Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

Fanfiction SHINee // I Need a Kiss Season II – Part 2 [FINAL]

136 Komentar

I Need a Kiss Cover Fanfiction2

I Need a Kiss Season I

|| Teaser | Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7 | Part 8 | Part 9 | Part 10 | Part 11 [END] ||

I Need a Kiss Season II

( Part 1 | Part 2 [END] )

A/: Ini bukan FF Onkey ya teman-teman, aku gga pernah bilang Gweboon disini (Kibum versi cewek), kan Kibumnya sendiri jadi ayahnya Gweboon disini. Tapi kalau kalian masih ngotot berimajinasi Gweboon disini Kibum versi cewek, ya terserah aja deh. : D
yang jelas bagi aku, ini bukan FF switch gender!!

-Warning: Alur maju mundur-
~Panjangnya kebangetan, jadi buat yang gga mau kecewa, gga usah dibaca ya~

  • Title : I Need a Kiss Season II – PART 2 FINAL
  • Author : Rasyifa || https://rarastory.wordpress.com
  • Genre : FREAK….Romance, Fantasy, Little bit of Comedy—maybe–.
  • Main Cast :
    – [YOU] Kim Gweeboon
    – Onew  SHINee – Lee  Jinki
    – Minho SHINee – Choi Minho
  • Other Cast :
    – Find by your self
  • Length : Chaptered
  • Rating : 17 !!!!! muehehehe 😀

 

______

“Apa kau gila Eunsook? Menikah dengan Si’ Hyuk Jae itu!?”

Eunsook terdiam tidak berani menatap ayahnya yang tengah marah. Sementara Kim Jonghyun menghela nafasnya berat. Dosa apa yang ia buat hingga anak gadisnya yang manis harus menikah dengan lelaki tua yang bahkan hampir seumuran dengan dirinya.

“Dia bahkan hanya lebih muda empat tahun dari ayah. Dan kau ingin menikah dengannya? Kau ingin mendorong ayahmu ini sendiri ke dalam kubur ya, Eunsook!?”

Dada gadis itu terasa berat, air mata mulai berkumpul di bola matanya, membuatnya tidak bisa melihat wajah ayahnya dengan jelas.

Eunsook tahu, apa yang ada di pikiran ayahnya.

Eunsook paham, kenapa ayahnya itu marah.

Yang Eunsook tidak tahu adalah perasaannya sendiri, yang gadis itu tidak pahami adalah hatinya sendiri. Kenapa gadis berusia dua puluh tahun sepertinya bisa jatuh hati pada pria berumur empat puluh tahun yang sama sekali tidak menarik, baik fisik maupun mentalnya.

Eunsook terisak, dan Kim Jonghyun melihatnya.

Sebagai seorang ayah, dia tidak bisa membiarkan masa depan putrinya hancur hanya gara-gara menikahi pria bernama Lee Hyuk Jae itu.

“Ayah memiliki proyek drama untuk satu tahun ke depan. Rencananya dua puluh episode awal drama itu, settingnya akan di ambil di luar negeri. Ikutlah bersama ayah, Eunsook. Kita pergi ke luar negeri, Ayah akan membantumu melupakan pria itu. Selama kita di luar negeri, ayah akan mengenalkanmu dengan banyak pria, kau bahkan bisa mengencani para bule untuk memperbaiki keturunan. Ayah yakin apa yang kau rasakan terhadap Lee Hyuk Jae hanya perasaan kagum saja.”

Meskipun hatinya menolak untuk mendengarkan perkataan ayahnya barusan, akan tetapi telinga Eunsook masih bisa merespon dengan baik.

Gadis itu memasang senyum tipis, menyeka lelehan air mata yang sempat jatuh mengenai pipinya, “Memangnya ke luar negeri mana yang ayah maksud?”

Kim Jonghyun tersenyum, “Afrika,” ujarnya menampakkan senyum tiga jari yang manis.

Ok!

.

.

Baiklah!

.

.

Fine!

.

.

Singkat cerita, di hari dimana seharusnya Eunsook dan Kim Jonghyun berangkat menuju Afrika, gadis itu justru kabur tepat disaat kaki kanannya hendak memasuki pesawat dan pada akhirnya gadis itu memilih untuk menikah dengan Lee Hyuk Jae.

Tidak ada gaun pesta cantik seperti milik Gweboon di pernikahannya.

Tidak ada ayah yang memeluk dan mengantarnya menuju altar.

Eunsook hanya berjalan seorang diri, mendekat pada pria idaman yang sejak tadi tersenyum penuh cinta ke arahnya.

“Aku kabur dari ayahku. Sekarang kau harus bertanggung jawab untuk hidupku, bapak tua..” ucap Eunsook dengan wajah memelas meminta iba.

Pria dewasa di depannya hanya tertawa kecil, dan kemudian memeluk tubuh seksi Eunsook dengan erat, “Selama kau tidak menyesal menikahiku, Aku akan melakukan yang terbaik. Aku janji aku bahkan mau jadi tamengmu, aku akan jadi perisai anti peluru jika ada yang berani menembakmu atau anak kita nanti.”

Saat itu, ucapan pria bernama Hyuk Jae itu tentu terdengar seperti lelucon yang tidak lucu, yang bahkan membuat semburat merah muncul di pipi Eunsook.

Tapi saat ini. Jika Eunsook mengingat ucapan itu lagi…..

Sesuatu di dalam dadanya bergetar, kedua lututnya lemas, air matanya menumpuk di bola matanya.

Kenangan yang perih!

“Lee Hyuk Jae,” Eunsook menggumam sambil mengelus permukaan foto suaminya dan air mata itu jatuh menetes begitu saja.

Hingga seorang pelayan tiba-tiba menghampirinya dengan buru-buru, “Nyonya besar. Tuan muda Lee Jinki mengalami kecelakaan di kantor, sekarang dia ada di rumah sakit.”

Jantung Eunsook masih belum siap untuk menerima fakta yang baru saja ia dengar, terlebih karena beberapa saat lalu wanita itu tengah meneteskan air mata karena kenangan yang perih.

Tapi tetap saja, wanita itu memilih untuk berlari, meninggalkan sebuah foto tergeletak begitu saja di atas tempat tidurnya.

Yang ada di pikirannya hanya Lee Jinki.

Buah hati kesayangannya, yang diberikan Lee Hyuk Jae padanya.

……….

“Ayah, dokter bilang seminggu lagi mungkin aku akan melahirkan. Meskipun ini masih perkiraan dokter tapi aku benar-benar yakin akan melahirkan dalam waktu dekat. Aku tahu mungkin ayah tidak peduli sedikitpun, tapi apakah ayah tidak ingin melihat wajah cucu ayah?

…emmm Aku pikir aku lebih baik menjadi anak yang tidak tahu diri saja sekarang, Meskpun telah membuat ayah marah, aku punya permintaan untuk ayah… aku ingin ayah ada di sisiku saat aku melahirkan nanti. Karena ayah satu-satunya keluarga yang kami miliki. Ayah tahukan kedua orang tua Lee Hyuk Jae sudah lama meninggal, dan aku hanya punya ayah.

Ayah tahu, fakta bahwa ibuku meninggal saat melahirkanku, benar-benar membuatku takut sekali. Ayah… apa ayah tida bisa datang menjengukku?”

Kim Jonghyun melupakan rasa letihnya sehabis bekerja, saat mendengar suara rekaman telfon yang menyala.

Kim Jonghyun bahkan tidak tahu kalau Eunsook sedang hamil, dan sekarang apa? Tiba-tiba dia mendengar kalau Anaknya itu akan melahirkan?

Bodoh sekali!

Konyol!

Sialan!

Siapa yang menghamilinya?

Lee Hyuk Jae itu!?

Dasar bedebah gila!

Sudah satu tahun komunikasi Kim Jonghyun dan Eunsook terputus dan inilah ternyata efek samping yang harus di deritanya. Kim Jonghyun jadi tidak tahu apa-apa tentang anak gadisnya sendiri, yang pria itu tahu selama ini hanyalah bekerja-bekerja-dan-bekerja.

Membuat drama spektakuler yang bagus, agar menjadi sutradara drama terkenal.

Tidak pernah terlintas sedikitpun untuk menjadi kakek yang baik di pikirannya, di usianya yang masih cukup muda ini.

Kim Jonghyun memijit-mijit pelipisnya sejenak, “Baekhyun, persiapkan tiket kepulanganku ke Korea!” ucapnya pada seorang pemuda yang tengah sibuk dengan kamera di tangan.

Pemuda itu mengangguk patuh sambil mengacungkan jari berisyarat ‘oke’, tanpa mengalihkan kefokusannya pada kamera di tangannya.

.

.

Cerita kembali disingkat..

.

Hari itu Kim Jonghyun merasa benar-benar bersemangat, di dalam pesawat dia terus tersenyum, membayangkan sebuah wajah mungil yang nantinya akan dipanggilnya ‘cucu’ dan sebaliknya, ‘cucu’nya itu akan memanggilnya dengan panggilan ‘kakek’.

Kim Jonghyun juga penasaran, bagaimana perpaduan wajah si cantik Eunsook dengan bedebah gila, ‘Hyuk jae’ itu!?

Ah…pasti aneh kalau mirip Hyuk Jae. Ya kan?

Duh…Tuhan, semoga saja wajah cucunya itu mirip dengan dirinya, dengan begitu wajah cucunya pasti akan sempurna. Tapi tunggu, Kim Jonghyun tidak tahu cucunya itu laki-laki atau perempuan.

Masa bodoh!

Mau itu perempuan atau laki-laki tidak masalah sama sekali untuknya. Bahkan jika cucunya laki-laki dan bisa berubah jadi perempuan, Kim Jonghyun akan tetap sayang pada cucunya itu.

Kim Jonghyun hanya berharap, cucunya kelak akan lebih mengerti tentang ‘hati’, tidak seperti dirinya yang bahkan buta dan tuli dalam masalah ini. Bahkan Kim Jonghyun mengambil peran sebagai tokoh antagonis, dengan berusaha memisahkan Eunsook dengan Hyuk Jae. Padahal mereka berdua saling mencintai.

Kim Jonghyun menyadari itu sekarang.

……….

Eunsook tidak tahu harus menangis atau justru tertawa. Di tangannya ada sosok bayi mungil yang menggeliat dengan wajah lucu, sementara di depannya justru ada sebuah peti kayu yang kaku.

“Wajahnya sudah tidak dapat dikenali karena ledakan pesawat yang terjadi. Tapi kami sudah melakukan tes visum dan pengecekan DNA. Hasilnya 99% cocok dengan Tuan Kim Jonghyun.”

Eunsook tidak dapat merasakan kedua kakinya lagi, hampir jatuh jika suaminya tidak menahan tubuhnya.

Eunsook bahkan lupa cara bernafas, tubuhnya bergetar hebat.

Orang tua tunggal yang selama dua puluh tahun membesarkannya seorang diri kini bersembunyi di dalam peti di depannya, dan ketika peti itu terbuka…

Eunsook tidak bisa menahan jeritannya…

‘Ayah…’

‘Ayah..’

Berharap jasad menyerupai debu itu bisa kembali ke wujudnya semula. Berharap ini hanya salah satu skenario jebakan yang ayahnya buat untuk mengerjainya.

‘Ayah… Bangun!

Jangan tinggalkan Eunsook.

Ayah…Bangun!

Eunsook minta maaf, Eunsook anak yang jahat…

Ayah…Bangun!

Ayah, kau bahkan belum melihat cucumu..

Cucumu seorang anak laki-laki..

Namanya, Lee Jinki.’

.

.

Hari itu…Eunsook mengeratkan dekapannya pada tubuh mungil bayinya. Hatinya mencolos, andai saja…dia tidak meminta ayahnya untuk pulang waktu itu.

Mungkin ini tidak akan berakhir menyedihkan seperti ini kan?

I Need a Kiss Season II

Gweboon berjalan dengan sesekali menendang-nendang kerikil yang dijumpainya, wajahnya tertekuk memandang tanah becek karena hujan beberapa saat lalu.

Sehabis pergi ke tempat Kim Jonghyun, Gweboon jadi tahu beberapa hal,

Kim Jonghyun adalah Kakek Jinki.

Ayah dari Eunsook Eomma.

Mertua dari Lee Hyuk Jae, ayah Jinki.

Pria yang menentang hubungan kedua orang tua Jinki.

Seorang kakek yang meninggal di hari cucunya dilahirkan.

Dreeet…Dreeet..

Dreeet…Dreeet..

Dreeet…Dreeet..

Sudah hampir getaran ketujuh, tapi Gweboon masih mengabaikan handphonenya yang terus begetar di dalam tasnya itu. Gadis anak Kim Kibum tersebut justru sibuk dengan pikirannya sendiri.

Dreeet…Dreeet..

Baiklah, gadis itu menyerah.

Handphone yang terus bergetar cukup mengganggu, maka ia putuskan untuk mengangkat telpon sialan itu, “Hallo?”

“Hem…ya ini Saya Gweboon.”

“APA KAU BILANG? DI RUMAH SAKIT MANA DIA SEKARANG?”

Dan tiba-tiba saja Gweboon berlari seperti kesetanan.

* * *

Kedua kaki Jinki diperban habis-habisan, bahkan salah satu kakinya diberikan gips dan digantung disebuah tiang yang Jinki tidak tahu namanya apa. Jinki benar-benar beruntung masih hidup setelah berguling-guling di tangga darurat kantornya.

Dokter dan para perawat mungkin menganggap Jinki melawak saat Jinki mengatakan alasan kenapa dia bisa jatuh dari tangga lantai satu kantornya.

“Aku lupa cara menuruni tangga,” ujar Jinki dengan wajah polos yang membuat dokter Park Hoon memasang wajah kesal.

Baiklah alasan itu tidak lucu lagi jika dokter itu telah mendengarnya lebih dari lima kali keluar dari mulut Jinki. Duh..Tuhan, tidak bisakah Jinki lebih serius? Jinki bukan satu-satunya pasien yang harus ia urus hari ini, belum lagi malam ini dia ada kencan dengan dokter cantik, Han Sung Hee.

“Baiklah anggap saja anda benar-benar lupa cara menuruni tangga. Kalau begitu saya permisi dulu,” dokter dan beberapa perawat itu meninggalkan Jinki. Sudah tidak peduli lagi kronologis kenapa Jinki bisa terjatuh.

Anggap saja Jinki benar-benar lupa cara menuruni anak tangga. Dan sebenarnya memang itulah kenyataanya.

Jinki lupa cara menuruni anak tangga!

Lengkapnya begini…

Jinki yang telah mengingat semua tentang Kim Jonghyun (kakeknya itu) buru-buru pergi dari sesi wawancaranya dengan salah satu majalah, dengan niat menemui Kim Jonghyun untuk mendapatkan penjelasan, akan tetapi lift yang akan digunakan Jinki tidak kunjung terbuka, karena merasa sedang dalam kondisi darurat dan tidak sabar menunggu, Jinki pun memutuskan untuk menggunakan tangga darurat, lagi pula ia hanya perlu turun satu lantai, dari lantai dua ke lantai satu.

Langkah Jinki teburu-buru, membuat dia sendiri bahkan tidak bisa mengendalikan kedua kakinya.

Seperti tidak pernah menuruni anak tangga, Jinki tidak bisa fokus.

Kakinya bahkan melangkahi dua anak tangga sekaligus.

Namun hebat, dia masih selamat.

Merasa hebat, dilangkah berikutnya Jinki justru melangkahi tiga anak tangga sekaligus.

Sedikit terjungkal, tapi karena Jinki cerdas dia bisa mengatasinya.

Karena terus selamat, Jinki serakah ingin mencoba empat anak tangga sekaligus.

Dan yang terjadi….

Jinki bukan superman kan, dia juga tidak bisa terbang. Tapi dia mungkin bisa berguling, dan itulah kenapa akhirnya ia berguling-guling menuruni anak tangga selanjutnya dan berakhir di rumah sakit.

* * *

Jinki terus menatap ke arah pintu kamar inapnya.

Kenapa belum datang sih!

Kenapa tidak ada yang datang?

Apa tidak ada yang peduli dengan Jinki?

Bahkan Eunsook juga tidak peduli, begitu?

Baik…Jinki mati saja sekarang! Itu lebih baik daripada dia hidup, tapi tidak ada yang peduli dengannya!

Treaak

”Jinki~ssi?”

Jinki tersenyum saat mendengar suara lembut memanggil namanya. Akhirnya Tuhan., ada juga yang datang. Jinki segera menutup kedua matanya dan memulai aksinya.

”Apa yang terjadi pada kaki-mu, kenapa diperban begini bapak tua?”

Jinki tersenyum kecil, menyadari siapa yang datang menjenguknya sekarang. Jinki membuka kedua matanya pelan, ”K—-Kau siapa?”

Gweboon bingung saat mendengar Jinki bertanya seperti itu barusan, ”Kau tidak mengingatku?” tanya Gweboon akhirnya.

Jinki mengerutkan keningnya sejenak terlihat berpikir, ”Ah…Kau gadis dukun itukan!? Untuk apa kemari?”

Kali ini maksudnya apalagi coba?

Gweboon benar-benar bingung, dia bisa datang kemari tentu saja karena dihubungi oleh pihak rumah sakit dan sekarang kenapa Jinki bertanya seperti itu.

”Bukannya kau yang memintaku kemari? Pihak rumah sakit yang mengatakannya. Mereka bilang kau ingin menemuiku.”

Jinki menggeleng-geleng tidak terima, ”Aku memintamu? Tidak….aku tidak pernah melakukannya. Lagipula memangnya kau ini siapa? Kenapa aku harus memintamu kemari?”

Gweboon memandang Jinki penuh selidik. Sebenarnya Jinki sudah ingat atau belum sih? Kenapa tingkahnya aneh begitu.

”Aku jelas-jelas mendengarnya. Mereka bilang kau ingin bertemu istrimu.”

”Istriku?”

Gweboon menganggguk sambil menunjuk dirinya.

”Kau istriku? Yang benar saja, sejak kapan kita berdua menikah. Lagipula seingatku aku memberitahukan mereka untuk menelpon ’mantan istriku’ bukan ’istriku’.” ujar Jinki dengan nada yang terdengar menyebalkan.

Tapi tunggu, apa tadi itu?

Apa yang barusan Jinki ucapkan?

Mantan istri?

Gweboon memicingkan matanya, semakin curiga. Jinki yang tidak suka kalah dari Gweboon pun ikut membalas dengan memicingkan matanya, hanya beberapa detik hingga Jinki menyadari apa yang baru saja ia ucapkan beberapa saat lalu.

Sial!

Kenapa sulit sekali untuk berpura-pura!

”Ugh…perutku keram! Suster….suster…dokter…dokter…aku sekarat!” seru Jinki tiba-tiba sambil memegangi perutnya.

Cih, Gweboon hanya dapat menggelengkan kepala tak percaya menontonnya.

Apa kau sedang mencoba mengalihkan perhatian, LEE JINKI-ssi?

* * *

Gweboon terduduk di sofa sementara Jinki berbaring di atas ranjang, sedang enjoy dengan seorang suster cantik tengah menyuapinya makanan.

Gweboon juga tidak tahu kenapa ia masih bertahan untuk duduk disana, sementara dia sendiri justru semakin merasa gerah dengan pemandangan yang semenjak beberapa saat lalu terbentang di depan matanya.

Dasar bapak tua menyebalkan!

Bisa-bisanya memperdaya Gweboon seperti ini.

”Maaf ya suster, aku jadi merepotkanmu begini. Maklum aku di sini SEBATANG KARA, tidak ada yang sudi menyuapiku makan meskipun tanganku terkilir begini…kasihan sekali ya aku? Hikss…”

Suster itu hanya tersenyum aneh ke arah Jinki, dan sedikit melirik pada Gweboon yang tengah duduk di sofa ruang inap VVIP tersebut.

”Suster?”

”Ya, Tuan Lee Jinki?”

”Apa kau punya saran agar aku cepat sembuh? Aku tidak suka berlama-lama dengan keadaan seperti ini. Aku jadi tidak bisa kerja.”

”Emm…dokter Park Hoon bilang, cidera yang anda alami tidak terlalu parah. Saya yakin jika anda memiliki istirahat yang cukup dan pola makan yang terjaga…anda akan pulih dan sehat kembali dalam waktu dekat. Dengan begitu anda bisa kembali ke rutinitas anda, seperti biasanya.”

Jinki mengangguk-angguk, terlihat mendengarkan dengan baik apa yang suster itu bicarakan, meski sebenarnya otak Jinki justru terfokus pada Gweboon yang semakin terlihat bosan duduk di sofa.

Jinki tersenyum kecil, ”Pola makan yang terjaga? Apa maksud suster aku harus memakan makanan yang tidak tidur? Ahahaha….”

Jinki tertawa dengan leluconnya sendiri, sementara Suster dan Gweboon sama-sama memberikan ekspressi aneh.

Sungguh itu lelucon terburuk yang pernah mereka dengar seumur hidup mereka.

* * *

”Apa kau tidak menghubungi Eunsook eomma? Aku pikir aku harus pergi sekarang. Jika aku pergi kau akan kesepian,” Gweboon membenahi diri. Sudah dua jam dia menghabiskan waktunya dengan kegiatan tidak berarti (menunggui Jinki di ruangan itu tanpa melakukan apa-apa) yang bahkan justru membuatnya gerah.

Sekitar dua puluh menit yang lalu suster yang menyuapi Jinki makan akhirnya keluar dari ruangan itu menyisakan Jinki dan Gweboon yang sama-sama saling terdiam di tempat.

Daripada semakin canggung, lebih baik Gweboon pulang saja.

Dan sekarang waktu yang tepat untuk Gweboon pulang, sebelum Kibum menghukum Gweboon nantinya karena pulang terlalu larut.

”Wah…kau benar-benar gadis dukun! Kau bahkan tahu nama ibuku.” ucap Jinki terkagum-kagum.

Hah…

Gweboon tidak menggubris ucapan Jinki barusan, terlalu malas saja.

”Aku akan pulang,”

Jinki kira, Gweboon semula hanya bercanda mengatakan ’akan pulang’, tapi ketika gadis itu sudah berada di depan pintu dan akan menarik knopnya, Jinki tiba-tiba saja histeris, bangkit dari posisinya, melupakan tulang-tulangnya yang patah.

Dan sekarang tulang-tulang yang patah itu terasa remuk semua setelah Jinki berhasil berdebum ke lantai, jatuh dari ranjangnya.

”Jangan….jangan pergi Gweboon!” ujar Jinki sedih.

Yang membuat langkah Gweboon terhenti.

Baiklah dia tidak akan pergi, jika Jinki yang memintanya.

*

*

*

”Kemarilah!”

Setelah mendiamkan Gweboon beberapa menit, akhirnya Jinki memanggilnya juga. Lelaki berkulit putih dan mata sipit itu tengah menepuk-nepuk tempat kosong di atas ranjangnya.

Gweboon menurut, duduk di tempat yang Jinki persilakan untuknya.

”Apa?”

”Emm—– bagaimana kabarmu Gweboon?”

Jinki sepertinya ahli dalam membuat suasana menjadi canggung. Ayolah, mereka sudah bersama sejak beberapa jam yang lalu, dan menanyakan kabar disaat seperti ini tentunya benar-benar keanehan.

”Aku baik, bagaimana dengan mu, -bapak tua?”

”Kau baik? Aku sebaliknya. Nasibku buruk sekali. Belakangan aku harus banting tulang karena ada proyek besar di perusahaan. Belum lagi jadwal kencan buta yang eomma buat untukku. Aku benar-benar sibuk dan nasibku bertambah buruk dengan mengalami patah tulang begini.” Jinki cemberut.

Gweboon tersenyum kecil.

”Iya, nasibmu buruk sekali. Keningmu bahkan sekarang benjol begini. Hihii…kau mirip ikan lohan bermata sipit,”

Jinki membulatkan matanya.

Apa itu?

Gweboon menghinanya? Ah…. apa maksudnya mengatai Jinki ikan lohan bermata sipit! Memangnya ada jenis ikan lohan yang begitu! Kalau ada pasti harganya sangat mahal ya?

”Hei Kau! Sini kau!!” Jinki menarik Gweboon dengan kekuatannya yang tersisa, Gweboon pun akhirnya jatuh terjelembab di atas dada bidang Jinki.

Sesuatu di dalam dada Gweboon menggebu-gebu, seluruh tubuhnya terasa panas, apalagi saat ia merasakan kedua tangan Jinki tengah memegangi pinggangnya dengan erat.

Duh…Tuhan, Gweboon bisa mati karena serangan jantung kalau begini caranya!

”Nyaman tidak disana, di dalam dekapanku? Rasanya pasti berbeda dari yang terakhir kali kan? Tidak ada dua benjolan lagi yang akan menganggumu,” ujar Jinki lembut dengan sebelah tangan yang akhirnya beralih dari pinggang menuju pucuk kepala Gweboon.

”Bapak tua….”

”Hemm?”

”Apa kau sudah mengingat semuanya?” Gweboon bertanya dengan susah payah.

”Aku hanya ingat kau mengataiku ’wanita tidak normal’, padahalkan aku ini pria. Seharusnya kau menggunakan ’pria tidak normal’.”

”Jadi kau belum mengiingat semuanya?”

”Hei! Apa itu penting sekarang?”

Gweboon tidak menyahut, membiarkan saja dirinya di dekap oleh Jinki semakin erat. Dengan posisi seperti itu Gweboon jadi dapat mendengar suara detak jantung Jinki. Dan gadis itu tersenyum, menyadari detak jantung Jinki yang juga berdetak sangat cepat, sama seperti milik Gweboon.

”Gwe~”

Oh…demi Tuhan, Gweboon sudah lama tidak mendengar seseorang memanggilnya begitu.

”Ya?”

”Ayo kita menikah. Sekarang.”

Jinki mengucapkannya dengan suara yang lantang, membuat Gweboon tak leluasa menahan dirinya.

Kenapa jadi panas begini ya?

Ah… apa-apaan ini?

”Hei, aku ini masih anak sekolahan. Masih banyak yang harus ku pikirkan untuk masa depanku,” Gweboon memberikan alasan.

Entahlah, Gweboon hanya ragu untuk menikah kembali dengan bapak tua bernama Lee Jinki itu. Kenapa ragu? Gweboon juga tidak tahu.

”Hei dengar ya, jika aku menikahimu kau tidak perlu berpikir untuk masa depanmu lagi. Karena dengan menikah denganku, aku yang akan menjadi masa depanmu, Gweboon.”

”…..”

Menyadari Gweboon yang tak menyahut, Jinki melepaskan dekapannya bahkan lelaki itu mendorong Gweboon menjauh, ”Kau menolakku ya?”

Gweboon diam.

Jinki menghela nafas kesal,

”Gweboon, aku ini sudah patah tulang, jangan buat aku patah hati juga.”

Gweboon masih diam.

”Gweboon…. Sebenarnya aku ini berarti tidak sih?”

”Bukan begitu bapak tua,” Gweboon akhirnya mencoba menjelaskan, tapi Jinki buru-buru membekap kedua kupingnya dengan tangannya.

Ya ampun LEE JINKI!

”Jika saja kau tahu bagaimana aku menginginkanmu saat ini, kau pasti tak akan mengatakan itu,” ucap Jinki setengah berseru.

Jinki kesal.

Kenapa Gweboon tidak mau diajak menikah!

Seperti yang lelaki itu bilang…

Sebenarnya LEE JINKI itu berarti tidak sih untuk Gweboon?

*

*

*

Gweboon menatap selfonnya sambil tersenyum tidak jelas, Kibum yang sedari tadi memperhatikan kelakuan Gweboon hanya dapat memberikan kerutan di keningnya.

”Belakangan selfonmu jadi benar-benar lucu ya, Gweboon?”

”Eoh?” Gadis itu menatap ayahnya sementara Kibum menunjuk-nunjuk selfon Gweboon dengan sumpit di tangannya.

Mereka sebenarnya tengah makan malah bersama, tapi sepertinya hanya Kibum yang makan karena sedari tadi Gweboon terlalu asyik dengan selfonnya.

”Kau terus tersenyum dan terkikik-kikik melihat selfonmu. Pasti karena selfonnya melucu.”

Gweboon memasang ekspresi aneh.

Ini kali kedua dia mendengar lelucon paling garing seumur hidupnya.

Dreeet

Tapi Gweboon tidak ingin mempemasalahkannya, dia lebih memilih untuk melihat selfonnya yang baru saja bergetar karena menerima sebuah pesan.

Pesan dari Lee Jinki!

Hore!!

Hore!!

Saatnya untuk membacanya, kira-kira isinya apa ya?

From: Bapak tua

’apa yang harus kulakukan kalau aku merindukanmu setiap hari, 24 jam terus menerus? Aku kangen sekali padamu, sampai rasanya ingin mati. Padahal kitakan baru saja bertemu. Apa yang harus aku lakukan? Gweboon, aku mencintaimu. Lee Jinki, si bapat tua ini mencintaimu.’

Aww…

Kau tahu..

Pipi Gweboon memanas, senyumnya melebar, jantungnya seperti mengadakan pesta kembang api, bahkan tanpa sadar Gweboon sudah berlarian ke arah Kibum, memeluk ayahnya dan bahkan menciumi pipi ayahnya.

Yeah, berbagi kebahagian.

”Ayah, aku boleh ya menikah?”

APA?

Kibum yang tidak tahu menahu kronologisnya tentu saja memasang wajah sangar. Kenapa bekangan Gweboon sering sekali bilang ingin menikah, apa jangan-jangan putrinya ini sudah di ’itu-itu’kan.

Siapa yang meng-itu’itukan Gweboon?

Apa Choi Minho?

Ambilkan Kibum pisau sekarang, akan ia kuliti anak Choi Siwon itu.

*

*

Sehabis pulang sekolah Gweboon pergi ke rumah sakit, untuk menjenguk Jinki. Tapi gadis anak Kim Kibum itu harus menelan rasa kecewanya, ketika Jinki yang ingin ia temui justru sedang tertidur lelap.

Gweboon tidak tega untuk membangunkan Jinki, dan memilih untuk duduk di kursi, di samping tempat tidur Jinki, menunggu si’bapak tua itu bangun sambil mengamati wajah Jinki yang sedang tertidur.

Gweboon tersenyum kecil saat melihat benjolan di kening Jinki, dan jantungnya berdegub-degub ketika melihat bibir Jinki.

Kiss?

Oh..Gweboon jadi ingat kejadian Jinki mencium paksa (?) Gweboon di sudut gang.

Waktu itu Jinki sangat marah, Gweboon bahkan bergidik ngeri jika teringat ekspressi wajah Jinki saat itu.

”Ah…sejak kapan kau disini?”

Jinki terbangun dari tidurnya, menatap heran ke arah Gweboon yang sekarang ada di sisinya. Gweboon tersenyum sambil membantu Jinki untuk duduk.

”Tidak terlalu lama.”

”Ouh..Aku ingin minum, bisa tolong ambilkan?”

Gweboon mengangguk, bangkit dari duduknya, berjalan menuju kulkas di sudut ruangan.

”Kau tahu tidak kalau dukun Kim Jonghyun itu ternyata kakek-ku,” ucap Jinki dari atas ranjangnya.

Gweboon hanya berhem mengiyakan, membuat Jinki memasang wajah bingung.

”Beberapa waktu lalu aku bertemu dengannya, dia menceritakan semuanya.” jawab Gweboon.

”Pada akhirnya dia juga menemuimu!?”

”Hemm…kalau kau sendiri, bagaimana kau bisa tahu!?” Gweboon menyerahkan segelas air putih pada Jinki, Jinki menerimanya dan meneguk seperempat isi gelas itu. Kemudian meletakkan gelas itu begitu saja di atas nakas di samping tempat tidurnya.

”Dulu saat kita berciuman di jalan, sebelum akhirnya aku pingsan (PART 11), aku melihatnya sedang melihat ke arah kita. Aku tidak yakin bagaimana, tapi aku dapat mendengar suaranya saat itu. Disaat itulah dia menceritakan semuanya!”

”Kau bisa mengingat bagian itu?”

”Beberapa hari yang lalu aku membaca sebuah email yang belum sempat aku baca. Pengirimnya bernama Kim Jonghyun, dan di email itu tertulis:

Cobalah mengingat kejadian di pinggir jalan, ciuman tulus dari sepasang lesbian, dan sebuah cerita yang terdengar dari suara seorang pria yang tidak dikenal.’

”Cih.. lesbian?” ucap Gweboon tak percaya saat mendengar isi email Jonghyun tersebut.

Jinki hanya tersenyum, kemudian menarik Gweboon mendekatinya, ”Kalau dipikir-pikir, kita tidak pernah berciuman dengan benar ya?”

Gweboon terhenyak, apa-apaan itu? Berciuman dengan benar? Memangnya ada!

”Ya, lepaskan aku LEE JINKI!”

Jinki hanya menyeringai dengan wajah yang semakin mendekati wajah Gweboon, membuat Gweboon tak leluasa di tempatnya.

Meskipun dalam kondisi kaki yang diperban habi-habisan, Jinki berhasil meraih Gweboon masuk ke dalam dekapannya, bahkan Gweboon kini sudah duduk di atas pangkuan Jinki. Untung yang patah bukan paha Jinki.

Jinki pun mencium gadis itu.

Dan bagi Jinki, kali ini ia harus melakukannya dengan benar.

CEKLEK!

”YA!” seru Jinki tak terima pada lampu yang tiba-tiba mati dan membuat semuanya menjadi gelap, kalau begini keadaannya, Jinki jadi tidak bisa mencium Gweboon dengan benar.

Aishh… Hei ini rumah sakit, dan Jinki ada di kelas VVIP. Mati lampu? Yang benar saja!

”Aku takut,” Gweboon akhirnya bersuara, posisinya masih duduk di atas pangkuan Jinki.

”Kau tidak perlu takut, kau kan bersama ku disini?” sahut Jinki sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Gweboon.

”Justru karena aku bersamamu aku jadi takut. Bagaimana kalau kau macam-macam!”

Jinki tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Apa-apaan itu! Memangnya Jinki mesum apa!

”Jinki…”

”Kau tidak perlu khawatir, Gweboon. Aku tidak akan melakukan apa-apa. Karena aku lebih suka melakukannya saat terang dan hujan.”

”Dasar cabul! Siapa yang membicarakan itu!”

Gweboon memukul pelan dada Jinki, sementara Jinki terikik-kikik geli.

Cabul?

Kok kedengarannya malah keren ya!? Ya ampun… yang patahkan hanya tulang Jinki, bukan otaknya kan.

”Jinki!” Gweboon memanggil Jinki lagi.

”Hemm?”

”Kenapa kau menyukaiku? Padahal ada banyak wanita lain di sekitarmu yang jauh lebih cantik dan lebih berkelas.”

”Lalu kenapa? Semua wanita itu bukan kau.”

Gweboon tidak bicara lagi setelah mendengar kalimat barusan, dia bahkan ikut melingkarkan tangannya pada tubuh Jinki (membalas pelukan) lalu menyenderkan kepalanya sendiri ke dada bidang lelaki itu, sambil tersenyum.

Jinki benar, dada yang tidak ada benjolan seperti sekarang jauh lebih nyaman.

CEKLEK

TREAK

Lampu menyala!

Seseorang masuk!

Orang itu tercengang dengan apa yang dia lihat, ”LEE JINKI! APA YANG KAU LAKUKAN!?” serunya yang membuat Jinki dengan posisinya yang masih memeluk Gweboon, terkaget-kaget tak karuan.

”EOMMA!”

”LEE JINKI!”

”EOMMA!”

”LEE JINKI!”

”Kim Gweboon,” Gweboon menyahut membuat dua pasang mata menatap ke arahnya.

”Ah…itu namaku eommonim, salam kenal. Senang bertermu denganmu!”

Hei, ini seperti sebuah dejavu yang tidak bermutu, sepertinya.

*

*

*

Gweboon-Jinki pun akhirnya menikah.

Meskipun mereka harus bersabar selama empat bulan lebih, karena harus menunggu kelulusan Gweboon dulu dan proyek di perusahaan Jinki.

Bagaimana bisa mereka menikah begitu saja?

Singkat saja ceritanya, Eunsook yang telah mengetahui Jinki telah meng’itu-itukan anak gadis orang, dengan tegas melaporkan anaknya sendiri ke petugas keamanan, dan yah… disana ada Kibum (ayah dari anak gadis yang di itu-itukan Jinki). Mereka berempat pun berbicara serius dan membuat kesepakatan akan menikahkan Gweboon dan Jinki.

Tentu saja kali ini tidak ada bagian kedua orang itu menolak. Gweboon yang semula ragu, bahkan kini menjadi sangat yakin untuk menikah dengan Jinki.

Pernikahan mereka kali ini pun berlangsung normal.

Tidak ada cerita cubit-cubit jari!

Tidak ada istilah menginjak-injak kaki!

Gweboon bahkan mengundang teman-temannya, dan juga Minho oppa-nya tentu saja.

Minho datang dengan menggandeng gadis yang ia akui sebagai pacar barunya, namanya Taeyeon (yah…teman kencan buta Jinki beberapa waktu lalu). Minho  bahkan dengan sangat gantle menyalami Gweboon dan Jinki di pelaminan.

Tidak ada acara memberikan obat pencahar di minuman mempelai.

Minho menerima kenyataan kalau Gweboon menikah, Minho tahu kalau memang sebaiknya ia menjadi kakak saja untuk Gweboon, tidak lebih.

”Selamat ya, adik ku sayang! Kau menikahi pria yang sangat kaya!”

Gweboon tersenyum pada Minho, yang membuat Jinki di sampingnya cemburu tak karuan.

Jinki tidak suka Gweboon tersenyum untuk orang lain!

Tunggu pembalasan Jinki nanti ya Gweboon!

Jinki tersenyum penuh aura setan.

*

*

*

Inilah bagian terbaik dari cerita yang berhubungan tentang pernikahan.

Jangan pura-pura tidak tahu.

Apalagi?

Malam pertama, tentu saja.

.

.

Di malam pertamanya sekarang.

Gweboon sedang berada di dalam kamar mandi, duduk termenung sambil mengigit jari. Oh sungguh sebenarnya dia sudah selesai mandi, tapi dia takut untuk keluar dari ruangan itu.

Bagaimana jika Jinki tiba-tiba menerkamnya?

”GWEBOON!” suara Jinki terdengar bersama ketukan pintu. Gweboon menjadi semakin tak karuan.

”Ya, Jinki yeobbo?”

Jinki yeobbo, itu panggilan yang Jinki minta pada Gweboon, jika Gweboon tidak mau memanggil dirinya dengan ’Jinki Oppa honey paling tampan sedunia’.

Bedabah gila! Panggilan macam apa yang sepanjang itu!

”Buka kan pintunya!”

Sial berani sekali lelaki itu, meminta pintunya dibuka.

”Aku kan sedang mandi!”

”Tapi aku mau ee, kau bisa terus mandi dan aku akan ee.”

Sudah gila ya? Kenapa bicaranya begitu. Gweboon mulai berpikir, bagaimana cara menghindari Jinki? Tapi tidak ada satu idepun terbesit di kepalanya.

Duh..duh..duh.

”Gweboon. Kita sudah jadi suami istri, kau tidak perlu malu-malu. Kau bisa bertelanjang di depanku tanpa malu lagi sekarang.”

Klek

Pintu terbuka..

Jinki nampak tersenyum melihat Gweboon keluar dari kamar mandi.

Gweboon yang baru selesai mandi dan rambutnya basah.

Ouwh…menggoda iman!

”Ee lah. Aku sudah selesai!” ucap Gweboon tanpa melihat ke arah Jinki.

Jinki tersenyum, dengan cuek mengikuti setiap langkah Gweboon. Membuat detak jantung Gweboon berdebar-debar tidak karuan.

Apa Jinki tidak jadi untuk ee?

”Sekarang terang karena tidak mati lampu, dan di luar hujan loh!” Jinki menoel Gweboon yang tengah duduk di tepi ranjang, sibuk menyisir rambut yang basah.

Gweboon meneguhkan dirinya untuk tidak terpengaruh. Jinki bilang diluar hujan? Tapi kok kamar ini terasa panas ya? Seharusnya dingin kan?

”Huft. Aku panas, aku kepanasan!” Gweboon sedikit melirik, memperhatikan apa yang tengah Jinki lakukan sekarang.

Ya ampun, bapak-bapak tua itu melepaskan kausnya. Dia telanjang dada sekarang. Kontan saja Gweboon ketakutan dan segera berbaring di ranjang, dengan posisi membelakangi Jinki.

Sementara Jinki hanya terkikik pelan, dan perlahan merangkak ke sisi Gweboon.

Dugh..dugh..dugh..dugh

Jantung Gweboon berpacu!

”Gweboon!”

”…….”

Jinki memposisikan dirinya untuk berbaring di sisi Gweboon, lalu dengan pelan lelaki itu mendekap Gweboon dengan erat.

Gweboon menggigit bagian bawah bibirnya, demi Tuhan, jantung Gweboon akan melompat jika begini caranya. Di lain sisi Jinki justru semakin tersenyum lebar, lelaki itu bahkan mengangkat rambut Gweboon yang setengah basah dan menciumi tengkuk gadis itu.

Gweboon tidak bisa diam lagi, dengan gemetar Gweboon menggenggam tangan Jinki, dan membiarkan Jinki menciumi lehernya dengan pelan.

Karena sedikit kesulitan dengan posisi yang sekarang, Jinki pun memutar tubuh Gweboon agar menghadapnya.

Jinki tersenyum sambil membelai lembut wajah Gweboon, ”Kau takut ya?”

Gweboon mengangguk pelan, Jinki kembali membelai rambut Gweboon dengan lembut, ”Jangan takut ya? Aku kan Jinki. Aku tidak akan menyakitimu!”

Sial sejak kapan Jinki jadi pervert seperti ini, dan sejak kapan Gweboon suka Jinki yang pervert!

Sementara Jinki masih melanjutkan permainannya, dengan pelan lelaki itu menciumi kening Gweboon, lalu turun ke hidung, ke pipi kanan-kiri, hingga bibir. Meskipun wajah Jinki penuh dengan aura setan, tapi Jinki tidak buru-buru, bahkan dengan lembut ia memberikan lumatan di bibir Gweboon.

Membuat gadis itu menegang!

Ya ampun, siapa yang mengajari Jinki berbuat seperti ini!

Jinki lalu lebih berani dengan membuka kancing piama milik Gweboon.

Kancing pertama terlepas.

Kancing kedua juga.

Kancing ketiga.

Kancing keempat.

Dan Kancing terakhir.

Sejenak Jinki menghentikan aksinya, tersenyum dalam pada Gweboon, hingga akhirnya Jinki melemparkan piama itu sembarangan.

”Aku akan pelan-pelan, Gweboon!” ucap Jinki yang kali ini berusaha melepaskan pakaian terakhir yang membalut tubuh Gweboon.

Gweboon hanya membeku, membiarkan Jinki kini menindih tubuhnya.

Malam ini…

Gweboon telah menyerahkan segalanya pada Jinki.

*

*

*

Keesokan paginya Gweboon memandangi dan membelai wajah Jinki yang masih tertidur di depannya.

Gweboon lalu mengecup pipi Jinki. Jinki terbangun karena mendapatkan perlakuan seperti itu dan langsung meminta Gweboon untuk mengecup bibirnya juga.

”Akan lebih bagus kalau itu bibir dan bukannya pipi,” Jinki menunjuk-nunjuk bibirnya sendiri.

Gweboon terkekeh tapi akhirnya menurut, untuk mengecup bibir Jinki.

CUP

Membuat Jinki senang dan akhirnya memeluk Gweboon erat.

”Sejak kapan kau bangun, Gweboon. Apa kau sangat merindukan wajahku?” ucap Jinki menggoda.

– -EPILOG- –

”Kita tidak berbulan madu?”

”Kemarin malam kan sudah.” ucap Jinki menggoda, yang membuat Gweboon menggerutu.

SIALAN!

”Maksudku kita tidak pergi honeymoon!?”

Jinki terkikik lalu berbalik menatap istrinya yang polos, ”Honeymoon itu bahasa inggrisnya bulan madu. Jadi tidak ada bedanya! Masa begitu saja kau tidak tahu.”

Sabar Gweboon, sabar…

”Maksudku apa kita tidak jalan-jalan, pergi ke suatu tempat dan menghabiskan waktu bersama?” tanya Gweboon yang membuat Jinki terdiam, seolah sedang berpikir.

”Itu buang-buang uang, sebaiknya tidak usah!” Jinki kembali sibuk dengan laptopnya, sementara Gweboon masih berbaring di samping Jinki —sibuk menonton televisi—.

Ya, baiklah…

Gweboon sepertinya lupa fakta itu.

Lee Jinki adalah lelaki yang super duper pelit.

”Kau ini sudah sipit, pelit, buncit lagi. Aku pikir kau itu six pack, ada sedikit bulu di dada dan tahi lalat. Tapi apa yang kemarin malam itu? Cih…perut ayahku bahkan jauh lebih seksy.”

Jinki mendengar semuanya dan dia tidak bisa untuk menyembunyikan kekesalannya.

”Ya, dulu aku six pack kok. Tapi karena terlalu sibuk bekerja six pack ku jadi hilang!”

Gweboon hanya tertawa.

Tidak percaya.

Bohong!

Itu pasti dusta!

”Kau tidak percaya ya? Baik, aku punya fotonya. Ini-inih!” Jinki menunjukan sebuah foto pada Gweboon di laptopnya, yang membuat mata Gweboon berbinar-binar.

Jinki abs

”Ini Taecyeon 2PM kan? Tampannya!”

”Hei…hei, jangan lihat yang kanan, lihat yang kiri! Lebih tampan kan?”

”Biasa saja tuh!…oh Tuhan, Taecyeon seksy sekali, semoga nanti anak ku seperti dia!”

Gweboon bahkan mengelus-elus permukan laptop Jinki, membuat Jinki kesal.

Kenapa bukan dia saja yang dielus sih!

”Ya…ya, kau? Kau ini terang-terangan sekali. Aku ini suamimu. Kalau punya anak, ya mesti mirip suamimu lah! Mirip ayahnya!”

Gweboon mendengus, ”Kakekmu bernama Kim Jonghyun rela jadi arwah gentayangan untuk membuatmu berubah menjadi lelaki yang lebih baik. Jadi kau harus lebih baik mulai sekarang, jangan lupakan perjuangan kakekmu, ayahmu, dan ibumu. Kita tidak tahukan kalau suatu saat kau bisa saja dikutuk lagi karena melakukan hal yang buruk!?”

”Memang aku melakukan hal buruk apa?”

”Perut mu buncit!”

”YA! KENAPA MENGUNGKIT ITU LAGI!” Jinki berseru, Gweboon yang malas meladeni hanya membiarkan seruan Jinki seperti angin lalu.

Jinki menghela nafasnya berat,”Oke..oke, aku akan lebih baik mulai sekarang. Aku akan diet dan six pack lagi. Tapi karena hari ini aku harus pergi bekerja, aku akan mandi dulu. Apa kau ingin mandi bersama ku?”

Gweboon membulatkan matanya, sejurus kemudian meraih remot televisi seolah akan melemparkanya pada Jinki, Jinki pun sudah bersiap dengan kedua tangan yang menyilang di depan wajahnya, takut remot itu benar-benar akan mengenainya.

Tapi siapa yang dapat menduga.

Gweboon justru mematikan televisi yang menyala dengan remot di tangannya.

Lalu dengan malu-malu ia berkata, ”Baiklah, ayo kita mandi bersama…. Jinki yeobbo!”

Jinki terkikik geli, menarik Gweboon ke dalam dekapannya. Jinki tahu  kenapa dia bisa jadi lelaki lagi, Jinki tahu apa yang Gweboon sudah lakukan untuknya. Dan untuk itu ia berterima kasih, ia berjanji tidak akan mengecawakan Gweboon. Lelaki itu pun mendekap gadis itu begitu erat.

Asyik sekali ya punya istri.

FIN

Akhir yang bahagia itu hanya ada dalam cerita fiksi. Berhentilah berkhayal dan bangunlah! Seseorang tengah menantimu di depan sana (Rasyifa)

Iklan

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

136 thoughts on “Fanfiction SHINee // I Need a Kiss Season II – Part 2 [FINAL]

  1. End dgn hppy ending.
    Dasar Jinki sih bpk tua yg aneh. Wkwkwk.
    D tunggu karya amazing lainnya Ra.

    Suka

  2. ahh ya ampun endingnya bagus bgt. suka bgt sama ff ini, seriusan ffnya bgs bgt. semua ada di ff ini. yeahh jinboon hidup dengan bahagia….

    Suka

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s