Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

I Need a Kiss Cover Fanfiction2

SHINee Fanfic Romantic Comedy // I Need a Kiss – Part 9

131 Komentar

.         Title : I Need a Kiss-Part 9
·         Author : Rasyifa || https://rarastory.wordpress.com
·         Genre : Romance, Fantasy, Little bit of Comedy—maybe–.
·         Main Cast :
o   [YOU/OC] Kim Gweeboon
o   – Onew  SHINee – Lee  Jinki
o   – Minho SHINee – Choi Minho
·         Other Cast :
o   Find by your self.
·         Length : Chaptered
·         Rating : PG -15
·         Summary : Bukankah cerita ini lebih buruk dari sebuah dongeng. Bahkan seorang pangeran tampan yang dikutuk menjadi si buruk rupa dapat kembali ke wujud aslinya karena menemukan cinta sejati. Dan Jinki, yang bukan seorang pangeran, raja, kaisar, ataupun presiden sepertinya tidak memiliki kualifikasi untuk kembali ke wujud aslinya.
Jinki tak punya itu, yang namanya cinta sejati!

– –
(!) Ditulis dengan kemampuan diksi dan humor yang rendah.
Di publish untuk memperbanyak arcive.

Happy reading~

– –

I Need a Kiss

Written by Rasyifa | https://rarastory.wordpress.com

I Need a Kiss Cover Fanfiction2

– – –

Jinki sudah sadar sepenuhnya, harusnya….

Ia tak pernah mendengarkan sepatah kata apapun yang keluar dari mulut anak gadis Kim Kibum itu.

Ia juga tak semestinya memanggil anak itu dengan namanya.

Gadis anak Kim Kibum.

Cukup memanggilnya begitu, maka harusnya semua pintu akan tetap terkunci.

Dan Gweboon tak akan pernah bisa masuk ke dalamnya, untuk mengobrak-abrik seluruh isinya.

* * *

Jinki hanya bungkam, saat melihat Gweboon bersama Minho di depan matanya. Memandang lurus ke dalam mata Gweboon yang terlihat terkejut. Hanya terkejut, tidak ada tatapan bersalah. Gweboon sialan!

Sementara seseorang yang lain, seolah tak mengerti keadaan, hanya dapat memasang wajah datarnya di samping wajah Gweboon. Yang ini lebih sialan!

Jinki sadar sekarang..sepunuhnya telah sadar. Dia juga sialan!

“Gweboon, apa yang sedang kau coba lakukan?” Suara Kibum tiba-tiba memecahkan keheningan. Cukup ajaib, kenapa justru Kibum yang memekik pada Gweboon. Kenapa bukan Jinki? Mungkin karena Kibum satu-satunya yang tidak sialan seperti mereka.

Dan barusan, Jinki bertambah sadar.

Dengan kedua kakinya yang panjang, lelaki itu mendekat pada Gweboon. Dan berhenti, untuk berdiri tepat di depan Gweboon, sambil menatap Gweboon dengan tatapan yang menusuk.

Satu detik, Jinki si’sialan masih terdiam.

Dua detik, masih si’sialan…Jinki tetap diam.

Tiga detik, Jinki berhenti menjadi sialan, dan berjalan melewati Gweboon.

Pada akhirnya, Jinki tetap tak dapat mengucapkan sepatah kata apapun. Jinki tak tahu harus mengatakan apa.

Dan sikap Jinki itu berhasil membuat Gweboon semakin terhenyak di tempatnya berdiri. Gadis itu ingin menangis sekarang, tapi tak ada alasan yang mendukungnya.

Atau mungkin, karena dia belum menyadari alasannya.

* flashback*

“Aku berterimakasih kau sudah menikah denganku. Aku bahagia karena bisa menikahimu dan tinggal serumah denganmu. Dan aku juga minta maaf atas segala kekuranganku selama ini. Aku tidak ingin membuat janji aku tidak akan membuat kesalahan lagi. Karena aku yakin, itu tidak mungkin. Tapi, aku ingin berjanji..setiap aku melakukan kesalahan, dan menunjukkan kekuranganku padamu. Setiap itu juga aku akan menunjukkan kelebihanku. Sehingga kau tidak akan pernah merasa menyesal menikah denganku. Gweboon, bisakah kita memulai semua ini seperti pasangan pengantin yang lain? Meski tidak saling mengucapkan ’aku suka kamu’ atau ’aku mencintaimu’. Tapi selalu melakukan hal yang membuat kita bisa terus bersama.”

Kejadian malam itu terputar kembali di ingatan Jinki.

Bodoh, bagaimana bisa ia sebodoh ini. Menamatkan Sekolah Menengah Atas dengan program akselerasi, kemudian ditambah dengan menamatkan perguruan tinggi hanya dalam waktu tiga tahun. Dengan semua itu, Jinki bahkan tak dapat memahami situasi yang terjadi waktu itu.

Gweboon tak pernah menjawab apa-apa saat itu. Setelah Jinki dengan polosnya mengungkapkan perasaannya, anak itu justru menggigit bibir bawahnya dengan wajah kemerah-merahan.

Jinki yang merasa aneh, memutuskan bertanya.

“Ada apa denganmu, Gweboon?”

Dan sial, anak itu justru sedang sakit perut dan menahan sesuatu yang ingin keluar.

Lagi?

Kenapa momentnya tidak pernah pas?

Susah payah Jinki menyusun semua rencananya tapi justru ini yang ia dapatkan.

“Baiklah, selesaikan urusanmu dulu, nanti kita lanjutkan lagi,” ucap Jinki pasrah, sementara Gweboon telah lari terbirit-birit, sedikit beruntung karena dengan begitu Gweboon dapat menghindari Jinki.

Gweboon tak tahu harus menjawab Jinki seperti apa. Gweboon tak tahu bagaimana perasaannya terhadap Jinki.

Sukakah Gweboon pada Jinki? Mungkin…ya, atau justru tidak.

Jantung Gweboon memang berdetak cepat saat mendengar Jinki berkata seperti itu. Gweboon juga tak menampik suka senyum yang dipasang di wajah Jinki. Tak masalah saat Jinki menjadi lelaki ataupun wanita, senyum itu bagi Gweboon tetap sama.

Lalu bisakah Gweboon menyimpulkan dia menyukai Jinki hanya dengan semua itu? Hanya karena detak jantung dan senyuman?

Kalau begitu, Minho bagaimana?

Minho itu sudah sepuluh tahun bersama Gweboon. Sementara Jinki baru beberapa bulan saja. Dan yang terpenting Gweboon sekarang pacar Minho.

Lalu siapakah istri Jinki, apakah yang itu tidak penting?

Setengah jam lebih, Jinki yang malang menunggu di depan toilet —tempat Gweboon menyelesaikan urusannya—. Tak masalah jika sesekali mencium aroma yang membuat perut mual. Bagi Jinki yang dimabuk asmara, meskipun aroma itu busuk tapi karena itu Gweboon yang membuatnya., menciumnya justru membuat Jinki mengantuk.

Entah Jinki tertidur karena memang mengantuk. Atau pingsan karena aroma busuk yang menusuk. Lelaki itu dengan damai tidur meringkuk di depan pintu toilet, membuat Gweboon tersentak saat baru saja keluar dari toilet.

Tapi lagi-lagi Gweboon bersyukur, karena dengan Jinki tertidur artinya dia dapat menghindar untuk yang kedua kalinya.

* flashback off*

Jinki  berada di rumahnya. Dia tak tahu apa yang selanjutnya terjadi pada Gweboon setelah ia pergi. Biar Kibum, Gweboon dan lelaki bernama Minho yang mengurusnya. Jinki tak  punya hak disana.

Lagipula, dia itu hanya orang asing yang tak berarti apa-apa-kan.

Prang

Jinki melemparkan sebuah vas kaca yang semula tergeletak di atas meja dengan kasar. Tak sengaja beling pecahan vas kaca itu melukai kakinya.

Hanya terdiam…

Kali ini ternyata lebih parah.

Jinki benar-benar tidak menyukai statusnya, sebagai orang asing yang tak berarti apa-apa.

Padahal Jinki telah mencoba berubah.

Dia berusaha menjadi seseorang yang diimpikan Gweboon.

Lelaki kaya yang bisa naik mobil, tidak pelit dan bisa membantu mengerjakan PR. Tapi apa yang didapatkan setelah jerih payahnya.

Bagaimana mungkin istri yang tak pernah disentuh Jinki, justru disentuh oleh orang lain.

Dan pada akhirnya, hanya luka yang Jinki dapatkan dari semua jerih payahnya. Apa ini adil untuk Jinki?

* * *

Apa yang bisa Gweboon ucapkan pada Kibum, disaat ayahnya itu terus menatapnya dengan pandangan membunuh?

Kemudian apa juga yang bisa Kibum lakukan pada Gweboon.

Anak Kibum berselingkuh, dan Kibum melihatnya sendiri. Kibum benar-benar merasa gagal membesarkan Gweboon sebagai anaknya.

“Gweboon, apa kau merasa bahagia sekarang?”

Gweboon terdiam mendengarkan, setelah cukup lama terdiam dan sekarang ayahnya bertanya seperti itu, jawaban seperti apa yang bisa ia katakan.

Apakah Gweboon bahagia sekarang?

Kenapa bukannya memarahinya, Kibum justru bertanya seperti itu!

“Apa kau tak memiliki jawabannya? Kalau begitu kau harus pulang ke rumahmu malam ini, kau tidak bisa menginap disini,” Kibum kembali berucap.

Pulang ke rumahmu?

Itu….

Bukankah ini rumah Gweboon? Apa maksud Kibum, Gweboon harus pulang ke rumah Jinki. Itu sedikit…tidak mungkin karena situasi yang terjadi.

“Apa appa yang harus mengantarkanmu kesana? Kalau begitu appa akan bersiap-siap.”

“Appa.. tapi aku,”

“Kau ingin bilang kau tak bisa pulang kesana, Gweboon?” ucap Kibum memotong ucapan Gweboon, dan Kibum memang benar, Gweboon tak bisa pulang kesana. Gweboon takut.

Dan Jinki, bagaimana dengan Jinki?

“Kau bukan anak kecil lagi, Gweboon. Ketika kau bisa membuat masalah, berarti kau harus bisa menyelesaikannya.”

Gweboon terdiam menatap Kibum yang telah berdiri di depan pintu yang terbuka. Apa ayahnya sendiri baru saja menyuruhnya untuk pergi?

Kibum mengusir Gweboon?

“Ketika aku mengulurkan tanganmu pada Jinki hari itu, di depan altar. Maka di detik itu juga, rumah ini bukanlah rumah pertama yang bisa kau datangi tanpa izin dari Jinki. Dan aku bukan lagi ayah yang harus berlari seorang diri untuk membantumu. Kau harus kembali padanya, katakan apa yang perlu kau katakan. Itulah yang seharusnya kau lakukan, bukan menangis di depan ayahmu dan bersembunyi. Jika kau salah, akui kau salah. Jangan lari, karena jika kau lari kau hanya akan lelah.”

* * *

Sekitar pukul sepuluh malam…

Gweboon pulang ke rumah Jinki dengan diantar Kibum. Kibum tak melakukan apa-apa setelah mengantar Gweboon, lelaki itu pulang begitu saja.

Membuat Gweboon gelisah seorang diri. Terlebih saat menyadari lampu-lampu di rumah Jinki masih menyala.

Jinki belum tidur? Jika Gweboon masuk sekarang apa yang bisa ia ucapkan jika berhadapan dengan Jinki.

Haruskah Gweboon menunggu semua lampu dimatikan, agar kali ini dia kembali dapat menghindar? Apa itu baik-baik saja?

Treaakkk

Gweboon tersentak, saat pintu yang dijadikannya sandaran bergerak dengan sendirinya. Membuat Gweboon hampir terjengkal, jika saja tidak ada ‘sesuatu’ yang menggantikan pintu itu sebagai sandaran Gweboon.

Tapi tunggu…pintu bergerak sendiri?

Tidak mungkin, seseorang tentu saja telah membukanya.

Dan seseorang itulah yang menjadi pemain utama sekarang, Jinki yang sekaligus menjadikan kedua kakinya sebagai sandaran tubuh Gweboon agar tidak jatuh terjengkal.

“Kau akan kedinginan jika terus berada di luar. Masuklah, bersihkan tubuhmu lalu tidur. Kau masih harus sekolah besok,” ucap Jinki dengan wajah yang biasa, tatapan yang biasa, dan nada yang biasa.

Sungguh kentara, dengan pemikiran Gweboon. Tapi sikap Jinki yang seperti ini justru membuat Gweboon merasa was-was.

Gweboon takut jika Jinki tiba-tiba mengamuk, dan mengigit tubuh Gweboon.

* * *

Jinki hanya mencoba bersikap dewasa, meski dia merasa ada bola-bola api yang bersarang di tubuhnya.

Tapi saat pertanyaan itu terlintas di kepalanya, dia mencoba untuk memadamkan bola-bola api itu dengan sekuat tenaga. Jinki hanya ingin menganggap bola-bola api itu seperti api pada lilin kecil yang menyala, yang akan mati hanya dengan satu kali tiupan.

‘Dia seperti itu, lalu kenapa? Memang kau siapa?’

Pertanyaan yang menyesakkan dan tidak bisa dijawab oleh Jinki.

Gweboon dan lelaki yang bersamanya. Kemudian sesuatu yang dilakukan lelaki itu pada Gweboon.

Apa Jinki berhak marah?

Baik, mungkin Jinki berhak, tapi Jinki merasa tidak pantas. Karena dia bukan siapa-siapa.

Jinki tidak mengenal Gweboon, meski sudah empat bulan menikahi gadis itu. Jinki hanya tahu gadis itu anak Kibum, masih harus menamatkan satu tahun masa sekolah menengah atasnya, kehilangan ibunya karena rokok.

Jinki menghela nafasnya…

Baiklah, sudah cukup untuk bermain-main. Jinki pikir sudah saatnya Jinki memikirkan masa depannya sendiri. Gweboon? Tak  usah diambil pusing.

Jika tidak bisa dengan Gweboon, bercerai saja!

Tidak, tidak semudah itu!

Jinki sudah mulai menyukai Gweboon. Melepas Gweboon tentu tak semudah memakan ayam goreng.

Jinki bangkit dari posisi rebahannya di ranjang, menatap journal coklat yang entah kapan berubah fungsi menjadi buku harian. Dulu journal ini, Jinki gunakan untuk mencatat segala macam hal yang berhubungan dengan perjalanan bisnisnya. Tapi kini… hah, semenjak menjadi perempuan di siang hari, Jinki juga berubah menjadi cengeng.

//

Hari ini aku naik gajah poo chai. Gweboon menemaniku. Sebelumnya kami menonton film horror dan hantunya benar-benar mengerikan. Aku kabur dari bioskop, dan anak itu mengikutiku. Entah dia polos, atau IQnya yang di bawah seratus. Dia percaya saat aku mengatakan, ‘aku melihat yang aslinya’ sedang duduk di sudut bioskop. Tapi aku tidak suka saat dia tiba-tiba menyebutkan nama kucing peliharaannya di acara kencan kami.

Gweboon cepatlah jatuh cinta padaku!

//

Aku belajar mengemudi, aku cukup baik. Aku hanya menabrak tanda rambu-rambu lalu lintas sebanyak sepuluh kali, keluar jalur dua puluh kali, menabrak pohon lima belas kali, dan hampir menabrak orang dua puluh lima kali. Aku benar-benar cukup bagus, setidaknya aku tidak benar-benar menabrak orang, atau membuat kecelakaan maut di jalan raya. Aku akan berjuang, agar mendapatkan ‘oppa’ dari Gweboon!

Jadi, Gweboon cepatlah jatuh cinta padaku!

//

Brengsek! Aku kehilangan beberapa won untuk kursus mengemudi, kemudian juga untuk sewa mobil pengangkut, aku berharap hari ini akan jadi hari yang baik. Tapi kenapa ada lelaki penganggu itu! Dia juga memegang-megang Gweboon sembarangan. Dan kenapa Gweboon mengataiku, perempuan tidak normal? Jinri? Setidaknya berikan nama yang lebih keren seperti Victoria?

Gweboon, ku harap kau jatuh cinta padaku dan lupakan lelaki itu!

//

Aku marah karena kejadian itu. Aku menjauhinya, tapi entah kenapa aku merasa semakin dekat dengannya. Padahal aku benar-benar menjauhinya, aku bahkan pulang malam disaat dia sudah tidur. Tapi hari ini, aku terkejut melihatnya datang menemuiku. Darimana dia tahu aku bersembunyi di rumah mirip fullhouse? Dan bagaimana bisa aku melupakan rasa marahku begitu cepat hanya dengan ice cream yang sudah mencair? Kenapa aku begitu gampangan?

Gweboon, ku pikir akulah yang semakin cepat jatuh cinta padamu! Apa kau juga akan menyusulku?

//

Aku ditampar. Tapi aku hanya diam. Seharusnya aku mengadukannya ke pengacaraku, menuntunya atas kekerasan yang dia lakukan. Tapi saat melihat Gweboon diseret pergi dari sisiku, aku merasa tidak berdaya. Maksudku, bukankah aku menjadi pihak tersakiti? Tapi disaat menjadi pihak yang tersakitipun, Gweboon tak pernah berada di pihakku.

Gweboon, aku mulai ragu kau akan jatuh cinta padaku!

* * *

Jinki menutup journal coklatnya, matanya mulai berair. Masih banyak yang bisa Jinki baca dari catatannya itu, tapi Jinki ingin berhenti.

Kini…Jinki kembali menyadi beberapa hal.

Mungkin hanya empat bulan, yang bisa Jinki berikan pada Gweboon. Tentu saja empat bulan itu tidak sebanding dengan sepuluh  tahun yang diberikan Minho pada Gweboon.

Tapi apakah hal-hal yang berlalu selama empat bulan ini tidak berarti apa-apa?

Apa empat bulan itu hanya sebatas mimpi, dimana saat kau terbangun kau harus melupakannya? Jika itu mimpi, mimpi apa yang berlangsung selama empat bulan lamanya?

/Sementara itu\

Gweboon menatap langit-langit kamar, kali ini dia terbebas dari Jinki.

Setelah menyuruh Gweboon masuk ke dalam rumah, Jinki masuk ke dalam kamarnya dan tidak membuat keributan apa-pun.

Gweboon tak mengerti apa yang dipikirkan Jinki. Tapi dia cukup bersyukur, karena Jinki tidak mempersulit keadaan.

Gweboon mendesah.

Mungkin malam ini, dia bisa selamat dari Jinki. Tapi besok dia harus menjelaskan semua ini pada Minho. Bagaimanapun Minho diusir secara paksa oleh Kibum tadi.

Minho pasti bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Kibum membentak-bentak sekeras itu?

Gweboon harus memikirkan jawabannya!

* * *

Pagi ini, saat Gweboon terbangun dan keluar dari kamarnya.

Suasana tidak lagi sesepi beberapa hari yang lalu. Ada banyak pelayan yang mondar mandir di depan Gweboon. Itu artinya, pagi ini tugas Gweboon untuk membersihkan rumah tidak berlaku.

“Pagi, nyonya muda. Sarapan anda telah siap, apa anda ingin sarapan sekarang?”

Dan tugas untuk membuat sarapan pun sepertinya tidak berlaku.

Entah kenapa Gweboon mendadak merasa, dia tidak lagi berfungsi dengan baik.

“Apa kau melihat Jinki..opp..pa?” Gweboon memberanikan bertanya kepada salah satu pelayannya. Sedikit berat saat memanggil nama bapak tua itu dengan embel-embel ‘oppa’ di akhirnya.

“Tuan pergi saat subuh, dia membawa koper yang cukup besar. Dia bilang ada perjalanan bisnis.”

“Bukannya Eunsook eomma, pulang hari ini?”

“Apa tuan tidak memberitahu anda? Nyonya besar menunda kepulangannya beberapa hari. Nyonya besar bilang ia harus singgah ke Thailand untuk membeli beras.”

Gweboon kembali terdiam, menyadari kalau keluarga Jinki memang benar-benar kaya.

Bagimana mungkin, ke Thailand hanya untuk membeli beras?

Tapi… Jinki? Apa benar ada perjalanan bisnis? Atau hanya alasan untuk menjauhi Gweboon.

* * *

Entah apa yang sebenarnya ada pada diri Gweboon.

Tapi lagi-lagi dua lelaki yang ia kencani bersikap sama.

Jika Jinki dengan wajah, pandangan, dan nada bicaranya yang biasa menyuruh Gweboon masuk ke dalam rumah agar tidak kedinginan.

Minho dengan senyumannya, justru merangkul Gweboon ke kantin. Menyuapi Gweboon makan siang, dan bahkan mengambilkan sumpit dan garpu di atas meja.

Minho tidak menanyakan apa-apa.

Minho tidak menyinggung apapun mengenai kejadian kemarin malam.

Seolah, tidak ada yang terjadi. Seolah-olah hanya Gweboon yang mengalami kejadian malam itu sebagai kejadiaan yang nyata, sementara pemeran yang lain menganggap kejadian itu sebuah mimpi, yang perlu dilupakan saat bangun di pagi hari.

“Kau suka mentimun-kan? Ini ambil punyaku!”

“Ah, terimakasih oppa!”

* * *

Jinki yang malang, seorang diri berbaring di sofa ruang tamu rumah mirip fullhouse. Semenjak empat bulan mengalami peristiwa perubahan jenis kelamin di siang hari. Tak banyak yang bisa ia lakukan, hanya mengerjakan pekerjaan yang bisa ia lakukan misalnya seperti mengganggu Gweboon.

Tapi saat ini, melakukan pekerjaannya yang satu itu tentu tidak memungkinkan.

Jinki menghela nafasnya untuk yang kesepuluh kalinya dalam  lima menit belakangan.

Jinki juga merasakan apa yang Gweboon rasakan. Dia merasa, keberadaannya tidak lagi diperlukan.

Tanpa tujuan khusus Jinki menyalakan kembali layar laptop yang sepuluh detik lalu baru saja ia matikan. Baik, Jinki memang sedang kurang kerjaan.

Semua ini karena Gweboon.

Menyalahkan orang lain? Tentu Jinki tahu itu tidak baik.

Tapi menyalahkan istri sendiri? Bagi Jinki itu tidak sepenuhnya tidak baik.

Toeng..Toeng

Saat  Jinki hampir mematikan laptopnya lagi, dari layar laptopnya tiba-tiba muncul sebuah pemberitahuan aneh.

Sebuah pesan penting ditujukan untuk anda, lihat sekarang!

Wajah Jinki mengerut, sedikit menaruh perhatian terhadap tulisan di layar monitornya. Pesan penting?

Baiklah, tak salahnya melihat pesan itu.

Jika itu semacam virus, dan laptop Jinki rusak karenanya. Itu bukan masalah besar, salah satu perusahaan yang dimiiki Jinki bahkan memproduksi laptop yang jauh lebih canggih. Jinki itu orang yang teramat kaya, itu point pentingnya.

Untuk : Tuan Muda Lee Jinki

Bagaimana kabarmu anak muda? Setelah kau mendapatkan apa yang kau inginkan, apa kau merasa bahagia sekarang?

Menjadi perempuan, pasti menyenangkan sekali. Kau pasti telah belajar banyak hal, tapi ku harap kau tak melupakan prinsip dasarnya.

Dan aku sangat menyesal, pesan ini aku kirim bukan hanya untuk menanyakan itu. Aku ingin menyampaikan peringatan besar kalau waktumu akan berakhir.

Tanggal dua…

Saat bulan tepat berada di atas kepala, bahkan jika salah satu dari kalian mati. Peraturan tetaplah peraturan. Kau tahu benar, meski kau memutar jarum jam, waktu yang sebenarnya tidak akan pernah benar-benar kembali.

Aku bicara mengenai syaratnya…Kau masih mengingatnya kan?

Jika kau tidak memiliki syaratnya, kau akan terjebak dengan tubuh perempuan itu untuk selama-lamanya.

Tertanda

Kim Jonghyun

* * *

Katakan Jinki benar-benar frustasi, bahkan tanpa mengenal apa itu ‘jera’, Jinki terus saja melakukannya.

Sepuluh kali ditampar, bahkan Jinki masih belum sadar.

Lebih dari belasan kali berlari dari amukan orang-orang, Jinki masih ngotot untuk bertahan.

Terus mencekal setiap perempuan yang ia temui, terus meminta untuk dicium, dan tentu saja ia terus ditolak dan dianggap gila.

Dan bahkan sekarang, karena perbuatannya itu, Jinki yang dalam keadaan fisik perempuan itu sedang duduk termenung di dalam kantor keamanan ditemani seorang petugas keamanan yang duduk mengintrogasi di depannya.

Jinki tertangkap atas segala perbuatan yang telah ia coba lakukan. Dan ini semakin bertambah runyam saja.

“Jadi, apa tujuan anda yang sebenarnya? Kenapa anda melakukan semua ini? Ingin dicium perempuan lain? Anda sendiri bahkan seorang perempuan, nona muda.” Ucap petugas keamanan itu sambil menatap Jinki. Mungkin tentu saja, ini aneh baginya yang tidak tahu menahu awal kisahnya.

Tapi…

Jinki sendiri tidak menyahut. Memilih bungkam, dan terus bergelut dengan pemikirannya sendiri.

Kenapa ia melakukan semua ini?

Tentu saja karena ingin kembali menjadi Jinki, sang lelaki sejati.

Tapi bodoh sekali jika Jinki menjawabnya seperti itu, yang ada dia akan dianggap gila.

“Apa kau tidak ingin memberikan penjelasan? Setidaknya kau harus menunjukkan kartu identitasmu!”

Baik, sekarang Jinki kembali sadar.

Dia tidak memiliki cukup banyak waktu lagi, dan duduk frustasi di kantor keamanan sama sekali tidak membantu masalahnya.

“Berapa biaya yang harus aku bayar sebagai tebusannya?”

“Apa maksudmu?”

“Kau tidak perlu sesungkan itu. Aku tahu kemana masalah ini akan berujung. Uang kan? Berapa banyak yang dibutuhkan?”

Entah apa yang salah dengan otak Jinki, tapi kalimat itu dengan mudah keluar dari mulutnya. Tanpa mempedulikan reaksi orang yang akan mendengarnya.

“Uang, kau pikir kau sedang berbicara dengan siapa?”

“Ucapkan saja jumlahnya, akan ku berikan sebanyak yang kau minta.”

“Dasar anak tidak punya sopan santun. Kau ingin menyogokku?”

“Jangan munafik, semua orang juga menginginkannya kan. Uang, kau bisa mendapatkan apapun dengan uang,” Jinki berucap sinis. Baik, sepertinya memang benar otak Jinki sedang bermasalah. Bahkan Jinki membuat keributan baru di kantor keamanan pusat.

Adu mulut yang cukup sengit antara Jinki dan salah satu petugas keamanan.

Bahkan Jinki dengan berani meluapkan kekesalannya pada petugas keamanan itu.

Jinki tidak sungkan mencengkram kerah seragam petugas keamanan itu.

“Jinki?”

* * *

Tidak tahu apakah ini namanya sial atau justru beruntung.

Saat Jinki hampir memukul petugas keamanan yang mengintrogasinya. Gweboon datang membuka pintu, menghentikan dan membereskan masalah yang Jinki buat.

Mudah saja bagi Gweboon karena ayahnya adalah ketua dari petugas keamanan. Dan Gweboon sebenarnya berniat untuk menjenguk ayahnya yang mengajaknya bicara, tapi saat melihat Jinki…

“Kau cukup berguna datang seperti itu,” ucap Jinki dingin, tanpa memandang Gweboon yang berjalan di sisinya. Jauh berbeda dari Jinki yang biasanya.

“Kenapa kau seperti itu tadi? Kau sendiri yang mengatakan kalau Memukul dan menampar, bukan jawaban yang bagus untuk menyelesaikan masalah. Agar sesorang bisa mengerti dengan kesalahannya,  kau tidak seharusnya menggunakan emosi  tapi gunakanlah dengan otakmu ( INAK Part 7)?”

“Mudah saja. Kemarin itu aku salah. Menampar dan memukul, itu ternyata cukup bagus. Jika kau punya keberanian, lakukan saja seperti itu!”

Jinki mempercepat langkah kakinya, membuat jarak yang cukup jauh di antara mereka berdua.

Jinki tak suka berjalan beriringan seperti itu.

Berjalan beriringan, hanya membuat Jinki merasa ia dekat dengan Gweboon. Padahal, kenyataannya jarak antara Gweboon dan dirinya benar-benar sangat jauh, bahkan Jinki juga mulai sadar.

Jarak mereka berdua tidak pernah benar-benar mendekat.

* * *

 “Apa kau harus melakukannya seperti itu, maksudku dengan mencekal setiap perempuan yang kau temui di jalan. Bukankah sudah ku katakan kalau itu ide buruk yang berbahaya?” Gweboon berucap memecahkan keheningan.

Gweboon tentu merasa tak nyaman.

Tidak biasanya ketika berjalan bersama seperti ini, mulut Jinki yang seperti paruh ayam itu tidak berkomat-kamit. Bukankah Jinki selalu banyak bicara, entah membicarakan hal yang penting atau sama sekali tidak penting. Bahkan jika tidak ada yang dijadikan bahan pembicaraan, lelaki itu akan pamer usia dan memberikan khotbah gratis untuk Gweboon.

Tapi kali ini…

Sudah lebih dari sepuluh menit, dan Jinki bahkan tidak membuka mulutnya, bahkan hanya sekedar untuk mengucapkan sebuah huruf sekalipun.

“Memangnya kenapa?”

Jinki yang tiba-tiba menyahut, beserta kakinya yang berhenti melangkah. Membuat Gweboon yang berjalan di belakang Jinki terkejut dan hampir menabrak bagian belakang tubuh Jinki.

Baik, sepertinya ini pertanda hal yang kurang bagus.

Gweboon mencoba bersikap waspada. Kita tidak dapat mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya dengan pasti.

“Apa kau tak mendengarku. Aku bertanya, memangnya kenapa? Memangnya kenapa kalau aku melakukannya dengan cara itu. Mencekal setiap perempuan yang aku temui lalu minta dicium.”

Gweboon terdiam.

Memandang Jinki dengan penuh selidik.

Orang yang berbicara di depannya, apakah benar-benar Jinki?

“Apa kau ingin mengatakan kalau apa yang aku lakukan itu ide buruk? Lalu apa kau punya ide yang jauh lebih baik?” Jinki kembali berucap.

Dan Gweboon semakin merasakan firasat buruk. Hanya saja dia mencoba percaya, kalau Jinki tak mungkin berbuat yang tidak-tidak dan menyakitinya. Bagaimanapun Jinki, bukanlah lelaki seperti itu. Ya, Gweboon mengenal Jinki dengan sangat baik.

Dan Jinki yang ia kenal, bukanlah Jinki yang akan bertindak kasar.

“…aaaa, sekarang aku tahu. Ide yang cukup baik, baru saja terlintas di kepalaku. Maksudku, untuk apa aku mencekal setiap perempuan yang aku temui dan minta dicium, jika aku memiliki satu orang yang seharusnya bisa melakukannya untukku,” Jinki menatap Gweboon dengan pandangan yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya.

Kedua tangan Jinki bahkan telah mendarat di pundak Gweboon, lalu dengan sedikit dorongan, Gweboon berhasil dikendalikan oleh Jinki.

Dan entah karena ketakutan atau justru kebingungan, Gweboon dengan begitu pasrah membiarkan dirinya tersudut pada sebuah tembok yang berada di sudut jalan tikus yang mereka lalui.

Jinki yang menyeret Gweboon kesana.

Entah untuk tujuan apa, tapi Gweboon masih berusaha membangun pemikirannya sendiri.

Jinki tak mungkin melakukan hal-hal aneh pada Gweboon. Karena Jinki adalah lelaki baik-baik, karena Jinki menyukai Gweboon.

Dan Gweboon tahu, Jinki tidak akan melukai perasaannya.

“Gwebooooonie…”

Jantung Gweboon berdegup

Tidak!

Bahkan dari cara Jinki membisikan nama Gweboon barusan terdengar sangat berbeda. Jinki seperti kerasukan.

Dan ini benar-benar membuat Gweboon ketakutan. Meski begitu,  Gweboon tetap tak berani untuk mengambil tindakan, hanya pasrah di tempatnya berdiri diam, di depan Jinki.

Sementara dilain pihak, Jinki justru semakin menunjukkan sisi dirinya yang sangat berbeda di depan Gweboon. Dengan seringaian di wajahnya, lelaki yang sekarang dalam wujud perempuan itu merengkuh tengkuk Gweboon dengan satu tangannya, sementara tangannya yang lain melingkar manis di pinggang Gweboon, dan dengan gerakan pelan dari kedua tangannya, Jinki berhasil menyeret Gweboon masuk ke dalam dekapannya.

Jinki tak membuang banyak waktu setelah itu, saat Gweboon benar-benar telah terhimpit dengan tubuhnya, saat itu juga Jinki mulai lebih berani.

Menempelkan bibirnya pada Gweboon, lalu memulai gerakan-gerakan kecil dengan tempo yang semakin lama semakin terlihat kasar. Jinki tidak peduli, kenapa ia tiba-tiba bernafsu seperti ini.

Jinki hanya ingin merasakan bagaimana rasanya berada di posisi Minho.

Jinki ingin tahu, sensasi yang ia rasakan saat bibirnyalah yang justru bersentuhan dengan bibir Gweboon.

Lebih dari segalanya, karena Jinki menginginkan Gweboon.

* * *

Satu..

Dua…

Tiga..

Empat..

Lima..

Enam..

Tujuh..

Tepat pada detik ketujuh, Jinki akhirnya melepaskan Gweboon.

Kemudian sosok lelaki yang terperangkap dalam tubuh perempuan itu terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, memandang getir pada tubuhnya sendiri. Seolah menunggu sesuatu akan terjadi pada tubuhnya.

Jinki tak merasakan apa-apa.

Hanya ada jantungnya yang berdetak cepat, efek mencium Gweboon barusan.

Satu..

Dua..

Tiga..

Bahkan setelah beberapa detik menunggu seperti orang bodoh, tubuh Jinki tetap tak bereaksi. Jinki tetap dalam keadaan bertubuh perempuan. Dia tak berubah menjadi seorang lelaki, seperti yang ia harapkan!

Jika begini keadaannya, Jinki sudah tahu apa yang terjadi.

Jika syaratnya, adalah ciuman karena cinta.

Maka barusan berarti ciuman itu…

“Cih, menyedihkan sekali. Bahkan tidak terjadi apapun. Jadi..sebenarnya apa kau pernah menyukaiku?”

“…….”

“Ah, maaf. Sepertinya aku salah mengajukan pertanyaan. Seharusnya aku bertanya, apa kau pernah meihat ke arahku?”

“…….”

“YA! APA KAU PERNAH MELIHAT KE ARAHKU GWEBOON!”

Jinki mulai tak dapat mengendalikan dirinya, bahkan kedua matanya terlihat berair. Jinki menangis, tapi bukan itu masalahnya.

Dengan kasar Jinki menyeka ujung matanya, Jinki tak ingin terlihat cengeng. Bagaimana bisa justru anak Kim kibum yang suka buang air besar-lah, yang dapat membuatnya menangis seperti ini?

Sedari tadi Gweboon hanya terdiam, tak menjawab atau memberikan respon apapun saat Jinki bertanya

Hanya diam, membuat Jinki bertambah frustasi

“Gweboon, jadi selama ini…kau anggap aku ini apa?”

Jinki tak memilliki keyakinan untuk berlama-lama berhadapan dengan Gweboon, Jinki dalam sosok perempuan itu, dengan kasar membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauhi Gweboon.

Tidak bisa jika Gweboon hanya terdiam seperti itu. Hanya akan membuat Jinki merasa lebih terluka.

Sesuatu seperti duri bahkan terasa menyangkut di kerongkongan Jinki, semakin terasa menyiksa jika Jinki terus berhadapan dengan Gweboon.

Lihat, pada akhirnya Jinki tetap tak bisa merubah statusnya. Dia tetap orang asing yang tak berarti apa-apa.. Bahkan Gweboon sama sekali tak menahannya pergi. Ya, mungkin karena anak gadis Kim Kibum itu sama sekali tidak menginginkan Jinki.

Dan disaat ini, Jinki benar-benar kecewa.

Dilain pihak, Gweboon masih terdiam di tempatnya.

Gadis itu tak berani menoleh ke arah Jinki yang berjalan menjauhinya, hanya membiarkan matanya menatap kosong ke arah sepatu sekolahnya yang ia kenakan.

Apa yang barusan terjadi benar-benar sangat sulit untuk Gweboon terima, dan itu membuatnya ingin menangis, tapi tetap saja Gweboon tak bisa meneteskan airmatanya, gadis itu hanya diam, seperti saat ia kecil, dimana saat itu ia melakukan hal yang sama saat kehilangan ibu kandungnya. Dia tak memangis hanya memberikan tatapan kosong di wajahnya, tatapan yang sulit untuk diartikan.

Gweboon, seperti yang Jinki tanyakan…

Selama ini kau anggap Jinki itu apa?

———–To Be Continued————

I Need a Kiss Season I (Sequel )
|| Teaser | Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7 | Part 8 | Part 9 | Part 10 | Part 11 [END] ||

I Need a Kiss Season II (Sequel )
( Part 1 | Part 2 [END] )

 

 A/N: Wah…pada lumutan ya nunggu part ini, mohon maap, kemarin maunya publishnya sampai selesai UTS, eh malah molor sampai nyelesain UAS wkwkwk. komen ya . Next part kemungkinan END loh >O< proteksi nih klo gga komen😄 dan maap klo ada typo, males ngedit :p

 

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

131 thoughts on “SHINee Fanfic Romantic Comedy // I Need a Kiss – Part 9

  1. Aku beneran kecewa sama Gweboon, -_-
    udahlah jinki sini dicium sama aku aja iklas, tampa minho d hatiku huhuhu😀

    Suka

  2. Gweboon keterlaluan. Jinki knpa gk agresif aja sih

    Suka

  3. kesian banget lah jinki. kasian sekali kau nak, sekalinya jatuh cinta malah disakiti gitu. ahh gwe kau bakal nyesel tauk…

    Suka

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s