Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

I Need a Kiss Cover Fanfiction2

SHINee Fanfic Romantic Comedy // I Need a Kiss – Part 8

148 Komentar

·         Title :  I Need a Kiss – Part 8

·         Author : Rasyifa || https://rarastory.wordpress.com

·         Genre : Romance, Fantasy, Little bit of Comedy—maybe–.

·         Main Cast :

– [YOU] Kim Gweeboon
– Onew  SHINee – Lee  Jinki
– Minho SHINee – Choi Minho

·         Other Cast :

– Find by your self.

·         Length : Chaptered

·         Rating : PG 15 –waspada..naik darastis._.v-

·         Summary :

Jika matahari tenggelam, dia seorang lelaki yang tampan, yang bisa mengerti dan dalam diam terus memberi perhatian. Namun jika matahari terbit, dia lebih memilih untuk bersembunyi dengan wujud perempuan yang menyedihkan.

– —
(!) Ditulis dengan kemampuan diksi dan humor yang rendah.
Di publish untuk memperbanyak arcive.

Happy reading~

– —

I Need a Kiss Cover Fanfiction2

I Need a Kiss

Written by Rasyifa | https://rarastory.wordpress.com

– – –

“Gweboon, ayo kita lari pagi!”

“Eungh~”

Jinki yang sudah berubah menjadi perempuan, hanya bisa mendengus menatap Gweboon yang masih tertidur dengan iler yang menggantung.

Jinki sudah kesusahan membangunkan anak gadis Kim Kibum itu, Jinki bahkan sudah memencet hidung Gweboon, menarik pipinya, dan bahkan menggelitik telapak kaki Gweboon.

Tapi entah bagaimana, gadis itu masih bisa bertahan untuk terus tertidur meski sesekali ber ’eungh’ saat menanggapi aksi yang Jinki lakukan.

“Gweboon, ayo kita lari pagi!”

“A..k..ku…ma…laaa…sssssssss,” jawab Gweboon masih dengan mata tertutup. Jinki mendelik kesal dibuatnya, tapi sebisa mungkin perempuan yang wujud aslinya lelaki itu menahan emosinya.

“Jika kau malas, nanti rezekimu dimakan ayam.”

“Kaaa..lau beg..gitu ayamnya akan akuuuu ma…..kan. Aku ya..kin ayam yang maa..kan rezeki rasanya pasti lebih enak.”

Jinki ingin menoyor Gweboon saat itu juga, tapi entah kenapa saat ia mengangkat tangannya, senyum mesum itu tiba-tiba muncul di wajahnya.

Baiklah, mungkin kali ini Jinki harus menunjukkan lagi pada Gweboon, siapa yang berkuasa disini!

“Istriku…jangan seperti ini. Jika kau terus tertidur, aku jadi ingin menciummu!”

Satu

Dua

Tiga

Mata Gweboon membelalak lebar, memasang tatapan murka pada Jinki yang justru semakin tersenyum lebar.

“Kenapa cuman diam?” tanya Jinki santai, sok polos.

Sementara Gweboon membeku. Jinki tiba-tiba mendekatinya, tubuh Jinki bahkan merangkak di atas  tubuh Gweboon yang masih dalam posisi berbaring. Jinki mesum, Gweboon suka….

Tidak. Itu tidak benar! Meski tidak salah juga.

Jinki mesum, membuat Gweboon merasa merinding.

“Kau hanya diam? Manisnya…kalau begitu ku anggap kau tak menolakku.”

CUP

Gweboon menutup matanya, saat sesuatu hinggap di keningnya. Ciuman kening?

Jinki dalam sosok perempuan telah mencium Gweboon?

 

Degh..degh..degh

 

Sepertinya Gweboon harus berhati-hati mulai dari sekarang, dia bisa mati kapan saja karena serangan jantung yang ia alami sebelumnya bertambah parah. Dan semua ini karena bapak-bapak tua yang menyebalkan itu.

* * *

Gweboon membuka kedua matanya dengan pelan. Mengintip hal apa yang kemudian terjadi.

Tapi sepertinya tak ada apa-apa. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Bahkan kamar Gweboon nampak kosong, hanya ada Gweboon seorang yang merupakan makhluk hidup.

Kesimpulan terpahitnya ’ciuman kening’ barusan juga sepertinya hanya bagian dari mimpi.

Itu bagus, dengan begitu artinya kening Gweboon tak terkotori oleh bibir orang itu…

Tapi tunggu apa ini? Kenapa ada sesuatu yang bergerak-gerak di kening Gweboon.

Memberanikan diri untuk meraba keningnya sendiri. Dan ternyata itu hanya ekor cicak yang putus dari badannya. Mungkin itu jatuh dari langit-langit kamar Gweboon.

Tunggu…putus dari badannya? Ekor cicak?

Ini namanya MUTILASI!

“AAAAAAAAAAAAAAAAA!” Gweboon berteriak, menjerit.

Sementara itu Jinki yang tengah asyik menyisir rambut panjang perempuannya, terkejut setengah mati saat mendengar suara teriakan Gweboon.

Apa yang terjadi pada anak gadis Kim Kibum itu? Kenapa pagi-pagi sekali sudah berbuat nakal?

Apa dia pipis di celana? Atau justru ada yang pipis di celananya?

Maaf, Jinki memang berbakat menjadi pengusaha. Tapi dia tidak berbakat menjadi pelawak.

“Apa yang sedang kau coba lakukan, anak gadis Kim Kibum?” ucap Jinki dengan kepala yang menyembul di balik pintu, setelah beberapa saat lalu berlari sekuat tenaga menuju kamar Gweboon. Jinki hanya khawatir jika Gweboon jatuh dari ranjang dan kemudian mengalami amnesia.

Di lain pihak, Gweboon yang masih memasang muka menjerit hanya dapat memberikan isyarat melalui jari telunjuknya yang mengarah ke keningnya.

Jinki yang melihat isyarat itu, perlahan berjalan melangkah mendekat. Memperhatikan kening Gweboon dari jarak yang cukup dekat.

Ah..lucu sekali. Sesuatu di kening Gweboon menggeliat.

“Kau kejatuhan ekor cicak?”

“Mutilasi!”

“Dasar bodoh! Ini namanya otonomi!” ucap Jinki sok membenarkan, yang padahal ia juga salah.

“Otonomi?”

“Peristiwa saat cicak atau kadal memutuskan ekor mereka, mereka melakukannya saat mereka merasa nyawa mereka tercancam.” Jinki menjelaskan sambil membuang ekor cicak dari kening Gweboon.

“Apa mereka tidak akan mati?”

“Justru mereka melakukannya agar mereka tidak mati. Ahya, sebaiknya kau berhati-hati. Dari mitos yang pernah kudengar, seseorang yang kejatuhan cicak atau ekor cicak, akan mengalami kesialan yang cukup untuk membuatmu depresi.”

Gweboon hanya mendengus malas.Gweboon tak percaya hal semacam itu.

Jika ada hal yang dapat membuat Gweboon depresi, satu-satunya hanya karena menikah dengan bapak-bapak tua menyebalkan seperti Jinki.

Sisanya…tak ada artinya bagi Gweboon.

* * *

Lembek..bau..

Benar-benar menggangu!

Gweboon baru saja menginjak kotoran kucing di pinggir jalan.

“Kesialan nomer empat,” ucap Jinki yang berjalan tenang di samping Gweboon sambil menahan tawa.

Gweboon hanya dapat mendengus kesal. Jika bukan karena mereka sedang berada di tempat umum, mungkin Gweboon akan memberanikan diri menendang bokong Jinki yang terlihat berisi tapi tidak seksi itu.

Dan lagipula, kenapa seharian ini ia benar-benar mengalami banyak hal yang menyebalkan yang membuatnya benar-benar terlihat sial. Apa ini gara-gara otonomi cicak?

Dimulai dari tidak sengaja terpeleset di toilet dengan tangan yang masuk ke lubang closet, lalu tidak sengaja meminum pengharum lantai yang semula dikira jus lemon, terjepit di pintu kamarnya sendiri, dan terakhir menginjak kotoran kucing disaat perjalanan menuju supermarket.

Eunsook –ibu Jinki, yang juga merupakan ibu mertua Gweboon— akan pulan besok, dan untuk menyambut kedatangan wanita paruh baya itu, maka Jinki dan Gweboon pergi berbelanja untuk mempersiapkan pesta selamat datang.

Sebenarnya Jinki dan Gweboon malas melakukannya, hanya saja Eunsook memaksa mereka berdua untuk melakukan semua itu. Mau tidak mau mereka-pun melakukannya.

Jika mereka tak melakukannya, Eunsook akan mengancam tak akan pulang hingga lima tahun ke depan. Sebenarnya itu juga tidak masalah bagi Gweboon dan Jinki. Dan sepertinya itu juga justru bagus. Hanya saja mereka juga tahu kalau itu sikap yang sugguh keterlaluan bagi seorang anak.

“Apa kau akan pergi dengan sepatu yang ada kotorannya seperti itu?”

Jinki menghentikan langkahnya, tepat di depan Gweboon. Dengan tangan yang menutupi hidung Jinki menatap Gweboon dengan cara yang menyebalkan.

Gweboon tau dia bau. Tapi bukan Gweboon yang bau, melainkan sepatu Gweboon. Apakah Jinki harus memperlakukan Gweboon seperti itu?

“Berhentilah bersikap seperti itu. Ini bahkan bukan saat dimana kau bisa bersikap menyebalkan,” Gweboon menggerutu, terlihat imut di mata Jinki.

Baiklah, seperti yang Gweboon minta. Jinki tidak akan menyebalkan. Dia hanya akan melakukan semuanya sesuai apa yang hatinya inginkan.

Dan hal pertama yang hatinya inginkan adalah membalikan badan dari hadapan Gweboon, kemudian berjalan cuek.

“Ya! Kau mau pergi kemana? Kau ingin meninggalkanku? Hei…Bapak tua!”

La…la..la

Jinki tak mendengarnya. Atau pura-pura tak mendengar lebih tepatnya.

Jinki hanya terus melangkah dengan langkahnya yang lebar, dan semakin menjauhi Gweboon.

Apa ini?

Ck.. Gweboon tak percaya Jinki melakukan semua ini padanya.

Jadi rupanya, Jinki ingin menelantarkan Gweboon dengan kotoran ini? Sebatang kara di pinggir jalan, dengan kondisi bau? Sial.

Well, jangan salahkan Gweboon jika akhirnya dia mengambil tindakan ini.

Dengan penuh rasa kesal Gweboon melepaskan sepatunya yang terkena kotoran, senyum licik yang mengerikan juga dipasang di wajahnya. Sepertinya ini pertanda buruk bagi Jinki yang terus berjalan di depannya yang tidak tahu menahu dengan apa yang ada di pikiran Gweboon saat ini.

Gweboon, sang ratu iblis sudah datang disini!

Dan lihat, siapa yang sebenarnya benar-benar berkuasa disini.

“Bapak tua, ini semua karena kau juga!”

Gweboon-pun melemparkan ’sepatu sakti’nya ke arah Jinki. Dan semua berjalan mulus seperti yang Gweboon inginkan, sepatu itu melambung tepat menuju ke kepala Jinki. Tapi di detik-detik terakhir, Jinki justru menundukkan tubuhnya.

Berbeda dengan Gweboon yang sedang sial. Rupanya Jinki justru sedang mujur. Bukannya terkena ’sepatu sakti’ Gweboon, Jinki justru mendapatkan koin sepuluh won di jalan. Dan karena itulah tadi ia menunduk, untuk mengambil koin itu.

Sementara itu mengenai ’sepatu sakti’, seperti yang diharapkan Gweboon sepatu itu melambung dan mendarat tepat ke arah kepala seseorang. Tapi bukan kepala Jinki, melainkan  kepala seorang bapak-bapak yang terlihat tua dan menyeramkan. Jelas itu bukan Jinki-kan. Karena Jinki adalah tipe bapak-bapak tua yang menggemaskan, dan karena sekarang ia dalam kondisi dikutuk, jadi itu juga tidak berlaku. Tapi Jinki tetap menggemaskan.

Dilain pihak, Jinki menyadari apa yang barusan istri kesayangannya itu lakukan. Jinki hanya menatap Gweboon dan bapak-bapak korban ’sepatu sakti’ itu bergantian dengan wajah miris.

“Wow! Kesialan nomer lima,” ucap Jinki yang kini justru terlihat terkagum-kagum.

Dan jika ada yang bertanya tentang Gweboon, apalagi yang bisa gadis itu lakukan saat ini selain menangis. Terlebih bapak tua korban sepatu sakti itu nampak menyadari sesuatu yang lengket dan bau yang menempel di sepatu dan sekarang bahkan menempel di kepalanya.

Kotoran!

Demi Tuhan, Gweboon ketakutan.

“Dasar anak muda, apa yang kau lakukan?”

Gweboon masih berdiri di tempatnya, menggigit bibirnya dengan keras, seolah dengan begitu dapat membuatnya selamat dari amukan bapak tua itu.

Hingga seseorang tiba-tiba saja menarik dan mengajak Gweboon untuk berlari. Gweboon yang dalam pikiran kalut, hanya dapat mengikuti langkah orang yang menariknya.

“Bodoh, disaat seperti itu seharusnya kau lari, jika kau diam seperti patung artinya sama saja dengan mencari mati,” ucap orang itu yang membuat Gweboon sedikit kembali pada kesadarannya.

* * *

Jinki melihat dengan kedua matanya sendiri, bagaimana seseorang menarik Gweboon berlari meninggalkan tempat kejadian. Dan itu membuat Jinki sedikit bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Tunggu, jadi seseorang yang menarik Gweboon barusan bukan Jinki. Tapi, jika orang itu bukan Jinki, lalu siapa?

“Hei..anak muda, berani-beraninya kau lari!”

Sementara bapak-bapak tua korban sepatu sakti terus berteriak, mengumpat pada Gweboon sambil mencoba untuk mengejar.

Baiklah, tidak seharusnya Jinki berdiam seperti ini. Jinki harus mengajari Gweboon dengan baik,.

Lari dari sebuah masalah tidak akan menyelesaikan apa-apa. Akan Jinki tunjukkan bagaimana cara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini.

Ahjussi, maaf. Apa kita bisa bicara sebentar?”

* * *

Gweboon berjalan menyusuri jalan bersama Taemin.

Taemin, itu nama orang. Orang yang sudah menarik Gweboon untuk berlari. Gweboon cukup mengenal Taemin dengan baik, karena mereka satu sekolah dan satu kelas selama satu tahun.

“Apa kau yakin baik-baik saja berjalan seperti itu?”

Gweboon menatap ke arah sebelah kakinya yang telanjang tanpa alas kaki dan kemudian mengangguk singkat, sebagai jawaban.

“Ku rasa itu akan baik-baik saja,” Gweboon menjawab sambil memasang senyum tipis.

“Ahya..itu bagaimana hubunganmu dengan Minho sunbae, ku dengar kalian sudah resmi berpacaran.  Bukankah hari ini hari Minggu, apa kalian tidak menghabiskan waktu bersama?”

Taemin cukup cerewet, dan itu membuat Gweboon tidak terlalu akrab dengan Taemin.

Haruskah dia menanyakan semua itu?

Dan haruskah ia menjawab tentang Minho?

Disaat ia justru sedang menghabiskan waktu bersama suaminya?

Tunggu, suami?

Benar. Gweboon kehilangan suaminya!

“Aku meninggalkannya!” Gweboon tiba-tiba memekik, membuat Taemin kebingungan.

“Apa yang kau tinggalkan?”

“Itu. Dia yang menyebalkan tetapi uangnya banyak. Yang rambutnya panjang tapi tidak bisa dipotong. Yang sedikit manis saat tersenyum,” ucap Gweboon yang membuat Taemin semakin kebingungan.

Apa yang barusan Gweboon katakan? Apa itu jenis salah satu alien? Tapi Taemin yakin yang jelas itu bukan orang. Mungkin kucing peliharaan Gweboon.

“Apa kau pergi kemari dengannya?”

“Benarkan? Seharusnya aku mencarinya. Taemin maaf, tapi aku harus mencarinya. Terimakasih untuk bantuanmu hari ini, sampai jumpa!”

Tanpa menunggu balasan, Gweboon berlari meninggalkan Taemin yang semakin kebingungan.

* * *

Kali ini Gweboon berjalan sendirian menuju halte, banyak orang yang menatapnya aneh.

Entah karena Gweboon terlihat seperti orang gila, atau justru karena orang gila yang terlihat seperti Gweboon. Karena ini bukan lelucon, jadi tidak apa-apa jika tidak ada yang tertawa.

“Tidak seharusnya kau lari seperti itu.”

Sebelum Gweboon sempat berteriak, seseorang yang baru saja bicara itu dengan enteng mengangkat tubuh Gweboon, memperlakukan Gweboon persis seperti saat mengangkut karung beras.

Ini namanya pelecehan! Tapi apa iya ini pelecehan jika yang melakukan semua ini adalah Jinki.

Gweboon-kan tidak mengalami amnesia, jadi dia pasti mengingat kalau ia dan Jinki itu hubungannya suami-istri.

“Tidak bisakah kau lari disaat yang tepat? Disaat dimana semestinya kau lari, kau harus lari. Dan tadi, bukanlah saat dimana kau harus lari, Gweboon,” ucap Jinki yang kali ini sibuk melepaskan sebelah alas kaki Gweboon yang tersisa. Kemudian tanpa banyak bicara orang itu memasangkan alas kaki yang baru pada kedua kaki Gweboon. Membuat Gweboon terdiam sejuta bahasa.

“Kau mau aku gendong seperti ini sampai rumah, atau berjalan sendiri?”

Gweboon menggigit bibir bawahnya saat mendengar tawaran orang itu barusan.

Gweboon suka digendong!

Tapi…Gweboon malu. Apa Jinki tak bisa memahami bagian itu? Lagipula, digendong seperti mengangkut karung beras…itu sedikit kurang manis.

“Gweboon, dengarkan ya dengan baik,” ucap Jinki akhirnya, sambil menurunkan tubuh Gweboon.

Apa Gweboon tidak jadi digendong? Dan apa yang perlu Gweboon dengarkan?

Dasar Jinki pemberi harapan palsu!

“Apa?”

“Seharusnya tadi kau tidak lari! Kau tahu, seseorang yang lari dari tanggung jawab. Itu sama sekali tidak keren. Disaat kau melakukan kesalahan dan mengakuinya itu bukanlah sebuah masalah, tapi disaat kau melakukan kesalahan dan kau tidak mengakuinya. Itu adalah masalah yang besar,” lanjut Jinki dengan suara yang dibuat-buat membesar.

Gweboon mulai membenci Jinki disaat seperti ini. Tidak bisakah mereka langsung pergi ke rumah dan melupakan kejadian barusan.

Lagipula ini tempat umum, banyak orang yang akan memperhatikan mereka. Terutama jika Jinki mengadakan khotbah gratis disini. Mereka pasti akan menjadi pusat perhatian.

Gweboon tahu Jinki tua, dan mungkin lebih berpengalaman soal hidup. Tapi Gweboon benar-benar membenci saat Jinki mulai menceramahinya seperti ini.

“Sudah selesai? Kalau begitu aku pulang duluan,” sahut Gweboon cuek sambil menatap Jinki murka.

Ya! Apa-apaan ini!

Kenapa Jinki yang justru mendapat perlakuan seperti itu, seolah Jinki-lah yang berbuat salah.

Jinki terus menatap tak percaya ke arah Gweboon yang kini sudah berjalan cukup jauh di depannya.

Jinki tidak melakukan kesalahan, lalu kenapa Gweboon bersikap seperti itu?

Apa ini karena hal itu? Ahya.. Jinki mengerti sekarang. Baiklah, Jinki rasa kali ini dia juga harus mengakuinya.

Jinki berlari kecil untuk menyusul Gweboon, saat tepat di samping Gweboon, lelaki itu dengan berani menggenggam tangan Gweboon yang bebas.

“Aku salah. Maaf-kan aku Gweboon…seharusnya aku jujur. Seharusnya aku menjelaskannya saat itu, bukannya membuatmu salah paham,” ucap Jinki yang membuat Gweboon bingung.

Apalagi yang lelaki tua terkutuk ini coba bicarakan?

Jika ini menyangkut khotbah lagi, Gweboon tak akan segan-segan menendang bokongnya!

Akan Gweboon buat pantat Jinki kempes, sehingga tidak terlihat berisi lagi.

“ku bilang maaf karena sudah berniat meninggalkanmu tadi. Sebenarnya aku hanya ingin pergi sebentar untuk mencarikan alas kaki baru, lalu kembali. Karena ku pikir kau akan lebih terkesan saat itu menjadi kejutan, aku pikir saat itu aku diam saja,” lanjut Jinki yang membuat langkah kaki Gweboon terhenti.

Baiklah, ucapan Jinki barusan seratus persen berhasil membuat Gweboon terpaku.

Dan bahkan…

Degh..degh…degh

Jantung gwebooon memberikan respon yang tak kalah heboh. Sepertinya Jinki berniat membuat Gweboon mati muda, karena dengan begitu dia bisa mencari istri lain.

Bagaimana mungkin detak jantungnya semakin kencang? Terlebih Jinki baru saja menambahkan senyum kelinci di wajahnya itu.

Jinki manis sekali. Gweboon su….su…suk..suk…sukar mempercayainya!

Jangan-jangan ada yang perlu diperbaiki di adegan ini. Sayangnya tak ada apapun yang perlu diperbaiki.

* * *

Sendirian di rumah sebesar rumah Jinki, membuat Gweboon bosan. Terlebih karena Jinki tak ada, dan para pelayan yang biasanya memenuhi rumah ini juga belum dipekerjakan oleh Jinki.

Sekitar satu jam yang lalu, disaat Gweboon dan Jinki asyik menonton televisi. Jinki tiba-tiba saja mendapatkan telpon.

Dan saat matahari terbenam, setengah jam yang lalu Jinki pergi meninggalkan Gweboon sendirian.

Gweboon tidak tahu Jinki pergi kemana, tapi Gweboon sempat melihat Jinki memakai pakaian yang rapi sekali.

Aroma parfum yang Jinki gunakan juga menyengat.

Rambutnya yang berwarna hitam kecoklatan juga disisir penuh gaya.

Seperti ingin pergi kencan saja.

Tunggu, barusan itu apa? Kencan?

Kenapa kata ’kencan’ membuat Gweboon ingin marah? Cih..lagipula siapa memang di dunia ini yang mau berkencan dengan bapak-bapak tua menyebalkan seperti Jinki.

Gweboon yakin tidak ada gadis yang sudi, kecuali dirinya.

* * *

Jinki memang sedang berkencan.

Berkencan dalam artian, bertemu kenalan cantik.

Dan kenalan Jinki yang cantik adalah, Kim Kibum. Kim Kibum siapa? Ayah dari Kim Gweboon, tentu saja.

Lama tak terdengar entah dengan alasan apa, tiba-tiba saja lelaki cantik yang galak itu memanggil Jinki. Menelpon dan menyuruh Jinki datang menemuinya seorang diri.

“Aku menunggumu datang sendiri mengunjungiku setelah pernikahan, tapi kau tak kunjung datang. Ku pikir bagaimanapun sibuknya kau, kau tidak seharusnya melupakan ayah dari gadis yang sudah kau nikahi,” ucap Kibum yang duduk di hadapan Jinki.

Jinki duduk tegang mendengarkan setiap kata yang dikeluarkan mulut ayah mertuanya itu. Semua ini mengingatkan Jinki, saat pertama kali Jinki berhadapan dengan ayah Gweboon di kantor keamanan pusat.

“Apa hubunganmu dengan Gweboon, baik-baik saja?”

“En…ya,” Jinki menjawab pelan. Membuat Kibum mengernyit, memperhatikan Jinki lebih  seksama.

Suami Gweboon cukup tampan, itu baik. Artinya tidak salah Kibum memilih Jinki sebagai suami putrinya.

“Ibumu?”

“Eoh?”

Kibum   menghela nafasnya. Bukan hal yang anehkan jika Kibum menanyakan Eunsook? Selama beberapa waktu ini, wajah Eunsook terus terbayang di pikiran Kibum.

Eunsook yang seksy dengan gaun ungu.

Astaga Kibum! Sadar dia itu besanmu. Ibu dari suami Gweboon, putrimu.

“Aku hanya ingin tahu bagaimana kabar ibumu? Setelah menangis-nangis agar anaknya dapat menikahi putriku. Dan setelah berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan. Apakah dia baik-baik saja?”

Jinki tersenyum tipis dan sesekali mengangguk mendengar apa yang barusan Kibum ucapkan, terlihat sekali kalau dia sedang gugup.

Entah apa yang sebenarnya membuat Jinki seperti itu saat berbicara dengan Kibum.

Padahal Jinki tahu, Kibum juga tidak mungkin menggigitnya.

Lagipula, siapa yang sudi menggigit tubuh Jinki yang pahit itu.

“Ibu saya baik-baik saja. Sekarang dia sedang berada di Amerika.” jawab Jinki tanpa berani menatap ayah mertuanya.

Kibum sadar sekarang akan sikap Jinki ini. Baiklah, Kibum rasa dia memang sedikit terlalu kasar pada Jinki.

Kibum menurunkan kedua kakinya yang semula meringkuk diatas kursi, menurunkan barbel yang juga semula di mainkan di tangannya, tak lupa membenarkan kaos singlet yang semula disingsing hingga menampakkan perut Kibum yang kurus tapi buncit.

“Bersikaplah lebih santai dari sekarang. Karena kita sudah menjadi keluarga. Akupun juga akan memperlakukanmu seperti anakku sendiri. Jadi kau juga bisa memperlakukanku seperti ayahmu sendiri,”ucap Kibum yang kali ini lebih ramah.

Jinki memberanikan tersenyum lebih lebar, dan mengangguk yakin sebagai jawaban, “Baiklah saya mengerti. Saya mohon bimbingannya…ayah,”

Kibum tersenyum.

Lama ia tak mendengar sebutan itu untuk dirinya. Karena Gweboon sendiri bahkan hanya akan memanggilnya dengan sebutan itu ketika memerlukan sesuatu dari Kibum.

“Ahya, selain itu ada yang ingin aku ceritakan padamu. Ini tentang masa lalu Gweboon. Ku rasa kau harus tahu, karena sekarang kau adalah salah satu orang yang akan menemani Gweboon menjalani hidupnya,”

* * *

/sementra itu\

Gweboon membulatkan kedua matanya tak percaya saat memeriksa handphonenya beberap menit lalu.

Ada sebuah pesan singkat masuk ke nomer ponselnya.

Itu dari Minho. Dan isi pesannya-lah yang membuat Gweboon ingin pipis di celana.

’Aku merindukanmu. Jadi ayo kita bertemu! Aku akan datang ke rumahmu dalam waktu tiga puluh menit. Kau..tunggu saja aku!’

Baik..jadi begini masalahnya, Minho sama sekali tidak tahu menahu kalau Gweboon sudah menikah dan pindah rumah ke rumah Jinki. Yang Minho tahu, rumah Gweboon itu rumah yang didiami Kibum saat ini.

Masalah selanjutnya, bagaimana mungkin Gweboon dapat menemui Minho di rumahnya yang dulu dalam waktu tiga puluh menit. Rumah Jinki cukup jauh dari rumah Gweboon, mungkin memerlukan waktu lebih dari setengah jam perjalanan dan itupun jika jalanan tidak macet.

Berpikirlah Gweboon! Gunakan otakmu, apa yang harus kau lakukan saat ini.

Baiklah Gweboon kirimi saja pesan balasan untuk Minho, Gweboon akan mengatakan ia tidak bisa menemui Minho karena ayahnya..

 

Dreett..dreett..dreet

Bahkan Gweboon belum sempat mengetik pesan balasan, Minho nampak mengiriminya pesan lagi.

’Aku tidak peduli dengan alasan. Yang jelas aku ingin bertemu. Bahkan aku akan mengorbankan diri dengan menemui ayahmu, yang penting…kita harus bertemu karena aku benar-benar merindukanmu’

Gweboon mengigit bibir bagian bawahnya, bagaimana bisa Minho bersikap keras kepala disaat seperti ini.

Apa yang harus Gweboon lakukan?

Tiba-tiba Gweboon justru merasa kesal pada minho, sang spidermonkey itu.

* * *

Kibum menceritakan semuanya pada Jinki.

Tentang Gweboon dan masa lalunya.

Gweboon kehilangan ibunya di umur lima tahun. Ibu Gweboon meninggal karena rokok.

Tidak, ibu Gweboon tidak merokok. Kibum juga tidak merokok, apalagi Gweboon, gadis itu tidak mungkin merokok tapi seingat Jinki ayahnya-lah  yang merokok tapi ibunya tidak. Kalau nenek dan kakeknya Jinki tidak tahu, karena tidak pernah mencari tahu. Jadi apa dia harus mencari tahu? Tapi bagaimana cara mencari tahu? Nenek dan kakek Jinki sudah lama meninggal.

 Baik karena itu bukan masalah sebenarnya, jadi tak usah membahasnya. Tapi Jinki juga cukup penasaran, apa nenek dan kakeknya merokok?

//

Ibu Gweboon meninggal karena rokok, lebih tepatnya karena ditabrak truk pengangkut rokok kemasan.

Saat itu kejadian sebenarnya cukup dramatis.

Tepat saat festival chuseok berlangsung, Kibum, Gweboon dan ibunya sedang berjalan-jalan di area festival. Gweboon kecil senang membawa boneka kelinci kemanapun ia pergi.

Tangan kecilnya yang mungil selalu memeluk boneka itu dengan sayang seolah tak ingin melepaskannya kemanapun ia pergi.

“Sudah cukup lama. Kita pulang saja ya?” usul Kibum yang disetujui oleh istri dan anaknya.

“Aku ingin membeli jajanan kecil di seberang jalan bersama Gweboon. Kau bisa menjemput kami dengan mobil di depan sana!’ ucap ibu Gweboon sambil merengkuh tangan putrinya, menuntun agar kaki kecil Gweboon segera melangkah.

Saat Gweboon dan ibunya hendak menyeberang jalan, disaat itulah cerita ini dimulai.

Tali sepatu Gweboon terlepas, dan terpaksa Gweboon kecil harus membenarkannya. Sedikit kesulitan, karena ia masih belum terlalu mahir mengikat tali sepatu.

Ibu Gweboon yang menyadari itu berinisiatif menggendong Gweboon karena lampu penyeberang jalan sudah berwarna hijau. Di tengah jalan saat menyeberang, Gweboon tanpa sengaja melepaskan boneka kelincinya. Sementara ibunya masih belum menyadarinya.

“Bonekaku jatuh saat menyeberang,” ucap Gweboon saat Minjung—ibunya—menurunkan tubuhnya dari gendongan.

Minjung mendesah lelah mendengarnya, “Jadi apa kita harus mengambilnya?”

Gweboon mengangguk semangat, membuat Minjung mendesah lebih keras.

“Tapi ayah sedang menunggu kita. Bagaimana jika kita lupakan saja tuan kelinci dan membeli boneka yang lebih bagus, misalnya tuan kodok atau paman ayam?”

Gweboon menggeleng, “Tuan kelinci akan menangis.”

“Baiklah, ibu akan berbalik dan mengambil tuan kelinci. Gweboon jangan pergi kemana-mana,” kali ini ibu Gweboon sudah berbalik dan berlalu meninggalkan Gweboon yang masih terdiam di tempatnya, setelah menerima anggukan Gweboon.

Lampu penyeberang jalan masih berwarna hijau. Masih ada waktu sepertinya, terlebih tuan kelinci  jatuh tidak terlalu jauh. Tanpa menoleh ke kiri dan kanan ibu Gweboon pun menyeberang dan hanya dalam hitungan detik, seperti sudah diatur sebelumnya.

Lampu penyeberangan jalan berubah warna menjadi kuning, hanya dalam hitungan detik berubah lagi menjadi merah.

Dan disaat itulah sebuah truk pengangkut rokok kemasan menabrak tubuh ibu Gweboon.

* * *

Orang-orang nampak mengerumuni tubuh ibu Gweboon yang tergeletak berlumuran darah di jalan.

Gweboon kecil yang melihat semua itu dengan mata kepalanya sendiripun akhirnya memberanikan diri mendekat dengan langkah kecilnya.

Tidak ada airmata, tidak ada jeritan yang muncul di wajah Gweboon. Hanya wajah datar yang beku.

Gweboon melangkah lebih dekat kepada ibunya, tapi bukan untuk memeluk ataupun menangisi sosok ibunya, melainkan untuk mengambil tuan kelinci yang jatuh tak jauh dari tubuh ibunya.

“Gwe..” dengan kesadaran yang semakin melemah, ibu Gweboon mencoba memanggil nama anaknya.

Tapi ketika gadis kecil itu menoleh, yang ia temukan hanya bekas senyum pias di wajah ibunya yang telah meninggal.

Dan lagi-lagi bukannya menangis dan menjerit, Gweboon masih terpaku dan justru memeluk erat si tuan kelinci.

* * *

Kibum benci kisah itu, dan Jinki yang barusan mendengarnya juga membencinya.

Kenapa Jinki terlambat mengetahui semua itu? Jika ia tahu lebih awal, mungkin ia akan memperlakukan Gweboon lebih baik lagi.

”Aku mulai membencinya disaat itu. Dengan bodohnya aku menganggap apa yang terjadi pada ibunya adalah ulah anak itu. Setiap melihat wajahnya aku terus meneriakinya. Memintanya untuk meminta maaf dan menghidupkan kembali ibunya yang telah mati. Kurasa saat itu anak itu benar-benar tertekan. Lebih menyedihkan dari seorang anak yatim piatu. Karena saking aku membencinya, aku pernah mengusirnya dan tak memperbolehkan memanggilku ayah. Tapi anak itu terus melengkat padaku seperti permen karet,”

“Aku benar-benar berpikir semuanya ulahnya. Bahkan saat melihatnya tidak menangis saat ibunya dikubur, aku menjerit dan memaksanya menangis. Aku tidak tahu apa yang anak itu pikirkan. Dia tetap tak menangis. Sejak saat  itulah hubungan kami tidak terlalu baik, aku bukan ayah yang baik bahkan sampai akhir. Tak peduli bagaimana hatinya, aku menyuruhnya menikah denganmu. Karena ku pikir dengan begitu dia bisa terbebas dari ayah yang buruk sepertiku. Jadi mulai sekarang, aku mempercayakannya padamu. Aku harap kau bisa menjadi panutannya. Setidaknya karena ia tidak bisa mendapatkannya dariku karena aku ayah yang buruk, maka ia bisa mendapatkannya darimu,”

“Jadilah suami yang baik, Jinki!”

Jinki terdiam dengan segala yang ia dengar barusan.

Tak menyangka gadis anak Kim Kibum yang terlihat baik-baik saja itu justru menyimpan semua kenangan buruk di ingatannya.

“Apa dia mengingat semuanya?”

Kibum tersenyum dan menggeleng, “Sepertinya tidak semuanya. Karena terlalu tertekan akhirnya ia mengalami disosiatif. Melupakan setiap kenangan buruk yang menjadikannya trauma.”

“Syukurlah dia tidak mengingatnya. Itu lebih baik untuknya,”

* * *

Sebuah surat kecil jatuh perlahan dari langit malam.

Disana tertulis…

’Hentikan, sebelum semuanya terlambat. Ungkapkan sebelum semuanya percuma. Sadari sebelum kau menyesalinya.’

Tapi Gweboon tak akan pernah menyadari surat kecil itu, karena ketika surat itu menyentuh tanah…semuanya lenyap tak berbekas.

“Kau darimana, kenapa ada di luar?”

“Aku keluar sebentar untuk mencari sesuatu.” Gweboon menjawab sambil mengambil langkah, untuk mendekati Minho yang sedari tadi telah menunggunya dengan posisi bersandar di tembok depan rumah Gweboon.

“Aku benar-benar merindukanmu, Gweboon,” ucap Minho yang sebenarnya tidak nyambung tapi terdengar romantis. Bahkan lelaki itu dengan berani memeluk tubuh Gweboon.

Membuat Gweboon terpaku sesaat.

Sementara itu dari atas atap sebuah rumah di perkomplekan rumah Gweboon—tak jauh dari keberadaan Gweboon sekarang—, sosok laki-laki bernama Kim Jonghyun hanya dapat mendesah kecewa, “Kesialan nomer enam sepertinya, Aku tak menyangka akhirnya akan seperti ini, aku akan gagal,” ucapnya dengan tatapan mata sayu.

Dan kemudian lelaki itu menghilang tanpa jejak.

Sementara bintang-bintang berkelang kelip di langit, memberikan ratusan kali peringatan untuk Gweboon. Tapi lagi-lagi Gweboon tak menyadarinya.

Bahkan ada seekor kucing yang melintas diantara Minho dan Gweboon, membuat Minho terhenti dari aktivitasnya sejenak.

Semua ini pertanda tapi Gweboon terlalu bodoh untuk tak menyadarinya.

“Apa kau tidak merindukanku juga?”

Sepertinya Minho menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar pelukan, lelaki itu bahkan kini mendekatkan wajahnya ke arah Gweboon.

Dan Gweboon hanya terdiam saat Minho memberikannya sesuatu.

* * *

“Lain kali berkunjunglah saat siang hari. Jadi kita lebih memiliki banyak waktu untuk dihabiskan. Kita bisa memancing bersama atau sekedar pergi ke sauna dan saling menggosok punggung satu sama lain,” ucap Kibum ramah.

Jinki hanya tertawa ringan dan mengangguk.

“Saya akan senang sekali melakukannya bersama anda. Bagaimanapun saya tak pernah melakukan hal semacam itu dulu bersama ayah saya,” Jinki tersenyum tulus dan membungkuk sopan pada Kibum.

Jinki akan pulang sekarang.

Dia sudah tak sabar bertemu dengan istrinya di rumah.

Mungkin dia akan membelikan Gweboon hadiah kecil sebagai kejutan.

Karena bagaimanapun Jinki sudah berjanji akan menjadi suami yang baik untuk Gweboon, pada Kibum.

“Ingat! Pegang janjimu, bagaimanapun kau seorang pria!”

Kali ini Kibum menepuk pundak Jinki dengan lembut. Jinki tak percaya kalau Kibum bisa bersikap seperti ini padanya. Semula ia pikir Kibum akan membencinya selamanya, karena bagaimanapun Jinki telah meniduri anak gadisnya.

Tentu saja, meniduri dalam arti hanya tidur tanpa melakukan apa-apa.

Bagaimana mungkin melakukan apa-apa, menciumnya saja Jinki tak berani sampai sekarang.

Jinki memang payah, tapi dia tetap tipe lelaki sejati.

“Sampai jumpa lagi, ayah.” Jinki melangkah menuju pintu keluar rumah Gweboon, berjalan pelan dengan Kibum yang mengiring di sampingnya.

“Ya. Hati-hati , jaga dirimu dan jaga juga Gweboon dengan baik.”

Jinki mengangguk dan kali ini keluar dari pagar rumah Gweboon.

“Aku akan sering mengunjungi ayah.”

“Hem..akan ku ingat itu.”

Satu

Dua

Tiga

Baru tiga langkah melangkah keluar dari pagar rumah Gweboon, Jinki terhenti.

Pemandangan yang baru saja ia lihat dengan mata kepalanya membuatnya membeku.

Itu Gweboon yang sedang dicium lelaki lain. Atau sebeut saja nama lelaki itu Minho.

Tiba-tiba udara malam yang Jinki hirup, yang semula terasa sejuk entah kenapa terasa memanas.

Apa yang dilakukan Gweboon saat ini, sebenarnya?

“Gweboon!” dan semua bertambah rumit, saat seseorang memanggil nama Gweboon.

Gweboon yang baru saja terlepas dari ciuman Minho-pun menoleh ke sumber suara yang memanggil namanya.

Dan seratus persen, Gweboon merasa mati rasa. Saat melihat dua orang yang berdiri tak jauh di depannya. Mereka adalah Jinki —suami Gweboon— dan Kibum —ayah Gweboon—

“Gweboon, apa yang sedang kau coba lakukan?”

—-To Be Continued—-

I Need a Kiss Season I (Sequel )
|| Teaser | Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7 | Part 8 | Part 9 | Part 10 | Part 11 [END] ||

I Need a Kiss Season II (Sequel )
( Part 1 | Part 2 [END] )

 

*/ : Maaf ya bagi yang kemarin minta password part A-nya. Itu ada kesalahan dalam menjadwalkan tulisannya, jadinya ke-proteksi. Karena baru bisa ON jadi baru bisa dipublish ulang. maaf kalau bikin KONTROVERSI HATI *-*Next part gga pakai PW-PWan lagi kok, kcuali part terakhir mungkin.😛

Ahya..dan itu yang benar autotomi cicak ya. cuman jinki sama Gweboon aja yang saking pinternya jadi ngubah namanya jadi otonomi😀

Semoga suka dan jangan lupa VOTE + LIKE + KOMEN😀

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

148 thoughts on “SHINee Fanfic Romantic Comedy // I Need a Kiss – Part 8

  1. Hah,, nyesek.a jdi jinki Gweboon kau tdk menyadari siapa yg kau suka dn siapa yg kau sayangi, hah rumit huhh

    Suka

  2. Huaaa, gwe jahat banget ituT_T

    Jinki, kau yang sabar yaa… Semoga terus bertahan dan berjuang untuk mendapatkan cinta dari gweboon. Kalo misalkan si gwe masih belom peka juga mendingan kamu sama aku aja yaa *plakkk

    Lanjutkan!!

    Suka

  3. No comments dehh.. perfect. Next!

    Suka

  4. Minho pengganggu!!! Jinki pasti kecewa bgt

    Suka

  5. part2 kemarin dibuat ngakak sama kekonyolan jinboon. dan di part ini sy sukses dibikin mewek. ya Ampun kasian bgt qma jinki hiks. itu gwe jahat bgt sih ama jinki, pdhl jinkinya uda baik bgt gitu…

    Suka

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s