalam bentuk perempuan sedang berjalan di teras belakang.

Ada apa dengan bapak tua itu? Apa dia tak menyadari kehadiran Gweboon? Kenapa tak menyahut, saat Gweboon memanggilnya.

Apa karena dia perempuan sekarang? Dan seharusnya Gweboon memanggilnya dengan sebutan ’Ibu tua’ bukan ’bapak tua’.

Gweboon dengan pelan berjalan mendekati Jinki, kedua tangannya kembali meremas cup ice cream yang sudah meleleh dengan erat. Kenapa tiba-tiba Gweboon gugup? Terlebih saat melihat punggung Jinki yang membelakanginya itu sedang duduk santai di ujung teras, memandang laut yang menjadi halaman belakang rumah mereka.

Sementara itu, tidakkah Gweboon sendiri dapat memikirkan perasaan Jinki.

Waktu yang Jinki miliki tidaklah banyak. Beberapa  bulan, dan sebagian waktunya sudah terlewat begitu cepat. Dan sejauh ini, tidak ada hasil yang bisa dibanggakan. Bagaimana jika Jinki menjadi seorang perempuan untuk selamanya?

Bagaimana dengan perusahaannya?

Bagaimana dengan nasibnya sendiri?

Dan…bagaimana dengan Eunsook?

Jika terus seperti ini, maka  semuanya akan berakhir.Jinki semakin frustasi memikirkannya.

Apalagi selama seminggu belakangan, Jinki sudah menjauhi Gweboon. Berusaha tak mengacuhkan gadis itu, meski berada dalam satu kamar yang sama. Sebenarnya dia tersiksa melakukan semua itu, tapi tak ada pilihan lain.

Ini tentang perasaan Jinki. Jinki adalah seorang suami yang terjebak menjadi sosok perempuan. Dia juga harus merendahkan diri dengan menerima pengakuan bahwa dia adalah  perempuan tidak normal, di depan seorang lelaki yang disukai istrinya.

Dimana harga diri Jinki? Bagaimana rasa sakit Jinki?

Jujur, sebenarnya Jinki justru lebih marah pada diri sendiri. Maksudnya, kenapa dia tak dapat terlihat baik di mata Gweboon. Kenapa hanya sosok bapak-bapak tua kaya raya yang terpaksa Gweboon nikahi karena kejadian mereka tidur bersama, yang Gweboon ketahui tentang Jinki. Jinki merasa…dia tak seburuk itu.

Jinki memang lebih tua dari Gweboon. Umur Gweboon 17 tahun, dan Jinki…23 tahun. Terpaut usia 6 tahun. Itu tidak terlalu jauh bukan? Dan itu..juga bukan salah Jinki terlahir enam tahun lebih awal dari Gweboon. Lagipula, bukankah lelaki yang lebih tua itu…lebih mapan?

Ya, Jinki setuju itu! Jinki memang jauh lebih mapan dari….MINHO!

“Ini..”

Sosok tangan kecil itu mengulurkan sebuah cup ice cream, yang — sebagian ice creamnya sudah meleleh— di hadapan Jinki. Jinki menolehkan kepalanya. Menatap bingung, pada Gweboon yang sudah duduk di sampingnya. Kapan dia datang?

“Ku dengar, ice cream baik untuk orang-orang frustasi seperti kita!” Gweboon nyengir pada Jinki, sambil memakan ice creamnya. Jinki yang melihatnya berusaha menyembunyikan senyum. Hey, hey…bukankah Jinki sedang mendiamkan Gweboon? Kenapa cepat sekali berubah pikiran?

“Apa kau sedang frustasi?” tanya Jinki sambil menerima cup ice cream di tangannya.

“Ya. Saking frustasinya, Aku berencana merampok Bank.”

“Apa?”

“Tapi karena lariku lambat. Aku rasa aku akan tertangkap sebelum merampok!”

“Idiot, apa yang sedang kau bicarakan?”

Gweboon menoleh pada Jinki, sambil mengemut ice cream di mulutnya.

Sudah lama dia tak mendengar Jinki mengatainya. Dan dia senang saat mendengar Jinki mengatainya ’idiot’. Entah kenapa dia merasa kalau panggilan itu terdengar….mesra?

“Kau sendiri, kenapa frustasi?”

Gweboon masih belum siap untuk menyampaikan keinginannya. Mengalihkan pembicaraan dengan mengajukan pertanyaan lainnya.

Meminta uang pada Jinki? Oh ternyata ini jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan sebelumnya.

“Kau tahu, waktuku tidak banyak. Dan tidak ada gadis yang mau menciumku di jalan. Bahkan hari ini, aku hampir masuk penjara dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan,”  ucap Jinki sambil menatap lurus ke arah matahari yang sebentar lagi akan tenggelam. Dan membuat sore, menjadi malam.

Gweboon terdiam di tempatnya. Entah kenapa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya saat mendengar ucapan Jinki barusan.

“Kau tidak boleh menyerah seperti itu! Lagipula kenapa harus mencari gadis itu di jalan? Kau bisa mencarinya di Mall atau cafe?”

Jinki menoleh pada Gweboon sesaat dan mengangguk lemah, “Ya, kau benar!”

Meski di dalam hati lagi-lagi Jinki kecewa atas sikap Gweboon. Apa benar-benar tidak bisa, kalau gadis yang selama ini Jinki cari, adalah Gweboon itu sendiri? Apa benar tidak bisa? Kenapa?

Jika alasannya, karena Jinki menyebalkan. Jinki janji, tidak akan membuat Gweboon sebal lagi. Jika alasannya Jinki pelit, dia juga janji akan memberikan apa yang Gweboon mau tanpa pikir panjang. Dan bahkan jika alasannya, karena Jinki tidak bisa membantu mengerjakan PR Gweboon, Jinki bahkan mau mengulang masa SMAnya lagi, dan mengambil jurusan Social bersama gadis itu. Atau perlukah Jinki mendatangkan sepuluh mentor ilmu social terkenal di dunia untuk membantu Gweboon menghadapi ujiannya mendatang?

Jika semua itu alasannya. Jinki sanggup menyanggupi…dia akan berubah dan berusaha menjadi Jinki yang Gweboon inginkan.

Tapi jika alasannya karena yang satu ini.

Karena Gweboon tidak menyukai Jinki. Jika karena itu alasannya, maka yang Jinki bisa lakukan hanya mengangguk dan berjalan mundur. Jinki akan mengibarkan bendera putih, tanda ia kalah dan menyerah.

Gweboon menatap tubuh Jinki yang mulai terlihat transparan, seperti menyatu pada udara yang tidak terlihat, seperti akan hilang dan lenyap untuk selamanya. Sementara cahaya matahari yang sudah raip, hanya menyisakan aurora-aurora merah yang menempel pada langit biru yang mulai kelam.

“Eomma mengabariku dia pergi ke Amerika untuk lima hari ke depan. Jadi selama lima hari ke depan kita dapat hidup dengan tenang di rumah. Sekarang, ayo kita pulang!” Jinki yang kini menjadi sosok laki-laki bangkit dari duduknya, menepuk celana jeansnya dan mengeratkan sweaternya—pakaian laki-laki yang sudah ia kenakan saat ia menjadi perempuan—.

Kesadaran Gweboon mulai kembali perlahan, dia ikut bangkit dan berjalan menggiring Jinki di sampingnya, “Bagaimana rasanya?”

“Apa?”

“Saat kau berubah seperti tadi, apa itu sakit?”

“Euh?”

“Sudahlah, lupakan saja kalau begitu.”  Gweboon menundukkan kepalanya. Dia tak tega jika harus bertanya lebih jauh.

“Tidak terasa apa-apa. Tapi sesaat hendak berubah, kepalaku akan berdenyut-denyut. Tapi hari ini, denyutnya tidak terlalu menyiksa, mungkin karena aku melihatmu” Jinki berucap sambil melengkungkan garis bibirnya, tersenyum. Tapi tunggu apa yang barusan ia katakan. Buru-buru Jinki melanjutkan ucapannya.

“Maksudku, kenapa ada orang yang bisa memasang wajah bodoh seperti itu? Bahkan ku pikir wajah putri Fiona (Sherk movie) yang sedang dikutuk, jauh lebih cantik dari wajah dekilmu!”

Gweboon yang semula tersenyun senang mendengar Jinki, merubah ekspressinya seratus delapan puluh derajat.

Bugh…

Gweboon menginjak kaki Jinki,  dan mengeraskan rahangnya—memasang wajah menantang—. Jinki tentu saja, tidak terima dengan perbuatan yang ia dapatkan. Ia hendak meraih tubuh Gweboon dan menyeretnya di jalan. Tapi Gweboon yang menyadari niat Jinki yang menuntut pembalasan dengan segera berlari menghindar.

Dan, adegan murahan kembali terjadi.

Gweboon yang berlari-lari, dan Jinki yang mengejarnya.

Tidakkah lebih baik jika mereka berlarian berlawanan arah, dan saling mendekat satu sama lain lalu berpelukan saja?

Setidaknya itulah yang diharapkan lelaki bernama Kim Jonghyun tersebut, yang lagi-lagi duduk melayang sambil memasang wajah aneh, saat menonton aksi Gweboon dan Jinki.

Tapi, siapa sebenarnya Kim Jonghyun itu?

* * *

Gweboon menggerutu dari tempatnya berdiri. Sesekali ia menoleh pada Jinki yang duduk santai di atas sofa,  asyik menekan-nekan remote televisi di ruang tengah.

Dasar tuan muda. Apa yang dia perbuatnya pada Gweboon. Memberikan hari libur pada seluruh pelayan di rumah, dan menyuruh Gweboon mengerjakan seluruh pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh para pelayan yang sudah diberikan hari libur oleh Jinki.

“YA! Apa makanannya sudah siap, kenapa lama sekali?”

Gweboon mendelikkan matanya sebal. Ini kali ketiga Jinki meneriakinya tentang makanan. Padahal baru lima menit lalu, dia menyuruh Gweboon untuk memasak sesuatu di dapur.

“Kau pikir aku restoran cepat saji? Tunggu beberapa menit lagi!”

“Apa kau berniat membuatku mati kelaparan, anak Kim Kibum!?”

Gweboon tidak bisa bertahan lagi. Kesabarannya sudah menguap karena sulutan api yang diberikan Jinki. Dengan mengepal spatula di tangan kanannya, Gweboon melangkah mendekati Jinki yang dengan santai berbaring di atas sofa dengan posisi tangan yang menumpu kepalanya sementara tangannya yang satu masih asyik menekan-nekan remot televisi.

“Sebenarnya apa maumu?”

“Aku ingin makan, aku…lapar,” sahut Jinki santai tanpa memandang ke arah Gweboon yang berdiri di sampingnya.

“Jika kau tak bisa menunggu. Beli saja makanan di luar, atau delevery saja? Itu jauh lebih praktis!”

“Tapi aku punya istri yang bisa menyiapkan semua itu, kenapa harus membeli makanan di luar?”

Gweboon menatap Jinki tak percaya, saat mendengar kata ’istri’ terucap dari bibir bapak tua yang menyebalkan itu. Jadi hanya disaat seperti ini, orang bernama Lee Jinki itu menganggapnya istri?

“Bagaimana jika istrimu tidak ingin melakukannya bapak tua?”

“Dia akan berdosa. Karena tidak melayani suaminya. Setidaknya jika dia tak bisa membantu membuat anak, dia harus membantu untuk yang satu ini…membuat makanan untuk suaminya!”

Apa? Apa yang barusan Gweboon dengar dari lelaki di depannya. Apa Jinki merencanakan hal jahat?

“Ku pikir suaminya juga akan berdosa. Bagaimanapun dia hanya bisa menyuruh saja. Lagipula tidak masalah jika istrinya tidak bisa membantu membuat anak, jika ku pikir istrinya saja masih di bawah umur!”

“Hstt….hstttt, Apa yang sedang kau masak?” ucap Jinki sambil mengenduskan hidungnya, dan mengacuhkan apa yang barusan Gweboon ucapkan untuk membalas perkataannya.

Semula Gweboon mengira Jinki hanya mengalihkan topic pembicaraan, tapi sesaat mencium bau asap, Gweboon membulatkan kedua matanya dan segera berlari ke arah dapur!

“TIDAK, TELURKU! BAGAIMANA INI?”

Sebagai seorang suami yang baik, Jinki yang mendengar Gweboon memekik dengan segera berlari menghampiri Gweboon. Dan seketika  membelalakan matanya saat melihat ada kepulan asap yang memenuhi  dapur.

“Kau tunggu disini. Akan ku padamkan apinya dulu!”

* * *

“Bagaimana bisa aku menikahi seorang perempuan yang bahkan tidak bisa menggoreng telur?” Jinki menggerutu  pelan sambil memainkan pisau di atas wortel. Jika Jinki seorang lelaki jahat, mungkin ia akan memainkan pisau di atas tubuh Gweboon.

Gweboon yang mendengar ucapan Jinki hanya bisa mendesah, sekaligus menyesal. Bahkan yang ia lakukan sedari tadi hanya berdiri seperti patung di dekat westafel.

“Jika kau masih ingin terlihat sebagai seorang perempuan di mataku. Setidaknya kau ambilkan aku panci!”

Kali ini Gweboon dengan tergesak mengambilkan panci dari dalam lemari. Tapi karena pancinya ada di lemari atas, Gweboon harus berjingkit dan melompat kecil. Apalagi panci yang ia cari terletak jauh di dalam lemari. Ini semua demi dilihat sebagai perempuan oleh Jinki.

Hup

Hup

Hup

Berhas…. “prang..prang”

Tidak berjalan mulus, bukannya berhasil meraih panci yang diinginkan. Gwebonn justru menjatuhkan alat-alat dapur yang lain.

“Sudah ku duga, kau tak bisa melakukan apapun. Bahkan kau tak bisa mengambil panci dari dalam lemari!” ucap Jinki yang entah sejak kapan tiba-tiba menahan tubuh Gweboon dengan merangkul– agar tidak jatuh ataupun kejatuhan alat-alat dapur dari lemari–.Sejenak Jinki terlihat ’herois’ meski merelakan punggungnya kesakitan karena kejatuhan alat-alat dapur.

Lain dengan Gweboon yang sibuk mengigigiti bibir bawahnya, dan menunduk. Kenapa dia jadi nampak bodoh di depan lelaki bernama Lee Jinki ini sekarang? Dan kenapa harus mempermalukan dirinya sampai dua kali!

Jinki yang melihat ekspressi Gweboon, tiba-tiba merasa tak enak hati, dengan kesadarannya ia melepaskan rangkulannya dengan wajah canggung. Tapi karena juga tak tahu apa yang harus ia katakan untuk menghibur Gweboon, dia memilih untuk diam saja. Dan suasana yang semula ramai karena suara barang-barang yang berjatuhan dari lemari, kini menjadi senyap, yang terdengar hanyalah suara air yang dididihkan Jinki di dalam panci.

Jinki benar-benar tak suka suasana seperti ini. Gweboon juga.

“Dreeeettt…dreeettt”

Save by handphone Gweboon  yang tiba-tiba bergetar, dengan alasan menerima panggilan Gweboon harus menjauhkan diri dari dapur, Jinki yang melihat Gweboon menjauh hanya bisa menghela nafas pendek. Bersyukur suasana canggung itu tidak bertahan terlalu lama.

“Minho oppa, ada apa?”

’….’

“Ajakan?”

’….’

“Ah…gunung. Baiklah, aku akan minta izin dulu dari Appa!”

’….’

“Ne, sampai jumpa”

Minho oppa? Apa lelaki itu yang menelpon Gweboon. Lalu apa hubungannya dengan gunung?

Jinki yang mencuri dengar dari  pembicaraan Gweboon di telpon, sibuk dengan dugaan-dugaan anehnya.

 Apa Minho mengajak Gweboon berkencan, melihat bintang di gunung?

* * *

Sup sayur, ayam goreng, nasi dan sambal goreng.

Semua makanan itu terhidang di depan Gweboon, bersama seorang lelaki yang sibuk menata piring.

“Ayo makan, aku tidak tahu bagaimana rasanya. Tapi aku yakin masih bisa dimakan.” ucap Jinki yang sekarang sudah duduk dengan memegang sendok dan garpu.

“Kau benar-benar memasak ini sendiri?”

“Apa kau merasa membantuku memasaknya?”

“Aishh..aku hanya tidak menyangka, seorang tuan muda sepertimu bisa memasak semua ini!”

“Aaa…jadi sekarang, kau mau bilang kalau kau kagum padaku? Aku cukup hebatkan?”

“Apa?”

“Itu benarkan! Aku memang keren.”

Gweboon mendelik ke arah Jinki, yang tiba-tiba terlihat terlalu percaya diri. Baiklah, Gweboon akui kali ini Jinki memang terlihat er..cukup baik tapi  tidak cukup baik hingga bisa dibilang Jinki keren. Sementara Jinki tersenyum puas melihat Gweboon tidak bereaksi untuk membalas perkataannya.

“Makanlah, jika supnya dingin. Rasanya berkurang enak!”

Dan suasana kembali hening, saat mereka berdua fokus untuk menyuapkan makanan ke mulut masing-masing.

“Apa tadi itu kucing peliharaanmu?” tanya Jinki disela mengunyah makanannya. Sementara Gweboon mengernyit bingung dengan pertanyaan itu.

Kucing peliharaan, apa?

“Yang menelponmu, idiot!” lanjut Jinki sambil menunjuk Gweboon dengan sendoknya.

“Aissh..Lelaki itu, yang kau panggil oppa padahal samasekali tidak pantas!”  ucap Jinki lagi sambil memain-mainkan sendok di udara.

Kali ini Gweboon menatap tajam ke arah Jinki. Oh, jadi maksud Jinki dengan kucing peliharaan itu adalah Minho oppa. Keterlaluan sekali, Minho oppa sama sekali bukan kucing peliharaan Gweboon. Minho itu calon suami idaman Gweboon.

“Ya! apa hakmu mengatai Minho oppa kucing peliharaanku! Minho oppa yang begitu tampan tidak pantas dikatai seperti itu!”

“Apa sekarang kau marah hanya karena aku mengatai Oppamu itu?”

“Tentu saja aku marah, kau pikir siapa kau! seenaknya saja kalau bicara!”

“Aku? Aku Lee Jinki. Apa kau tak mengenalku? Apa kau tiba-tiba amnesia?” sahut Jinki menyebalkan.

* * *

Pukul sembilan malam, dan Gweboon baru saja menyelesaikan pekerjaannya mencuci piring. Sementara Jinki kembali duduk di sofa dan menonton televisi.

“Kenapa eommonim mendadak pergi ke Amerika?” tanya Gweboon sambil mendudukkan diri, di samping Jinki.

“Dia bilang ingin membeli sayur dan daging.” sahut Jinki gamblang, masih tetap asyik dengan televisi di depannya.

“Apa kau bercanda? dia pergi ke Amerika, hanya untuk membeli sayur dan daging?”

“Apa hal seperti itu terdengar hal yang bisa dijadikan candaan bagimu? Eomma memang sering pergi ke luar negri, Jika bukan untuk mengurus bisnis, ya sekedar membeli beras, sayur atau lauk pauk. ”

Gweboon  menganga mendengarnya.

Amerika?

Membeli beras, sayur, dan lauk pauk?

“Tidakkah itu pemborosan? Bukankah di Seoul juga ada beras dan lauk pauk?”

“Aku tidak terlalu mempedulikan itu. Yang penting, sebatas Eomma menyukainya, aku tak masalah. Lagipula jika terus berada di rumah dia pasti merasa bosan.”

“Tapi terlalu berlebihan jika itu Amerika.”

Jinki tak menghiraukan Gweboon, dengan santai dia justru bersiul sambil tersenyum menatap film kartun di televisinya. Menganggap Gweboon hanya sekedar udara kosong. Sementara Gweboon semakin berpikiran, kalau hari ini Jinki benar-benar menyebalkan.

* * *

Sekarang pukul setengah sepuluh malam.. Tunggu, haruskah aku selalu memberitahukan jam berapa sekarang? Baiklah itu tidak penting.

Sekarang pukul setengah sepuluh malam..

Karena malam ini di rumah mewah itu hanya ada Jinki dan Gweboon, Jadi  tidak ada permasalahan dengan kamar tidur. Maksudnya, Jinki dan Gweboon dapat tidur di kamar yang berbeda, dan tidak ada Eunsook yang akan mencampuri semua itu.

“Ingat, pagi-pagi kau harus sudah siapkan sarapan.” Jinki menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar, menoleh pada Gweboon yang berada sekitar lima meter di belakangnya.

“Memangnya ahjumma kemana?”

“Bukankah kau menyaksinyakan sendiri, saat Aku menyuruh seluruh pelayan untuk berlibur selama lima hari. Jadi berarti dalam lima hari ke depan, kau yang menggantikan tugas mereka!”

Tanpa mempedulikan reaksi Gweboon, Jinki berlalu begitu saja masuk ke dalam kamarnya. Sementara Gweboon dengan wajah tak ikhlas, hanya bisa menatap pintu kamar Jinki yang sudah tertutup.

Bapak tua itu sangat menyebalkan. Kenapa dia tega bersikap seperti itu pada anak semanis Gweboon, Apa salah Gweboon? Ahya, mungkin itulah salah Gweboon. Terlahir sebagai anak manis.

* * *

Di atas tempat tidurnya, dengan wajah yang sedang tersenyum-senyum Jinki menatap seluruh kamarnya. Beberapa detik lalu, sebuah pemikiran licik menggerayangi otaknya.

Ini tentang Gweboon yang akan pergi ke gunung untuk melihat bintang bersama…entahlah, Jinki lupa namanya.

Meski tidak mendengar secara jelas pembicaraan Gweboon di telepon. Tapi Jinki  bersikukuh hal itulah yang menjadi pembicaraan Gweboon dengan kucing peliharaannya via telepon tadi. Dan 80 persen, dugaan Jinki mungkin tepat.

Jinki berencana membuat hari itu hujan. Mungkin lebih tepatnya seperti ini, Jinki memiliki banyak uang, dan uangnya itu masih lebih dari cukup untuk membayar proses hujan buatan. Berlebihan sekali, bahkan tanpa hujanpun Jinki bisa menghentikan acara ke gunung Gweboon, misalnya dengan menyogok uang pada Gweboon. Gweboon yang sedang kesulitan uang, pasti tidak akan menolaknya.

“Tidak akan membiarkannya…tidak akan pernah,” seorang diri Jinki bergumam, sesekali memamerkan senyum penuh arti. Dianggap gilapun sepertinya Jinki tak peduli.

Sementara itu, Gweboon sudah tertidur nyenyak di atas tempat tidurnya—yang kali ini tidak berada dalam satu kamar yang sama dengan Jinki—. Gweboon yang bermimpi memukuli Jinki yang seharian ini telah membuatnya kesal, membuat Gweboon tersenyum-senyum dalam tidurnya.

“YA! Apa kau masiiieeh mau lagi?”

Bugghh

Gweboon memukul wajah Jinki hingga berdarah. Gweboon terkikik melihat Jinki yang tidak berdaya dan bahkan berlutut di depannya.

Dan tentu saja, itu hanya bagian dari mimpi indah Gweboon, yang mampu membuat Gweboon tidur sambil mendengkur.

* * *

Mungkin sekitar pukul lima pagi, seorang wanita yang menggunakan kaus abu-abu lengan panjang itu mencoba membuka paksa pintu kamar Gweboon.

Tok..tok..tok

Treak..treaak..treakk

Karena terkunci, wanita itu memasang wajah frustasi. Beberapa kali ia  mencoba mendorong pintu dan bahkan menggedor-gedor. Tapi pintu kamar Gweboon tidak menunjukkan reaksi, masih sama seperti semula. Bahkan tidak ada tanda-tanda akan terbuka.

“YA, Anak gadis Kim Kibum buka pintunya!” ucap perempuan itu, seolah Gweboon akan menurutinya.

Sebenarnya wanita itu, tidak lain adalah Jinki yang telah berubah menjadi perempuan. Dan Jinki punya sesuatu untuk diberitahukan pada Gweboon. Ringkasnya, mungkin ini keadaan darurat!

“GWEBOON!”

Meski sudah membuat sarafnya menegang, Jinki tak kunjung mendapatkan balasan. Sepertinya, Gweboon memang berniat menyatakan perang.

Baiklah. Lagipula, Jinki adalah raja di rumahnya. Membuka pintu Gweboon, meski di kunci dari dalam bukanlah suatu hal yang mustahil. Dengan langkah setengah berlari, Jinki mengambil sebuah kunci yang terletak di atas buffet, yang tak jauh dari kamar Gweboon.

Kunci cadangan!

Untuk Gweboon yang nakal!

Treak..treaak..treakk

Pintu kamar Gweboon-pun sudah terbuka dalam hitungan detik. Dan jangan salahkan Jinki jika bertindak tidak sopan  dengan masuk ke dalam begitu saja. Lagipula ia sudah permisi tadi, meski di dalam hati…

“Kim Gweboon,” ucap Jinki sambil menoel tubuh Gweboon yang masih tertidur.

Tidak ada reaksi.

Gweboon masih tertidur nyenyak, dan bahkan mendengkur lembut.

Dan entah kenapa juga, adrenali Jinki mulai meningkat. Ada ’sesuatu’ yang sepertinya akan terjadi.

Benar, seperti itu!

Ini peluang yang sangat nyata bukan? Jinki bisa mencium Gweboon!

Wajah Jinki yang diyakininya sangat tampan itupun mulai mendekat pada wajah Gweboon yang sedang damai. Saatnya memanfaatkan peluang dengan sebaik-baiknya.

Dugh..Dughh..Dughh

Jinki menjauhkan wajahnya. Sepertinya ia tak sanggup, detak jantungnya itu membuatnya kesulitan untuk bernafas. Tapi sedetik kemudian dengan cepat, Jinki…

Cup

Akhirnya satu kecupan di kening Gweboon berhasil Jinki lakukan.

Tapi Man, itu kening?

Tidak bisa! bukankah seharusnya itu…bibir Gweboon?

Baiklah. Kalau begitu Jinki akan melakukannya lagi saja. Bolehkan?

Tunggu, kenapa tiba-tiba Jinki merasa pandangannya buram?

saat Jinki hendak melakukannya lagi—mencium Gweboon—. Tiba-tiba saja ia terlengkup di samping Gweboon.

Tiba-tiba Jinki hilang kesadaran.

Sebenarnya ada apa dengan Jinki?

—–To Be Continued—–

READ MORE FANFICTION ‘I Need a Kiss’

I Need a Kiss Season I (Sequel )
|| Teaser | Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7 | Part 8 | Part 9 | Part 10 | Part 11 [END] ||
I Need a Kiss Season II (Sequel )
( Part 1 | Part 2 [END] )

A/N : Done ya! semoga engg kepanjangan atau kependekan.

Dikomen ya😄

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

94 thoughts on “SHINee Fanfiction Romantic Comedy // I Need a kiss – Part 5

  1. Wah, blog kamu udah ga private lagi ya.
    Kangen sama kekonyolan mereka x) Akhirnya bisa baca lagi😀

    Suka

  2. bhaq~~
    ada apa denganmu jjinki?😄
    haha..lanjut kaaaaaak

    Suka

  3. Haha tiap x bca ff 1 ini bikin ngakak, dr part 1 cuman d part ini sja aku bisa coment sangking seru.a gk tahan buat bca part slanjut.a hebat bnget untk yg nulis ini ff.. Dn loh it knp jinki ko pingsan? Oke next bca lg😀

    Suka

  4. Jinki? Jinri?
    Ahaha
    Aduhh, gweboon itu polos atau bego sih. Gregetan bgt jdinya

    Suka

  5. gwe mah gapeka.. hhaa… rasanya pingin nendang monho menjauh dr jinboon.. kkkk maapkeun ya ming, tp kqli ini km beneran jd pengganggu…

    Suka

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s