Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

SHINee Fanfiction Romance Comedy // I Need a Kiss – Part 7

134 Komentar

I Need a Kiss Cover Fanfiction2

  • ·        Title : I Need a Kiss – Part 7
  • ·        Author : Rasyifa || https://rarastory.wordpress.com
  • ·        Genre : Romance, Fantasy, Little bit of Comedy—maybe–.
  • ·        Main Cast :
    – [YOU] Kim Gweeboon
    – Onew  SHINee – Lee  Jinki
    – Minho SHINee – Choi Minho
  • ·        Other Cast :
    – Find by your self.
  • ·        Length : Chaptered
  • ·        Rating : Teen — General
  • ·        Summary :

Jika matahari tenggelam, dia seorang lelaki yang tampan, yang bisa mengerti dan dalam diam terus memberi perhatian. Namun jika matahari terbit, dia lebih memilih untuk bersembunyi dengan wujud perempuan yang menyedihkan.

– —
(!) Ditulis dengan kemampuan diksi dan humor yang rendah.
Di publish untuk memperbanyak arcive.

Happy reading~

– —

I Need a Kiss

Written by Rasyifa | https://rarastory.wordpress.com

– – –

Jinki tidak pernah mencuri celana dalam orang itu, lalu menjadikannya penutup mata bajak laut.

Jinki juga tidak pernah kentut di depan wajah orang itu. Tapi jika diijinkan, dengan senang hati ia akan kentut di depan wajah orang itu!

Apa karena Jinki berhutang padanya? Itu tidak mungkin.

Jinki uangnya banyak, jika ada istilah hutang…itu lebih pantas jika Jinki-lah yang meminjamkan uangnya.

Lalu kenapa orang itu memukulnya?

“Minho oppa,” ucap Gweboon dengan wajah kebingungan.

Sementara Minho, seseorang yang tidak lain adalah tersangka dari kasus pemukulan itu tak bergeming. Mata bulat pemuda itu mengkilatkan kemarahan. Bagian bawah rahangnya bahkan terlihat mengeras.

Dan tanpa  ada sahutan untuk membalas, Minho meraih tangan Gweboon dan menariknya.

Gweboon yang tak berdaya, kontan saja berdiri dan berjalan mengikuti Minho.

Tapi, meskipun Gweboon tak berdaya, masih ada Jinki yang sangat berdaya. Dengan tangan kirinya, Jinki menahan tangan Gweboon yang satunya. Dia tak ingin Gweboon pergi bersama lelaki jangkung itu.

Merasa tangan yang satunya ditahan, Gweboon menoleh pada Jinki, yang justru sedang menatapnya tanpa suara.

Apakah Jinki tidak menginginkan Gweboon pergi, tapi kenapa Jinki tak mengucapkan apa-apa?

Setidaknya, ucapkan nama Gweboon, seperti yang Minho lakukan.

“Brengsek!”

BUGH

Gweboon tak percaya, saat Minho tiba-tiba kembali meninju wajah Jinki untuk yang kedua kalinya.

“OPPA! APA YANG KAU LAKUKAN?”

“Ikuti aku Gweboon!”

“Kenapa kau memukulnya?”

“Ikuti aku!”

“Aku tidak mau!”

“AKU BILANG IKUTI AKU!”

Ini pertama kalinya Minho membentak Gweboon, dan cukup untuk membuat Gweboon membatu. Melihat reaksi Gweboon, Minho tersadar dan dengan pelan mendekati Gweboon.

“Maaf. Aku tak bermaksud membentak—,”ucap Minho menyesal. Gweboon mengacuhkan ucapan Minho barusan bahkan dia berjalan menjauh, meninggalkan Minho dan Jinki.

Minho hendak melangkah menyusul, tapi kembali berbalik untuk menatap tajam ke arah Jinki, lalu berucap,“Sekalipun kau sampah, jangan pernah menyeret  orang lain untuk mengikutimu menjadi sampah. Aku akan memukulmu lagi jika kau terus mendekati Gweboon. Jadi menjauhlah darinya. Ini bukan peringatan tapi ini ancaman. Karena aku tak segan-segan untuk memukulmu lagi-dan-lagi meskipun kau seorang wanita!”

Begitu saja sosok Minho-pun berlalu untuk menyusul Gweboon setelah menyelesaikan kalimat yang sangat kejam, tepat di depan Jinki.

Sementara Jinki terdiam dan mengulang ucapan Minho barusan dalam pikirannya.

Jinki sampah?

Tidak, dia bukan sampah, dan meskipun dia sampah dia juga tak akan pernah menyuruh Gweboon untuk menjadi sampah.

Ya, tidak akan pernah.

Hah..

Ini aneh, meski diperlakukan dengan sangat tidak hormat dan bahkan wajahnya menjadi memar. Jinki tidak bisa berbuat banyak. Meski dia geram, nyatanya dia justru diam. Mungkin karena sekarang Jinki dalam sosok perempuan, nyali dan bahkan emosinya juga ikut berubah.

* * *

“Gweboon, maafkan aku.”

Lelaki itu berdiri tepat di depan Gweboon, menghalangi jalan Gweboon agar tidak  bisa melangkah lebih jauh lagi. Bahkan dengan tangannya yang bebas lelaki itu juga mencengkram pergelangan Gweboon.

“……..”

“Aku benar-benar tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya…..kau tahu, semua itu salah perempuan itu!”

“Oppa menyalahkannya?”

Minho menatap mata Gweboon ragu-ragu, dengan getir mencoba tersenyum pada Gweboon, “Ini demi kebaikanmu, seharusnya kau mendengarkan oppamu ini. Bukankah sudah ku bilang perempuan seperti dia berbahaya?”

“…….”

“Sampai kapan kau akan berdiam seperti ini? Perempuan itu tidak normal, sudah seharusnya kau menjauhinya. Dia pantas diberi pelajaran!”

Gweboon menatap Minho dengan pandangan sinis, sambil melepaskan cengkraman Minho, Gweboon berucap, “Oppalah yang berbahaya! Meski oppa tahu dia seorang perempuan, oppa bahkan tetap memukulnya! Oppa bukan seorang lelaki, oppa …pengecut!”

Pengecut.

Minho membatu mendengar apa yang barusan Gweboon ucapkan. Sesuatu dalam dirinya mencolos, tidak terima dengan sebutan ’pengecut’ yang barusan Gweboon hadiahkan kepadanya.

Sementara Gweboon dengan santai melangkah meninggalkan Minho.

* * *

-Saat matahari muncul, sosok itu justru ingin sembunyi. Dan saat matahari tenggelam, sosok itu ingin tersenyum dengan bebas-

Sedari tadi Jinki hanya mondar-mandir di depan televisi. Sesekali berdecak dengan sebuah handphone di tangannya.

Ini sudah pukul sembilan, dan dua menit lagi artinya jam sembilan lewat dua menit. Oke, bukan itu arti sebenarnya, karena pada kenyataannya Jinki hanya khawatir pada Gweboon yang belum pulang. Ini sudah lewat tiga jam dari kejadian di taman tadi sore. Dan Jinki yang sudah pulang terlebih dahulu sekarang benar-benar cemas.

Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Gweboon?

Tidak, bukankah ada si’kucing peliharaannya? dia  pasti akan menjaga Gweboon.

Apa Gweboon lupa arah pulang?

Gweboon memang tidak pintar, tapi dia tidak sebodoh itu untuk melupakan arah pulang. Tapi itu mungkin saja terjadikan.

Atau jangan-jangan Gweboon sakit perut dan terpaksa ’mengistirahatkan’ diri sementara?

Itu mungkin saja, bahkan di hari pernikahan Gweboon sempat sakit perut ingin pup.

Jinki sibuk menduga-duga berbagai kemungkinan, tapi hati Jinki tetap tak tenang. Dia tidak akan tenang, sampai melihat batang hidung Gweboon dengan mata kepalanya sendiri. Tidak, bukan hanya batang hidungnya saja tapi keseluruhan dari diri Gweboon. Jinki harus melihat Gweboon dengan utuh berdiri di hadapannya.

* * *

“Oppalah yang berbahaya! Meski oppa tahu dia seorang perempuan, oppa bahkan tetap memukulnya! Oppa bukan seorang lelaki, oppa …pengecut!”

Kalimat itu terngiang-ngiang di telinga Minho, karena merasa kesal Minho bahkan menendang tempat sampah di pinggir jalan. Malangnya, bukannya terlihat keren seperti di dalam drama, Minho justru terjatuh dan kesakitan. Lalu menjadi bahan tertawaan.

Tempat sampah yang ia tendang bukanlah dari kaleng, atau plastik.

Melainkan semen yang sangat kuat dan merekat di tanah. Dan selamat untuk Minho, kini kaki jenjangnya memar dengan indah.

Tidak!  Belum cukup sampai disana.

Penderitaan Minho bertambah saat seorang wanita yang terlihat kurang waras duduk menghampirinya, wanita itu tersenyum tiga jari sambil menyanyikan lagu yang untuk pertama kali Minho dengar selama  sembilan belas tahun ia hidup.

“Yang bulat matanya suka humor dan perhatian. Yang sipit matanya penyabar dan pengertian. Aku jadi bingung mau pilih yang mana. Untukmu 50, dan untukmu 50. Genap 100% cintaku. Lalala..cintaku terbagi dua, sayangku terbagi dua..dua-duanya ku suka. Semua sama nilainya.” (credit: intermezzo dengan sedikit perubahan)

Oh Gosh!

Apa salah Minho hari ini sebenarnya? Dia hanya memberikan pelajaran pada gadis tidak normal yang barusan hendak membuat Gweboon menjadi tidak normal juga. Minho hanya bertindak sebagai seorang pahlawan untuk adik kesayangannya, tapi adiknya itu justru menanggapi dengan lain. Dan sekarang, Minho juga harus melewati waktunya bersama wanita tidak waras yang masih menyanyikan lagu, terlebih ia juga tidak bisa kabur karena kakinya terluka.

“Pilih yang mata bulat saja. Kan si’sipit sabar dan pengertian,” ucap Minho yang tiba-tiba menyahut nyanyian wanita itu. Sang wanita tersenyum dan tiba-tiba mengangguk antusias.

Minho dan wanita itu terlihat sama-sama tidak waras.

* * *

Gweboon berjalan sendirian. Karena tidak memiliki uang sepeserpun akhirnya Gweboon terpaksa jalan kaki. Sesampai di rumah, mungkin kakinya akan lepas.

Tapi Gweboon tak perlu khawatir, suaminya kan kaya..uangnya lebih dari cukup untuk membelikan Gweboon kaki palsu. Tapi bukan itu masalah sebenarnya!

Gweboon yang tengah melangkah di jalan itu, berpikir  kalau hari ini terlalu panjang dari biasanya, bahkan dia masih tidak percaya dengan kenyataan yang barusan ia alami, tentang Minho yang memukul wajah perempuan untuk pertama kalinya. Lalu apa hubungannya Minho memukul perempuan dan hari yang menjadi lebih panjang? Baik, lagi-lagi itu bukan masalah sebenarnya!

Meski perempuan itu adalah sosok Jinki yang sedang er..dikutuk, tetap saja Minho telah memukul seorang perempuan. Tapi yang membuat Gweboon terlewat kesal adalah..

Kenapa Jinki tidak membalas memukul Minho!?

Baik, Gweboon tahu Jinki saat itu dalam sosok perempuan, tapi tetap saja! Bukankah jati diri Jinki yang sebenarnya tetap seorang lelaki. Seharusnya Jinki menunjukkan keperkasaannya. Otot-ABS-urat lengan-rahang yang mengeras-, itu semua keren!

Gweboon tidak suka Jinki terlihat lemah letoy seperti gelambir kulit ayam. Tidak bisa melawan, dan diam. Pengecut cih!

Tapi tunggu, kenapa Gweboon seperti berpihak pada Jinki. Padahal dia suka Minho.

Ya, dia suka Minho. Lalu jika Jinki membalas, mungkin wajah Minho yang dia suka itu akan lecet. Itu masalah besar. Jadi bukankah bagus-bagus saja, kalau Jinki tidak membalas Minho?

Ah, meski memaksakan itu ’bagus-bagus saja’. Gweboon tetap tak suka kalau Jinki bersikap pengecut.

“Hey cantik! Godain oppa dong!”

Gweboon sontak terkejut, saat seorang ’bapak-bapak tua’ berdiri di depannya. Dan apa tadi yang barusan ia dengar? ’bapak-bapak tua’ itu ingin minta digoda?

Gweboon memperhatikan lelaki di depannya dengan seksama. Cukup pantas di panggil ’bapak-bapak tua’.

Rambut orang itu berwarna hitam, sangat ikal dan tebal, dengan model jabrik.

Dia hanya memakai jas luaran kusam berwarna coklat yang panjangnya sampai di bawah lutut, dan kacamata hitam norak yang dipakainya membuatnya semakin nyentrik.

Dari style yang seperti itu, ditambah referensi dari menonton drama serta membaca koran pagi, Gweboon tahu..’bapak-bapak tua’ di depannya, adalah orang mesum yang sering berkeliaran untuk menebar nafsu birahi pada perempuan yang ditemuinya.

Tubuh Gweboon menegang. Matanya melirik ke kiri dan kanan, berusaha mencari pertolongan. Tapi nihil, tidak ada orang disana dan terlebih terlalu sepi karena jalan yang ia lalui hanyalah berupa gang yang sangat sempit.

“Kok diam sih cantik, oppa bilang godain oppa!”

Gweboon ingin muntah saat lelaki tua di depannya menggoyong-goyangkan badannya ke arah Gweboon.

Oppa?

Bahkan Jinki jauh lebih layak untuk dipanggil ’oppa’ daripada orang di depannya.

Ahjussi, ….KIAAA!”

Gweboon sudah ketakutan dan hampir pingsan. Baik itu bohong, karena nyatanya meskipun hampir pingsan Gweboon bahkan berlari untuk menyelamatkan diri. Dan anggap Gweboon sedang beruntung, karena ’bapak-bapak tua’ itu juga mengejarnya.

Berita bagusnya, Gweboon bukan pelari yang handal. Dan berterimakasih juga pada kaleng minuman soda yang baru saja disandung Gweboon, yang akhirnya menghentikannya untuk berlari.

Lalala…Great!

Gweboon yang terjatuh di tanah, beserta Ahjussi yang tersenyum lebar di depannya. Gweboon yang menyadari status siaga ini dengan cepat berdiri walaupun harus meringis kesakitan karena kakinya lecet.

“Apa yang ingin kau lakukan? Ayahku seorang petugas keamanan, kau akan mati jika berani macam-macam,” ancam Gweboon yang membuat ahjussi di depannya justru tertawa. Oh baik, sepertinya ahjussi ini tidak belajar dengan baik saat bersekolah. Maksud Gweboon, bagaimana mungkin dia tidak bisa membedakan yang mana ancaman dan yang mana lelucon.

“Baiklah, coba dilihat dulu cantik! Jika ok, kita bisa mulai pelan-pelan. Aku ahli dalam bermain lembut,” ucap sang ahjussi sok diplomatis tanpa menghiraukan ancaman Gweboon barusan.

Gweboon yang mendengarnya dengan gugup menggigit bibir bagian bawahnya, “Bagaimana jika tidak Ok? Apa kau akan melepaskanku?”

Sang ahjussi memasang senyum terlewat mesum. Tanpa memberikan jawaban pasti untuk gadis di depannya, dia melangkah mendekati Gweboon.

Gweboon menelan air liurnya. Pahit!

Semakin pahit saja saat sang ahjussi membuka kancing bajunya. Informasi yang Gweboon dapatkan dari drama, jika orang mesum membuka jas luarannya maka ’semuanya’ akan langsung terlihat.

Berbelit! Yang jelas..orang mesum itu tidak memakai sehelai benangpun setelah jas luaran yang ia kenakan.

Kancing pertama jas ahjussi itu sudah terbuka.

Kancing kedua juga barusan saja terbuka.

Kemudian kancing ketiga.

Gweboon memantapkan hatinya. Hanya melihat! Itu harusnya bukan masalah, setelah itu dia bisa bilang ’tidak oke’ lalu kabur.

“Kau siap? Ta daaaaaaaa!”

Disaat terpenting, Gweboon justru tidak bisa melihat apa-apa. Apa ini? Apa dia mendadak buta?  Gweboon tidak bisa melihat apa-apa!

Dugh..dugh..dugh

Gweboon mendengar suara detak jantung dengan sangat jelas, tapi Gweboon tahu pasti kalau suara detak jantung itu bukan miliknya. Sepertinya ini milik seseorang yang baru saja meraih Gweboon dan menyeret Gweboon masuk dalam dekapannya. Melindungi Gweboon untuk tidak melihat sesuatu yang tidak pantas.

Ahujussi, kau tidak seharusnya melakukan hal ini pada istri orang lain. Aku akan menuntutmu!”

“Minggir, jangan ikut campur!”

“Kau seharusnya malu ahjussi! ’punya suaminya’ bahkan jauh lebih baik dari ’punyamu’!”

Kali ini Gweboon tersenyum. Well, dia menyadari bahwa sesorang yang baru saja menyelamatkannya adalah Jinki.

Suara itu…Gweboon sangat mengenalinya. Dia tak mungkin salah mengenali suara yang belakangan selalu ia dengar setiap harinya.

Namun Gweboon tiba-tiba saja terkikik geli saat sadar apa yang baru saja ia dengar.

Emm..Benarkah itu?

Benarkah tentang  ’punya suami’ Gweboon lebih baik dari milik ahjussi mesum itu? Bisakah Jinki memberikannya bukti langsung, misalnya dengan memperlihatkannya. Hihhi..

Ok, cukup sekian dan terimakasih. Sepertinya Gweboon mendadak pervert dan gila.

“Kau tak apa-apa?”

Gweboon mengangguk pelan, saat Jinki menyeretnya keluar dari dekapannya. Sepertinya situasinya sudah ok, jadi kita bisa memulai cerita ini lagi dengan pelan.

“Kau tidak bilang bahwa kau sudah bersuami!” ucap ahjussi itu sambil mendelik di depan Gweboon, kali ini jas yang dikenakannya sudah dikancing dengan utuh dan tanpa perlu balasan dari ucapannya, ahjussi itu berlalu meninggalkan Gweboon dan Jinki yang berdiri di tengah jalan, ditemani bola lampu yang nyalanya mulai redup.

“Ayo pulang!” tangan Jinki tiba-tiba meraih tangan Gweboon, menautkan jemarinya pada sela jemari Gweboon. Dan karena hal ini Gweboon kembali dikutuk menjadi batu untuk sesaat .

Tapi saat menyadari ada yang salah, Gweboon melepaskan tautan tangannya dengan Jinki, “Apa hanya itu?”

Mwo?” ucap Jinki tak mengerti.

“Pukul atau menampar?”

“Apa yang sedang kau bicarakan?”

“Kau tidak memukul ahjussi itu?”

Jinki tiba-tiba memasang wajah prihatin saat menatap Gweboon, “O-ouw Itu tidak benar anak gadis Kim Kibum! Memukul dan menampar, mereka bukanlah jawaban yang bagus untuk menyelesaikan masalah. Agar sesorang bisa mengerti dengan kesalahannya,  kau tidak seharusnya menggunakan emosi  tapi gunakanlah dengan otakmu. Karena kau belum dewasa, jadi mungkin kau tidak terlalu mengerti!”

Gweboon terdiam mendengarkan. Baik, sepertinya ada yang berubah sok bijaksana dan pamer umur tua disini, dan itu membuat Gweboon kesal.

“Maaf karena tidak bisa memberikanmu pertunjukan yang menegangkan. Lagipula, kau sendiri yang bilang tidak apa-apa. Jadi aku tak punya alasan untuk memukul ahjussi itu. eh, apa kau bisa berjalan?”

Jinki tiba-tiba saja berjongkok di depan Gweboon, lalu menyentuh kaki Gweboon yang lecet karena terjatuh. Gweboon hanya meringis pelan karena hal ini.

“Sepertinya kau bisa berjalan. Tapi jarak dari sini ke rumah kita cukup jauh. Baiklah,  sepertinya aku harus menggendongmu! Jika menyuruhmu berjalan itu hanya akan mempersulit saja!”

Jinki sepertinya hobby membuat Gweboon mematung. Bahkan Gweboon tidak bisa  menggerakkan ujung jarinya saat Jinki sudah berjongkok membelakanginya, dan Gweboon seperti melayang saat Jinki menepuk bagian belakang tubuhnya sendiri. Bukan tanpa alasan, itu  isyarat agar Gweboon naik ke atasnya.

Ringkasnya, Jinki menyuruh Gweboon naik. Agar Jinki bisa menggendongnya.

Ini bukan mimpikan? Atau lagi-lagi ini khayalan Gweboon?

Apa ada yang perlu di perbaiki di adegan ini?

Baik, benar. Seperti yang Gweboon harapkan, ada sesuatu yang harus diperbaiki di adegan ini. Tapi ini bukan tentang Jinki yang menjadi sangat manis, melainkan Gweboon yang bahkan masih terdiam di tempat.

Sampai kapan Gweboon akan terdiam seperti itu? Bahkan Kim Jonghyun yang sedari tadi duduk di atas tembok —yang tidak jauh dari mereka— nampak menggelengkan kepalanya tak percaya.

Cih Gweboon. Sebenarnya kau suka-kan? Kalau suka, kenapa harus jual mahal!

* * *

Minho masih duduk di pinggir jalan, menunggu jemputan. Dia tak bisa naik motor dengan kaki seperti itu, dan Minho masih mengobrol dengan wanita tidak waras itu.

“Tapi ini tidak adil untuk mata sipit. dia sudah banyak bersabar tapi dia tak mendapatkan apa-apa,” ucap wanita itu sambil menoleh pada Minho. Minho mengangguk.

“Yah..ini aneh, kenapa aku merasa terancam. Padahal dia seorang wanita. Bukankah itu aneh?” sahut Minho tidak nyambung, yang justru membuat wanita disampingnya tertawa.

“Mata bulat harus banyak belajar dari sifat mata sipit. Memiliki selera humor yang baik bukan berarti memiliki kepribadian yang baik pula.”

“Bagaimanapun, aku harus tetap membuatnya menjauhi Gweboon.”

Perfect sudah. Minho dan wanita disampingnya benar-benar terlihat seperti sepasang orang gila yang berhasil lolos dari rumah sakit jiwa.

* * *

“Tapi bagaimana kau tahu aku ada disana?” ucap Gweboon yang sedang duduk di sofa. Sementara Jinki sedang sibuk mengambil air di dalam sebuah mangkuk.

Mereka baru saja sampai. Dan sepanjang perjalanan pulang, Gweboon di gendong oleh Jinki.

“Eum, ada seorang lelaki menghampiriku. Dia bilang dia melihat Gweboon dikejar lelaki mesum,” Jinki menjawab sambil membasahi handuk dengan air di dalam mangkuk.

Gweboon tersenyum kecil melihatnya. Sepertinya Jinki berniat membersihkan luka Gweboon.

Tapi sepertinya Gweboon juga cukup bodoh untuk tidak mempermasalahkan jawaban Jinki barusan.

“Oh begitu.” Jinki menganguk dan mengangkat handuk basah yang sebelumnya sudah ia perah. Gweboon melihatnya dengan penuh harap.

Tidak salah lagi, pasti Jinki akan membersihkan luka Gweboon!

Jinki yang seolah dapat membaca isi pemikiran Gweboon, justru dengan sengaja mengangkat handuk ke wajahnya. Berpura-pura mengompres luka memarnya sendiri, dan itu membuat Gweboon mendengus kecewa.

Melihat reaksi Gweboon, kontan saja Jinki menghentikan aksinya, dia tidak tega mempermainkan gadis anak Kim Kibum itu. Dan dengan lembut ia menyeka lecet di kaki Gweboon.

“Lain kali jika terjadi hal seperti ini. Larilah dengan hati-hati,  jangan hanya lari tapi kau juga harus berteriak minta tolong. Dan sebaiknya disaat malam, jangan berjalan di gang sempit seperti itu. Itu bahaya! Lagipula kenapa kau jalan kaki, kenapa tidak naik bus atau taksi!?” kali ini Jinki berubah cerewet, dan lagi-lagi Gweboon merutuk kesal karena perubahan tingkahnya itu.

“Jika aku punya uang aku juga akan naik taksi!”  Gweboon tidak terima disalahkan, lagipula siapa yang ingin berjalan kaki? Dia kan melakukannya karena terpaksa, bagaimanapun ini karena Jinki tidak memberikannya uang. Jadi ini bisa dibilang salah Jinki.

“Tidak apa-apa jika kau tidak pintar. Bodoh sedikitpun juga tidak masalah, tapi jangan terlewat bodoh seperti itu juga anak gadis Kim Kibum! Bukankah kau bisa naik taksi dan membayarnya di rumah. Aku ini kaya, membayar ongkos taksi tidak akan membuatku bangkrut!”

Gweboon tersenyum sinis, “Kau-kan pelit. Memang kau mau membayarkannya untukku?”

Skekmat

Jinki terdiam dan kembali asyik menyeka lecet di kaki Gweboon. Gweboon yang melihat reaksi Jinki akhirnya sadar, sepertinya Gweboon sedikit dari sedikitnya sedikit sudah keterlaluan pada Jinki.

Dengan inisiatif sendiri, Gweboon meraih handuk di tangan Jinki. Kemudian membasahinya dengan air di dalam mangkuk, memerasnya lalu menyekakan di wajah Jinki.

Tak lupa memasang senyum malaikat maut milik Gweboon.

“Apa ini baik-baik saja? Memarnya terlihat parah, bapak tua!”

Dilain pihak Jinki terdiam mendapati perlakuan seperti itu.

Satu..

Dua..

Tiga..

Jinki kembali pada kesadarannya, dengan sigap ia mencengkram tangan Gweboon. Menghentikan kegiatan Gweboon yang menurutnya menyebalkan.

Gweboon tentu saja memberikan tatapan bingung sebagai balasannya. Apa yang salah? Dia bahkan melakukan sesuatu yang baik pada Jinki. Tapi kenapa Jinki justru memasang wajah seperti ayam yang mau pup? Baik, perumpamaan Gweboon memang tidak pernah bagus.

“Kau ingin mati, anak gadis Kim Kibum?” ujar Jinki akhirnya bersuara. Gweboon mengerjapkan matanya kebingungan. Sepertinya memang ada sesuatu yang salah. Tapi apa?

“Huh?”

“Kau ingin mati ya?”

Gweboon hanya terdiam saat Jinki mengambil paksa handuk di tangannya. Lalu dengan kasar meneteng-netengkan (?) di hadapan Gweboon.

“YA! APA AKU MELAKUKAN SESUATU YANG SALAH!” Gweboon akhirnya memberanikan diri membentak lebih dulu. Gweboon masih yakin memang ada yang salah, tapi Gweboon juga sangat yakin kalau ’sesuatu yang salah’ itu bukanlah dirinya.

“Tentu. Tentu kau melakukan  sesuatu yang sangat salah!” berbeda dari Gweboon yang membentak sambil berteriak, Jinki jutru berucap dengan santai, membuat Gweboon merasa tersudutkan.

“Apa salahku?!”

“Handuk ini! Handuk ini kau pakai untuk menyeka wajah seksiku! O-ouw, handuk ini bekas kakimu Gweboon! APA KAU SENGAJA HAH!”

Gweboon menggigit bibir bawahnya. Takut!

Sementara Jinki sibuk membasahi handuk itu. Lalu dengan tujuan yang belum diketahui Gweboon, dia menggosok-gosokkan handuk itu kebagian er..ketiaknya. Gweboon yang mungkin masuk nominasi sepuluh orang terlewat bodoh di dunia, masih belum dapat mencerna apa yang dilakukan Jinki.

’Mungkin gatalnya kembali kambuh’

Hasil dari pemikiran Gweboon yang terlewat positif.

Padahal ini adalah bentuk balas dendam Jinki.

“YA! RASAKAN INI!” Jinki memekik nyaring dan tiba-tiba menyerang Gweboon dengan handuk yang sepertinya sudah puas digosokkan di ketiaknya.

Gweboon terkejut, refleks menghindar dan mundur, tapi sialnya Gweboon justru terjatuh, hingga terbaring di sofa. Sementara Jinki yang menyerangnya juga kehilangan keseimbangan, dan ikut jatuh menimpa Gweboon.

Perfect!

Adegan murahan yang ditunggu-tunggu akhirnya terjadi lagi.

Gweboon mengerjapkan kedua matanya, membisu. Hal yang sama juga di lakukan Jinki.

Cukup lama mereka terdiam, dan saling menatap dengan posisi aneh itu. Jinki bahkan sempat terlihat kehilangan kesadarannya dengan mendekatkan wajahnya sendiri pada wajah Gweboon. Semua itu akan terus berlanjut  andai saja, Gweboon tidak menoel-noel pantat Jinki dengan telunjuknya.

“Maaf. Tapi aku ingin pipis, nanti kita lanjutkan lagi!”

Jinki dengan serta merta langsung bangkit, wajah merahnya tertekuk malu. Sementara Gweboon tanpa banyak membuang waktu segera berlari kecil ke toilet terdekat.

Pipis! Gweboon benar-benar ingin pipis!

Tapi tunggu, tadi apa yang barusan Gweboon ucapkan pada Jinki?

“Maaf. Tapi aku ingin pipis, nanti kita lanjutkan lagi!”

Sial, Gweboon baru menyadarinya sekarang.

’nanti kita lanjutkan lagi’?

Ucapan macam apa itu? Persis seperti ikan mas yang berjoget minta dipancing saja. Baik, lagi-lagi perumpamaan yang tidak bagus. Tapi bukan itu masalahnya!

Aishh..lagipula, apa yang mesti dilanjutkan Gweboon!?

Gweboon bodoh. Bodoh sekali!

* * *

“Anak gadis Kim Kibum!”

Langkah Gweboon yang semula hendak masuk ke dalam kamar itu terhenti saat mendengar Jinki memanggilnya. Gweboon menoleh dan mendapati Jinki yang berdiri di depannya.

“Apa?”

“Aku hanya ingin memberikanmu ini,” ucap Jinki sambil meyodorkan barang-barang kecil di tangannya, “ini buku tabungan, beberapa kartu kredit, dan juga kartu ATM, pergunakanlah dengan baik! Maaf jika aku terlambat memberikannya padamu!” lanjut Jinki dengan mata yang tidak menatap ke arah Gweboon. Dari nadanya bicara, Jinki terlihat gugup!

Sementara Gweboon memasang wajah terharu.

Amazing, hari ini Jinki tiba-tiba menjadi sangat baik.

“Benarkah itu untukku?”

“Ya, ini milikmu. Setiap bulannya aku akan mentransfer uang ke dalamnya. Ahya ini juga ada uang cash.” Jinki menyerahkan benda-benda di tangannya pada Gweboon—dan dengan senang hati Gweboon menerimanya—, lalu Jinki merogoh kantong celananya sendiri, dan beberapa detik kemudian Gweboon menganga di tempat.

Dari kantongnya, Jinki mengeluarkan uang yang jumlahnya cukup banyak. Dilihat dari tebalnya, uang itu mungkin senilai dengan jumlah gajih ayah Gweboon selama satu bulan bekerja. Daebak, uang sebanyak itu hanya Jinki ambil dari celana rumahannya?

Gweboon bahagia bisa menikah dengan Jinki!

“Ahya, tentang hutangmu sebelum menikah atau apapun itu…lupakanlah! Saat itu aku hanya bercanda, lebih tepatnya mencari alasan untuk mendapatkan nomer handphonemu!”

Gweboon semakin menganga, dan Gweboon benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya lagi. Dia bahkan menggeletakkan ’barang yang di berikan Jinki’ begitu saja di atas buffet, di sampingnya.

Dan dengan inisiatif sendiri Gweboon berjingkit, mendekat pada wajah Jinki yang lebih tinggi, lalu dengan gemas mencubit kedua pipi Jinki lalu juga hidung mancung Jinki.

“Aaaaa….terimakasih, aaaaaa..kau baik sekali, aaaaa..manisnya!” pekik Gweboon bahagia bahkan entah sadar atau tidak, Gweboon bahkan memeluk Jinki!

 Memeluk?

Itu alasan terkuat  kenapa Jinki-lah yang sekarang dikutuk menjadi patung. Melihat wajah Gweboon yang bahagia itu malah membuat Jinki semakin tak leluasa bergerak. Terlebih Gweboon baru saja mengatakan ’manisnya’ yang membuat Jinki melayang.

Dan beberapa detik yang lalu Gweboon sendiri sepertinya baru sadar tentang apa yang ia lakukan barusan, dengan canggung Gweboon melepas pelukannya, mengambil barang pemberian Jinki dan menunduk sopan.

Tiba-tiba bersikap formal?

“Maaf oppa, dan terimakasih untuk ini semua. Aku akan mempergunakannya dengan sebaik-baiknya!” malu-malu, dan tanpa menatap langsung ke mata Jinki, Gweboon berjalan masuk ke dalam kamarnya.

Jinki yang ditinggalkan masuk ke dalam kamar dibuat cengo sendiri!

Apa tadi itu? Gweboon memanggilnya ’oppa’?

Wajah Jinki berubah flat seperti lantai kayu yang becek.

Dengan wajah seperti itu, Jinki bahkan menampar-nampar pipinya sendiri.

 

Plak..plakk

 

Apa ini, ini tidak sakit?

Jinki lalu mencubit-cubit kulit lengannya.

Ini juga tidak sakit?

Masih belum menyerah, Jinki kini menutup lubang hidung dan mulutnya.

Kali ini terasa sesak saat Jinki kesulitan bernafas, diapun menghentikan aksi menutup lubang hidung dan mulut itu.

Tapi sepertinya itu belum cukup untuk membuktikan kejadian ini mimpi atau nyata. Jinki  dengan bodohnya kembali berulah dengan mencedotkan kepalanya ke pintu kamarnya sendiri.

Bugh..Bugh..

Tidak sakit!

Baik, Apa ini mimpi? Jika ini mimpi Jinki tidak akan bangun! Tidak akan, dia tidak rela bangun dari mimpi yang begitu bagus ini.

Dan beruntung bagi Jinki, karena semua yang ia alami sekarang memang bukan mimpi.

* * *

Ini pertama kalinya wajah Gweboon terlihat begitu cerah di sekolah.

Mengingat Gweboon memanggil Jinki dengan sebutan ’oppa’ dan juga jumlah uang yang membuat dompetnya tebal, Gweboon memasang senyum terlewat bahagia.

Baiklah anggap saja panggilan ’oppa’ itu hadiah dari Gweboon untuk Jinki.

“Gweboon, sepertinya kau sedang bahagia?” ucap salah satu temannya yang menyadari tingkah Gweboon. Dan Gweboon mengangguk jujur, sebagai jawaban.

“Ini! Tadi saat aku ke kantin, aku bertemu Minho Sunbae. Dia menitipkan ini untukmu!”

Sebuah kotak berukuran sedang tergeletak di depan Gweboon.

“Sebenarnya, kalian berdua ini pacaran atau tidak sih? Aku benar-benar tidak mengerti tentang hubungan kalian yang sangat aneh itu!”

Wajah cerah Gweboon seketika memudar dan perlahan berubah suram.

Dia lupa, tentang pertikaiannya dengan Minho.

* * *

Kali ini Gweboon duduk di atas tempat tidurnya, di tangannya ada sebuah boneka kecil berbentuk beruang, saat Gweboon menekan perut boneka itu  akan terdengar sebuah suara yang dulu begitu disukainya.

“Gweboon, mianhe~”

Tapi kini Gweboon bahkan menghindari pertemuan dengan pemilik suara itu. Gweboon lalu melirikkan sudut matanya pada selembar foto.

Boneka beruang dan selembar foto itu ia temukan di dalam kotak putih pemberian Minho. Pada selembar foto itu, terlihat dua wajah anak kecil—laki-laki dan perempuan—yang terlihat lucu. Itu Minho dan Gweboon saat kecil.

Di foto itu, Minho kecil meencium pipi Gweboon yang sedang menangis. Gweboon tidak terlalu ingat apa sebabnya, mungkin itu karena ayahnya.

Meski terlihat bahagia, sebenarnya Gweboon memilki sebuah rahasia pedih dalam hidupnya.

Ahya..ada tulisan juga di balik foto itu.

’Sepertinya aku melakukan sebuah kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Spidermonkey tidak semestinya  membuat orang yang harusnya ia lindungi menangis. Spidermonkey benar-benar menyesal, dia merasa tidak bisa menjaga  kedamaian dunia lagi sebelum orang yang ia lindungi memaafkannya.

 

Pukul tujuh, malam ini. Di taman kota, Spidermonkey ingin mengatakan beberapa hal’

 

Gweboon terdiam cukup lama. Haruskah ia pergi?

Yah, untuk Minho yang dulu ia sukai..sepertinya ia harus pergi.

Tunggu, dulu? Jadi apa sekarang Gweboon tidak suka lagi?

* * *

“Kau mau kemana?”

Gweboon menghentikan langkahnya tepat di depan pintu rumah yang baru saja ia tutup, saat mendengar suara seseorang. Sementara Jinki –sang sesorang tersebut— memandang bingung pada gadis di hadapannya, Jinki juga terlihat menyembunyikan banyak plastik di belakang bajunya.

Sepertinya Jinki habis belanja. Tapi kenapa harus disembunyikan seperti itu?

“Aku ingin pergi sebentar,”  jawab Gweboon seadanya.

“Berapa lama?”

“Aku tidak tau pasti, tapi tidak akan lama. Aku pergi dulu.” Kali ini  Gweboon berlalu menjauhi Jinki. Entahlah, hanya saja jika Gweboon berbicara terlalu lama dengan Jinki, itu membuat Gweboon merasa semakin bimbang untuk menemui Minho.

Mungkin karena mulut Jinki bau, jadi Gweboon ingin menyuruhnya sikat gigi dulu. Karena Gweboon tak ingin ’rumah mereka’ bau hanya gara-gara bau mulut Jinki. Tapi jika Gweboon menyuruh Jinki sikat gigi, itu artinya dia akan terlambat menemui Minho oppa.

Jinki yang tidak tahu menahu kalau mulutnya bau dan tidak menaruh curiga apapun, hanya bersikap tak peduli. Tapi baru dua langkah ia menginjakkan kakinya, Jinki tiba-tiba melepaskan barang bawaannya dan berlari menghampiri Gweboon. Sepertinya Jinki teringat sesuatu.

Apa dia sadar kalau mulutnya bau?

“Gweboon!”

Kali ini Jinki sudah berdiri di hadapan Gweboon, sambil merentangkan kedua tangannya. Membuat Gweboon salah tingkah.

Apa Jinki mau main ular tangga? Baik itu humor yang tidak lucu, tidak bagus, dan tidak menarik sama sekali.

“Aku hanya ingin bilang. Jika kau pulang lebih malam, jangan berjalan kaki. Naiklah taksi, jika tidak punya uang kau bisa memintaku untuk membayarnya saat di rumah. Hindari melewati jalan kecil seperti kemarin, jika ada sesuatu mengganggumu. Kau bisa gunakan….”

Sesaat menggantung ucapannya, Jinki memperhatikan penampilan Gweboon. Dan hal ini membuat Gweboon bertambah salah tingkah. Apalagi kali ini, yang bapak tua itu inginkan?

“kau bisa gunakan sepatumu. Lemparkan sepatumu ke arah sesuatu yang mengganggumu lalu berlarilah dengan hati-hati. Jangan sampai kau tersandung. Jika ada kesempatan untuk berteriak, berteriaklah sekaras mungkin untuk minta tolong. Atau jika kau bisa menggunakan ponselmu saat itu. Hubungilah seseorang, dan aku berharap orang yang kau hubungi itu..aku. Aku akan datang secepat mungkin untuk membantumu,” lanjut Jinki dengan nada rendah di akhir.

Jinki sadar, ucapannya barusan terdengar seperti ucapan seorang suami yang baik. Dan itu…Jinki menyadarinya, kalau dia bukan suami sebaik itu.

Sementara Gweboon sibuk menenangkan detak jantungnya. Ucapan Jinki barusan benar-benar mengutuk Gweboon untuk menjadi patung.

Bapak-bapak tua yang menyebalkan, entah kenapa semakin hari semakin terlihat manis di mata Gweboon. Apa mata Gweboon sudah rusak? Apa Gweboon ada katarak?

* * *

Tamannya hitam.

Gweboon datang kesana dengan naik taksi.

Gweboon menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang taman kota. Meskipun malam, taman kota biasanya di penuhi oleh orang banyak. Akan ada gradasi warna-warni lampu juga. Tapi kenapa tamannya malam ini gelap dan berwarna hitam?

Apa Minho yang membuatnya jadi begini? Apa Minho sudah menyiapkan kejutan yang romantis untuk Gweboon?

Gweboon tersenyum-senyum sendiri.

Melangkah masuk ke dalam dengan pelan-pelan dan penuh percaya diri. Kenapa tidak ada lampu-lampu kecil yang tiba-tiba menyala saat Gweboon masuk?

Mana Kejutannya?

Gweboon memberanikan diri menoleh ke kiri dan kekanan, ini benar-benar bukan taman yang Gweboon kenal.

Dan seketika Gweboon berlari saat menyadari semunya.

Tentu saja itu bukan taman, mana ada taman yang di penuhi nisan, Gweboon. Jika ada itu namanya pemakaman.

Bagaimana supir taksi yang seharusnya membawa Gweboon ke taman justru membawa Gweboon ke pemakaman.

Dugaan yang paling kuat, itu karena sang supir taksi menderita gangguan pendengaran.

Taman kota, pemakaman kota? cukup mirip. Dan sepertinya dugaan itu benar, sungguh sial.

* * *

Taman yang ini normal, ketika Gweboon masuk ke dalamnya banyak orang yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

Gradasi warna-warni lampu membuat taman yang satu ini terlihat cantik. Jadi tidak ada nisan ataupun kejutan rupanya.

Gweboon mendesis kecewa, hingga ada sebuah tangan yang terulur menggenggam tangannya erat.

“Gweboon, ku pikir kau tak akan datang,” ucap Minho dengan nada rendah sambil tersenyum di depan Gweboon.

Gweboon hanya menatap Minho tanpa tersenyum ataupun mengucapkan sesuatu dan bahkan berusaha melepaskan genggaman tangan Minho. Jadi untuk apa sebenarnya lelaki yang sepuluh tahun ia panggil oppa itu memanggilnya untuk datang ke taman kota?

“Sekarang, Gweboon kecil terlihat menyeramkan untukku. Aku tidak berani terlalu dekat dengannya. Tapi aku sendiri tidak bisa jauh darinya,”

Dugh..

Dugh..

Dugh..

Gweboon membeku, sesaat Minho menjatuhkan tubuhnya untuk bersandar pada Gweboon. Bahkan Minho memeluk tubuhnya, membuat detak jantung Gweboon mengadakan konser dadakan. Gweboon sama sekali tak memiliki tenaga untuk menolaknya, terlebih..Gweboon sendiri sudah lama merindukan pelukan ini.

“Aku selalu berusaha menepati janji itu. Aku berusaha untuk tidak pernah menganggapmu seorang gadis. Aku meyakinkan diriku sendiri kalau aku ’kakak’ dan kau seorang ’adik’. Tapi itu terlalu sulit. Sepuluh tahun dengan memegang janji ini, sungguh itu terlalu sulit. ”

Minho terisak.

Gweboon terdiam masih belum paham apa yang sebenarnya Minho coba katakan padanya.

“Aku tak boleh mencintaimu, itu sebuah janji yang aku buat agar dapat tinggal disisimu. Aku bahkan tak mengerti kenapa aku harus membuat janji seperti itu pada ayahku sendiri. Aku tak mengerti kenapa sepuluh tahun lalu, aku harus menghibur seorang gadis kecil yang menangis sendirian di depan makam ibunya. Aku tak tahu, kenapa aku harus menghibur gadis yang diacuhkan ayahnya sendiri. Aku tak pernah mengerti kenapa aku harus mengingat nama seorang gadis yang bahkan tak bisa ku cintai. Dan aku tak tahu sejak kapan aku mulai melanggar janji ini.”

Tubuh Minho bergetar. Kedua tangannya semakin erat merangkul tubuh Gweboon. Sementara Gweboon mulai teringat setiap peristiwa yang ia lalui bersama Minho selama sepuluh tahun ini.

Mulai dari pertemuan pertamanya. Lalu pertemuannya keduanya, dan berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya..hingga Gweboon tak dapat mengingat lagi sudah berapa kali ia bertemu dengan Minho.

“Jika ku langgar janji ini, apakah aku tak bisa disisimu lagi? Saat aku melanggarnya, apakah kau juga akan mendukungku? Apakah ketika aku mulai berani berlari ke arahmu, semua ini akan terlambat?”

Minho terus bicara, tak mempedulikan tubuh Gweboon yang mulai bergetar.

“Ku dengar ayahku juga mencintai ibumu. Tapi ayahku kalah, karena ibumu tidak menyukai ayahku. Bahkan ku dengar ibumu membenci ayahku, tak pernah mau bertemu dengan ayahku semenjak ayahku melakukan sebuah kesalahan pada ibumu. Aku tak mengerti cerita mereka. Hanya saja, apakah kau juga akan memperlakukanku sama seperti ibumu memperlakukan ayahku? Karena aku melakukan sebuah kesalahan, kau membenciku dan tak ingin bertemu denganku lagi. Jika benar, lalu bagaimana dengan sepuluh tahun yang sudah aku berikan padamu?”

Gweboon tak tahan lagi. Bayangan semuanya sudah terlihat jelas di kepalanya.

Minho ada untuk Gweboon selama sepuluh tahun, dan orang itu….bahkan belum satu tahun Gweboon mengenalnya.

Kenapa semuanya menjadi kacau seperti ini? Kenapa Gweboon goyah dan bahkan mulai menjauhi Minho hanya karena satu kesalahan itu.

 Lagipula apa satu kesalahan itu?

“Jadi apakah kau akan mendukungku, ketika aku berlari ke arahmu dan melanggar janji yang sepuluh tahun ini susah payah aku tepati?”

Gweboon terdiam.

Menghela nafas panjang, mengumpulkan keberanian dan membalas pelukan minho. Kemudian gadis itu mengangguk masih dalam mulutnya yang tak bersuara.

Entahlah, jadi mungkin malam ini Gweboon benar-benar sudah memilih antara kodok dan ayam.

“Aku janji Gweboon, tidak akan melakukan kesalahan padamu lagi,” ucap Minho yang kali ini lebih berani dengan mengecup kening Gweboon. Gweboon lagi-lagi hanya membeku, meskipun pada akhirnya tersenyum kecil dan mengangguk.

* * *

/Sementara itu\

Di rumahnya yang mewah, Jinki justru sedang sibuk dengan kejutannya untuk Gweboon.

Jinki tak akan menahannya lagi.  Jinki akan mengakui semuanya, karena ia pikir itu akan jadi lebih baik.

Jinki menyukai Gweboon.

Dan Jinki tahu itu tidak salah karena Gweboon adalah istrinya.

Jinki ingin mengungkapkan apa yang ia rasakan pada Gweboon.

Dan kejutan spesial ini ingin ia tunjukan sebagai kesungguhannya.

Jinki tak menyangka, selain kaya raya, berwajah tampan, cerdas, ternyata Jinki juga romantis.

Sambil tersenyum menatap kejutan yang telah ia siapkan, tiba-tiba Jinki  mengernyit di posisinya yang sedang duduk.

Detak jantung Jinki menyentak kuat, kepalanya tiba-tiba pusing, dan perasaannya entah kenapa tiba-tiba berkecamuk.

Apakah dia baik-baik saja? Apakah anak gadis Kim Kibum itu di ganggu orang mesum lagi?

* * *

Gweboon melangkah kaki pelan memasuki pekarangan rumahnya dan Jinki. Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti saat hendak membuka pintu.

Sikap seperti apa yang harusnya ia tunjukan pada Jinki nanti. Jika Jinki tahu kalau Gweboon sekarang adalah pacar Minho. Apa Jinki masih akan memberikan uang saku seperti kemarin?

Nyiut~~

Gweboon merasa sedikit bersalah pada Jinki. Tapi..Gweboon yakin dia tidak menyesali apa yang telah ia pilih.

Meski telur kodok tidak bisa dimakan, tapi telur kodok itu terlihat lucu, apalagi saat menetas menjadi berudu.

Meski kodok hanya bisa mengganggu dengan nyanyiannya yang berusaha untuk meminta hujan, setidaknya nyanyian itulah yang menjadi suara yang dirindukan di saat musim hujan.

Dan untuk ayam…

Gweboon tidak bisa mengatakannya, baginya ayam itu hanyalah sekedar makanannya.

Treaak

Pintu itupun akhirnya dibuka oleh Gweboon. Dan mungkin karena Jinki sudah tidur, keadaan dalam rumah mereka terlihat begitu gelap.

Dasar pelit, bahkan dia tak menyalakan satu lampu-pun. Apa tagihan satu buah lampu dapat membuatnya bangkrut?

Tap..Tap..Tap

 

Gweboon melangkah pelan, tak ingin menimbulkan suara berisik yang dapat mengganggu tidur sang suami. Hingga pada akhirnya Gweboon menyadari ia telah menginjak sesuatu.

“Apa ini?”

Seolah apa yang barusan Gweboon ucapkan adalah sebuah mantra ajaib, tiba-tiba saja cahaya-cahaya kecil bermunculan di sekeliling Gweboon. Cahaya-cahaya itu berbaris rapi di sebelah kiri dan kanannya membentuk sebuah jalan.

Dan Gweboon berbinar saat menyadari sesuatu yang barusan ia injak itu adalah uang senilai seratus ribu won. Yang lebih menakjubkan uang itu berceceran di sepanjang jalan di hadapan Gweboon. Gweboon yang cinta dengan uang itu, tentu saja memungut uang-uang itu dengan gembira.

Hingga akhirnya, uang-uang itu membawa Gweboon kehadapan seseorang.

Seseorang yang telah membungkukkan badan di tengah lingkaran yang ditumpuk uang dengan berbagai nilai berbeda.

Seseorang itu adalah Jinki, yang dengan manisnya menyambut Gweboon dengan sebuket bunga aneh.

Entahlah, itu bukan bunga. Itu seperti lembaran uang yang dibentuk menjadi buket bunga. Jinki bahkan menyiapkannya dengan sangat detil. Amazing!

“Terimakasih sudah datang kembali, Gweboon. Aku tak ingin menyia-nyiakan waktu, karena aku ingin tidur. Jadi dengarkan aku, karena aku hanya akan mengatakannya sekali, tapi ku harap kau dapat mengingatnya sampai kau mati,” Jinki berhenti sebentar, menatap Gweboon dalam dan memberikan senyum terbaiknya, membuat Gweboon mematung.

“Aku berterimakasih kau sudah menikah denganku. Aku bahagia karena bisa menikahimu dan tinggal serumah denganmu. Dan aku juga minta maaf atas segala kekuranganku selama ini. Aku tidak ingin membuat janji aku tidak akan membuat kesalahan lagi. Karena aku yakin, itu tidak mungkin. Tapi, aku ingin berjanji..setiap aku melakukan kesalahan, dan menunjukkan kekuranganku padamu. Setiap itu juga aku akan menunjukkan kelebihanku. Sehingga kau tidak akan pernah merasa menyesal menikah denganku. Gweboon, bisakah kita memulai semua ini seperti pasangan pengantin yang lain? Meski tidak saling mengucapkan ’aku suka kamu’ atau ’aku mencintaimu’. Tapi selalu melakukan hal yang membuat kita bisa terus bersama.”

Gweboon menatap Jinki tak karuan.

Detak jantungnya terasa sangat  cepat. Bibirnya kelu, telapak tangan dan kakinya dingin.

Bagaimana cara mengatakannya? Gweboon-kan sudah menjadi pacar Minho, tapi Jinki adalah suami Gweboon.

Haaah, Gweboon yang benar-benar beruntung. Lagi-lagi hanya dalam satu hari, dua orang lelaki tampan mengungkapkan perasaannya pada Gweboon.

—-To Be Continued—-

READ MORE FANFICTION ‘I Need a Kiss’

I Need a Kiss Season I (Sequel )
|| Teaser | Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7 | Part 8 | Part 9 | Part 10 | Part 11 [END] ||

I Need a Kiss Season II (Sequel )
( Part 1 | Part 2 [END] )

A/N : Maaf kelamaan -____-

Ini 1000000% kesalahan aku. Jangan tanya alasannya kenapa publishnya jadi telat, karena kalian akan kecewa kalau tau alasannya😦. Terakhir, jangan lupa komentarnya ya ^^

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

134 thoughts on “SHINee Fanfiction Romance Comedy // I Need a Kiss – Part 7

  1. Oppa kok jd baik bgt
    Minho nembak Gweboon
    Galau tuh
    Pilih yang mana?

    Suka

  2. Anak gadis Kim Kibum~~~~ Lucu banget panggilannya😄
    Gweboon dilemma dah nih

    Suka

  3. doohhhh mampus gwe…ayo pilih mana pilih mana /emang jualan

    keep writing kak

    Suka

  4. Hah, kalo aku sh pasti lebh milih jinki dr pd minho,, huhh kasian jinki atuh kalo d duain kya gt2😦

    Suka

  5. Minho tu, bisa liat gk sih. Kalo jinki lg jd cwe???

    Dan apa²an si gweboon, tinggal selangkah lagi jinki normal jd cwo seutuhnya, tp?!?! Cuma karna pipis???!!!

    Suka

  6. Jinki, semangat!!!!

    Suka

  7. Jimko, semangat!! Minho kasar bgt sihhh

    Suka

  8. tuh kan jinki tu sebenernya romantis dgn caranya sdr hhe…
    disini aku sebel ama gwebon teganya, ingat atulah gwe km kan uda nikah. minho apaan jg masa main pukul apalagi kan disini jinki jd seorang cewe. kasian bgt lah jinki….

    Suka

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s