Rara Story

Mejor opción es ser tu mismo

A witch vs ten knight

Fanfiction // A Witch Vs Ten Knights Part 1

20 Komentar

A witch vs ten knightTitle: A Witch Vs Ten Knights

Author: Rasyifa on { https://rarastory.wordpress.com }

Genre: Drama, Romantic, Little bit of Comedy-maybe-, Little bit of Action -maybe-, mystery-maybe-, family.

Link: Teaser – Part 1

Main Cast:

You as Oh Gyeomi *21 y.o

Lee Jinki (Onew SHINee ) as Onew/Lee Jinki *24>>25 y.o

Chansung 2PM as Hwang Chansung *24>>25 y.o

Other Cast:

– Oh Ahra, Choi Woon ah, Choi Siwon, Lee Donghae, Choi Minho, Leeteuk, L (Myungsoo), Lee Taemin, Chanyeol, others find by your self -___- *

Summary:  Untuk mendapatkan kehidupan yang seperti semula Gyeomi harus menaklukan sepuluh pria, tak peduli kalau salah satu diantara sepuluh itu ada seorang anak di bawah umur!

(!) Seluruh cerita merupakan fiksi yang ditulis dengan kemampuan diksi dan humor yang rendah.
Di publish untuk memperbanyak archive.

Backsound:

Bae-bae by Big Bang

View by Shinee

~Happy reading~

– —

Written by Rasyifa (2015) | https://rarastory.wordpress.com

———————————————

Sebuah ruangan yang minim dengan pencahayaan, tidak banyak barang, hanya ada sebuah meja persegi panjang yang mendominiasi di tengah ruangan.

Seseorang berdiri di ujung meja, menatap satu persatu beberapa orang lain yang tengah duduk mengelilingi meja tersebut .

“Misi kali ini akan sangat berbeda dari misi-misi yang sebelumnya. Karena kali ini kita akan menggunakan pihak ketiga. Itu sebabnya kalian harus lebih berhati-hati dan jangan sampai ada kecerobohan.”

“YA, KOMANDAN!” orang-orang itu berseru patuh.

“Di hadapan kalian ada sebuah amplop cokelat. Di dalam amplop itu ada Informasi mengenai pihak ketiga yang akan terlibat dengan kita, di dalamnya juga ada skenario yang sudah disiapkan untuk mendekati target. Apa kalian sudah siap?”

“YA, KOMANDAN!”

“Ingat, pihak ketiga hanya kita jadikan umpan untuk mendapatkan target. Jadi perlakukan dia dengan baik, jangan membuatnya terluka, jangan membuat keselamatannya terancam. Ini perintah!”

“YA, KOMANDAN!”

“Kalau begitu, kalian bisa memulainya.”

Orang-orang yang mengelilingi meja mulai bangkit dari duduknya, membungkuk sekilas memberikan tanda hormat.

“Apa orang itu tahu?” ucap seorang lelaki yang duduk di sudut ruangan, membuat beberapa pasang mata tiba-tiba menatapnya.

“Agen 0633, apa maksudmu?”

“Kita melakukannya secara diam-diam kan. Bagaimana mungkin kita melibatkan orang lain dalam misi kita, bagaimana jika akhirnya orang itu justru berada dalam bahaya. ‘Jangan membuat keselamatannya terancam tapi kita justru menjadikannya umpan’, apa kau sedang melucu? Maksudku… JIKA AKHIRNYA DIA TERLUKA, BAGAIMANA KAU AKAN BERTANGGUNG JAWAB!”

Pekikan lelaki itu membuat yang lainnya terlihat kaget. Bagaimana bisa lelaki itu seberani ini sekarang?

Tapi tak berselang lama seorang lelaki lain nampak menghampiri lelaki itu, menepuk pundaknya dengan pelan, dan berucap santai, “Karena itulah ‘dia’ bilang kita harus berhati-hati, chingu!”

Karena cahaya yang redup, wajah itu tidak terlihat dengan jelas. Tapi lelaki itu memiliki senyum sinis yang cukup manis.

—– A witch vs 10 knights—–

PART 1

-Lelaki tampan dan mie kacang hitam-

.

.

.

.

.

Gyeomi tertawa melihat wajahnya di cermin, “Duh…cantiknya diriku!”

Masih sambil tertawa gadis itu mengambil lipstick dengan warna dark red, mengoleskan ke bibirnya dengan sangat tebal.

Dan tiba-tiba….

Tes

 

Tes

 

Air matanya berjatuhan.

“Hueeeeee…aku? Kenapa Tuhan menciptakan ku begitu cantik! Seperti ini…..”

Gadis itu justru menangis dengan riasan bibir merah yang super menyala, meraung-raung di depan cermin lalu kemudian tertawa dan menciumi cermin di depannya penuh hasrat.

Membuat bekas bibir-nya memenuhi cermin riasnya.

💋

💋

💋

“Dia sudah gila?” seorang anak kecil memperhatikan Gyeomi dari balik pintu kamarnya, meneguk sekilas segelas susu yang ia pegangi lalu mengangguk, “Dia sudah gila.”

Kali ini pelafalannya sedikit berbeda, bahkan tidak ada tanda tanya disana.

“YA! HWANG CHANSUNG, KAU PIKIR…..KAU ITU TAMPAN? YAH…KAU BENAR KAU ITU TAMPAN. KAU PIKIR KAU ITU PINTAR? YAH….KAU MEMANG PINTAR, KAU SELALU RANGKING SATU SAAT DI SEKOLAH DULU. LALU….LALU APA KAU PIKIR KAU ITU SEMPURNA?………YAAAAAA, KAU SANGAT SEMPURNA, ITU SEBABNYA AKU MENYUKAIMU, HUEEEE.”

Menangis lagi, dan anak kecil yang berdiri di balik pintu hanya dapat menggeleng tak percaya.

“Aku tahu ahjumma sedang sakit hati karena cinta ahjumma ditolak, tapi jangan libatkan perutku dalam masalah ini. Ahjumma… ku mohon setidaknya pesankan aku mie kacang hitam untuk makan malam.”

Meskipun hatinya sedang tak karuan tapi Gyeomi masih bisa mendengarkan ucapan keponakannya barusan dengan baik, dia terdiam beberapa saat lalu tiba-tiba bangkit, “Woon-ah? Mie kacang hitam? Itu kesukaan Chansung Oppa. Oke, baik… ayo kita beli!”

“Kenapa tidak pesan lewat telepon saja!?”

“Ada ongkos antarnya, nanti tambah mahal.”

“Benar juga. Ahjumma sekarang jatuh miskin kan!”

“YAA!”

“Ah…maksudku, kita yang sekarang jatuh miskin.”

Gyeomi tersenyum sambil mengacungkan kedua jempol tanganya. Pertanda dia setuju dengan apa yang barusan anak tujuh tahun lebih lima bulan itu katakan.

– – –

Kali ini Gyeomi membulatkan kedua matanya lalu mengigiti jemarinya.

Bagaimana ini?

Bagaimana ini?

Pandangannya lalu teralih pada lima mangkuk kosong bekas mie kacang hitam yang sudah dihabiskan, oh dan satu mangkuk lagi yang baru saja bersih karena ulah keponakannya.

Sekarang ada enam mangkuk besar tergeletak berantakan di atas meja—di depannya.

“Woon-ah? Sudah noona bilang, mie itu tidak bagus dikonsumsi berlebihan. Kau tahu, kalau terlalu banyak memakan mie, ususmu nanti keriting!”

Anak kecil di depan Gyeomi hanya bisa memberikan tatapan tak percaya. Punya hak apa wanita itu bicara seperti itu padanya?

Ahjumma, aku hanya memakan 1 mangkuk. Lima mangkuk yang ini adalah perbuatanmu.” Jawab anak kecil itu sambil menunjuk lima mangkuk mie kacang hitam yang sudah kosong melompong.

“Benarkah?”

“Beberapa menit lalu, kau bilang kau tidak akan memakan mie kacang hitam lagi seumur hidupmu, agar bisa melupkan si Hwang itu. Jadi kau akan memuaskan dirimu dengan mangkuk-mangkuk mie kacang hitam malam ini. Karena ini kesempatan terakhirmu.”

“Aku bilang begitu?”

“Kau menghabiskan lima mangkuk dengan ganasnya. Kau seperti orang yang kesurupan.”

“Apa itu benar?”

“Ya kau bahkan….. memakannya sambil menjerit-jerit. Kenapa kau bisa mempermalukan dirimu serendah itu di depan umum!?

“Entahlah, aku tidak yakin. Apa kau yakin?”

“Aku sangat, Tunggu———Ahjumma!” anak kecil itu memikik, seperti menyadari apa yang sedang terjadi sekarang.

“Ya, Woon sayang?”

“Berhentilah mengulur waktu dan cepat bayar tagihannya!”

Gyeomi tercekat. Membayar?

Itulah masalahnya.

Dia tidak memiliki uang sepeserpun. Uangnya ketinggalan, handphonenya juga. Dia bingung bagaimana cara membayar enam mangkuk mie kacang hitam yang sudah bersih tanpa memiliki uang dan handphone, apa boleh Gyeomi membayar dengan kecantikannya? Oh ya jika begitu pasti dia tidak akan dapat kembaliannya., kecantikan Gyeomi kan tidak ternilai, enam mangkuk mie kacang hitam sama sekali tidak sepadan. Yah, meskipun itu hanya menurut dirinya sendiri.

Gyeomi menghela nafas sejenak, mencoba memutar otak dan tiba-tiba matanya terfokus pada sesosok lelaki yang baru saja selesai menghabiskan mangkuk mie kacang hitamnya, lelaki yang duduk bersebelahan dengan meja Gyeomi itupun terlihat akan beranjak, mungkin akan ke kasir untuk membayar tagihan. Tapi tiba-tiba Gyeomi menahannya.

Ditahan oleh gadis yang tidak dikenalnya tentu membuat lelaki itu memberikan tatapan heran sekaligus terkejut. Ada apa dengan wanita di depannya ini?

Gyeomi tidak peduli, lagipula dia sama sekali tidak mengenal orang ini. Ini adalah pertama kalinya dia bertemu dan ini juga akan jadi yang terakhir kalinya karena mereka berdua sama sekali tidak saling kenal. Mungkin ini akan sedikit memalukan, tapi ini satu-satunya jalan yang bisa ia pikirkan.

“Kau sangat tampan. Kau terlihat seperti hallyu star Song Joongki. Apa kau ini kembarannya?” Gyeomi akhirnya mengeluarkan suaranya, membuat lelaki di depannya bertambah heran.

“Baik, kita langsung saja. Pria tampan tidak ada gunanya jika hatinya busuk. Oleh sebab itu aku yakin kalau kau ini lelaki tampan yang ada gunanya, hatimu pasti baik sekali. Dengan kebaikan hatimu, bisakah kau membayarkan mie yang sudah kami makan?” Ucap Gyeomi spontan, begitu keras ia mencoba menahan malunya.

Kening lelaki itu mengerut, bibinya sedikit manyun. Ia mencoba berpikir memahami setiap kata yang diucapkan gadis di depannya barusan tapi meski ia mencoba, ia tetap tak paham. Di lain pihak melihat ekspresi lelaki di depannya seperti itu, Gyeomi yang justru jadi paham kalau lelaki di depannya tak paham.

“Apa kau tidak mengerti. Baik, jadi maksudku aku hanya meminta tolong supaya kau mentraktir kami, tapi kalau kau keberatan, aku akan menganggapnya hutang jadi nanti akan ku bayar uangmu. Aku benar-benar mohon padamu, uang dan handphoneku ketinggalan.”Gyeomi kembali membuka mulutnya memberikan penjelasan agar lelaki di depannya paham.

Mendengar ucapan Gyeomi barusan lelaki itupun memberikan respon dengan memandang Gyeomi dari atas hingga bawah. Dilihatnya dengan cermat…

Gadis yang masih muda, pasti masih punya banyak energy untuk bekerja. Tapi dengan semua energinya dia justru memilih merayu lelaki?

Dan dia berhasil memakan lebih dari tiga mangkuk mie kacang hitam, dan kemudian minta dibayarkan!? Enak saja!! Aku bukan lelaki yang mau menghabiskan uang untuk perempuan sepertimu!!

“Aku tidak mau. Cari saja ‘sponsor’ lain!” ucap Lelaki yang kini memahami maksud Gyeomi.

Gyeomi tercengung ketika mendapati kata ‘sponsor’ keluar dari mulut lelaki di depannya. Sialan juga nih orang! Dipikirnya siapa dia berani-beraninya berpikiran Gyeomi seorang gadis yang mencari sponsor.

Sementara lelaki itu kini mulai melangkah hendak meninggalkan situasi yang mengurungnya, hingga seorang bocah menghentikan langkahnya.

Bocah itu Choi Woon, keponakan Gyeomi. Tapi Lelaki itu justru mengira jika Woon adalah anak Gyeomi. Cih, dia bahkan sudak memiliki anak tapi masih mencari sponsor. Jangan-jangan anaknya ini juga hasil sponsor. Astaga!

“Ku mohon, tidak bisakah anda membayarkannya untuk kami? Ibuku akan mengganti uangnya, dia tidak suka berhutang. Bisakah anda hanya membayarnya dan memberikan kartu identitas anda, aku akan menghubungi untuk membayar!” ucap Woon sopan di depan Lelaki tersebut.

Woon hanya berkata jujur, ketika membawa-bawa nama ibunya (kakak Gyeomi) yang tidak suka berhutang. Tapi lain halnya dengan lelaki di depannya yang menganggap itu bohong. Karena tentu saja dia mengira Gyeomi lah ibunya. Mana mungkin wanita yang seperti Gyeomi, si tukang rayu, tidak suka berhutang kan. Bukankah ‘merayu dan berhutang’ itu sudah bersahabat sangat lama, ‘mereka’ seperti saudara yang tidak terpisahkan. Orang yang suka merayu pasti suka juga dalam berhutang. Yah, pasti benar begitu.

“Woon jangan mengemis begitu! Kalau dia tak mau kita hadapi saja apapun yang terjadi… ” ucap Gyeomi menghentikan keponakannya.

“Ku mohon tuan, tidak bisakah anda sedikit berbaik hati? Dia ini tanpa uangnya sama sekali tidak bisa diharapkan. Dia tidak bisa mengerjakan pekerjaan seperti mencuci piring, karena yang ada nantinya piringnya justru akan pecah. Dia juga tidak bisa mengepel atau menyapu, sapunya pasti akan patah… dan kain pelnya akan robek. Ku mohon,” anak kecil berusia tujuh tahun itu tetap meminta belas kasih lelaki di depannya, tidak mempedulikan Gyeomi yang sedang mencoba menghentikannya. Bahkan ketika menyebut kata ‘dia’ dalam kalimatnya, Woon menarik-narik baju Gyeomi dengan maksud Gyeomi-lah yang disebut ‘dia’ dalam kalimatnya itu.

Gyeomi tentu tak bisa berdiam diri melihat keponakannya mengemis begitu. Lebih tepatnya tidak bisa membiarkan Woon memburuk-burukkannya di depan lelaki yang tidak ia kenal.

“Aku bilang hentikan Woon, kenapa kau bersikap begini!” Dengan kesal Gyeomi menggendong Woon untuk menghentikan anak itu memohon kepada lelaki di depan mereka, “Ah… kau berat! Aku tidak sanggup. Kau jalan saja!” ucap Gyeomi beberapa detik kemudian yang akhirnya menurunkan Woon dari gendongannya.

Woon mendengus. Bibinya yang satu ini benar-benar aneh.

“Sekarang kita bagaimana?” ucap anak itu sambil memegang tangan Gyeomi, Woon terlihat khawatir. Sementara Gyeomi dengan lembut menuntun keponakannya itu ke arah kasir sambil memasang ekspresi tak jelas.

“Tenang lah! Kau bisa mengandalkan ‘aunty mu yang lebih terlihat seperti noona’ ini!”

Tidak apa-apa semua akan baik saja. Gyeomi bisa menghadapinya.

– – –

Hwang Chansung duduk di depan bar meneguk segelas chateau wine yang baru saja ia pesan, sementara di sekitarnya banyak orang yang sedang menari-nari , suasanya terasa semakin ramai ketika tarian-tarian itu diikuti kelap kelip lampu warna warni dan musik yang dentumannya begitu keras.

Chansung juga ingin menari, Chansung ingin seperti pria berkaus abu-abu yang dilihatnya dari tempat duduknya, dimana pria berkaus abu-abu itu menari dengan seorang gadis cantik yang sepertinya kekasihnya, tangan pria itu bahkan menyentuh pinggang kekasihnya, dan kedua tangan gadis cantik melingkar di leher pria itu. Auch.. Chansung kepengen sekali seperti itu! Kepengen sekali!

“Kau minum thendiri!?” tanya Sehun si bartender ketika melihat wajah Chansung yang berlipat-lipat, sementara yang ditanya hanya memberikan anggukan sebagai jawaban.

“Kau beneran pututh thama Gyeomi!?” tanya Sehun lagi yang kali ini membuat Chansung menangis. Sehun sepertinya salah bicara, dan sekarang dia tidak tahu harus bagaimana. Chansung merupakan temannya sewaktu taman kanak-kanak, dan mereka juga sempat dua tahun bersama di sekolah dasar, dan dari kebersamaan itulah Sehun tahu Chansung lumayan cengeng, mungkin karena Chansung terlahir dari keluarga berada dan dia anak ketiga dari empat bersaudara.

“Kau tahu tidak, sejak awal hubungan kami memang ditentang keluarga Gyeomi. Kau tahukan, Gyeomi itu benar-benar kaya raya. Keluarganya pemilik perusahaan elektronik terkemuka.”

“Tapi katanya thekarang mereka thudah bangkrut dan kau memututhkannya karena itu. Lagian kau ini bicara theperti itu, padahal kau kan juga thama kayanya. Keluargamu punya peruthahaan di bidang kontrukthi. Matha thih kau ditentang? Kau juga anak ketiga dari empat berthaudara…”sahut Sehun mencoba menaikkan rasa percaya diri Chansung yang terlihat jatuh.

“Aku masih suka padanya meskipun dia sedikit menyebalkan. Tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk kami bersama. Lagipula keluarganya mengataiku pengangguran. Hueeeeee!” Chansung menangis lebih keras, Sehun memijit kepalanya. Apa ia salah bicara lagi?

“Keluarga mereka lebih memilih untuk memiliki menantu bukan dari kalangan orang kaya, asal yang penting bisa bekerja daripada kaya tapi tidak bisa bekerja. Seperti Siwon Hyung, dia itukan meskipun dari kampung, dia rajin dalam bekerja. Bahkan ku dengar karena keberadaannya di perusahaan, saham mereka semakin meroket. Sementara aku, aku dianggap pengangguran karena mereka pikir aku tidak punya pekerjaan dan hanya bisa menghambur-hamburkan hartaku saja. Aku orang kaya karena orang tuaku kaya, aku tidak bisa bekerja maka aku pecundang. Mereka tidak akan menerima pecundang sepertiku! Hueeee!” Chansung ber’hueee lebih keras semakin membuat Sehun tak nyaman dibuatnya.

Ini bukan seperti anak kecil yang menangis bisa diberi permen lalu tangisnya akan berhenti kan? Tapi Sehun ingat dia punya permen hasil kembalian membeli roti makan siangnya tadi.

“Ini permen,” ucap Sehun menyodorkan sebungkus permen rasa strawberry yang ia ambil dari saku celananya, Chansung menerimanya dan mengucapkan terima kasih, tangisnya sedikit teratasi. Sehun tak menyangka ini akan berhasil.

“Chanthung kau kan kaya. Lagian kau itukan anak ketiga dari empat berthaudara., pada thuatu hari nanti kau tinggal mewarithi peruthahaan di keluargamu, kau bukan pengangguran! Lagian kau itu anak ketiga dari empat berthaudara…” ucap Sehun, kali ini si bartender itu menepuk-nepuk pelan punggung Chansung, mencoba menghibur.

“Thudahlah, tidak thepantathnya kau berthedih theperti ini. Kau tahu, dibandingkan dengan dirimu. Hidupku jauh lebih berat. Aku nggak punya theorang pun yang bitha diandalkan. Bagiku bitha bangun thetiap pagi dan memberikan makan ibu dan adikku yang matih kecil adalah keajaiban. Kau punya matha depan untuk dipikirkan, tapi aku cuma punya hari ethok untuk ku perjuangkan. Kalau kau malu karena dianggap pecundang karena tidak bekerja. Maka mulai thekarang bekerjalah… buktikan kalau kau bukan pecundang! Karena cinta itu milik dari mereka yang memperjuangkannya, Chanthung! Kalau kau tak mau berjuang, maka kau nggak akan mendapatkan Gyeomi! Ingat kau ini anak ketiga dari empat berthaudara!” Ucap Sehun memberikan semangat dengan menggebu-gebu.

Namun Sehun terdiam sejenak ketika disadarinya seorang pria memakai sweeter hitam duduk di sampingnya, tanpa suara pria itu memberikan selembar kertas kecil pada Sehun.

“Barangnya thudah datang?” tanya Sehun, pria bersweeter hitam itu tidak menyahut, ia justru beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah dance floor, dimana orang-orang tengah sibuk menari.

“Chanthung, aku tinggal dulu ya! Aku ada pekerjaan. Ingat jangan thedih-thedih terus. Themangat Chanthung, kau itu anak ketiga dari empat bersaudara!”

Setelah Sehun pergi, Chansung mulai dapat tersenyum kecil. Sehun, si bartender sahabatnya benar. Cinta itu milik mereka yang memperjuangkan! Maka Chansung pun harus berjuang, lagipula seperti yang dikatakan Sehun… Chansung itu anak ketiga dari empat bersaudara, dia pasti bisa berjuang. Meski sebenarnya Chansung juga tidak mengerti apa hubungannya anak ketiga dari empat bersaudara dengan memperjuangkan cinta.

– – –

Woon menatap Gyeomi dengan pandangan kesal, anak itu bahkan menghentakkan kakinya dengan keras ketika berjalan. Dia tidak suka dengan bibinya ini! Bibi yang payah! Yang hanya bisa mempermalukan keluarga! Dia benci!

“Kau mau kita jalan-jalan sebentar di taman dekat apartemen?” tawar Gyeomi yang dibalas teriakan ‘tidak’ yang begitu kencang dari mulut Woon, keponakannya.

Baiklah, baiklah… Gyeomi mengerti Woon pasti kesal dengan apa yang barusan terjadi di kedai. Gyeomi juga tidak bermaksud melakukannya, hanya saja mengingat lelaki itu sudah membuat Woon mengemis membuat Gyeomi jadi keluar batas.

“Choi Woon, jangan bersikap begitu. Kau bisa membuat orang-orang salah paham dan mengira kalau ‘aunty mu yang lebih terlihat seperti noona’ ini adalah penjahat yang sedang menyakitimu!”

“Kau memang penjahat, kau penipu! Aku tidak mau bicara denganmu!” Woon memekik sambil berlari ke arah pintu apartemen, dipencetnya passwordnya sendiri hingga pintu terbuka, dan dia kembali berlari ke arah kamarnya.

Bugh

Bahkan anak itu membanting pintu kamarnya, membuat Gyeomi sadar kalau keponakannya itu benar-benar marah padanya. Oh geez, apa yang harus ia lakukan sekarang.

– – –

Tidak pernah rasanya ia semalu ini dalam hidupnya, bahkan berjalan sambil menendang kerikil di jalan tidak mengurangi kekesalannya. Mendenguskan nafas keras-keras juga tidak membuatnya lebih lega, dia justru terlihat seperti benteng karena melakukannya.

Malu, frustasi, ingin marah. Tapi pada siapa ia harus marah!? Tidak tahu siapa yang harus ia marahi, membuatnya semakin marah. ARGHHH!!!!

Apa yang sudah gadis perayu itu lakukan, hingga akhirnya dia benar-benar harus membayar enam mangkuk mie kacang hitam yang bukan pesanannya.

Hari ini Onew baru saja gajihan, dia juga sudah berhasil lolos dari teman-temannya yang meminta traktiran dengan beralasan sakit dan pulang lebih awal. Bukannya Onew pelit karena tidak mau mentraktir, dia hanya ingin hemat. Itu saja alasannya, tidak lebih!

Seperjalanan pulang Onew ke apartemennya diapun memutuskan mengisi perut kosongnya, membayangkan semangkuk mie kacang hitam beserta secangkir teh hangat sepertinya akan menyenangkan, karena pemikiran itulah Onew akhirnya mampir ke kedai Jajangmyeon yang letaknya di pinggir jalan. Onew pun memesan seporsi mie kacang hitam beserta teh hangat.

Semuanya berjalan baik hingga ketika ia beranjak untuk membayar makanannya. Seorang perempuan yang tidak dikenalnya justru mencegatnya, perempuan itu minta ditraktir, minta dibayari oleh Onew, katanya uang dan handphone perempuan itu ketinggalan.

Uang… uang siapa yang ketinggalan?

Handphone… handphone siapa yang ketinggalan?

Yang tidak bisa bayar, siapa coba!?

Yang kena masalah, siapa coba!?

Merasa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu tidak ada sangkut pautnya dengan Onew, Onew pun tentu saja menolak permintaan itu. Sementara karena ditolak perempuan yang ternyata sangat licik itu justru menyebar fitnah. Seharusnya saat itu Onew tak boleh membiarkan perempuan itu berjalan duluan ke kasir dan membuat Onew terbengong-bengong dari tempatnya berdiri saat perempuan itu bahkan menunjuk-nunjuk Onew dari kasir. Seharusnya Onew sudah bisa merasakan firasat buruk saat itu.

Pada ahjumma si penjaga kasir, perempuan licik itu bilang kalau pesanannya akan dibayar oleh Onew. Tidak cukup sampai disana, sebelum kabur dia berbohong kalau tujuh tahun yang lalu dulunya ia adalah pacar Onew ketika SMA. Onew telah berjanji akan menikahinya setelah mendapat pekerjaan, tapi tujuh tahun yang lalu setelah mengetahui bahwa dia hamil anak Onew, Onew justru melarikan diri. Alasan awal karena ingin pergi ke kota mencari pekerjaan yang layak agar segera dapat menikahinya dan membesarkan anak mereka bersama. Tapi setelah anaknya besar, Onew bahkan tidak pernah kembali. Setelah anaknya berumur dua tahun akhirnya ia memutuskan untuk mencari Onew ke kota, Onew berhasil ditemukan setelah mencarinya selama lima tahun dan hari ini adalah hari pertemuan mereka setelah tujuh tahun tak bertemu. Tapi Onew justru bersikap tidak mengenali mereka, bahkan Onew duduk di meja sebelah tidak berada di meja mereka, dia juga tidak mengakui anaknya. Onew benar-benar telah membuang mereka!

Cerita yang bagus untuk menarik simpati ahjumma si penjaga kasir, yang selalu tergila-gila jika menonton drama. Ahjumma mempercayai semua itu dan bahkan membisikkan cerita itu kebeberapa orang disekitarnya, yang akhirnya membuat Onew menjadi hujatan masal.

Ini sangat merugikannya. Onew bisa saja menuntut perempuan itu atas kasus pemerasan dan pencemaran nama baik. Tapi masalahnya Onew tak tahu siapa nama perempuan itu, tak tahu asal-usulnya, dan itu artinya dia tidak bisa melaporkannya!

Tidak bisa melaporkannyaaaaaaaa…….Arghhh… Onew benar-benar marah!

“Hei Onew, kenapa wajahmu begitu! Ada masalah!?”

Onew menghentikan langkah kakinya ketika menemukan seorang pria berdiri di depan pintu rumahnya. Kerutan marah di wajah Onew pun mulai memudar saat melihat pria itu melambaikan tangan dan tersenyum ke arah Onew, memberikan sapaan hangat yang dibalas Onew dengan bungkukan tubuh sedalam 90 derajat,“Apa kabar, hyungnim!?”

“Hei… hei.. sudah ku bilang itu nggak benar. Jangan membungkuk begitu jika melihatku.. kau terlalu kaku, aku tidak suka yang kaku-kaku. Cukup lambaikan tanganmu seperti yang barusan ku lakukan, dan tersenyumlah, begitulah cara menyapaku yang benar!” ucap pria itu.

Onew tak membalas hanya tersenyum kecil sambil berjalan mendekati pria itu, “Ayo masuk dulu, hyungnim!”

“Rumahmu pengap, aku tidak suka masuk kesana!” sahut pria itu santai. Onew tak bisa berbuat banyak ketika mendengarnya, rumah bawah tanah miliknya memang sedikit panas apalagi sekarang musim panas dan bagi pria di depannya tentu saja rasa panas di dalam rumah Onew akan sangat mengganggu.

“………..”

“Baiklah, aku akan masuk jika kau sudah pindah rumah!” ucap pria itu begitu tiba-tiba, membuat Onew tak begitu jelas memahami apa maksudnya.

Pindah rumah apa katanya!?

“Ha!?” respon Onew akhirnya.

“Maksudku aku akan masuk ke rumah sewamu yang baru. Tidak, bukan rumah sih tapi apartemen. Kau tidak perlu khawatir tentang uang sewa, karena semuanya akan ditanggung oleh perusahaanku. Cukup tinggal selama tiga bulan disana, setelah itu kau bisa pergi kemanapun kau suka.”

“Eoh!?

“Kau pernah bilang kalau kau berhutang padaku, dan aku banyak berjasa padamu. Dengan pindah rumah, kau akan melunasi semuanya, hutang atau jasa atau apapun itu. Aku anggap semuanya sudah lunas.”

“Hmm…”

– – –

Gyeomi duduk di sofa ruang tamunya, setelah apa yang terjadi, setelah mendengar Woon mengatainya penjahat dan juga penipu, rasanya hatinya semakin sakit saja. Belum tuntas rasa sakit karena putus dari kekasihnya yang bernama Hwang Chansung, sekarang dia justru bermasalah dengan Woon, keponakan satu-satunya yang ia sayangi dan ia cintai.

“Woon tolong maafkan  ‘aunty mu yang lebih terlihat seperti noona’ mu ini.  ‘aunty mu yang lebih terlihat seperti noona’ sebenarnya tidak bermaksud begitu.  ‘aunty mu yang lebih terlihat seperti noonakesal, gara-gara orang itu Woon kesayangan  ‘aunty mu yang lebih terlihat seperti noona’ sampai memohon-mohon, siapa dia hingga membuat Woon-nya ‘aunty mu yang lebih terlihat seperti noona’ sampai begitu.  ‘aunty mu yang lebih terlihat seperti noona’ hanya ingin memberikannya pelajaran. Itu saja!”

“Jangan bicara lagi! Sampai akhir Ahjumma tetap saja tidak menyesal. Ahjumma benar-benar jahat. Padahal orang itu sudah membayarkan kita, tapi ahjumma memfitnahnya! Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan Ahjumma!”

“Woon-ah, jangan begini, lagian dia membayarkan kita karena apa yang aku lakukan itu!”

Dreet

Gyeomi berhenti membujuk Woon ketika merasakan handphone di tangannya bergetar, dengan mata membulat Gyeomi mencoba membaca apa yang di tampilkan layar handphonenya.

Ada pesan LENE dari Hwang Chansung

Lagi apa? Aku rindu kamu nih

Pesan seperti itu dari Chansung tentu saja merupakan kabar gembira bagi Gyeomi, dengan segera Gyeomi mengetik balasannya. Melupakan sejenak Woon yang masih marah padanya.

Lagi nyante aja nonton tivi, kamu?- tat–tak– tak— Gyeomi menghapus kalimat yang barusan ia ketik, jika balasannya seperti itu kayaknya kurang bergairah deh. Coba balas dengan: Kenapa tanya, bukannya kita udah putus? Kalau kamu mau aku jawab kita mesti balikan dulu! – tat–tak– tak— Gyeomi kembali menghapusnya. Bukannya bergairah kalau balasannya begini justru terlihat penuh amarah, Chansung bisa-bisa tidak akan mengirimi Gyeomi pesan lagi. Kalau begitu balas begini saja deh:

Pas banget Aku sedang memikirkanmu.. aku rindu kamu juga.

Gyeomi tersenyum membaca balasan yang baru saja ia ketik, kini jari telunjuknya ingin mengklik tulisan ‘kirim’ di pojok keyboard handphonenya, tapi jarinya tiba-tiba kaku ketika tiba-tiba ada pesan baru dari Chansung.

Aduh Maaf, tadi aku salah kirim. Kalau bisa kontak LENE aku di kamu di Blok aja ya, aku juga bakal melakukan hal yang sama.

Gyeomi tak bisa mengucapkan apa-apa lagi, tubuhnya kaku dan bibirnya kelu. Hatinya sakit sekali. Hik..hik..hik

“WOOON-AAAAH, BERHENTILAH MARAH DAN BUKA PINTUNYA!” pekik Gyeomi akhirnya melampiaskan perasaannya kini.

– – –

Lelaki tampan bernama Changsung tengah menghabiskan gelas chateau wine kesembilannya ketika dilihatnya lock screen handphonenya yang menampilkan foto Gyeomi bersamanya. Jadi kangen ih!

“🎵Baby baby jigeum cheoreomman areumdawo jullae neon (Sayang sayang sama seperti saat ini, bisakah kau tetap cantik). Sigani jinado naega seollelsu ige (Jadi meski waktu telah berlalu, hatiku masih akan tetap berdebar). Wo uuu Wo… Baby baby neon sideuljima (Sayang sayang tolong jangan menghilang). Igijeogin nal wihae (Demi ke-egoisanku). Geu moseup geudaero neon geudaero yeoyamanhae (Apa adanya dirimu, kau harus tetap seperti itu).🎵(Big Bang-Bae-Bae)” Chansung menyanyi dengan wajah sedih, dengan keadaan yang setengah mabuk Chansung membuka aplikasi LENE-nya, dan mengetik pesan untuk Gyeomi.

Lagi apa? Aku rindu kamu nih

Sent

Chansung tersenyum ketika pesannya terkirim tapi seperkian detik ia terkejut ketika melihat tulisan ‘baca’ di samping pesannya. Dia baru sadar apa yang barusan ia lakukan, dan dia sadar kalau ini tidak benar.

Gyeomi juga, kenapa secepat itu sih dia membaca pesan yang ia kirimkan barusan. Dengan tergesak Chansung kembali pada kesadarannya dan menuliskan pesan baru sebelum Gyeomi membalas pesan yang ia kirim sebelumnya.

Aduh Maaf, tadi aku salah kirim. Kalau bisa kontak LENE aku di kamu di Blok aja ya, aku juga bakal melakukan hal yang sama.

Sent!

Setelah pesan itu dikirimkan oleh  Chansung dan ada tulisan ‘baca’ disamping pesannya, yang itu artinya Gyeomi sudah membaca pesan itu, Chansung pun menghela nafas, wajahnya kembali berlipat, dan dia mulai menangis. Maaf Gyeomi, maafkan Chansung, Maafkan, please!

– – –

-flash back –

Hari itu Gyeomi mendapatkan kabar yang menyedihkan, kedua orang tuanya memutuskan pergi ke desa, ayah dan ibunya sudah menyerah dengan perusahaan, mereka berdua mengundurkan diri dan mempercayakan urusan perusahaan kepada kakaknya Oh Ahra dan suaminya Choi Siwon. Kabar itu tentu membuat Gyeomi tak nyaman. Dia tak pernah menyangka kedua orang tuanya yang selama ini bekerja banting tulang demi membangun perusahaan, tiba-tiba justru memutuskan untuk menyerah dan pergi ke desa untuk bertani. Sama sekali tidak lucu kan!

“Kenapa Ayah dan ibu menyerah!? Apa masalahnya sudah sangat besar?” Gyeomi bertanya pada kakaknya yang saat itu tengah mengemas baju-bajunya ke dalam koper.

Ahra sepintas melihat ke arah Gyeomi yang terlihat ketakutan, “Aku yang menyuruh ayah dan ibu pergi ke desa. Mereka sudah tua, sudah saatnya untuk hidup tenang dan beristirahat. Jika mereka tahu keadaan perusahaan saat ini, mungkin saja kesehatan mereka jadi taruhannya. Kau tahu dua tahun yang lalu ayah pernah kena serangan jantung dan satu tahun yang lalu ibu kita menjalani operasi liver. Aku tidak tega melihat mereka harus menghadapi situasi seperti ini. Lagipula sebelumnya mereka memang sudah menyiapkan diri untuk pensiun dari pekerjaan setelah proyek ini selesai. Kau tahu, impian ibu dan ayah ketika mereka sudah tua adalah hidup bersama di desa dan bertani. Tapi aku tidak menyangka akan jadi seperti ini.” ucap Ahra yang saat itu sedikit kesulitan menutup kopernya.

“Memang separah apa kak?” kali ini Gyeomi tak berani melihat ke arah Ahra, ketakutan mulai merayap di sekujur tubuhnya. Pandangannya membuyar tertuju pada lantai dingin kamar kakaknya.

“Kau tahu, ada proyek yang sedang kita kerjakan. Proyek itu kita yakini sebagai inovasi terbaru yang belum pernah ada. Sama hal nya seperti saat handphone pertama kali muncul di masyarakat, begitu juga dengan proyek ini. Kami yakin ini adalah yang pertama kali dan belum pernah ada sebelumnya tapi kami tidak menyangka ide kami ini bocor, dan bahkan sudah dikembangkan lebih dulu oleh perusahaan lain,”

“Jika ide itu bocor, kita tinggal membuat ide baru,” sahut Gyeomi mencoba memberi saran.

“Kau pikir semudah itu? Jika ide itu hanya bocor sebelum kita memulai proyek tidak akan jadi masalah. Tapi ini jadi masalah, karena saat proyek ini sudah hampir kita selesaikan, perusahaan itu justru sudah memasarkan hasil proyeknya. Hasil proyek yang sama persis dengan milik perusahaan kita, tapi punya kita sayangnya masih belum selesai. Sementara sejak awal kita sudah bersombong diri sebagai perusahaan elektronik pertama yang membuatnya dan kita juga meyakini perusahaan lain tidak akan bisa membuat proyek ini. Ini menghancurkan nama baik perusahaan, karena ini kita mengalami kerugian, saham kita anjlok, kita bahkan sudah kehilangan banyak investor. Kita kehilangan dana untuk melanjutkan proyek yang seharusnya bisa diselesaikan dalam waktu sebulan, dan meskipun proyek kita selesaikan… kita hanya dipermalukan karena dianggap meniru. Yang lebih parahnya, kita bahkan tidak mampu membayar gaji karyawan bulan ini. Kita bangkrut, Gyeomi!”

Gyeomi tercekat ketika melihat kakaknya terisak. Separah itukah?

Selama ini Gyeomi benar-benar tidak tahu menahu mengenai perusahaan, dia tidak tertarik dengan semuanya. Gyeomi lebih tertarik untuk bersenang-senang dengan kehidupan sosialitanya yang glamor.

“Jadi sekarang kakak dan Siwon oppa mau kemana?”

“Kami akan berpergian mencari investor. Sementara kami berpergian, kami minta tolong padamu. Tolong jaga Woon dengan baik.” Ucap Ahra, kali ini wanita itu sudah terlihat lebih tegar, bahkan tanpa bergetar tubuhnya mulai melangkah sambil menarik kopernya keluar pintu apartemen Gyeomi.

Cklek

Pintu apartemen tertutup, Oh Ahra benar-benar sudah pergi.

“Woon, sekarang kita akan tinggal berdua. Kau tenang saja, Aku akan menjagamu dengan sangat baik!”ucap Gyeomi pada seorang anak kecil yang tengah mengemut lolipopnya di depan televisi.

– – –

To Be Continued

A/N: Jangan lupa kasih bintang dan tinggalkan komentar setelah membaca ya! Kalau yg bisa like, silakan like juga :3 *banyak maunya* Btw, maaf klo banyak typo dan ceritanya masih ga jelas mau dibawa kemana… jemari dan otak masih dalam pemanasan untuk menulis,, setelah sekian lama gga bisa menulis. Oh ya part selanjutnya akan diterbitkan secepatnya (?) semakin banyak  komentar, rating, dan like makin cepet juga terbitnya :3

Read more “A Witch Vs Ten Knights”

Teaser – Part 1 – Part 2 – Onwriting |

Penulis: Rasyifa

♥ Ordinary Girl, who loves rain sound.

20 thoughts on “Fanfiction // A Witch Vs Ten Knights Part 1

  1. Ninggalin jejak dulu lah..
    Sebenernya belum baca sih, tapi pengen ninggalin jejak dulu.. Hehehe😀

    Suka

  2. ahhhh penasaran binguttt… lanjutkannn

    Suka

  3. untuk background seperti lalu lintas dan gedung kalau ingin cari di google menggunakan keyword apa ? tks rara:)

    Suka

  4. kerenn.. nunggu next partnya😀

    Suka

  5. Wkwkwk gyeomi bodor :v
    Lucu ceritanya
    Ditunggu kelanjutannya🙂

    Suka

Feedback. . .♥

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s