Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

I Need a Kiss Cover Fanfiction2

Fanfiction SHINee // I Need a Kiss Season II [Part 1]

157 Komentar

I Need a Kiss Cover Fanfiction2

-Story from I Need a Kiss / Season II-

Ditulis oleh Rasyifa

https://rarastory.wordpress.com

 – – –

I Need a Kiss Season I (Sequel )
|| Teaser | Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7 | Part 8 | Part 9 | Part 10 | Part 11 [END] ||

I Need a Kiss Season II (Sequel )
( Part 1 | Part 2 [END] )

Ini… seperti mimpi.

Di pagi hari yang cerah, Gweboon terbangun dan dia menemukan seorang lelaki ikut tertidur di sampingnya.

Degh

 

Degh

 

Degh

Sepasang mata yang semula terpejam kini terbuka perlahan, merubah posisi tubuh menjadi menyamping dan berhadapan dengan Gweboon yang sedari tadi melihat ke arahnya.

Dia memberikan senyum yang manis di wajah itu.

Detak jantung Gweboon-pun semakin berpacu..

“Kau sudah bangun?” ujar sosok itu sambil membelai rambut Gweboon dengan sayang.

Gweboon membeku,           terpana,         ingin pipis.

 

“Apa kau memimpikan-ku?” tanya orang itu dengan suara merdu seperti membaca puisi.

Gweboon hanya membisu, menatap lelaki itu tanpa bicara, dan lalu ia menyadari kalau lelaki itu sedang tidak memakai baju-nya.

Lelaki itu dadanya….

Telanjang!

Gweboon membulatkan matanya dan menggigit bagian bawah bibirnya, tadinya ingin berteriak tapi tidak jadi, karena Gweboon menyadari satu hal tiga detik lalu.

Dada itu….

Dada lelaki itu….

Ada bulunya..

Ada tahi lalatnya juga….

Oh maksud Gweboon begini… dada itu SEKSY.

Sementara itu lelaki yang dari tadi didiamkan oleh Gweboon, tertawa pelan melihat setiap ekspressi yang Gweboon tunjukkan dan ini membuat Gweboon keheranan seorang diri.

Kenapa dia tertawa?

“Kau benar-benar sudah tergila-gila padaku rupanya!”

Gweboon terngaga mendengarnya, “APA?”

“Kau bahkan memimpikanku sekarang, dan mimpi macam apa ini? Sekarang ini musim dingin, Gweboon… salju dimana-mana dan kau mimpi aku tidur denganmu tanpa memakai baju dan penghangat ruangan? Kenyataannya aku akan mati beku karena ulahmu itu! Dasar otak mesum!”

Gweboon semakin tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar, sementara lelaki itu masih mentertawakanya.

“Pagi hari yang cerah-ya? Yang benar saja, kau harus bangun dan lihat tumpukan salju di luar sana biar sadar. Dan dimana kau menyembunyikan baju-ku, Gweboon Kim?”

Gweboon kesal, jangan salahkan dia kalau akhirnya memberontak.

Anak gadis Kim Kibum itu-pun akhirnya mengambil bantal dan melemparkannya ke arah wajah lelaki itu, mengusak-usak dengan kasar mencoba menghancurkan wajah lelaki sialan itu.

Dan kini lelaki itulah yang justru meronta-ronta karena diperlakukan secara tidak terhormat.

 

* * *

Gweboon terpukul menyadari itu semua hanya sekedar mimpi. Mimpi yang semula indah tapi berujung musibah.

Mimpi nya bersama seorang lelaki yang tidak lain adalah Jinki.

Oh, Jinki?

Kenapa Gweboon merasa dia merindukan sosok bapak-bapak tua itu, sekarang?

“Gweboon, adik-ku sayang….apa kau mau jalan-jalan bersama oppa sepulang sekolah nanti?”

Yang satu ini lagi, bukankah kemarin dia sudah bilang menyerah kenapa sekarang mulai lagi, yah walau itu hanya dalam ingatan Gweboon yang tidak diakui oleh orang lain.

Gweboon menatap Minho malas lalu mendesah pelan. “Oppa aku sedang tidak dalam perasaan yang baik…… Tapi tunggu, bisakah Oppa mengantarku kesana?”

Gweboon berseru tiba-tiba mendapatkan ide.

Minho menatap ke arah jari telunjuk Gweboon tertuju.

Sebuah baleho besar yang isinya iklan laptop.

Ke… sana?

“Kau ingin kita memanjat baleho itu?” ucap Minho ngeri, Gweboon yang mendengarnya hanya tersenyum misterius.

Begini ya, Gweboon tak lupakan kalau Minho, oppa tersayangnya itu sedikitnya dari sedikitnya sedikit bermasalah dengan ketinggian. Menaiki baleho? Itu mengerikan.

.

.

.

Di lain tempat, Jinki justu sedang berkutat dengan laptop-nya, mencoba sibuk dengan file-file pekerjaan-nya.

Entah ini perasaan Jinki saja atau memang benar adanya…

Jinki merasa ia sudah lama tak melakukan hal ini.

Sudah lama ia tidak duduk di kursi, di ruangannya ini dengan laptop yang menyala seperti sekarang. Dan ia merindukannya. Ini aneh, padahal menurut ingatannya dia selalu seperti ini tiap harinya.

Knok…Knok         

 

Treaak

Suara ketukan dan diselangi pintu yang terbuka membuat Jinki menoleh, dan seorang gadis bertubuh mungil muncul disana, memasang senyum malu-malu yang canggung.

“Selamat siang Lee Jinki, aku Taeyeon. Ku rasa ibumu sudah memberitahukan tentang hal ini.”

Jinki menatap gadis itu.

Taeyeon?

Taeyeon ya?

Apa gadis ke….sekian yang akan dijodohkan dengannya?

Ini pasti ulah ibunya lagi. Kenapa Ibunya itu keras kepala sekali! Sudah Jinki katakan dia bisa mencari calon istrinya sendiri.

Jinki tahu Eunsook—ibunya— benar-benar menginginkan cucu, tapi buru-buru begini juga bukan hal yang tepat kan!

Jinki hampir ingin mengucapkan sesuatu untuk mengusir gadis ini, seperti yang biasanya ia lakukan pada gadis lainnya. Hingga Jinki tiba-tiba mengurungkan niatnya.

Kemarin malam Jinki bermimpi.

Mimpi aneh yang sangat mengerikan.

Di dalam mimpinya, karena Jinki sering menyakiti perempuan iapun dikutuk menjadi perempuan.

Jinki bahkan mengalami mentruasi dan dia salah memasang pembalut. Oh mimpi yang benar-benar buruk.

Baiklah, kali ini Jinki akan bersikap lebih baik. Lagipula gadis yang satu ini terlihat sangat manis.

“Selamat siang juga nona Taeyeon. Karena sekarang sudah waktu makan siang, apa kau mau menemaniku makan?”

Taeyeon yang mendengarnya terpana sesaat dan mengingat-ingat isi kantongnya. Apa Taeyeon membawa uang cash saat pergi kemari?

Taeyeon dengar dari orang-orang bahwa Jinki itu pelit, mulutnya kasar, dia lelaki yang benar-benar tidak bisa bersahabat dengan perempuan, tidak bisa menghargai.

“Ok baiklah. Kita tunuakan makan dimana?”

Jinki tersenyum lalu menyahut, “Karena aku masih banyak pekerjaan dan setelah ini ada meeting. Kita makan siang di cafeteria perusahaan ku saja ya? Kau tidak apa-apakan?”

“Emmm…yah, tidak apa-apa.”

“Kalau begitu ayo pergi sekarang, cafeteria ada di lantai lima.”

Ini aneh, menurut Taeyeon Jinki cukup bersahabat.

.

.

.

“Kau mau pesan apa?” tanya Jinki sambil membaca buku menu di hadapannya. Taeyeon yang mendengarnya ragu-ragu untuk mengambil buku menu.

Apa dia boleh membacanya?

Temannya yang bernama….Victoria bilang saat makan bersama Jinki, dia tidak bisa memesan, bahkan Jinki tidak memperbolehkan Victoria melihat buku menu. Dan sekarang kenapa Jinki menyuruhnya untuk ’memesan’.

Taeyeon gugup.

Dia tidak membawa uang cash, dia tidak bisa mentraktir seperti yang Victoria lakukan.

“Aku…. air putih saja.”

“Air putih?”

“Itu bagus untuk kulit-kan?”

Jinki tertawa mendengarnya lalu menatap Taeyeon dengan pandangan tertarik, “Air putih memang bagus untuk kulit. Tapi kali ini kau harus memilih yang jauh lebih bagus Taeyeon-ssi. Disini ada banyak minuman dan makanan enak kok, kau bisa memesan jenis rickey, limon martini, cobbler atau…Americano, Jinki menggantungkan ucapannya.

Americano? Seseorang sangat menyukai minuman itu. Namun Jinki tidak bisa mengingatnya. Siapa itu, siapa yang suka americano?

“…Tapi aku paling suka orange jus. Hahaha!” Jinki kembali sadar dan melanjutkan ucapan-nya sambil tertawa, mentertawakan dirinya sendiri.

Taeyeon yang melihatnya tersenyum kecil.

Menarik. Ini sungguh berbeda dari yang ia dengar.

“Kalau begitu aku pesan cobbler, bolehkan?”

Jinki mengangguk dan memesankan pesanan mereka berdua pada seorang pelayan dan Jinki bahkan langsung meminta bon dan membayarnya.

Taeyeon berpikir, Victoria sudah berbohong.

.

Tidak jauh dari tempat Jinki, Gweboon melihat semua itu dan hanya bisa memasang wajah sedih.

Dia benar-benar tidak suka melihat Jinki bersama perempuan lain. Apalagi Jinki terlihat sangat perhatian.

Jinki bersikap sangat baik, manis dan wajah lelakinya itu tambah tampan saja!

Gweboon tidak suka semua itu, tapi wajah Jinki tak masuk hitungan, dia suka bagian itu! Malahan, itu bagian favorit-nya.

Gweboon mendesah kecewa, jauh-jauh ia datang kesini, susah-susah sepulang sekolah, Minho dan Gweboon pergi ke tempat yang Gweboon inginkan.

Bukan naik baleho berisi iklan laptop, seperti yang Minho duga sebelumnya.

Yang Gweboon inginkan ternyata adalah pergi ke perusahaan tempat laptop itu diproduksi.

Lebih tepatnya Perusahaan dari Grup Lee, yang tidak lain adalah perusahaan milik Jinki.

“Apa yang akan kita lakukan disini, Gweboon?” Minho menatap sekitar yang terasa asing, sementara gadis di sampingnya hanya terdiam dengan pandangan lurus ke depan.

Minho penasaran, dan ikut menoleh ke arah Gweboon memandang.

“Itukan Taeyeon noona, emm…apa lelaki itu yang ia bilang calon suaminya?”

Kali ini Gweboon memberikan respon, dia menoleh ke arah Minho, dia juga memberikan ekspressi aneh, yang membuat Minho juga memasang ekspressi aneh.

Serasi!

Mereka berdua sama-sama memasang ekspressi aneh.

Dan orang-orang yang melihat mereka berdua saat ini, juga ikut-ikutan memasang ekspressi aneh, belum lagi orang-orang lain yang melihat orang-orang yang melihat mereka, juga ikut memasang ekspressi aneh , ditambah orang-orang yang lain lagi yang melihat orang-orang yang melihat orang-orang yang melihat mereka berdua…

Ok hentikan, lagipula bukan ini masalah sebenarnya kan?

 

 

* * *

Annyeonghaseo Taeyeon noona,” Minho membungkuk di depan gadis bernama Taeyeon itu.

Taeyeon menoleh, Jinki-pun juga. Meski sebenarnya tidak ada yang memanggil nama Jinki disana. Walaupun Gweboon ada di samping Minho, gadis itu bahkan tak menatap ke arah Jinki.

Gweboon sibuk mengamati Taeyeon. Wanita yang imut, rambutnya panjang, dan sepertinya orang kaya. Gweboon juga imut, punya rambut panjang, dan dia tidak kaya.

Lalu untuk apa wanita seperti ini bersama dengan pria-nya?

Ok well, Pria-nya? Jinki? Anggap saja begitu.

“Minho?” ucap Taeyeon tak percaya.

“Apa kabar noona?”

Minho memberikan senyum manis andalannya. Dia ahlinya dalam hal ini, dia punya banyak mantan pacar di seluruh Korea Selatan kan. Dan Taeyeon termasuk di dalamnya. Itulah sebabnya Minho mengenal Taeyeon. Minho memang memiliki pancaran aura lelaki yang kuat. Tidak ada yang dapat mengalahkan pesona seorang Choi Minho, kecuali…Lee Jinki, yah tentu saja itu bagi Gweboon.

“Sedang apa kau disini, Minho?”

“Mencari noona, aku merindukan noona!” Minho menjawab datar, benar-benar tidak ada penghayatan atau sejenis ironi di dalamnya. Tapi meskipun begitu, Taeyeon sukses dibuat membeku.

.

.

Dan bahkan akhirnya Minho berhasil mengajak Taeyeon pergi meninggalkan Jinki, seperti yang Gweboon suruh.

Ok, baik…kenapa Gweboon menyuruh Minho melakukannya?

* * *

Kini, Gweboon tengah duduk di depan Jinki, dia menatap Jinki dari atas sampai bawah kemudian menggeleng tak percaya.

Jinki yang ia lihat sekarang ini kenapa terlihat sangat keren? Dulu Jinki terlihat nista sebagai bapak-bapak tua yang menyebalkan yang dikutuk jadi perempuan, tapi sekarang untuk mengatakan wajah Jinki seperti pantat anak ayam saja, Gweboon tak berani.

Sementara itu Jinki yang dari tadi melihat semua kelakuan Gweboon tentu saja kebingungan. Baginya Gweboon tak lebih dari gadis berpakaian SMA yang aneh dan juga seorang dukun.

“Apa anak lelaki SMA tadi pacarmu?” tanya Jinki akhirnya. Jinki juga tidak tahu kenapa kalimat itu yang ia utarakan sebagai kalimat utama pembuka pembicaraan mereka berdua.

Dia hanya penasaran dan bukannya kepo kok, itu catatan pentingnya.

“Bukan. Dia itu pacar wanita yang tadi duduk bersama-mu. Kau lihat mereka tadi pergi bersama kan?” Gweboon menyahut santai, kentara sekali dengan detak jantungnya yang berdetak-detak tak karuan.

Jinki tampan sekali.

Jinki tampan sekali.

“Oh. Begitu.”

“ Ya.”

Dan suasana kikuk dimulai lagi, Gweboon dan Jinki sama-sama terdiam. Lagipula apa yang sebaiknya mereka bicarakan?

Jika mereka masih suami-istri mungkin membicarakan masa depan boleh juga, tapi sekarang kan mereka tidak dalam hubungan itu lagi.

.

.

.

“Kau ingin punya berapa anak? Ibumu hanya ingin cucu-kan, tidak akan mempermasalahkan jumlahnya-kan?”

“Uhuk..uhukk..kkk.”

Jinki tersedak mendapati pertanyaan frontal yang barusan Gweboon ajukan.

Ini Gila!

Kenapa gadis aneh di depan Jinki bisa bertanya pertanyaan yang mengerikan. Dan tunggu, darimana dia tahu Ibu Jinki ingin cucu?

“Kau….kau ini.. benar-benar gadis dukun?” tanya Jinki dengan wajah ngeri, Gweboon meringis melihatnya.

Gadis dukun? Apa hanya itu satu-satunya yang ada di pikiran Jinki sekarang?

“Gadis dukun!? Jangan sembarangan memanggil orang. Apalagi aku ini seorang perempuan. Kau bisa dikutuk nanti!”

Jinki terpukau, lagi.

Gadis ini…Dia bahkan tahu Jinki mimpi dikutuk? Gadis dukun di depannya ternyata benar-benar hebat.

“KAU SAKTI!” Jinki memekik dan terlihat heboh seorang diri. Membuat orang-orang melihat ke arah Jinki dengan pandangan heran.

Gweboon tersenyum melihat Jinki. Ya benar, dia sakti. Jika itu akan membuat Jinki terpesona padanya, kenapa tidak kan?

Dan Gweboon yang sakti akan membuat Jinki bertekuk lutut di depannya, Gweboon pun tertawa membayangkan Jinki menyerahkan buket bunga uang seperti dahulu.

Gweboon akan kaya raya dan Jinki akan tergila-gila padanya.

Itu bagus sekali, Gweboon akan sangat menyukainya!

“HAHAHAHA….. KAU BENAR, AKU SAKTI!”

“PANGGIL PETUGAS KEAMANAN SEKARANG JUGA!”

“YA PANGGIL SAJA. EH TUNGGU,     APA YANG BARUSAN…..?”

“KALIAN TIDAK MENDENGARKAN KU? AKU PRESIDEN DISINI, PANGGIL PETUGAS KEAMANAN SEKARANG DAN USIR GADIS DI DEPAN-KU SEKARANG JUGA!” Jinki memekik dan bahkan membentak orang-orang di sekitarnya.

Di lain sisi, Gweboon terhenyak. Ada apa ini? Kenapa gadis sakti berwajah imut, rambut panjang tapi tidak kaya, justru di usir?

Hei…dia sakti! SAKTI!

.

.

.

Dunia tidak seindah khayalan Gweboon. Bukannya bertekuk lutut, Gweboon justru diusir Jinki karena Gweboon sakti.

Padahal kan Gweboon tidak. Jadi dia juga tidak seharusnya diusir.

Gweboon hampir menangis mengingat semua itu. Jinki bilang Gweboon sakti berbahaya, bisa melukainya, bisa membuat Jinki bangkrut dan hal terburuknya Jinki dipelet. Gweboon barusan ingin menjerit, jika ayah nya tidak tiba-tiba menoel-noel tubuhnya dengan remot televisi. Gweboon menoleh ke arah Kibum dengan malas, “Apa?”

“Laptop-mu rusak kan? Ayah baru mendapatkan uang tunjangan, apa kau ingin ayah belikan yang seperti itu?”

Gweboon menatap ke arah telunjuk ayahnya tertuju, televisi yang sedang menampilkan iklan laptop.

Laptop itukan yang diproduksi perusahaan Lee Jinki? Seperti yang ada di baleho!

Lee Jinki..

Lee Jinki…

“Ayah aku sangat menyukainya.” ucap Gweboon akhirnya dengan pandangan yang sedikit menerawang. Menyukainya? Tentu saja ’nya’ disini…yang berarti Lee Jinki, untuk Gweboon.

“Benarkah? Kalau begitu ayah akan belikan.” ucap Kibum sambil mengambil cemilan di atas meja di depannya. Yang satu ini maksud ucapannya lain lagi.

“Apa ’itu’ bisa dibeli? Harganya pasti sangat mahal. Kita akan bangkrut.”

Kibum terdiam, meletakkan cemilannya kembali, bahkan ia mengeluarkan kembali cemilan yang sudah masuk ke dalam mulutnya dan Gweboon baru saja mengambil alih cemilan itu dan memakannya, mungkin juga memakan apa yang baru saja Kibum keluarkan. Ini menjijikan!

“Apa semahal itu harganya, Gweboon? Kalau begitu kita beli merk lain saja. Atau beli yang Kw-nya saja. Di pasar gang sebelah ada toko elektronik, mereka juga menjual laptop.”

“Tapi aku sukanya yang itu. Tinggi, putih, sipit, dan suaranya…… seperti membaca puisi.”

Kibum terdiam sejenak lagi.

Laptop yang tinggi, putih, sipit, dan suaranya…seperti membaca puisi?

Yah….pantas harganya mahal.

“Di pasar gang sebelah, ada yang tinggi juga, lumayan putih, tidak sipit sih tapi suaranya seperti rapper! Kita beli yang itu saja ya?”

Well, sebenarnya Kibum mengarang itu semua. Tapi kenapa laptop yang satu itu mirip ciri-ciri seseorang ya?

Gweboon menghela nafas. Sementara Kibum sedih dia tidak cukup kaya untuk membelikan Gweboon laptop itu, jadi dia juga ikut-ikutan menghela nafas.

Mereka berdua pun menghela nafas bersamaan.

“Ayah, kita kan tidak kaya raya. Jika misalkan…misalkan saja, aku justru jatuh cinta dengan orang yang sangat kaya seperti pemilik perusahaan laptop tadi. Aku harus bagaimana, apa aku bisa diterima olehnya?”

“Minho itu tidak kaya, Gweboon. Ayahnya juga petugas keamanan masyarakat seperti ayah. Bahkan jabatan ayah lebih tinggi, ayah ini ketua kepala keamanan masyarakat Seoul, Gweboon. Sementara ayah Minho hanya petugas biasa, belum lagi dia juga punya istri di rumah, jadi dia menghidupi dua orang selain dirinya sendiri, pengeluarannya akan lebih besar dari kita. Ayah kan hanya hidup berdua dengan Gweboon, pengeluaran kita tentu lebih kecil. Jadi Kau dan Minho itu, Kau yang lebih kaya!” Kibum menjelaskan panjang lebar, Gweboon hanya dapat terdiam.

Melihat anaknya terdiam, Kibum kembali mengambil suara, “Apa dia menolakmu lagi? Dan kali ini alasannya karena kau tidak sekaya dia?”

Gweboon diam, tidak menjawab.

“Benar dia melakukan itu? Dasar anak tidak tahu diuntung! Ayah yang akan memberikannya pelajaran nanti.”

“Ayah, apa aku bisa tidur dengan’nya’? Mungkin setelah itu dia bisa bertanggung jawab seperti dulu.”

Kibum tercengang.

Apa?

Apa yang barusan ia dengar?

Dan Gweboon menyadari dia salah bicara, perlahan gadis itu bangkit dan menjauhi Kibum, “Aku mengantuk, aku tidur dulu!”

Sementara Kibum mulai memicingkan kedua matanya, sebentar lagi sepertinya dia akan berteriak……

“KIM GWEBOON!”

…..atau mungkin barusan saja, sudah berteriak.

Kibum tak percaya, Gweboon…anak gadisnya ingin tidur dengan ’Minho’? Dan bahkan Gweboon berani mengucapkan keinginannya itu langsung pada Kibum?

Tak peduli itu Minho atau lelaki manapun, Kibum tak akan merelakan anak gadisnya ditiduri sebelum dinikahi.

Kibum tak akan segan-segan memotong leher Ibu dari lelaki yang meniduri Gweboon. Bahkan Kibum juga tak peduli, sekalipun Ibu dari lelaki itu cantik, memakai gaun ungu yang seksy dengan rambut digalung!

Dia tidak peduli!

Sedikitpun tidak!

Meskipun ibu dari lelaki itu meraung-raung di depan Kibum!

Dia akan tetap tidak peduli!

Ingat itu!

Ingat baik-baik!

.

.

.

Jinki memijat keningnya, lalu memutuskan untuk menutup laptop yang dari tadi menyala di depannya.

Hari ini, kegiatan bekerjanya selesai sampai disini…

Jinki beranjak dari duduknya, berjalan pelan menuju jendela kamarnya. Jinki mencoba menggalaukan diri dengan menatap ke luar jendela, melihat pemandangan malam kota seoul.

Ini aneh.

Sangat aneh.

Jinki merasa kamarnya benar-benar sepi.

Padahal sejak umur sepuluh tahun, Jinki sudah tidur seorang diri di kamar-nya itu. Lalu kenapa mendadak sepi?

Kenapa Jinki merasa ada hal yang hilang di kamarnya dan yang membuat Jinki bertambah frustasi, saat ia sendiri bahkan tak tahu hal apa yang hilang itu?

Apa dia perlu menambahkan lampu tidur?

Atau dia harus membeli karpet dan sebuah ranjang lagi?

Tok…tok…tok

“Masuk saja ibu-ku yang cantik jelita sekali, pintunya tidak dikunci.” ucap Jinki dengan nada manja. Entah kenapa Jinki begitu yakin kalau yang mengetuk pintunya barusan adalah ibunya—Eunsook.

Yah…hanya mengikuti intuisi lelakinya.

Itu kerenkan?

Intuisi lelaki.

“Maaf tuan, ini saya. Saya hanya ingin menyampaikan pesan nyonya besar. Nyonya besar ingin tuan ke kamarnya!” ucap seorang pelayan yang membuat Jinki merasa menjadi tidak keren sama sekali!

Intuisi?

Ibu-ku yang cantik jelita sekali?

Aiissh!

Kenapa dia bisa menyebut pelayannya dengan sebutan itu.

Jinki membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi, saat berada di depan pelayan itu Jinki berhenti sebentar, lalu berjalan lagi dengan kesal. Sebenarnya Jinki ingin memecat pelayan itu, tapi Jinki takut mendapat karma lalu dikutuk jadi perempuan.

Aisshh kenapa belakangan ini Jinki tak bisa melakukan hal yang ia sukai. Selalu saja ia teringat dengan kutukan, kutukan, dan kutukan. Ini semua karena gadis dukun itu!

Jinki tahu menyalahkan orang lain itu tidak baik, tapi menyalahkan gadis dukun itu sepertinya tidak masalah, karena gadis dukun itukan……………

Itukan….

Itukan…

Itukan apa?

Itukan apa ya? Jinki juga tidak tahu harus melanjutkannya seperti apa.

.

.

.

Eunsook menatap Jinki yang sudah duduk di sampingnya. Anak satu-satunya yang ia dapatkan dari pernikahannya bersama lelaki yang ia cintai.

“Bagaimana dengan Taeyeon?” tanya-nya tanpa basa-basi.

“………”

“Bagaimana dengan Taeyeon, Jinki?” tanya Eunsook sekali lagi. Kali ini Jinki menatap ibunya itu lalu menghela nafas, “Dia…imut, cantik, cukup menarik karena hanya ingin air putih saat aku menanyakannya ingin pesan apa.” Jinki menjawab seadanya dengan jujur.

Eunsook sedikit tersenyum mendengar jawaban itu. Mungkinkah itu Taeyeon, yang akan menjadi menantu-nya?

“Kalau begitu kau akan menikahinya kan?”

“Ibu….ini tidak semudah itu! Kenapa kau bisa bicara semudah itu!”

“Apanya yang tidak mudah. Dulu, aku dan ayahmu hanya tiga kali bertemu dan saat bertemu ke empat kalinya itu adalah hari pernikahan kami. Kami bahkan memilikimu, dan sampai sekarang aku masih mencintainya.” ucap Eunsook tak mau kalah.

Jinki menghela nafasnya dan menatap ibunya itu dengan pandangan memohon.

“Itu kan karena dalam pertemuan kalian, kalian langsung saling mencintai! Aku dan Taeyeon, kami berbeda dan….jangan bicara soal pernikahan semudah itu lagi, Bu.”

“Kau bilang Taeyeon imut, cantik dan cukup menarik.”

“Itu beda bu, Angelina Jolie…dia cantik juga imut dan sangat menarik, tapi aku tidak jatuh cinta dengannya.”

“Ibu tidak kenal dengan Angelina Jolie. Jadi menikah saja dengan Taeyeon!”

Jinki menatap kesal ke arah ibunya. Tidak mengenal Angelina Jolie dan menikah dengan Taeyeon? Apa itu berkesesuaian? Jinki mengusang rambut nya kasar.

“Yang ibu lakukan tiap hari hanya menyuruhku menikah, menikah, dan menikah. Jika tidak seperti itu, maka kau akan mulai bicara mengenai cucu. Ini konyol bu. Sebaiknya ibu pergi berlibur saja, aku akan menyiapkan tiketnya!”

“Jinki!”

“Hentikan Bu, sebelum anakmu ini menjadi benar-benar gila!” Kali ini Jinki menaikkan volume suaranya, membuat Eunsook menatap Jinki tak percaya!

“Kau pikir ibu juga tidak akan gila apa? Melihat anak lelakinya yang sudah mapan tidak menikah-nikah, kau tidak tahu bagaimana perasaan ibu? Dan apa kau pikir selama ini ibu berpergian ke luar negri itu hanya untuk membeli beras dan sayur? Apa kau tidak merasa itu konyol? Itu tidak benar Jinki, ibu melakukan semua itu karena ibu bernegosiasi pada orang-orang tertentu, agar kau aman dengan jabatanmu itu, agar mereka terus mendukungmu dan berada di pihakmu. Agar kau tidak bernasib sama dengan ayahmu….,”

”… kau tahu hal yang paling ibu takutkan di dunia ini adalah meninggalkanmu seorang diri di dunia ini. Hidup tanpa Ayah, Ibu, Saudara, atau pasangan hidup. Meskipun kau itu kaya Jinki, kau tidak akan bahagia……kau akan merasa hidupmu terancam, banyak orang yang akan mendekatimu karena harta. Ibu takut kau akan tumbuh menjadi orang yang tidak bisa mempercayai, mengasihi, menghargai, mencintai dan menyayangi orang lain, dan akhirnya menjadi tua dengan sangat menyedihkan. Tidak ada satupun orang yang berada di sampingmu.”

Jinki terdiam, sementara Eunsook mulai meneteskan airmatanya sambil terisak, “Ibu tahu kau akan bilang, ’aku belum terlalu tua untuk menikah’ tapi apa kau tahu seberapa lama manusia bisa hidup di dunia ini? Kau tak perlu melakukan riset ke badan kependudukan untuk mengetahuinya. Kau cukup mengingat ayahmu saja, berapa lama ia hidup menemani kita berdua? Hanya lima tahun kan, dan dia kemudian pergi…….ibu bahkan tak mempercayainya sampai sekarang. Dia yang menggunakan tubuhnya untuk melindungi putranya sendiri.”

Eunsook menatap Jinki, kemudian membelai Jinki dengan sayang, “Ibu tidak pernah menyalahkanmu soal itu, jadi berhentilah menyalahkan diri sendiri dan bersikap seolah-olah tidak mengingat apa-apa. Cobalah untuk menghentikan rasa takutmu, belajarlah mengemudi….agar orang-orang tidak menganggapmu sebagai orang aneh lagi.   Ibu sudah cukup lama hidup di dunia ini, dan ibu tahu hidup ini berat Jinki, terlalu berat kalau kau hidup seorang diri.        Jika kita…jika kita…mengingat Ayahmu, mungkin memang hanya lima tahun yang ia bisa berikan untuk kita, tapi lihat…..ibu bahkan yakin kau masih bisa merasakan kehadirannya sampai sekarang. Ibu sangat menyayangimu dan ayahmu, jadi dengarkan ibumu ini! dengarkan ibumu, satu-satunya orang yang kau miliki dan bisa percayai di dunia ini.”

“Ibu…tapi Taeyeon bukan gadis itu!” Jinki akhirnya menyahut pelan, sedikit luluh.

“Lalu siapa, Kau punya calon yang lain? Kau ingin ibu mencarikannya lagi? Berapa banyak lagi gadis yang harus ibu bawa ke hadapanmu?”

Jinki terdiam cukup lama, lalu akhirnya berucap, “….Ibu, ada satu hal. Aku pikir, anakmu ini benar-benar sudah gila. Aku…aku …tidak tahu dan bahkan tidak yakin, apa aku berhalusinasi atau apa, tapi aku selalu merasa kalau di kamarku ada sesuatu yang menungguku, maksudku…aku tidak sendiri disana, ada sesuatu yang aku tidak tahu apa seperti menemaiku tidur di ranjang itu. Tapi yang anehnya, aku merasa sesuatu itu hadirnya kemarin, kemarin, kemarinnya lagi..oh aku bahkan tidak tahu kemarin itu kemarin yang mana, aku hanya merasa itu kemarin. Dan sekarang sesuatu itu hilang. Apa kau bisa mengerti bu? Maksudku…dulu aku merasa ada sesuatu disana, yang menemaniku, dan…hari ini…saat ini, sesuatu itu sudah pergi! Konyolnya, aku ingin sesuatu itu tetap dikamarku, aku ingin dia kembali.”

“Kau hanya harus menikah!” ucap Eunsook dengan wajah khawatir mendengar Jinki yang meracau. Apa benar anaknya sudah gila?

Sementara Jinki sibuk dengan pemikirannya.

Apakah sebaikanya Jinki memanggil gadis dukun itu? Gadis itu sakti-kan? Mungkin dia bisa membantu dengan kesaktian yang ia miliki.

.

.

* * *

Gweboon tidaklah sakti, yang sakti itu Kim Jonghyun. Tapi meskipun Kim Jonghyun sakti, dia itu sama sekali tidak membantu, yang ia lakukan hanyalah membuat masalah, —ini menurut Gweboon.

Jadi jika Kim Jonghyun ingin mengutuk orang, kutuk saja Kim Gweboon dan bukannya Lee Jinki. Sesekali menjadikan Kim Gweboon pria sepertinya menarik, apalagi jika dia ingin kembali menjadi perempuan ..dia harus mendapatkan ciuman dari pria lain dulu. Bisa saja pria lainnya itu Jinki, yang sejak sepuluh tahun menyukai Minho yang juga seorang lelaki. Oke, ini skenario yang sangat buruk kan! Kim Jonghyun menolaknya!

.

.

Hari ini, hari Jum’at, sesudah jum’at itu hari sabtu dan sesudahnya lagi hari Minggu dan Gweboon bolos ke sekolah di hari Minggu.

Tidak masalah kan?

Gweboon lebih memilih pergi ke pondok Kim Jonghyun daripada ke sekolah di hari Minggu, meski sedang ada pentas seni di Sekolahnya, Dan ajaibnya…Kim Jonghyun ada di pondoknya.

“Kenapa kau datang kemari?” ucap Kim Jonghyun sambil memberikan secangkir teh pada tamu nya itu.

Gweboon menatap secangkir teh itu dengan berbinar, Kim Jonghyun yang melihatnya hanya memberikan gelengan miris, “Ini teh biasa, Gweboon. Di musim dingin, teh hangat akan sangat baik kan. Dan jangan berharap aku akan memberikanmu ramuan cinta sampai mati., sampai mati dua kali-pun aku tidak akan memberikan ramuan itu lagi. Karena memberikan ramuan itu padamu adalah sebuah kesalahan besar.”

Gweboon mendengus kecewa, membuat Kim Jonghyun terkekeh geli melihatnya.

“Jika kau dan Jinki memang berjodoh, kalian pasti akan dipertemukan lagi. Jika kalian tidak, jangan memaksakan. Itu akan jadi awal dari sesuatu yang buruk.”

“Aku sudah sering dengar yang itu!”

“Kau ini!”

“Kau ini!” ucap Gweboon yang tiba-tiba meniru Kim Jonghyun. Kim Jonghyun yang menyadarinya pun tak terima. Dasar anak tidak tahu sopan santun!

“Hei apa kau barusan meniruku?”

“Hei apa kau barusan meniruku?” Gweboon lagi-lagi meniru Kim Jonghyun, lantas saja lelaki itu mulai terlihat kesal.

“Kenapa kau jadi menyebalkan seperti ini Gweboon?”

“Kenapa kau jadi menyebalkan seperti ini Gweboon?”

“Hentikan! Kau pikir, dengan kau melakukan semua ini. aku akan memberikanmu ramuan cinta sampai mati itu?”

“Hentikan! Kau pikir, dengan kau melakukan semua ini. aku akan memberikanmu ramuan cinta sampai mati itu?” Gweboon masih terus mengikuti apa yang Kim Jonghyun ucapkan, bahkan bukan hanya ucapan. Gadis itu juga ikut mempraktekan mimik dan gerak-gerik Kim Jonghyun. Tentu saja sangat menyebalkan bagi Kim Jonghyun, si dukun sakti!

 

“Sudah Gweboon!”

 

“Sudah Gweboon!”

“Baiklah, aku menyerah. Mungkin aku tidak bisa memberikanmu ramuan itu, lagipula aku hanya punya satu dan itu-pun sudah ku berikan padamu. Tapi aku akan menceritakanmu sebuah rahasia besar, jadi berhentilah mengikutiku, oke!?”

Rahasia besar?

Gweboon memasang wajah tertarik, dan Kim Jonghyun menyadarinya.

“Baiklah, ceritakan! Apa rahasia besar itu?”

Dan Kim Jonghyun-pun memulai ceritanya….

.

.

.

Dua puluh lima tahun yang lalu, atau mungkin dua puluh lima tahun yang lalu lebih beberapa bulan? Entahlah, yang jelas saat itu Jinki, Gweboon, Minho maupun Taemin (teman sekelas Gweboon) belum ada yang lahir.

 

Seorang gadis manis berlari di sebuah taman sambil memegang cup ice cream di kedua belah tangannya, dan saat berlari ia justru tanpa sengaja menabrak seorang pria. Gadis dengan cup ice cream itu adalah Eunsook, Kim Eunsook—ibunya Jinki. Dan pria yang ia tabrak itu adalah ayah Jinki, yang namanya tentu saja bukan Kim Jonghyun.

 

Karena Kim Jonghyun itu ……

.

.

Di lain tempat, di waktu yang sama, Jinki sedang di interview oleh beberapa wartawan. Para wartawan itu menanyakan berbagai macam pertanyaan, yang selalu disambut oleh tawa Jinki sebelum menjawabnya.

Jinki memang bukan artis, bukan penyanyi, apalagi model.

Tapi Jinki cukup terkenal, sebagai pengusaha muda yang sukses dalam karirnya.

Lihat, lihat!

Pengusaha muda yang sukses kan! Bukan pengusaha tua yang sukses!

Jinki sering masuk majalah, oh maksudnya berita tentang hidup Jinki yang sering masuk di majalah. Kalau Jinki, mana muat masuk majalah sekecil itu. Oke ini tidak lucu. Tidak apa-apa, Jinki masih bisa berusaha di lain waktu untuk melucu.

“Karirmu belakangan sangat bagus, banyak orang yang penasaran. Apakah rahasia di balik kesuksesanmu ini? Yah….seperti trik-trik khusus dalam berbisnis, mungkin?” pertanyaan ke sekian yang ditanyakan oleh wartawan di depan Jinki.

Jika boleh jujur, wartawan itu ingin sekali menyudahi acara interview dengan Jinki. Entahlah, baginya Jinki sejenis manusia absurd yang ditanyai ’apa’, jawabannya ’bagaimana’.

Sama sekali tidak nyambung!

Jenis orang yang seharusnya dihindari oleh warta berita sepertinya.

“Ku pikir, aku memang terlahir untuk sukses. Jadi itu… kalau kau bicara mengenai rahasia sukses-ku, kita sama saja dengan membicarakan rahasia langit. Hahaha!” Jinki tertawa terbahak-bahak dengan jawaban yang sama sekali tidak berbobot, sementara wartawan itu hanya tersenyum. Meskipun menyadari Jinki aneh, mereka tak akan berani menuliskan berita yang tidak-tidak. Mereka takut pada Jinki, pada kekuasaannya lebih tepatmya.

“Oh ya benar, rahasia langit.” ucap wartawan itu pasrah.

“Ada lagi yang ingin kau tanyakan?”

Jika boleh jujur, wartawaan itu ingin mengatakan ’tidak’ dan lalu kabur. Tapi demi profesionalitas, diapun menanyakan satu pertanyaan terakhir. Oh yeah! Pertanyaan terakhir.

“Anda terlahir dari keluarga yang bisa dibilang terhormat.”

“Yah..kau tahu itu, keluarga terhormat!”

“Ayah anda adalah pewaris perusahaan ini sebelum anda, dimana ayah anda juga merupakan putra tunggal dari pendiri perusahaan ini,— Lee Donghae yang tidak lain adalah kakek anda. Ibu anda juga terlahir dari keluarga yang tak kalah hebat, ayahnya merupakan sutradara drama terkenal—Kim Jonghyun. Dengan latar belakang yang anda miliki tentu saja orang-orang yang…..blablablablaaaaa,”

Jinki tak mendengarkan dengan seksama lagi apa yang wartawan itu tanyakan padanya. Di kepalanya, hanya ada satu nama.

Kim Jonghyun.

Nama yang barusan ia dengar dari wartawan itu.

Tapi Jinki merasa dia juga tahu nama itu.

Itu nama kakeknya bukan? Ayah dari ibunya?

Tapi bukan itu yang dimaksud Jinki.

Jinki mengenal sosok lain bernama Kim Jonghyun atau mungkin memang sosok itu kakeknya?

.

.

“Nama saya Kim Jonghyun. Saya tidak bisa melayani permintaan anda. Sebaiknya anda pergi sekarang juga, karena masih banyak klien saya yang normal, yang sedang menunggu giliran.” Jinki menoleh ke arah pintu yang terbuka.

 

Jinki mengingatnya! Pondok kecil, lelaki misterius, lantai berbatu bata, dan deretan pohon palem.

“Kau sepertinya lupa syaratnya,” ucap lelaki itu sambil mendudukkan diri di samping Jinki.

 

Seorang lelaki, duduk di depan Jinki yang sedang duduk di pinggir jalan. Dan Jinki kenal wajah lelaki itu!

“Ya, aku Kim Jonghyun. Yang kau katai ’kakek sihir jahat yang iri padamu dan mengutukmu menjadi perempuan’.”

Kali ini Jinki beranjak dari duduknya, tanpa mengucapkan apa-apa, Jinki melangkah pergi meninggalkan sang wartawan. Jinki harus menemui orang itu. Orang yang tiba-tiba terbesit di ingatannya.

Orang bernama Kim Jonghyun.

Yang ia tahu orang itu adalah dukun yang sudah memberikannya ramuan untuk menjadi perempuan. Yah, Jinki mengingat itu sekarang. Dia mengingat semuanya.

 

—- To Be Continued—-

I Need a Kiss Season I (Sequel )
|| Teaser | Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7 | Part 8 | Part 9 | Part 10 | Part 11 [END] ||

I Need a Kiss Season II (Sequel )
( Part 1 | Part 2 [END] )

 

Buat yg udah baca tinggalkan jejak ya, mau itu komen/kasih (rating / bintang di bawah) atau like
Loph you~ hehehe

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

157 thoughts on “Fanfiction SHINee // I Need a Kiss Season II [Part 1]

  1. Yaampun, ceritanya tak terduga:o
    Jangan jangan si jonghyun itu adalah kakeknya si jinki…

    Huaaa semakin penasaran>.< Aku boleh minta pw nya ga? Ehehehe

    Suka

  2. suka deh sama ni ff…kereeeennn abbbiiissss… !!!!!!

    Suka

  3. Hai Rara, aku Darnah salam kenal yah.
    Aku suka, aku suka. ff I Need A Kiss ini keren banget.
    aku baru nemu ff ini n langsung jatuh cinta, kheheheh. mau lanjut baca part 2nya tapi protek. aku mau dong Ra pwnya

    Suka

  4. wuaah kereen.
    pertama baca ini udah kagum. Kok bisa bikin cerita secermelang itu 😀
    boleh minta pw yang part 2 nya?

    Suka

  5. wuaah daebak.
    Pertama baca ff ini udah terkagum kagum.Kok bisa bikin ide secermelang itu 😀😀 Dan ini gimana akhirnya: 3
    Boleh minta pw nya?

    Suka

  6. Hiiihh greget sama episod yg ini -_-
    Ayo dong jinki sadaar. Btw ff nya bagus🙂

    Suka

  7. hehhee… jinki itu bukan mimpi tau, yg km jd cewe trs menstruasi itu nyata.
    gweboon ama bapaknya si kibum sma2 kocak.
    eh, itu berarti jonghyun itu kakeknya jinki dong yaaa…

    Suka

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s