Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

I Need a Kiss Cover Fanfiction2

SHINee Fanfiction Romance Comedy // I Need a Kiss – Part 11 [END]

154 Komentar

I Need a Kiss Cover Fanfiction2

FINAL

| Teaser | Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7 | Part 8 | Part 9 | Part 10 | Part 11 END
Author : Rasyifa || https://rarastory.wordpress.com
]Genre : Romance, Fantasy, Little bit of Comedy—maybe–.
Main Cast :
[YOU/OC] Kim Gweeboon
– Onew  SHINee – Lee  Jinki
– Minho SHINee – Choi Minho
Other Cast :
Find by your self.
  Length : Chaptered [complete]

Summary : Jinki akan selamanya menjadi perempuan?

Prolog

((Scene 1))

Jinki meneguk segelas orange jus.

Lalu, menjilati sisa rasa manis di bibirnya dengan wajah sumringah.

Orange jus, terbaik!

Dan Victoria menatapnya super duper aneh. Oh man! lelaki dengan usia yang bisa disebut ’sudah tua’ itu… bagaimana bisa datang ke restoran mewah bintang lima, dan ia hanya memesan orange jus beserta air putih sejak kedatangannya sepuluh menit yang lalu!!

“Kau tidak meminum air putih-mu? Bukankah wanita menyukainya, bagus untuk kulit-kan.”

Jinki sialan! Victoria benar-benar ingin mencekiknya!

Itu ide bagus! Cekik saja dia, Jinki bahkan tak membiarkan Victoria melihat menu-nya, yang ia lakukan saat pelayan datang adalah langsung memesan segelas orange jus dan segelas air putih. Titik. Tanpa membuka menu. Tanpa kompromi. Tanpa bertanya pada orang yang ia ajak untuk ’makan bersama’. Tanpa melihat wajah Victoria yang menganga dan…tanpa memberikan tip untuk pelayan (emmm, yang ini memang tidak perlu).

“Apa kita tidak akan memesan makanan?” Oh ok baiklah, Victoria mungkin mencoba bersabar. Ini demi nama baik ayahnya. Ayahnya benar-benar menginginkan Victoria menikah dengan orang di depannya ini (maksudnya Lee Jinki). Jika hal seperti ini saja ia tidak bisa menghandle, bagaimana mungkin bisa menikah!

“Bukankah sebelum kita membuat janji untuk pergi kemari, aku sudah meminta-mu untuk makan. Apa kau tidak makan, kau tidak mematuhi apa yang aku katakan? Hem… ini sulit, maksudku…bagaimana ya, aku sudah makan. Jadi kalau mau pesan makan, ya boleh, pesan saja. Tapi bon-nya harus dipisah. Aku hanya akan membayar air putihmu saja!”

Victoria membulatkan matanya! AadsjhaftkLdjl….dia bahkan tahu air putih itu GRATIS!

Victoria menatap Jinki tak percaya, sementara yang ditatap tanpa malu menatap balik.

Kenapa? Apa yang salah pada Jinki? Kenapa Victoria menatapnya seperti itu!

Dan itu semakin membuat Victoria frustasi.

Sabar, Sabar, Sabar.

“Tidak masalah, aku akan membayarnya sendiri! Apa kau mau juga? Kali ini aku yang traktir.” Kurang sabar apa lagi Victoria? Bahkan dia memberikan tawaran manis untuk Jinki dan anggap saja Jinki itu memang tak tahu malu, dia bahkan mengangguk antusias pada Victoria sebagai pertanda dia juga akan memesan makanan dengan syarat Victoria yang mentraktir (Tuhan..Siapa yang tadi bilang dia sudah makan?). Well, kau bajing*n Jinki !

“Ide bagus. Kau yang traktir. Bon-nya jadikan satu saja bersama orange jus dan air putihnya. Maksudku, karena kau sudah bilang kau traktir. Sekalian saja semuanya kau yang traktir. Bagaimana?”

Victoria mengangguk. Dia masih mencoba sabar, dan untuk mendukung usahanya, gadis itu memilih tak memandang wajah Jinki (jika dia memandang Jinki, mungkin saja dia akan membunuh Jinki saat ini juga). Benar, untuk saat ini interior restorant mungkin jauh lebih baik daripada wajah Jinki dengan hidung bangir itu.

“Kau memang berbeda Victoria. Tuan Song–ayahmu—mendidikmu dengan baik,”

Victoria tersenyum, ia kira itu pujian.. hingga saat ia mendengar kelanjutan dari ucapan Jinki barusan.

”…….maksudku, kau tak keberatan mentraktirku. Bagus, ku rasa kita bisa ke tahap berikutnya! Tapi bagaimana ya, jujur saja aku tidak suka gadis full make up sepertimu dan ku rasa kau juga menjalani operasi. Ukkss…pasti mengeluarkan uang banyak. Jika kau menikah denganku. Aku takut mengotori wajahmu itu, karena aku tak memiliki uang yang cukup untuk merawatnya. Lagipula meskipun kau cantik apa gunanya kalau semua itu plastik. Seperti boneka barbie, cantik tapi tidak ada artinya. Tidak memberikan hasrat. Palsu, dan bisa jadi hatinya jelek dan juga kotor. Siapa tahu, ya-kan?”

Geram!

Ingin mencabik-cabik sampai wajah itu hancur.

Victoria tak bisa menahannya.

Jangan salahkan Victoria jika ia akhirnya bangkit dari duduknya lalu, mengambil segelas air putih ‘yang kata Jinki bagus untuk kulit’.

Dan wow!

Victoria menumpahkan airnya ke wajah Jinki. Jinki basah karena ‘air putih yang kata Jinki sendiri bagus untuk kulit’.

“Dengar ya! Apa kau pikir aku perempuan murahan. Apa kau pikir aku tidak berpendidikan ? Apa kau pikir aku tidak tahu, kalau kau sedang mencoba mengetest-ku. Terserah kau mau menganggapku apa. Siapa peduli tentang test dan anggapan pria brengsek sepertimu. Kau itu keterlaluan! Dan …o–operasi? Ya aku melakukannya. Lalu kenapa? Oh hatiku kotor dan jelek karena aku melakukannya. Lalu kau? Kenapa kau tidak melakukannya juga? Ku pikir semua milikmu itu jelek. Jika kau menganggapku boneka barbie yang tidak menimbulkan hasrat, lalu kau yang seluruhnya jelek bagaimana? Kenapa kau tidak merubah keadaan, setidaknya dengan wajahmu itu! Dasar kutu busuk, kotoran Anjing, sampah masyarakat, Babi hutan dengan pita di kepala (??), ” Setelah puas mengucapkan kalimat yang cukup mengerikan, Victoria-pun melenggang. Tak mempedulikan Jinki yang dibuat terdiam.

Tidak masalah.

Bagi Jinki. Ini. Cukup. Hanya. Seperti. Victoria… kau ter-eleminasi, Jinki tak akan menikahi gadis yang memelihara kata-kata kotor di mulutnya.

((Scene 2))

Jinki sedang sibuk dan dia ada di ruang rapatnya, yang membingungkan dia hanya sibuk seorang diri di tengah ruang rapat yang kosong. Itu karena rapatnya sudah selesai setengah jam yang lalu dan Jinki yang ada di dalamnya, hanya sedang sibuk bermain game.

Dreeet…

“Hallo? Ah ya, aku dalam perjalanan menemuimu. Aku akan sampai dalam lima belas menit. Tunggu saja,” seolah benar-benar dalam perjalanan Jinki mematikan sambungan telepon tanpa menunggu seseorang di seberang sana menyahutnya.

Dan kenyataannya sekarang…setelah mendapatkan telepon itu Jinki justru semakin asyik dengan game-nya. Padahal apa yang tadi dia bilang pada orang di telpon itu? Dia benar-benar pembohong!

Dua puluh menit kemudian…

Jinki bangkit dari duduknya. Sudah cukup dengan game-nya, dan ia sadar satu hal disaat handphonenya kembali bergetar.

Panggilan masuk dari Lee Jieun.

Jinki-pun mengangkatnya.

“Hallo? Emm… masih di perjalanan. Jalanan-nya sedikit macet dan kau tahu, aku menggunakan sepeda. Ya, ya..sudah dulu ya!”

Jinki lagi-lagi menutup teleponnya sepihak. Sepertinya penelponnya orang yang sama dengan penelpon yang menelpon Jinki dua puluh menit yang lalu.

Tiga puluh menit kemudian..

Dan lagi-lagi bukannya menemui seseorang yang tadi menelponnya. Jinki justru tengah asyik meminum teh di ruang kerjanya hingga handphonenya kembali mendapatkan panggilan.

Panggilan masuk dari Lee Jieun

“Kau tunggu saja. Aku pasti datang. Mungkin sepuluh menit lagi aku akan sampai. Tiba-tiba ada kecelakaan di jalan.” dan setelah memutuskan sambungan telpon secara sepihak untuk yang ke sekian kalinya, Jinki justru merebahkan tubuhnya pada sofa di ruang kerjanya.

Memejamkan matanya.

Jinki pikir dia perlu istirahat beberapa menit, lalu ia dapat melakukan kembali aktivitasnya dengan baik.

Hey, Lee Jinki! Seseorang. Di suatu tempat –disana. Sedang menunggu-mu. Dan kau. Justru tidur di kantormu? Apa kau punya perasaan?

tiga jam kemudian…setelah Jinki bangun dari tidurnya karena bermimpi buruk. (Ia mimpi dikejar badut yang membawa pistol air) Tapi bukan mimpi Jinki masalahnya…

Masalah sebenarnya adalah, saat Jinki terbangun…di handphone Jinki ada dua puluh panggilan tak terjawab dan lima pesan tak terbaca, semuanya dari orang yang sama saat Jinki mengeceknya.

Semuanya dari Lee Jieun.

Pesan [1] Kau dimana?

’Well, aku ada di kantor sejak tadi. Kenapa tak kau saja yang kemari, aku sedang malas keluar’ pikir Jinki yang lalu membaca pesan ke dua.

Pesan [2] Kau baik-baik sajakan? Apa kau mengalami kecelakaan di jalan?

’Kau cukup perhatian. Tapi apa jangan-jangan justru itu yang kau harapkan. Oh, kau gadis jahat!’

Pesan [3] Aku khawatir, sebaiknya kau naik taksi saja!

’Apa kau yang akan membayar tagihannya? Kalau begitu, baiklah.’

Pesan [4] Aku menunggumu… apa kau tidak akan menemuiku! Ini sudah hampir tiga jam.

‘Tiga jam ? masih tidak terlalu lama, syukurlah.’

dan akhirnya Jinki pun membaca pesan terakhir dari Lee Jieun.

Pesan [5] Aku tak tahan lagi. Aku sudah menunggumu hampir lima jam. Aku akan pergi dan jangan harap kau dapat menemuiku lagi. Aku bahkan tak sudi melihat wajahmu lagi!

“Siapa juga yang ingin menemui-mu,” ucap Jinki seorang diri bergelut dengan handphonenya.

Jinki tak kecewa, meskipun lagi-lagi ia gagal dengan yang nama-nya perempuan.

Well, tidak masalah.

Bagi Jinki. Ini. Cukup. Hanya. Seperti… Lee Jieun, kau ter-eleminasi. Seorang Lee Jinki tak akan pernah bisa menikahi seorang perempuan yang bahkan tak bisa menunggu Jinki selama lima jam.

<flashback>

Lee Jinki, sebelum bertemu Gweboon adalah orang yang egois.

Tak punya perasaan.

Keras kepala.

Dia tak pernah bisa menghargai perasaan perempuan yang ia kencani.

Ia menganggap semua perempuan itu sama saja, menyukai Jinki karena dia tampan, cerdas, dan kaya raya. Sebenarnya tak ada yang salah dengan itu, karena memang itulah daya tarik yang bisa membuat perempuan menyukainya. Tapi Jinki tak peduli, ia tetap tak bisa mempercayai yang namanya perempuan. Perempuan itu seperti monster yang suka menghabiskan uang. Mengerikan!

Dan Kim Jonghyun tak bisa tinggal diam, melihat semua itu…

Dia ingin membuat Jinki mengerti, menghargai, dan peduli pada perempuan dan cara yang terbaik adalah menjadikan Jinki sebagai perempuan.

“Lihatlah, suatu hari nanti ia sendiri yang akan merengek meminta menjadi perempuan dan suatu hari nanti dia-lah yang akan merasakan rasa sakit itu. Sesorang yang sama sepertinya, yang akan mengajarinya semua itu.” Jonghyun tersenyum menatap Lee Jinki yang sibuk dengan laptop di meja kerjanya.

Sementara di lain pihak, Lee Jinki benar-benar tak menyadari keberadaan lelaki bernama ’Kim Jonghyun’ itu.

End of Prolog

 

*I Need a Kiss Part 11 *

Sebuah email baru masuk ke dalam inbox Jinki.

Tapi tak ada yang berminat membacanya, meskipun ada Gweboon di sana. Gweboon justru memilih untuk berlari dan mencari Jinki. Jinki yang mungkin dalam keadaan bahaya.

Ini tanggal dua,

Hari ini tanggal dua,

Tanggal dua,

Dan Jinki tak akan bisa menjadi lelaki lagi jika tidak mendapatkan ciuman. Gweboon menangis mengetahui kenyataan itu. Mungkin itu alasan Jinki memperlakukannya dengan kejam belakangan ini. Seharusnya ia tahu hal ini lebih awal, dengan begitu mungkin Gweboon bisa membantu.

Maaf… maaf

Gweboon sangat menyesal, meras buruk, merasa tak berguna dan tak tahu mesti mencari Jinki kemana? Menyusuri satu persatu tempat yang dapat ia pikirkan.

Klinik dekat rumah Jinki yang mereka datangi saat hari pernikahan….dia tak ada disana.

Toilet umum…tidak ada.

Jalan perkomplekan….tidak ada.

Lemari pakaian…juga tak ada.

Taman bermain…..haruskah ia mencari kesana? Itu jauh….

Rumah fullhouse?….itu lebih jauh lagi.

Tapi untuk saat ini, Jinki tidak ada dimana-mana.

Bughh

Gweboon yang dalam keadaan panik tiba-tiba menabrak seseorang. Tapi Gweboon tak peduli, bahkan tanpa memperdulikan apa-apa, gadis itu bangkit dan hendak berlari lagi.

Mencari Jinki, mencari Jinki.

 

Dalam pemikirannya, Gweboon hanya ingin menemukan Jinki.

“Apa yang kau lakukan?”

Gweboon terpaku, saat sesorang yang baru saja ia tabrak menghentikan langkahnya. Mencengkram lengannya dengan erat, dan katakan Gweboon ingin berteriak saat melihat Jinki-lah yang ia temukan berdiri disana.

Jinki dalam tubuh perempuan dengan rambut panjang, pipi putih dan bibir merah muda.

Gweboon panik seketika, dan menatap ke arah langit.

Mataharinya sudah tenggelam dan hanya menyisakan sedikit percikan kemerahan di langit. Jadi karena Jinki masih dalam keadaan seperti ini disaat ini, itu berarti…

Oh Tuhan, bagaimana ini?

“Hei. Anak gadis Kim Kibum yang sudah jadi janda, ku tanya apa yang sedang kau lakukan?”

“……..”

Anak gadis Kim Kibum yang sudah janda, kau tak ingin menjawab-ku?”

Gweboon tak peduli lagi, secara spontan ia MENCIUM Jinki disaat itu juga. Tak peduli dimana dia berada sekarang, berapa banyak orang yang melihatnya, atau apa anggapan mereka yang melihat Gweboon.

Gweboon sudah gila!

Benar!

Katakan saja begitu.

Gweboon yang sudah gila-pun mengalungkan lengannya di leher Jinki, tubuhnya yang lebih pendek membuatnya mesti berjingkit agar dapat menyatukan bibirnya dengan bibir Jinki.

Gweboon adalah seorang gadis yang masih bersekolah di sekolah menengah atas, jadi tak terlalu pandai untuk melakukan permainan jenis ini. Karena permainan jenis ini tidak ada diajarkan dalam mata pelajaran apapun di sekolah.

Apalagi ini pengalaman pertamanya sebagai seorang ‘penyodor pertama’dan dia melakukannya untuk Jinki yang dalam sosok perempuan.

Sementara Lee Jinki yang mendapatkan ‘sodoran’ nampak terhenyak, dan lupa memejamkan matanya.

Kebingungan….

Kaget….

Di dalam dada-nya seperti ada ribuan gelumbung sabun yang meletus-letus. Jinki tak tahu apa yang harus ia lakukan.

Tapi perlahan ia mencoba mengikuti kata hatinya.

Baiklah, ayo bermain ’gelembung sabun’ bersama Gweboon!

Memejamkan mata, lalu mengecup bibir yang semula menempel diam di atas bibirnya. Memberikan jalan permainan yang jauh lebih baik dan professional dari yang diberikan Gweboon.

Jinki bahkan tak segan merangkul pinggang Gweboon dengan erat, membiarkan kehangatan tubuh mereka menyatu.

Mengecup lebih dalam…

 

Lebih dalam…

 

Lebih dalam….

Dan memberikan gigitan kecil yang mengejutkan.

Seharusnya sedari dulu kau lakukan ini, Gweboon! Lalu Jinki akan menjadi lelaki paling bahagia di seluruh dunia.

 

Di lain sisi, tak jauh dari mereka berdua. Kim Jonghyun tersenyum getir, lalu menatap ke arah langit yang sudah menghitam.

“Apa begini tidak apa-apa?” gumam lelaki itu bicara entah pada siapa.

Dan seolah menyadari keberadaan Kim Jonghyun, di sela adegan berciumannya. Jinki membuka kedua matanya sejenak, menatap lelaki berpakaian serba hitam itu lekat.

Dari kedua mata mereka yang bertatapan dalam diam.

Mereka seperti berbicara satu sama lain.

.

.

.

.

.

.

.

.

Lalu tak lama kemudian…..

Jinki pingsan….

Membuat Gweboon histeris, berteriak minta tolong kepada setiap orang yang mendengarnya.

“TOLONG SUAMI-KU!” teriak Gweboon.

Tapi tak berselang lama Gweboon sadar kalau ia sudah bercerai.

“TOLONG MANTAN SUAMIKU, KU!”

Menurut orang-orang Gweboon tentu saja aneh dan seharusnya kembali memperbaiki kalimatnya.

Bagaimana bisa ‘seorang perempuan yang ia cium itu’ adalah seseorang yang disebut dengan ‘suami’.

 

 

 

* * *

 

Katakan saja ini konyol.

Setelah melakukan ‘adegan panas’ di pinggir jalan dan ditonton orang banyak. Jinki justru pingsan.

Sementara itu Gweboon sedang duduk kalut, mengigiti kuku-kuku jarinya, menunggu Jinki yang sedang diberi tindakan medis di ruang UGD.

Apa mungkin Jinki kehabisan nafas karena terlalu lama berciuman?

Atau ini seperti serangan jantung.

Apa Gweboon akan kehilangan suami-nya?

Tidak, Gweboon lupa lagi. Mereka sudah bercerai.

Kalau begitu,… apa Gweboon akan kehilangan mantan suaminya?

Itu terdengar tidak apa-apa, sebenarnya. Toh hanya mantan suami-kan. Tapi Gweboon tetap tak suka itu.

“Hei ‘Anak gadis Kim Kibum yang sudah Janda’?”

Gweboon menengokkan kepala-nya, menatap seorang lelaki yang mengenakan pakaian dokter sedang menatapnya dengan senyum aneh.

Kenapa dia?

“………………”

“Wah…aku tak menyangka. Kau melupakan-ku secepat itu.”

“Maaf…kau bilang aku apa—melupakan-mu?”

Lelaki itu menatap Gweboon yang terlihat kebingungan. Bukannya menjawab Gweboon dia justru memberikan senyum manis dan mendudukkan diri di samping Gweboon tanpa permisi.

“Dia tidak akan mati, Jadi kau tenang saja… tak perlu khawatir. Lagi pula kau-kan sudah janda. Tidak akan berdampak padamu juga-kan kalau dia mati? ..dan hei, aku jauh lebih tua darimu. Dan kau memakai kata ‘kau’ saat berbicara denganku. Benar-benar gadis yang tidak tahu sopan santun!”

Gweboon menatap orang di sampingnya penuh curiga. Siapa sebenarnya dia? Kenapa sok kenal sok dekat sekali! Dan dari mana dia tahu kalau Gweboon sudah janda?

“Kau…Ah ok, baiklah… Anda siapa?” Gweboon akhirnya bertanya membuat lelaki yang berpakaian dokter itu tertawa.

“Kau sepertinya memiliki daya lupa yang sangat baik.”

“…………….”

“Aku orang yang memberikanmu ramuan ’asmara sampai mati’. Tapi gadis muda, kenapa kau menggunakannya kepada orang yang tak ada sangkut pautnya denganmu. Bukankah waktu itu kau bilang kau ingin membuat Choi Minho tergila-gila denganmu. Setauku lelaki yang kau buat menjadi tergila-gila dengan-mu itu marganya justru Lee dan namanya Jinki.”

Gweboon terdiam, meresapi apa yang barusan ia dengar.

Menatap wajah Kim Jonghyun, mencoba mengenalinya.

Ya, dia ingat sekarang.

Lelaki dukun itu… ah maksudnya dukun lelaki itu…

Dia orangnya, yang Gweboon cari kemarin dan setelah berhasil menemukannya, dia bahkan tak tahu ingin bicara apa.

“Lalu sekarang bagaimana?”

“Apanya yang bagaimana?” Sambil menyahut, Jonghyun menyandarkan tubuhnya pada dinding, bersikap santai. Tanpa menatap Gweboon-pun dia tahu bagaimana ekspresi gadis itu sekarang.

“Waktu itu kami bertemu untuk yang pertama kali-nya di jalan, di dekat pondok-mu. Dia yang lebih dulu tersenyum padaku dan aku …tidak tahu kenapa aku tiba-tiba juga membalasnya, dan ramuan itu bereaksi……maksudku jika itu karena ramuan yang kau berikan bukankah artinya dia tidak tulus mengatakannya, dia tidak tulus menyukai-ku kan. Lalu bagaimana denganku?”

Mata Gweboon terasa berat, dan dia tidak tahu kenapa tiba-tiba ada banyak air keluar dari sana secara perlahan.

Menangis Gweboon?

“Kau memikirkan itu disaat seperti ini? Memangnya kau sendiri tulus?”

Gweboon terhenyak.

Apa maksudnya itu?

“Jangan bicara mengenai ketulusan Gweboon, karena tidak ada orang yang bisa mengetahui hal itu. Lagipula kenapa kau memikirkannya? Kenapa tak kau pikirkan saja Jinki yang ada di dalam. Kau melihatnya kan, bagaimana keadaannya sekarang. Apa kau pernah berpikir kalau dengan keadaannya ini, masa depannya akan bagaimana?”

Untuk yang kedua kalinya Gweboon terhenyak, diam.

Lalu memberanikan diri bersuara, “Apa dia akan selamanya seperti itu? Menjadi perempuan?”

“Menurutmu apa dia punya kualifikasi agar bisa kembali normal?”

“……………..”

“Dia menginginkan sesuatu yang mustahil dengan menjadi perempuan, dan dia mendapatkannya. Cukup dengan semua itu dia tak boleh serakah lagi, untuk meminta kembali normal. ”

“Tapi, dia tidak bisa hidup dengan keadaan seperti itu. Orang-orang tidak akan mengenalinya. Bagaimana dengan ibunya, bisnisnya? Kau pikir semuanya akan baik-baik saja?”

Jonghyun menatap Gweboon yang terlihat gelisah, cemas, dan ketakutan.

Lalu perlahan ia mendekatkan wajahnya pada wajah Gweboon.

“Ini permainan yang sehat Gweboon, jika kau kalah maka kau benar-benar kalah. Kau harus menerima-nya. Bukan merengek meminta permainan di-ulang.”

Gweboon tak terima Kim Jonghyun bicara seperti itu, dengan kasar gadis itu mendorong Jonghyun, mencengkram kerah pakaian dokter yang sedang dikenakan lelaki itu.

Kemudian mencubit-cubit pipi Kim Jonghyun.

Apa tidak ada cara lain selain dengan Cubitan?

“Buat dia kembali, atau aku akan mencubitmu sampai mati!”

Ancaman Gweboon sama sekali tak mempan, Jonghyun justru tertawa mendengarnya.

Mati?

Dia bahkan sudah mati.

“Kenapa kau seperti ini…kau benar-benar tidak berkelas. Ok, baiklah, akan ku berikan satu penawaran terakhir. Akan ku kembalikan dia menjadi seorang lelaki, tapi dengan satu syarat. Saat dia kembali menjadi lelaki normal dia akan kehilangan semua kenangan tentangmu. Bagaimana?”

Terhenyak, melepaskan cengkraman juga cubitannya.

Sepertinya Kim Jonghyun ahlinya membuat Gweboon terhenyak.

Dan apalagi yang barusan ia katakan itu. Kenapa Gweboon disuruh memilih, Gweboon sendiri bahkan sadar dia bukan orang yang bisa memilih….dia buruk dalam hal ini.

“…hanya ini tawaran terakhir. Ini seperti pertukaran dari khasiat ramuan yang aku berikan untuk kalian berdua. Khasiat ramuan yang ku berikan padamu bernama ’asmara sampai mati’ tentu efeknya akan sama dengan namanya, itu sebabnya kau tak perlu khawatir tentang ketulusan, sementara ramuan Jinki efeknya juga berlangsung seumur hidup jika dia tidak memenuhi persyaratan, yah…kau tahu ciuman itu, dia tak mendapatkannya sampai akhir karena kau datang terlambat.” Jonghyun melanjutkan, kali ini lelaki itu berdiri, membersihkan jasnya dan menatap Gweboon yang masih duduk terdiam.

“Apa maksudmu pertukaran ramuan? aku masih tidak mengerti.”

“Maksudku menghentikan reaksi ramuan Jinki dengan menggunakan efek ramuanmu. Sehingga Jinki bisa kembali normal menjadi lelaki seperti semula, tapi jika kita melakukan hal ini, ramuan-mu lah yang tidak akan berfungsi lagi.” Kim Jonghyun tahu Gweboon itu sedikit lamban dalam berpikir, maka dengan sabar ia menjelaskan.

Menatap Gweboon yang masih terdiam. Apa dia masih tak mengerti? Apa Kim Jonghyun harus menjelaskannya lagi. Oh…ayolah!

“Jika ramuan-ku tidak berfungsi, bukankah berarti dia tidak akan menyukaiku lagi?”

“Mungkin saja begitu lagipula dia akan melupakanmu, bagaimana caranya dia akan menyukaimu.”

“Sampai dimana dia akan melupakanku, tunggu….itu tidak masalah. Masih banyak saksi yang bisa mengatakan padanya mengenai aku. Ya, masih ada ibu mertua-ku, appa, Minho oppa dan bahkan para undangan yang datang di acara pernikahan kami. Mereka semua bisa memberitahukan ’bapak tua’ itu mengenai aku—aku, mantan istrinya.” Gweboon tiba-tiba beranjak, menatap Kim Jonghyun dengan mata berbinar.

“Oke, lakukan seperti itu. Itu tidak masalah!” Gweboon bahkan berseru, terlihat girang karena menemukan solusi.

Ada air di sudut mata Gweboon saat ia bicara, Kim Jonghyun menyadarinya dan hanya bisa memberikan tatapan pilu, “Tidak semudah itu. Ketika ku bilang ia akan lupa itu artinya seperti dia tak pernah bertemu denganmu, dan orang-orang yang mengetahui tentang kalian semuanya juga akan ikut melupakan yang pernah terjadi. Waktu seperti terulang kembali disaat kalian belum mengenal satu sama lain dan mungkin tidak ada petunjuk yang bisa membuatnya dapat mengingat apa yang telah terjadi di antara kalian.”

“Jika itu semua orang,…….apa berarti aku juga akan lupa?”

“Sayangnya tidak, kau…satu-satunya orang yang akan mengingat semuanya. Tidak ada sedikitpun yang kau lupakan, bahkan hal yang paling kecil yang pernah terjadi selama ini. Kau tidak akan melupakannya, kau akan mengingatnya dengan sangat baik!”

Dada Gweboon sesak, nafasnya tiba-tiba terasa berat.

Dan Gweboon sadar iapun menangis.

Apa-apaan ini.

Semua orang akan lupa…

Menganggap semuanya tidak pernah terjadi.

Tapi…

Gweboon seorang diri akan mengingatnya. Mengingat semuanya, seperti sebuah mimpi yang hanya ia sendiri yang memilikinya.

Itu gila-kan?

“Kenapa hanya aku? Maksudku, jika aku hanya seorang diri yang mengingatnya itu artinya aku sendirian dan tidak ada yang bisa ku ajak bicara…..apa…a—-apa kau berniat membuatku menderita, begitu?…… Ini benar-benar keterlaluan. Setidaknya satu orang saja yang juga mengingatnya, tidak peduli siapapun…. asal aku tidak sendirian.”

Kim Jonghyun semakin menatap gadis itu dengan prihatin.

Sebenarnya tidak tega melihat gadis semanis Gweboon terisak frustasi seperti itu.

Tapi mau bagaimana lagi, hanya ini yang bisa ia berikan sebagai bantuan.

Lagipula…

Salah siapa yang ingin meminum ramuan-ramuan itu.

Salah siapa yang tidak menyadari pilihan hatinya sedari dulu.

Tapi tunggu, salah siapa yang akhirnya memberikan ramuan itu pada dua orang yang tidak tahu menahu apa-apa?

“Maafkan aku Gweboon, dan apa kau akan membuat keputusan?”

“……………..”

“Jika kau merasa tak sanggup untuk mengingatnya seorang diri, kau bisa membiarkannya tetap seperti sekarang saja. Jinki dan semua orang akan mengingat apa yang selama ini terjadi. Meskipun sekarang sedikit berbeda, dengan kondisi Jinki yang akan selamanya menjadi ’Jinri’—-Jinki dengan sosok perempuan.”

Gweboon menangis.

Airmatanya mengalir.

Kenapa ia harus memilih?

Kenapa ia harus mengorbankan ramuannya untuk Jinki?

Kenapa?

“Aku akan memberikan dua hari untuk berpikir. Pergunakanlah dengan baik!”

Wajah dan penampilan Gweboon berantakan, dan terlihat semakin ironis ketika gadis itu tiba-tiba berlutut, memegangi kaki Kim Jonghyun yang semula ingin beranjak.

“Aku…..aku memutuskannya. Aku ingin seperti ini saja. Aku tak peduli dia lelaki atau perempuan, bagiku itu sama saja. Dia tetap Jinki. Aku hanya ingin dia untuk tetap di sampingku, menyukaiku seperti semula…yah seperti itu sudah cukup. Ku rasa aku memang menyukainya, tapi tak sedalam itu…tidak sejauh itu hingga ramuanku ditukar untuknya. Aku tidak ingin menyakiti diri sendiri, aku tidak bisa jika hanya aku yang mengingatnya… jadi aku memutuskannya. Biarkan seperti ini saja. Maafkan aku,”

Kim Jonghyun melirikkan sudut matanya ke arah Gweboon.

Gwebooon, secepat itu kau memutuskannya?

Tapi tak apa, jika memang itu pilihan Gweboon. Mungkin menurut gadis itu, ini yang terbaik.

“Yah, nikmatilah keputusanmu. Aku akan terus mengamati, apa kau akan bahagia dengan semua ini.”

Lelaki itupun berlalu, pegangan tangan Gweboon dari kakinya pun terlepas.

Kim Gweboon sudah membuat keputusan, tak perlu waktu yang lama untuknya. Memilih untuk terus seperti keadaan sekarang, dan tidak mempedulikan hal lain lagi.

Lee Jinki yang menyukainya…

Lee Jinki yang akan terus disampingnya.

Lee Jinki dalam sosok perempuan.

Itu, baginya sudah cukup.

* * *

“Kau darimana saja?”

Wajah Jinki merengut saat Gweboon masuk ke dalam ruang inapnya, sementara Gweboon menatapnya untuk sejenak. Memperhatikan dengan serius wajah itu, badan itu, dan bahkan suara yang muncul dari mulut itu.

Seorang perempuan memakai pakaian pasien dengan rambut panjang, pipi putih yang lucu, hidung mancung dan bibir merah muda.

Lee Jinki… perempuan yang cantik.

Kenapa baru sekarang ia menyadarinya.

“Aku pikir kau masih di UGD.”

“Bodoh! Dari lima belas menit yang lalu aku sudah di pindahkan kemari. Kata perawat, mereka sudah memberitahukanmu, tapi saat diberitahu kau hanya duduk melamun. Sebenarnya kau ini kenapa?”

“Maaf.”

Jinki yang mendengar kata itu keluar dari mulut Gweboon tentu saja memasang wajah bingung. Hei sepertinya ini pertama kalinya dia mendengar kata itu keluar dari mulut anak gadis Kim Kibum.

“Apa kau sakit?”

“Tidak, aku hanya……. ahya, apa kau perlu sesuatu. Aku akan mencarikannya untukmu. Kau ingin makanan tertentu mungkin?” Jinki semakin menatap Gweboon dengan bingung.

Kenapa sekarang gadis ini justru terlihat seperti bidadari seksy?

Wow, bidadari seksy, Jinki…?!

Jinki-pun tersenyum.

Sepertinya dia punya ide bagus yang dahsyat.

“Ya, aku perlu sesuatu. Kemarilah!” ucap Jinki sambil memainkan jari telunjuknya, isyarat agar Gweboon mendekat.

Gweboon-pun patuh, walaupun dia berjalan dengan pelan akhirnya ia dapat berhadapan dengan Jinki. Sejenak Jinki menatap Gweboon, kemudian tangannya yang bebas dengan tiba-tiba meraih pinggang Gweboon.

Gweboon yang masih berdiri-pun akhirnya tertarik menuju Jinki yang duduk di ranjang. Sekarang Gweboon bahkan sudah masuk ke dekapan Jinki.

Jinki yang nakal! Dan anehnya Gweboon tidak protes sama sekali…bahkan Gweboon bersandar ke dada Jinki. Bukan dada datar yang bidang, hanya dada yang sama seperti yang ia miliki.

Hati Gweboon mencolos.

Jinki membelai rambut panjang Gweboon dengan lembut, dan bahkan ia mengecup kening Gweboon.

Gweboon tak tahan lagi, ia menangis.

“Bagaimana ini? Sekarang kau akan terus seperti ini. Kita bahkan tidak bisa memotong rambutmu, karena itu akan justru membuatnya bertambah panjang. Apa kita bisa membuatmu memakai wig dan celana. Apa dengan begitu kau akan terlihat menjadi ’Tuan muda Lee Jinki’ lagi?”

Gweboon semakin histeris menangis dan Jinki justru dengan sikap tenangnya semakin membelai rambut Gweboon dengan sayang.

“Aku….Aku datang terlambat, maafkan aku.” isak Gweboon yang kali ini membalas pelukan Jinki, bukan hanya sekedar masuk ke dalam dekapan.

“Kau-kan akhirnya datang, itu jadi tak masalah.” Jinki akhirnya menyahut mencoba menenangkan Gweboon.

“Tapi kau sekarang seperti ini.”

“Aku-kan masih hidup, masih bisa melihatmu, kita bahkan bisa berpelukan. Apalagi yang kurang?”

“Kau perempuan sekarang Lee Jinki, bagaimana dengan masa depan-mu?”

“Bukankah itu kau Kim Gweboon, masa depan-ku.”

“…………”

“Kau diam. Apa kau tidak bisa menerimaku jika aku begini?”

“Bukan begitu….Aku hanya,” Jinki meletakkan jari telunjuknya ke bibir Gweboon, menyuruh gadis itu untuk diam.

Jinki tak mau dengar apapun lagi.

Jinki tak ingin merusak suasana, untuk saat ini ia hanya ingin menikmati waktunya berdua dengan Gweboon. Bagi Jinki itu sudah lebih dari cukup.

“Ya sudah, itu artinya tidak masalah dan jangan bicarakan hal itu lagi! Oke?”

Gweboon terdiam, dan Lee Jinki justru mengecup pipinya.

“Aku senang akhirnya aku bisa merasakannya, keningmu, rambutmu, pipimu, dan bahkan bibir-mu. Saking senangnya dan tidak dapat mempercayainya, aku hari ini bahkan pingsan. Tapi kau tak perlu mengkhawatirkan hal yang lain, untuk saat ini tetaplah disisiku sajadan aku akan memberikanmu segalanya. Apapun yang aku miliki. Bahkan untuk Kim Gweboon aku bersedia memindahkan gunung.”

Gweboon tak menyahut, ia bahkan tak tahu apa yang Jinki katakan itu tulus atau memang hanya karena pengaruh sebuah ramuan.

Jika ramuan itu tak berfungsi lagi.

Apakah Jinki akan tetap di sisinya.

Dan masih bersedia memindahkan gunung itu?

Atau jika Jinki tahu, Gweboon jauh lebih memilih dirinya sendiri daripada Jinki.

Masihkah Jinki memiliki perasaan yang sedalam itu untuk Gweboon.

“Apa kita harus menelpon ibumu dan memberitahu kalau kau sedang dirawat?” Gweboon bertanya di balik pelukan Jinki.

“Tidak usah, Gweboon. Lagipula dia tidak akan mengenaliku juga. Aku akan mengirimkan pesan nanti, akan ku katakan aku sedang dalam perjalanan bisnis,”

 

.

.

.

 

Hari ini Gweboon akan berkencan dengan Jinki.

Memilih pakaian terbaik yang Gweboon miliki, lalu tersenyum kecil.

“Kau ingin kita pergi kemana hari ini?” tanya Jinki yang sudah duduk di balik kemudi.

Lee Jinki sudah bisa menyetir, dia bahkan akan menunjukkan gaya menyetir yang akan membuat Gweboon meleleh hari ini. Dia bahkan menyetir dengan memutar mobil ke belakang dengan kepala mengarah ke hadapan Gweboon.

Gweboon yang melihatnya biasa-biasa saja.

Gweboon lebih memilih untuk menimang-nimang ‘kemana mereka akan pergi’ kemudian, menggeleng frustasi.

Gweboon juga tidak tahu.

 

Asalkan itu dengan Jinki, Gweboon rela meski itu ke planet Saturnus sekali-pun.

 

“Kita sudah pernah ke taman bermain, cafe, juga mall, bagaimana kalau kali ini kita ke gunung dan melihat bintang.”

 

“Benarkah?”

 

Jinki mengangguk dan kemudian tersenyum nakal, “Tentu, asalkan kau mau mengatakan passwordnya.”

 

“Password? Aaaa….Jinki Oppa sayang!” Gweboon berseru ceria dan Jinki yang mendengarnya tersenyum.

 

Password yang sangat jenius Kim Gweboon!

 

Dan password itu baru berumur dua hari, karena baru kemarin Gweboon dan Jinki membuatnya. Password yang akan digunakan Gweboon jika Jinki sedang kesal, marah ataupun bertindak semaunya yang membuat Gweboon tidak suka.

 

Mobil Jinki-pun akhirnya melaju, Gweboon tak henti-hentinya tersenyum melihat ke arah Jinki.

Jinki dalam sosok perempuan yang terlihat ceria.

 

Ini benar tidak apa-apakan? Jinki dan Gweboon selamanya akan baik-baik saja-kan. Memilih seperti ini untuk selamanya. Itu mungkin saja-kan?

 

 

* * *

Gweboon menatap ke arah Jinki.

 

Yang ditatap juga ikut-ikutan menatap.

 

“Aku tidak mau,” Gweboon akhirnya bersuara.

 

“Kau pikir aku mau?” Jinki menyahut sambil memasang wajah kesal.

 

“Aku perempuan Jinki.” Gweboon berseru membuat Jinki yang mendengar ikut tertawa.

 

“Kau perempuan? Hha, Kau lupa…AKU JUGA!”

 

Gweboon yang mendengarnya terdiam. Ini tidak masuk akal, baru setengah jam yang lalu mereka bermesraan dan berbahagia di tengah perjalanan menuju gunung, bahkan mereka menyanyikan lagu ‘naik-naik ke puncak gunung’ bersama..tapi tiba-tiba si bodoh Jinki berulah, menghancurkan suasana. Bagaimana bisa orang itu lupa mengisi bensin mobilnya dan akhirnya mobil mereka mogok karena kehabisan bahan bakar. Jinki sebenarnya membela diri, dia bilang dia tidak lupa…dia hanya tidak tahu cara membaca ukuran bensin di fuelmeter mobilnya. Oh itu bahkan jauh lebih bodoh lagi!

 

Bagaimanapun harus ada salah satu dari mereka yang mengalah lalu mendorong mobil di belakang dan Gweboon tahu bahwa yang pasti orang itu bukan dirinya. Gweboon… dia itu gadis yang tidak suka mengalah.

 

Lalu Jinki?

Dia juga tidak suka mengalah dan dia gadis juga sekarang.

 

Lalu siapa yang suka mengalah? Kim Jonghyun mungkin suka dan dia bukan gadis, tapi dia tidak dalam keadaan bersedia membantu. Lelaki yang sekarang kembali berpakaian prajurit jaman goryeo itu justru asyik melihat tingkah Jinki-Gweboon dari awan-awan melayang yang ia duduki dan Jinki-Gweboon sama sekali tidak menyadarinya.

 

“Pokoknya aku tidak akan mau mendorong!”

 

“Jika aku yang mendorong, siapa yang mengemudi! Kau bisa?”

 

“Apanya yang mengemudi, aku hanya perlu mengarahkan setir saja-kan! Itu mudah ayolah…Jinki oppa sayang!” Gweboon bicara dengan gamblang, bahkan saat mengatakan ‘itu mudah’ dia mempraktekkannya dengan mencentil jari kelingkingnya. Baiklah, Jinki akan mempercayainya, lagipula Gweboon sudah mengucapkan passwordnya. Jinki tak bisa mengelak lagi kali ini.

 

15 menit kemudian….

 

“AAAAAA…..KITA AKAN MASUK JURANG!” Gweboon yang ada di belakang kemudi berteriak saat menyadari ia kehilangan kendali atas mobil yang ia arahkan. Ada jurang di depan, mereka bisa masuk kesana lalu menjadi romeo dan juliet di tahun 2014 ah..perbaikan! mungkin itu juliet dan juliet 2014—karena mereka sama-sama perempuan sekarang.

 

Jinki yang ada di belakang ikut panik, bahkan tiba-tiba memukul-mukul bagian belakang mobil, dan saat merasa sakit ia bertambah panik.

 

“GWEBOON SETIR YANG BENAR! PAKAI KEDUA MATAMU, JANGAN CUMA SEBELAH!”

 

“AKU SUDAH MEMAKAI KEDUA-NYA KOK!”

 

“KALAU BEGITU JANGAN BERKEDIP!”

 

Jenius! Gweboon benar-benar tidak berkedip, dan entah benar karena Gweboon tidak berkedip atau justru karena hal yang lainnya, tapi akhirnya mobil mereka selamat dari jurang.

 

Tapi di detik ke dua puluh saat Gweboon tidak berkedip, tiba-tiba rasa perih menjalar di seluruh matanya, Gweboon tak tahan lagi. Iapun berkedip.

 

“AKU TIDAK TAHAN LAGI! BIAR AKU SAJA YANG DORONG!”

 

Jinki yang mendengar tersenyum puas. Kenapa tidak dari tadi sih?

 

15 menit kemudian, saat Jinki yang mengambil alih kemudi,,

 

Gweboon terlihat ngos-ngosan, mendorong mobil yang kehabisan bahan bakar di jalan pegunungan ternyata tidaklah mudah.

 

Gweboon merasa akan mati, dan merasa hidupnya di dalam neraka saat melihat Jinki di dalam mobil justru berpose sok keren dengan tangan melambai.

 

Jinki bahkan memakai kaca mata hitamnya, membiarkan rambut panjang perempuannya tergerai dan tertiup angin.

 

Disaat Gweboon merasa akan mati, kau justru bersenang-senang Jinki!

 

Bugh

 

Gweboon menendang ban mobil, dan membuat Jinki menyadari beberapa hal.

 

Ups…Jinki sepertinya ketahuan, “AHH…MENYETIR ITU SULIT SEKALI! AKU BAHKAN HARUS MENGATUR KONSENTRASI, MEMPERKIRAKAN BERAPA BESAR SUDUT UNTUK MEMBELOKKAN SETIR DAN JUGA…AKU TAK BOLEH MENGEDIPKAN MATAKU! AH MATAKU….”

 

Gweboon yang mendengar alibi itu hanya bisa menghela nafas dan kembali mendorong mobil. Seberapa jauh lagi SPBU-nya? Seberapa lama lagi Gweboon harus menahannya?

 

10 menit kemudian..

 

“Gweboon..Gweboon!”

 

“Apa?” Gweboon menyahut malas, sementara Jinki dengan seenaknya berjalan menuju kursi belakang, mendekati Gweboon yang sedang mendorong.

 

Mobil dengan jenis covertible berwarna merah itu sekarang kehilangan supir-nya.

 

“Sepertinya kita melakukan kesalahan.” Ucap Jinki serius, Gweboon yang mendengarnya menaruh sedikit perhatian.

 

“Kesalahan?”

 

Jinki mengangguk.

 

“Kesalahan apa?”

 

“Kita…melewatkan SPBU-nya!”

 

Ngek

 

Gweboon tercengang,“APA? BAGAIMANA MUNGKIN!”

 

“dan itu…sudah 800 meter di belakang, kita tidak mungkin memutar arah dengan kondisi ini, karena mungkin saja dari arah berlawanan tiba-tiba muncul mobil lain dan melindas kita. Tapi jika kita sabar …terus ke depan ada SPBU lagi, jaraknya hanya dua kilometer. Jadi aku sudah memutuskan. Kita akan terus sampai depan,” tanpa kompromi Jinki kembali ke singsana-nya di balik kemudi, dan memainkan setir.

 

Oh ayolah, disini Gweboon masih mematung! Dan kau bilang apa tadi Jinki…’hanya dua kilometer’.

Dan tunggu kenapa ada mobil yang tiba-tiba melindas mereka jika mereka memutar arah? Apa pengemudinya tidak punya mata??

 

Gweboon tak tahan lagi! Dia bahkan sudah merasa sangat kehausan.

 

* * *

 

Mereka akhirnya sampai di gunung atau mungkin lebih tepatnya sebuah…bukit, dan saat ini masih sore.

 

“Akhirnya kita sampai, tapi sekarang masih sore kita tidak bisa melihat bintang.”

 

Jinki menatap Gweboon tak percaya, lalu dengan begitu saja menoyor kepala Gweboon, “Kau itu lulus tidak sih sekolah dasar? Masa sains dasar saja kau tidak tahu? Matahari itu salah satu bintang, Gweboon. Dia adalah bintang yang jaraknya paling dekat dengan bumi. Jangan-jangan kau ini tipe orang yang menganggap bulan itu bintang yang paling besar?”

 

“Memang. Kenapa? Apa ada yang salah dengan itu?” Gweboon menyahut menantang.

 

“Hei kau benar-benar memilki pemikiran itu? jangan-jangan kau juga menganggap kalau bulan itu saudara bumi!”

 

 

“Iya, kau benar sekali. Bumi itu adiknya bulan,”

 

Jinki tertawa sesaat dan menatap iba ke arah Gweboon, “dan kau pasti juga menganggap ibunya itu matahari?”

 

“Tentu karena dia yang paling bersinar.”

 

Gweboon kesal mendengar Jinki seperti meledeknya, memang apa salahnya menganggap bulan itu bintang, bumi itu saudara bulan dan matahari … ibu mereka. Sementara Jinki yang mendengar jawaban Jinki hanya dapat tertawa tak percaya. Mantan istrinya ini bodoh juga rupanya!

 

Lalu kau sebut dirimu pintar Jinki? Kau bahkan tak bisa membaca feulmeter di mobilmu dan kau juga salah menyebutkan autotomi cicak sebagai otonomi cicak. Apakah orang cerdas memiliki ciri-ciri seperti-mu.

 

“Ya sudah, karena kita sudah datang kemari kita harus memanfaatkannya. Bagaimana jika kita melihat ibu para bintang, bulan dan bumi tenggelam saja. Pasti juga cantik!”

 

Gweboon tersenyum, kembali bersemangat setelah mendengarnya dan Gweboon tak segan-segan menggandeng lengan Jinki dengan mesra. Membuat Jinki kaget, dan gugup seketika.

 

Jinki sebenarnya suka hal ini, hanya saja dia tak suka orang-orang yang menatap ke arah mereka dengan pandangan jijik saat Gweboon menggandengnya, seolah-olah orang-orang itu sedang menghakimi mereka berdua secara terang-terangan.

 

Tapi anehnya, Gweboon baik-baik saja. Gadis itu benar-benar tidak memperdulikan semua pandangan orang-orang itu, .anak gadis Kim Kibum itu justru asyik dengan dunianya sendiri.

 

Dan Jinki kembali menyadari beberapa hal disini.

 

* * *

Sehabis melihat bintang di gunung sekitar pukul setengah sepuluh malam, sebagai kekasih yang baik Jinki mengantarkan Gweboon pulang dan memberikan kecupan manis di kening Gweboon, bahkan Jinki membukakan pintu mobil untuk Gweboon.

Membuat Gweboon tersenyum senang karena bahagia.

“Sepertinya appa sedang dinas malam, apa kau mau masuk ke dalam dan melihat kamarku? Ucap Gweboon yang dijawab gelengan oleh Jinki.

“Untuk hubungan kita yang sekarang, itu tidak pantas. Tapi jika nanti kita menikah lagi, aku akan melihatnya.”

Gweboon tersenyum menyadari Jinki benar-benar ‘lelaki’ baik-baik dan saat Gweboon ingin masuk ke dalam rumah, Jinki tiba-tiba mencengkram pergelangan tangannya.

“Kenapa?” tanya Gweboon heran.

Jinki tak menyahut..

Gweboon-pun hanya bisa memandang Jinki dengan wajah bingung.

“Kita tidak bisa seperti ini. Kita harus berhenti.” Jinki berucap memecahkan keheningan.

Dan itu sukses membuat Gweboon terhenyak.

“Apa yang sedang kau bicarakan?”

Gweboon menatap Jinki, dan kali ini Jinki tidak balik menatapnya, hanya melepaskan cengkraman tangannya begitu saja. Pandangan Jinki lurus ke atas, menatap bintang-bintang yang ada di langit malam.

Seharusnya ada banyak, seharusnya ada ratusan, ribuan dan bahkan jutaan, mereka seharusnya berkelip-kelip dengan indah.Tapi..kenapa malam ini hanya ada beberapa. Apa mungkin karena akan hujan?

“Lee Jinki, aku sedang bicara denganmu!”

Jinki-pun akhirnya menoleh, di sana ada wajah Gweboon, gadis yang ia sukai. “Kita…tidak bisa bersama Gweboon. Aku perempuan sekarang!”

“Kau perempuan, lalu kenapa? Bukankah kau sendiri yang bilang itu bukan masalah.Kita bahkan baru saja pergi berkencan.”

“Waktu itu aku terlalu egois. Sekarang Aku sudah sadar, ‘tertawa sendiri’ itu ternyata bukanlah cinta.”

“Apa maksudmu dengan ‘tertawa sendiri’ Aku ada disini, aku bisa menemanimu tertawa!”

“Apa yang akan dikatakan orang lain saat melihatmu ‘tertawa bersama-ku’. Kau akan mendapatkan cacian. Aku tidak suka itu.Aku tidak suka kau dicaci.”

“Ya! Kau ini kenapa tiba-tiba begini. Sejak kapan kau peduli dengan semua itu! Kita…tidak bisa hidup hanya dengan mendengar apa yang orang lain katakan, ahjussi.”

“SEJAK SAAT INI AKU PEDULI! KARENA AKU BUKAN AHJUSSI, AKU BAHKAN AHJUMMA SEKARANG!”

Jinki memekik membuat Gweboon terdiam, “Aku peduli semua itu karena aku tidak ingin melihat kau bersedih. Lagipula..Aku takut suatu saat kau akan menyesal karena ‘tertawa bersama-ku’. Kau akan menangis seorang diri dan akhirnya pergi. Bukan hanya sekedar takut, tapi aku sangat takut, Gweboon. Karena itu akan terasa lebih sakit daripada aku harus kehilanganmu sekarang. Jadi mengertilah,”

“Kenapa kau berpikir aku akan seperti itu?”

“Aku…hanya merasa kau akan seperti itu.”

“Jadi kau tidak mempercayaiku?”

“Dengarkan aku Gweboon, kau adalah seorang perempuan dan aku juga seorang perempuan, tak peduli apa yang terjadi di masa lalu. Sekarang aku adalah perempuan yang sebenarnya, dan kau-pun tahu hukum alam mengatakan perempuan dan perempuan itu tidak bisa untuk bersama. Lagipula apa yang bisa kau harapkan dariku sekarang? Aku bukan Lee Jinki, lelaki yang bisa melindungimu. Aku….aku Lee Jinri, yang mungkin juga harus dilindungi.”

Jinki meneteskan aimatanya.

Pedih sekali…

Gweboon-pun merasakan hal yang sama. Gadis itu bahkan terisak.

“Bagiku, kau tetap Lee Jinki, kau tidak berubah sedikit-pun. Aku bahkan bisa mengingat semuanya, kau itu lelaki yang tergolong tinggi, memiliki tubuh tegap saat menaiki sepeda, dan sedikit otot di bagian lengan yang membuatmu terlihat jantan, rahangmu cukup lancip dan itu terlihat manis saat kau membawanya untuk tersenyum, kau memiliki rambut coklat bergelombang yang lucu, kau itu lelaki..bagaimanapun keadaanmu sekarang.”

“Bagimu begitu? Tapi coba lihat, apa ini…ini dan ini.” Jinki berseru, menunjuk wajah, dada, dan bahkan bagian intimnya.

“Aku memiliki dada yang sama sepertimu Gweboon, dan saat aku memelukmu dengan dada ini, kau tahu apa yang aku rasakan? Aku merasa muak, jijik dan benci pada diriku sendiri. Wajah ini, tubuh ini…aku merasa ini bukan diriku tapi berapa kalipun aku bercermin ini tetaplah aku, aku benar-benar frustasi. Setiap malam bahkan aku ketakutan, jika beberapa bulan yang lalu aku masih bisa bernafas lega karena setiap malam aku masih bisa merasakan tubuhku sebagai lelaki, sekarang…aku tak bisa merasakannya. Aku takut jika suatu saat aku justru melupakan wajahku sebagai seorang lelaki…………dan…Aku bahkan mengalami apa yang kau alami setiap bulan, lalu dengan semua itu apa kau masih bisa menganggapku sebagai seorang lelaki? Jika iya, lelaki macam apa aku ini? Lelaki yang dikutuk, begitu?”

Hati Gweboon benar-benar mencolos.

Sakit, semakin lama kata-kata Jinki semakin menusuk dan itu…Gweboon tak yakin dapat menahannya.

“Hentikan…aku tidak ingin mendengarnya.”

“Kau tak mau dengar? Tak apa, tapi aku tetap harus mengatakannya. Kau tahu, aku menyukaimu…jika aku seorang lelaki seperti dahulu, tentu aku tidak akan melepaskanmu lagi. Tapi aku perempuan sekarang, meskipun kau menyukaiku dan aku menyukaimu, aku tetap tak berhak bersama-mu, orang-orang akan menilai ini salah dan ayahmu…kau akan mengecewakannya untuk yang kesekian kalinya. Jika kau mencintaiku, lepaskan aku Gweboon, biarkan aku menjalani kehidupan menjadi seorang perempuan yang sebenarnya. Biarkan aku memulai dari awal.”

Tes

 

Tes

 

Tes

Gweboon membeku, yang ia lakukan hanya menangis dan membiarkan Jinki yang terus bicara.

Kenapa jadi serumit ini?

Kenapa semuanya tidak berjalan seperti yang Gweboon harapkan? Kenapa ini menjadi ‘tidak baik-baik saja’.

“Kau tidak bisa bersamaku. Itu adalah kenyataan yang kita berdua harus terima. Mungkin akan terasa sulit di awal, tapi kau harus mencobanya perlahan karena aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Kau….carilah seorang lelaki yang akan mencintaimu, mungkin ‘kucing peliharaanmu yang bernama Minho oppa’ itu bisa menempati posisi itu. Dan maafkan aku karena tidak bisa ‘memindahkan gunung’ untukmu, setelah kita ke gunung hari ini, aku sadar sekarang gunung itu terlalu besar untuk tubuhku.”

Jinki membalikkan tubuhnya, kedua pundaknya bergetar dan dia jua meneteskan banyak air mata.

Jinki perempuan sekarang, dan dengan keadaanya ini dia takut tidak bisa membahagiakan Gweboon.

Daripada membawa Gweboon masuk ke dalam kesedihannya dan tertawa bersama di tengah gunjingan orang lain, Jinki akan memilih untuk tertawa sendiri saja…meskipun itu bukanlah cinta.

* * *

Gweboon mendengar semuanya…

Jinki yang jijik pada dirinya sendiri karena dia perempuan sekarang.

Jinki yang merasa dirinya sudah hancur.

Jinki yang ketakutan menjadi perempuan dan Jinki yang tak ingin Gweboon merasa malu jika bersamanya. Sehingga memilih untuk pergi meninggalkan Gweboon.

Gweboon benar-benar sudah sadar sekarang. Seharusnya tak begini…

Tak peduli hujan deras malam itu, Gweboon akhirnya memilih untuk berlari-lari seperti orang gila daripada masuk ke rumahnya dan tidur, bahkan ia meneriaki nama Kim Jonghyun di sepanjang jalan yang ia lewati, berharap orang itu muncul dan mendengar permintaannya.

Dia ingin Jinki kembali menjadi lelaki normal.

Dia siap jika harus mengingat semuanya seorang diri dan merasa terluka seorang diri.

“KIM JONGHYUN DIMANA KAU!”

“KIM JONGHYUN, MUNCUL LAH!”

“KAKEK KIM JONGHYUN, AKU INGIN BICARA!”

“DUKUN TERHORMAT KIM JONGHYUN, APA KAU BISA MENDENGARKU?”

Dan seperti tak ingin membuat gadis itu kedinginan lebih lama lagi atau dianggap gila oleh orang yang melihatnya, lelaki yang dicari Gweboon itu akhirnya muncul menepis hujan, “Apa yang kau lakukan disaat hujan deras seperti ini?”

Kim Jonghyun menampakkan dirinya di depan Gweboon.

Lelaki yang kini memakai setelan jas lengkap berwarna hitam dengan payung yang juga berwarna hitam itu berdiri tepat di depan Gweboon.

“Aku ingin kau kembalikan dia menjadi lelaki normal kembali. Lakukan pertukaran khasiat ramuan itu,” ucap Gweboon dengan tubuh yang bergetar hebat karena kedinginan.

“Kenapa? Bukankah kau bilang kau sudah memutuskannya, waktu itu di rumah sakit kau bilang ingin tetap seperti ini. Kenapa berubah pikiran?”

Kim Jonghyun menatap Gweboon dengan pandangan datar, yang ditatap justru menampilkan wajah sendu.

“Aku salah. Aku egois saat itu, tak kusangka bagaimana mungkin aku sejahat itu. Dia bahkan menginginkan perpisahan agar aku tidak malu jika bersama-nya. Terhadap orang yang hanya memikirkanku sampai sejauh itu, kenapa aku bisa membuat keputusan se-egois itu.”

“Tapi kau sudah membuat keputusan. Kau pikir kau bisa dengan mudah menariknya kembali?”

“Saat itu kau bilang, kau memberikanku dua hari dan hari ini adalah hari kedua. Itu artinya masih ada kesempatan untuk mengubahnya-kan.”

Jonghyun mendesah, kemudian menggelengkan kepalanya tak percaya pada apa yang Gweboon lakukan sekarang. Tapi hanya sebentar, lelaki itu kemudian tersenyum kecil, “ Baiklah kalau begitu Kim Gweboon, tapi apa kau benar-benar yakin dengan keputusanmu saat ini?”

Gweboon tanpa berbicara, hanya memberikan anggukan dengan memperlihatkan wajahnya yang pucat kedinginan, serta bibi yang mulai membiru.

Dan juga air mata yang bercampur dengan air hujan.

Menyesal?

Gweboon bahkan tak tahu apa dia akan melakukannya atau tidak.

Tapi untuk saat ini, yang terbayang olehnya hanya wajah Jinki yang frustasi.

Lalu tak berselang beberap detik, semuanya terlihat dipenuhi warna putih, Gweboon tak bisa melihat apa-apa.

Tapi pelan-pelan ia bisa mendengar suara Kim Jonghyun yang terdengar bergema, “Semuanya akan kembali seperti semula seperti sebuah awal, tidak ada yang tersisa untuk dia ingat kembali. Semoga kali ini kau tidak menyesali apa-pun.”

– – –

Perlahan Gweboon dapat kembali melihat semuanya dengan normal menggunakan kedua matanya. Warna putih yang sebelumnya mendominasi, perlahan-lahan menipis.

Sekarang yang ia lihat adalah pohon-pohon palem yang tumbuh berjejer, tempat ini mengingatkannya pada pondok milik Kim Jonghyun. Benar, Gweboon sekarang mengingat semuanya dengan sangat baik.

Gweboon menatap sekitar dan akhirnya menemukan seorang lelaki yang nampak berjalan dengan penuh gaya bersama sepatunya yang bergeletuk di atas batu bata.

Gweboon kenal orang itu!

Tanpa memperdulikan seluruh pakaiannya yang masih basah kuyup, Gweboon meniti langkahnya untuk mendekati lelaki itu.

“Hei…Lee Jinki!”

Lee Jinki yang tengah asyik berjalan dan baru saja membaca tulisan— ‘Cinta ditolak dukun-pun bertindak’di sebuah papan, yang dipaku seadanya di depan sebuah pintu— itupun menoleh.

‘siapa gadis ini? Kenapa dia tahu namanya?’

“Apa kau ingin kesana dan meminta ramuan untuk menjadi perempuan? Jika iya, Ku sarankan jangan melakukannya dan jangan pernah mencoba melakukannya!”

Jinki terdiam, antara…heran, kaget, juga kagum.

Bagaimana dia bisa tahu semuanya? Apa gadis ini, dukun itu? Wah…daebak! dia lebih hebat dari yang Jinki bayangkan. Tapi kenapa gadis ini basah kuyup, saat ini tidak hujan hanya sedang mendung saja.

Di lain pihak, Gweboon yang menyadari Jinki terdiam kebingungan hanya dapat merajut senyum getir.

Jinki sepertinya tidak mengingatnya…

Jinki sepertinya benar-benar melupakannya…

Gweboon ingin menangis, tak sanggup rasanya jika mengetahui Jinki yang dulu perhatian dan penuh rasa sayang tiba-tiba membuang dan mengabaikannya begini.

‘bapak-bapak tua yang menyebalkan, aku merindukanmu’

“Gadis kecil, apa kau dukun di tempat ini?”

Gweboon hanya tersenyum tipis dan mengulurkan tangannya…

“Namaku Kim Gweboon, dan seseorang pernah bilang padaku, ‘untuk tetap harus menunggu agar dapat mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Meskipun menunggu itu, tidak enak dan justru sangat membosankan. Tapi, kenapa tidak? untuk sesuatu yang kita impikan.’—(Lee Jinki_INAK Part 1) Sekarang aku disini, dan aku putuskan untuk terus menunggu sesuatu yang ku impikan.”

Gweboon melebarkan senyumnya, menatap dalam ke arah mata Jinki saat mengatakan ‘sesuatu yang ku impikan’.

Sementara itu Jinki yang ditatap seperti itu oleh seorang ‘gadis yang pakaiannya basah kuyup’ tak leluasa untuk tak membalas senyuman itu meski membalas dengan ragu-ragu.

Senyuman yang manis, Jinki ingin melihatnya sekali lagi kalau boleh. Bisakah?

“Apa kau mau ikut minum denganku?” Tawar Jinki dengan lembut tiba-tiba, dan Gweboon yang mendengarnya tertawa kecil.

“Ku pikir kita memiliki kesamaan dalam hal ‘sesuatu yang diimpikan’. Aku juga merasa tak masalah jika harus menunggu meskipun harus merasa bosan untuk sesaat,” lanjutnya lagi yang kali ini ia bahkan menyodorkan sapu tangan berwarna biru ke arah Gweboon.

Menyuruh Gweboon untuk mengeringkan wajahnya yang basah.

Mereka berdua, benar-benar kembali ke awal. Ke titik dimana Jinki dan Gweboon tidak saling mengenal. Tapi Gweboon baik-baik saja, karena sekarang ia dapat melihat wajah itu dalam rupa lelaki yang sangat sempurna….meskipun wajah itu sendiri sekarang tidak dapat mengenali wajah Gweboon seperti dahulu.

 

 

 

– Apa yang kau ucapkan pada seseorang yang kau sukai? ‘aku mencintaimu? Aku menyukaimu? Atau justru Aku menyayangimu?’ itu bukanlah hal yang terpenting, tak masalah jika tak mengatakan hal itu seumur hidup-mu. Karena yang terpenting adalah bagaimana kamu memahami cara untuk menggabungkan ketiga kata-kata itu menjadi perasaan yang tak bisa lagi diungkapkan hanya dengan melalui kata-kata- (Rasyifa)

 

THE END

READ MORE ‘I NEED A KISS’

I Need a Kiss Season I (Sequel )
|| Teaser | Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7 | Part 8 | Part 9 | Part 10 | Part 11 [END] ||

I Need a Kiss Season II (Sequel )
( Part 1 | Part 2 [END] )

 */: tunggu after story ya :

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

154 thoughts on “SHINee Fanfiction Romance Comedy // I Need a Kiss – Part 11 [END]

  1. ya ampun jinkinya lupa sama gweboon… di endingnya kesian gwe, jinkinya lupa ama dy, semoga nanti di sequelnya jinki inget sma gwe…
    aku suka bgt ama ffnya. ff ini paket lengkap. dr par awal yg kocak bgt sampe bikin ngakak trs senyum2 sama kekonyolan jinboon yg sebenernya romantis, tts sebel ama minho, sedih jg ada.. ah pokoknya sekua ada…

    Suka

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s